Share

59. Ejekan dari Penonton

Penulis: Pancur Lidi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-08 11:20:57

Nomor undian dibagi secara secara acak, kemudian dipanggil pula secara acak. Ki Paraswara mengambil enam gulungan kertas, kemudian dia berkata, “Nomor 1, 5, 6,18,7 dan 12. Silahkan maju ke depan.”

Talang Mayan menatap nomornya, “Nomor 18, itu aku,” gumam Talang Mayan.

Pemuda itu maju ke depan diikuti oleh beberapa murid dari keluarga lain, termasuk Pelisik yang secara tidak terduga berada di nomor urut 5. Di hadapan mereka, ada tong berisi pasir besi yang masin ‘kotor’.

Pertandingan pertama itu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   59. Ejekan dari Penonton

    Nomor undian dibagi secara secara acak, kemudian dipanggil pula secara acak. Ki Paraswara mengambil enam gulungan kertas, kemudian dia berkata, “Nomor 1, 5, 6,18,7 dan 12. Silahkan maju ke depan.”Talang Mayan menatap nomornya, “Nomor 18, itu aku,” gumam Talang Mayan.Pemuda itu maju ke depan diikuti oleh beberapa murid dari keluarga lain, termasuk Pelisik yang secara tidak terduga berada di nomor urut 5. Di hadapan mereka, ada tong berisi pasir besi yang masin ‘kotor’.Pertandingan pertama itu mudah, murnikan pasir besi itu hingga menjadi logam solid.Karena ukuran setiap senjata berbeda, waktu yang diberikan kepada masing-masing juga berbeda-beda. Talang Mayan hanya membuat sebuah belati, jadi dia tidak perlu mengambil terlalu banyak pasir besi. Hanya secukupnya.Hanya dalam beberapa menit kemudian, Talang Mayan sudah berhasil mendapatkan logam solid yang dia inginkan dengan kualitas terbaiknya. Semua orang tidak terlalu memperhatikan pemuda tersebut, ya, karena memang senjata yang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   58. Hari Pertandingan

    Pelisik gemetar karena ketakutan, tekanan energi spiritual yang teramat kuat ini membuatnya langsung muntah darah.“Kau yang menggangguku barusan?!” Ki Paraswara mengepalkan tinjunya, sembari menatap wajah Pelisik dengan rasa marah, kemudian dia meminta kepada Ki Pamanahan agar urusan ini diserahkan kepada dirinya. “Kau urus gadis itu dengan bijak!” ucap Ki Pamanahan, “itu tanggung jawabmu sebagai gurunya!”Ki Pamanahan langsung menarik tekanan energi spiritualnya, dan Pelisik pikir dirinya sudah selamat hari ini. Tanpa memandang wajah gadis itu, pria itu langsung pergi meninggalkan arena latihan.Sementara itu, Ki Paraswara menanyakan alasan yang dilakukan oleh Pelisik hari ini. Sebagai seorang murid, apakah tindakannya layak dimaafkan?“Guru .., aku .., aku tidak bermaksud untuk mengganggumu, hanya saja ..,” Pelisik berbicara dengan suara gagap, nafasnya tampak kembang kempis, “Aku tadi hanya, hanya tidak sengaja.”“Benar, Guru.” Kuncoro langsung memberikan tanggapan untuk memban

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   57. Gangguan Kecil

    Talang Mayan memegang mustika burung hantu berusia seribu tahun di tangan kanannya, kemudian dia meminta Ki Paraswara untuk membaca mantra jiwa terhadap siluman itu. Namun disinilah letak kesalahan yang dilakukan oleh Ki Paraswara.Dia fikir dapat menggunakan mantra jiwa saat siluman burung hantu -yang dia bawa pula, dapat dilakukan jika siluman itu masih hidup. Namun tepat ketika nyawa siluman itu hampir sepenuhnya menghilang, maka mantra jiwa harus diucapkan.Sebaliknya, mantra itu tetap tidak akan berfungsi jika kematian siluman itu sudah lama. Jiwanya sudah pergi meninggalkan dunia ini.Untuk membantu Ki Paraswara, Talang Mayan mengeluarkan belatinya, kemudia dengan cepat menyembelih siluman burung hantu tersebut. “Bacakan mantranya!” kata Talang Mayan.Ki Paraswara mengangguk, langsung memulai mantra jiwa bersama dengan berakhirnya nyawa di dalam tubuh siluman tersebut.Beberapa saat kemudian, cahaya berwarna ungu tua muncul dari tubuh siluman burung hantu tersebut, yang melayang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   56. Anugrah Ratu Lebah

