LOGIN"Just imagine all the things I can do to you now Anne. With you vulnerable, submissive, worthless, and at my every comand." He says then grabs my shoulder and whips me around. I try to keep my gaze down but his hand is on my face and he grips it hard, making me cry out in pain. Then he forces my jaw up to look at him. His cold eyes express power. Cold, heartless power. "But I won't touch you, ever. You're still a stripper, insignificant and meaningless and dirty." Marcella should have known it was a bad idea, that this was a bad idea. How did she end up working as a maid for Mr. Robinson? Why did she choose to be stuck suffering under his power? It was bad enough that she worked as a stripper for him, disguising her identity for as long as she could. But the minute she chose to leave and find something better, she ended up as his maid. And the answer remains the same… she’s doing this for her brother, and the one promise she made. Now she’s stuck working as a maid for the ruthless Mr. Robinson and as much as he takes advantage of her position, Marcella is not ready to give up. No. She will stay and remain strong with all that she has. And who knows? She might end up taming Mr Robinson.
View More"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
“What if everyone figures out why we invited them before they even make it?” I ask, laying out cutlery on the table and Kyle chuckles, carrying the huge turkey from the kitchen to the dining.“What’s there to figure out, Marcy? It’s our first thanksgiving as a married couple, and that’s all they’re going to have in mind before they get here—”“And see how fat I am.” I mutter and Kyle drops the turkey safely before coming to hold me from behind, his arms gently caressing the obvious bump in my tummy.“I don’t think Kyle Junior appreciates being called fat.” He whispers in my ear and I giggle, turning in his arms to face him.“I love you, but for the last time, we are not naming him Kyle Junior.” I say, my emphasis on the ‘not’ as I give him a pointed sta
Marcy's POV "We are honored to call the valedictorian of class 2019, Tyler Jensen." The vice-chancellor calls out Tyler's name from the podium and I have to remind myself not to scream out of excitement as I watch Tyler climb the stage to get his degree and qualifying certificate along with a handshake. He finally did it, and valedictorian no less. After everything we've been through, if anyone ever told me we would eventually make it to this day.... and style would be graduating from college as valedictorian of his set, I would have laughed till I couldn't breathe. Maybe even cry. But here we are. "Is there anything you would like to say to your convoking class?" The Vice-Chancellor asks and Tyler nods, before taking the vacant podium. As I watch him, standing there in his robe and cap, a warm feeling envelops me and I realize I have never been more proud of anyone than I a
The lemon and pink combo for Haley's birthday seemed to be the best idea.Her cute lemon princess gown with matching wings and crown was just breathtaking.In addition to the floating pink and lemon balloons and the pink and lemon frosted cake, it was by far one of the sweetest celebrations I had ever seen.As Josh carried a sleeping and exhausted Hailey inside, Maya and I stayed behind to clean up after the party."What's this?" Maya's voice draws me from my dazed dreamy state and I turn to her, trying to balance my armful of gifts.She is talking to a delivery guy while signing the paper and behind him is a big box, huge even, and completely wrapped in a pink wrapper."To the sweetest kid I know. Thank you for being one of the reasons that brought love into my house...and my heart. Love, Kyle." Maya reads out loud."Kyle..." I say
"Marcella?"Maya's voice rings out followed by a series of knocks and I pause towel-drying my hair as I make my way to the living room in just a robe."Marcy!" She calls out, knocking again and I swing the door open."Oh my God, are you okay?" She asks as she rushes in and swallows me up in a tight hug."Umm..... it's nice to see you too Maya." I say tentatively as I pat her back in a confused way of returning the hug."What's going on?" I ask when the hug is over and Maya's sad eyes squint at me like I've grown two heads."You're asking me what's going on? Marcy a phone call to your best friend wouldn't hurt, you know." She says and I scoff."What are you talking about? We spoke last month on the phone." I say with a shrug and head back to my room with Maya hot on my heels."Exactly. Last month. When I call
"Did he kiss you?""I was too scared...I couldn't.""Wimp. What else?""What else do you want?""Did you go to his apartment?""On the first date?""You're already familiar with him."
It should be almost a minute now, but I'm sure I've lost track of time just standing here and waiting for the man in the shadows to at least speak.I watch him reach down and adjust his already perfectly tailored cuffs."Are you waiting for me to ca
I always wake up before noon, but as my heavy eyes finally react to the sunlight, the red numbers on my bedside digital clock cause me to blink severally.2 pm? It's 2 pm?!I sit up in shock as I stare at the clock a little longer before I notice Ty
There are three rules to being a stripper.Always act like you enjoy it while dancing with the pole...and if you do enjoy it, good for you.Always give most of the attention to the one who is craving for it. The whistling
![Daddy’s Girl [ Her Mother's Husband]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews