Share

52. Senjata Sayap Lebah

Author: Pancur Lidi
last update publish date: 2026-03-06 17:28:36

“Ketua, karena tidak ada bahan untuk aku kerjakan, apakah aku boleh meminjam tungku perapianmu?” tanya Talang Mayan.

“Apa kau ingin membuat senjata?” jawab Ki Pamanahan.

“Tungku perapian milikku rusak saat melawan siluman kepiting?”

Ki Pamanahan tertawa gelak-gelak, “Memangnya kau panggang siluman itu ke dalam tungku?”

“Dia menyerangku habis-habisan, aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan kecuali menggunakan tungku perapian.” Talang Mayan begitu menyayangkan tungku perapiannya hancur karen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   113. Tidak Beradab

    “Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   112. Terjebak

    Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   111. Perguruan Racun Hati

    Talang Mayan berniat menambang kudanya pada batu sebesar paha yang berada tepat di depan pintu masuk goa. Namun, tiba-tiba hal tak terdua terjadi. Dua kuda itu langsung meringkih, mengangkat dua kakinya, dan meluncur secepat mungkin, meninggalkan dua tuannya di sana.“Hoi ..!” Talang Mayan berusaha memanggil dua kuda itu, tapi hewan sialan itu tidak peduli dengan panggilan, seolah telinganya menjadi tuli. “Sepertinya, mereka ketakutan ..,” gumam pemuda tersebut.Di satu sisi, Intan Selake hanya bisa menghela nafas panjang, melihat hewan tunggangannya perlahan menghilang di telan padang tandus yang kering dan panas.‘Sialan, penghianat keji itu pasti mati ..,’ Talang Mayan menyipitkan matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Intan Selake yang tersenyum pahit.“Hemmm ..,” Talang Mayan mengelus dagunya berulang kali, “Aku penasaran kenapa kuda-kuda itu melarikan diri, pasti ada yang tidak beres dengan goa ini.”Intan Selake setuju, meskipun dia tidak tahu apa yang menghuni goa itu, tapi

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   110. Perjalanan ke Pesisir Pantai Utara

    Seiring waktu yang mereka lewati antara Satrio Pamungkas dan Wayang Sari, hal itu menumbuhkan benih-benih suka di hati Satrio Pamungkas. Awalnya hanya sekedar kagum, tapi pertemuan setiap hari yang terjadi di antara keduanya, membuat bibit-bibit itu mulai tumbuah menjadi subur.Satrio Pamungkas tidak lagi melihat Wayang Sari sebagai gadis judes yang kasar dan keras kepala, tapi melihat dia sebagai sosok bidadari yang memiliki daya tarik tersendiri. Dia mungkin tidak secantik Intan Selake, atau semanis Rindu Ati adik Talang Mayan, tapi bagi Satrio Pamungkas, Wayang Sari jauh lebih menarik hatinya dibanding dengan dua gadis itu.Sekali lagi Satrio Pamungkas mengungkapkan perasaanya di hadapan Wayang Sari, dan dengan wajah sedikit tertunduk, pemuda itu menatap Wayang Sari dengan penuh harap.“Aku fikir, otakmu memang bermasalah, Pamungkas,” jawab Wayang Sari sembari memalingkan wajahya ke arah lain, “Pergi sana dan berobat!”“Ya, otakku memang bermasalah,” jawab Satrio Pamungkas, “Tapi a

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   109. Penghormatan Bagi Mereka Yang Gugur

    Hari berikutnya, Talang Mayan menghadap kepada Senopati Mandra. Ruang pertemuan itu dihadiri oleh banyak orang, prajurit dan para pendekar Parasura. Mata mereka tertuju kepada Talang Mayan dengan perasaan kagum.Putri Intan Selake di temani oleh Wayang Sari hanya tersenyum kecil, sementara Satrio Pamungkas mengangkat ibu jarinya ke arah Talang Mayan.Kemudian satu persatu para prajurit mulai bertepuk tangan, mengiringi langkah kaki Talang Mayan di sepanjang barisan rapi di dalam ruang pertemuan itu.“Saudara Talang Mayan ..,” Senopati Mandra berkata dengan nada tenang dan penuh kekaguman, “Tindakanmu yang penuh resiko dan keberanian tidak tertandingi, telah melindungi sekaligus memukul mundur para mahluk buas itu. Sebagai panglima tertinggi dan penanggung jawab benteng utara, aku mewakili semua pasukan untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepadamu.”“Hahahaha ..,” Talang Mayan tertawa kecil, “apa yang kau katakan, Senopati Mandra, kenapa begitu resmi?”“Kau adalah pahl

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   108. Hampir Tidak Terkendali

    Matilah! Talang Mayan mengatupkan dua telapak tangannya, di saat yang sama, cakram sudra mulai mengincar semua siluman yang ada di tempat itu, baik di dalam tanah maupun yang ada di permukaan tanah.Cakram sudra itu sendiri kini berukuran sangat besar, akibat dari semua logam yang berputar mengelilinginya.“Hoi, Hoi, senjata macam apa yang dia gunakan saat ini?!” Satrio Pamungkas merasa panik ketika cakram sudra menyerang ke arah mereka, -bukan ke arah para prajurit tapi ke arah siluman-siluman banteng.“Cepat tiarap, atau kita akan tersapu oleh serangannya!” teriak Wayang Sari.Di ikuti suara teriakan panik, semua prajurit maupun pendekar langsung berpose tiarap ketika cakram sudra terbang di ketinggian satu meter dari permukaan tanah.“Mayan!” Putri Intan Selake berseru keras, “Jangan sampai senjatamu malah menghancurkan benteng kita!”“Aku tahu,” jawab Talang Mayan, tapi suaranya terdengar gemetar. Saat ini, mengendalikan cakram sudra seperti mengendalikan batu bulat yang menggelin

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   23. Dewa Kepala Botak

    Talang Mayan tiba di dunia yang sama sekali asing bagi dirinya. Tempat yang tidak pernah dia bayangkan, dan hampir tidak pernah terlintas oleh pemuda tersebut. Ini adalah tempat yang melampaui ‘bumi’ itu sendiri.Dia mengambang di angkasa, melihat bumi sebesar cincin yang berputar mengitari matahar

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   22. Reruntuhan Kuno

    “Kakang, apa yang kau lakukan?” Rindu Ati melihat Talang Mayan menyentuh tanda telapak tangan yang ada di depan pintu bangunan kuno itu, “jangan gegabah.”Namun Talang Mayan hanya tersenyum kecil, tampaknya dia tahu bahwa jimat di keningnya ada hubungan dengan tempat tersebut. Mungkinkan sebuah keb

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   21. Bangunan Kuno

    Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   20. Rahasia Sekte

    Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status