    “Oh, mengendalikan dua senjata sekaligus, kau benar-benar berbakat, Manusia kerdil. Namun apa yang akan kau lakukan dengan belati itu? kau tidak bisa mengalahkan angin dengan logam, mahluk kerdil?!”Tentu saja, siapa yang akan mengalahkan angin dengan logam. Talang Mayan tidak akan melakukannya, tapi dia tahu bahwa kayu bisa dikalahkan dengan belati. Ya, tujuan Talang Mayan jelas, memotong ranting yang ada di atas, membuat sekuntum bunga jatuh.Mengetahui niat Talang Mayan, Ratu Lebah Nirvana mencoba menghentikannnya, tapi sudah terlambat. Belati itu meluncur cepat, menerobos angin kencang tanpa hambatan.Wush.Ranting kecil di pucuk pohon itu kini terpotong, perlahan mulai jatuh. Sebelum sekuntum bunga itu terbang dibawa angin, Talang Mayan mengerahkan kemampuan pengendaliannya, yang memungkinkan bunga itu tidak akan melayang jauh.Wush.Dia melompat tinggi, meninggalkan Cakram Sudra yang berputar cepat menahan hembusan angin yang datang dari empat sisi.Berhasil. Pemuda itu menangka

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   55. Ujian Besar

    “Guru, kau sudah berjanji untuk mengajariku menggunakan jimat lebah nirvana setelah aku mendapatkan 45 cakra spiritual, aku menagih janjimu!” kata Talang Mayan.“Kau ini, kenapa terlalu buru-buru? Kau sudah mengganggu waktu tidurku, dan kini...”“Aku akan bertarung hidup dan mati dua minggu lagi,” ucap Talang Mayan, “aku membutuhkan bantuanmu, Guru!”“Hidup dan mati, memangnya siapa yang akan kau hadapi?!”“Kepala keluarga pedang,” jawab Talang Mayan dengan suara mantap.Dewa Semaranta menggaruk kepala botaknya berulang kali, padahal tidak ada kutu dan tidak ada rambut di kepalanya. Kemudian dia tertawa kecil, lalu meminta Talang Mayan untuk menutup matanya.Tepat saat Talang Mayan menutup mata, Dewa Semaranta mengetuk kening Talang Mayan dengan jari telunjuknya. Seketika, kesadaran Talang Mayan mendadak ditarik paksa oleh kekuatan yang sangat besar.Sampai akhirnya, dia tiba di sebuah tempat. Tempat yang di kelilingi oleh warna emas, dan terletak begitu tinggi hingga melampaui awan.

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   54. Tanggung Jawab Besar

    Keinginan Talang Mayan untuk menggulingkan kekuasaan Kepala Keluarga Pedang, akhirnya terdengar oleh Nyi Loro Ati. Hari itu juga, dia pergi menuju rumah Ki Pamanahan untuk bertemu dengan muridnya.Setelah dia bertemu dengan Talang Mayan, Nyi Loro Ati meyakinkan Talang Mayan untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah terhadap Keluarga Pedang. “Menantang kepala keluarga itu, bukan tindakan yang tepat. Tunggulah waktu beberapa tahun lagi, sampai kau memiliki energi spiritual setara pendekar tanpa tanding.”“Jika mereka mengetahui aku masih hidup, apakah kesempatan seperti itu akan datang lagi?” tanya Talang Mayan, “Kepala keluarga pedang bukan sosok yang bisa ditemui setiap saat, penjagaan keluarga itu sangat ketat. Jika mereka tahu aku masih hidup, seluruh anggota keluarganya akan diam-diam memburuku.”Talang Mayan tidak ingin hidup di bawah tekanan seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan cakram sudra di tangannya, Talang Mayan memiliki potensi kemenangan sekitar 30%, melawan seorang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status