Se connecterSementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun
Talang Mayan berniat menambang kudanya pada batu sebesar paha yang berada tepat di depan pintu masuk goa. Namun, tiba-tiba hal tak terdua terjadi. Dua kuda itu langsung meringkih, mengangkat dua kakinya, dan meluncur secepat mungkin, meninggalkan dua tuannya di sana.“Hoi ..!” Talang Mayan berusaha memanggil dua kuda itu, tapi hewan sialan itu tidak peduli dengan panggilan, seolah telinganya menjadi tuli. “Sepertinya, mereka ketakutan ..,” gumam pemuda tersebut.Di satu sisi, Intan Selake hanya bisa menghela nafas panjang, melihat hewan tunggangannya perlahan menghilang di telan padang tandus yang kering dan panas.‘Sialan, penghianat keji itu pasti mati ..,’ Talang Mayan menyipitkan matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Intan Selake yang tersenyum pahit.“Hemmm ..,” Talang Mayan mengelus dagunya berulang kali, “Aku penasaran kenapa kuda-kuda itu melarikan diri, pasti ada yang tidak beres dengan goa ini.”Intan Selake setuju, meskipun dia tidak tahu apa yang menghuni goa itu, tapi
Seiring waktu yang mereka lewati antara Satrio Pamungkas dan Wayang Sari, hal itu menumbuhkan benih-benih suka di hati Satrio Pamungkas. Awalnya hanya sekedar kagum, tapi pertemuan setiap hari yang terjadi di antara keduanya, membuat bibit-bibit itu mulai tumbuah menjadi subur.Satrio Pamungkas tidak lagi melihat Wayang Sari sebagai gadis judes yang kasar dan keras kepala, tapi melihat dia sebagai sosok bidadari yang memiliki daya tarik tersendiri. Dia mungkin tidak secantik Intan Selake, atau semanis Rindu Ati adik Talang Mayan, tapi bagi Satrio Pamungkas, Wayang Sari jauh lebih menarik hatinya dibanding dengan dua gadis itu.Sekali lagi Satrio Pamungkas mengungkapkan perasaanya di hadapan Wayang Sari, dan dengan wajah sedikit tertunduk, pemuda itu menatap Wayang Sari dengan penuh harap.“Aku fikir, otakmu memang bermasalah, Pamungkas,” jawab Wayang Sari sembari memalingkan wajahya ke arah lain, “Pergi sana dan berobat!”“Ya, otakku memang bermasalah,” jawab Satrio Pamungkas, “Tapi a
Hari berikutnya, Talang Mayan menghadap kepada Senopati Mandra. Ruang pertemuan itu dihadiri oleh banyak orang, prajurit dan para pendekar Parasura. Mata mereka tertuju kepada Talang Mayan dengan perasaan kagum.Putri Intan Selake di temani oleh Wayang Sari hanya tersenyum kecil, sementara Satrio Pamungkas mengangkat ibu jarinya ke arah Talang Mayan.Kemudian satu persatu para prajurit mulai bertepuk tangan, mengiringi langkah kaki Talang Mayan di sepanjang barisan rapi di dalam ruang pertemuan itu.“Saudara Talang Mayan ..,” Senopati Mandra berkata dengan nada tenang dan penuh kekaguman, “Tindakanmu yang penuh resiko dan keberanian tidak tertandingi, telah melindungi sekaligus memukul mundur para mahluk buas itu. Sebagai panglima tertinggi dan penanggung jawab benteng utara, aku mewakili semua pasukan untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepadamu.”“Hahahaha ..,” Talang Mayan tertawa kecil, “apa yang kau katakan, Senopati Mandra, kenapa begitu resmi?”“Kau adalah pahl
Matilah! Talang Mayan mengatupkan dua telapak tangannya, di saat yang sama, cakram sudra mulai mengincar semua siluman yang ada di tempat itu, baik di dalam tanah maupun yang ada di permukaan tanah.Cakram sudra itu sendiri kini berukuran sangat besar, akibat dari semua logam yang berputar mengelilinginya.“Hoi, Hoi, senjata macam apa yang dia gunakan saat ini?!” Satrio Pamungkas merasa panik ketika cakram sudra menyerang ke arah mereka, -bukan ke arah para prajurit tapi ke arah siluman-siluman banteng.“Cepat tiarap, atau kita akan tersapu oleh serangannya!” teriak Wayang Sari.Di ikuti suara teriakan panik, semua prajurit maupun pendekar langsung berpose tiarap ketika cakram sudra terbang di ketinggian satu meter dari permukaan tanah.“Mayan!” Putri Intan Selake berseru keras, “Jangan sampai senjatamu malah menghancurkan benteng kita!”“Aku tahu,” jawab Talang Mayan, tapi suaranya terdengar gemetar. Saat ini, mengendalikan cakram sudra seperti mengendalikan batu bulat yang menggelin
Belum pula selesai menghabisi siluman serigala, ada juga siluman semut dan kini ditambah siluman banteng. Situasi kini menjadi lebih tegang, lebih lagi para prajurit tidak pernah menghadapi tiga jenis siluman secara bersaaman.Kini, mereka mulai kehabisan anak panah. Satu persatu prajurit terpaksa melepaskan busur di tangannya, mengganti dengan senjata jarak dekat seperti tombak, pedang atau pula kapak.Sementara itu, Wayang Sari, Satrio Pamungkas yang berada di luar benteng pertahanan tampaknya hanya bisa pasrah saat gelombang siluman banteng bergerak semakin dekat.Menyadari teman-temannya dalam bahaya, Talang Mayan meminta Putri Intan Selake untuk membantu yang lain, sementara dia akan menghadapi siluman semut seorang diri.“Mereka lebih membutuhkanmu,” kata Talang Mayan.Meskipun berat hati meninggalkan Talang Mayan sendirian, pada akhirnya Putri Intan Selake kembali mundur ke barisan belakang, dan bergabung bersama dengan yang lain.Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan dari
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat d
Untuk menjamin perkataanya, Talang Mayan melepaskan sayap sayap lebah yang melekat di kaki dua gadis tersebut. Dia kemudian meminta mereka untuk menyerang para pendekar Jantung Iblis dengan menggunakan cambuk.Tanpa energi spiritual.Meskipun ke dua gadis itu merasa ragu -apakah cambuk mereka bisa
“Formasi bertahan!” Mereka mengalirkan energi spiritual ke tanah dengan telapak tangannya. Di saat itulah, energi spiritual semuanya bergabung menjadi satu menciptakan ratusan benang halus yang saling terikat membentuk jala atau jaring.Selain dapat menahan serangan lawan, di dalam formasi itu, ene
Dua gadis itu langsung terjaga, setelah sayap sayap lebah kini sudah menempel pada kaki-kaki mereka. Salah satu dari dua gadis itu, mencoba membebaskan diri dari senjata kecil itu, tapi Talang Mayan memberikan isyarat agar keduanya tidak banyak melakukan gerakan, karena kurang dari satu detik saja,







