LOGINDi sisi lain seorang pria berdiri didekat jendela dengan mantel mandi yang masih melekat di tubuhnya. Air terus-menerus menetes dari ujung-ujung rambutnya.
Dia menatap gelas yang ada di genggamannya, menggoyangkannya beberapa kali. Kemudian perhatian pria itu teralih keluar jendela. Gedung-gedung tinggi tampak menjulang, beberapa kali tampak pesawat yang lepas landas.Lalu, dia melemparkan gelas kaca di genggamannya. Pecahan gelas itu berserak. Dua orang lainnya saling menatap sembari menelan ludah.“Bodoh!” umpatnya.“Sebagai bawahanku, kalian sangat tidak becus! Seorang wanita lemah bahkan dengan mudah melarikan diri. Apakah kalian pantas masih disebut bagian Oleander?!” ucapnya terdengar menekan.“Kami tak menduga dia akan melarikan diri-“ jawab salah satu bawahannya dengan terbata.“Aku tak ingin mendengar alasan apapun, temukan wanita itu sekarang juga!” ucapnya lantang. “Jika dia tak ditemukan, maka hari ini akan menjadi akhir dari hidup kalian!”Sorot matanya tajam rasanya bersiap membunuh jika keinginannya tak terpenuhi. “Sekali digenggam ku maka dia tak akan ku lepas. Aku tak pernah bermain-main dengan wanita!”“Kami mengerti.” Ucap dua orang itu bersamaan lantas bergegas keluar.__Tepat satu bulan dari kejadian panas itu. Rhea berusaha keras melupakannya bak tak pernah terjadi apapun. Harinya berlalu seperti biasa.Rhea juga lega hari itu neneknya percaya bahwa tanda merah di lehernya adalah memar akibat terkena benda tumpul. Meski Rhea merasa bersalah membohongi neneknya.Sedikit sulit berada di titik ini, namun dengan perlahan hatinya menjadi tenang. Meski sesekali selibat ingatan itu muncul lagi dan membuat hatinya berdenyut. Dia menekan diri untuk berpura tak merasakannya. Itu mulai berhasil, namun....“Selamat anda positif hamil,” ucap dokter itu dengan senyum senang terukir di bibirnya.Seketika Rhea menjadi lemas kala mendengarnya, dia tak membayangkan akan hal ini. Awalnya dia memeriksakan diri karena merasa tak enak badan, perut terasa mual dan napsu makannya menurun.Dengan ragu-ragu dia mendatangi dokter berisi harapan penuh bahwa yang di pikirkan tak terjadi. Tetapi dokter berkata bahwa dia tengah hamil sekarang.Perasaan takut menyeruak, lalu bagaimana? Dia pikir setelah kejadian itu dia bisa berupaya melupakannya.Sekarang ada bayi di perutnya, bagaimana dia berpura-pura tak ada apa-apa?“Apa ini candaan?” Rhea menatap nanar dokter yang menanganinya.“Tentu tidak, ini sungguhan. Apa anda tidak senang?” tanya dokter itu, ya tampaknya dokter menyadari bahwa reaksi pasiennya tak seperti Ibu yang menantikan kabar kehamilannya. Itu terlihat jelas.Rhea hanya tersenyum kecut.“Saya tidak tau keputusan apa yang akan anda ambil, namun saya harap itu bukan hal yang membuat anda menyesalinya di kemudian hari.”Dokter wanita itu menatap pasiennya dengan ramah namun terbesit harapan. Lantas sang dokter memberikan vitamin kehamilan untuk dikonsumsi. Sudah jelas Dokter itu berharap agar pasiennya memilih untuk melahirkan anaknya.Selepas dari dokter itu, Rhea berjalan menyusuri jalan dengan pikiran kalut, sesekali dia memandang USG berisi janin.Menjadi orang tua tunggal, apa akan mudah, mungkinkah dia bisa melakukannya? Terlebih seorang anak yang sama sekali tak di harapkannya, anak dari pria asing. Itu tidak bisa, dia tak mampu.Rhea menggenggam erat tali tas, dia memasukan foto USG ke dalam tasnya, perasaan resah amat mencekiknya.“Bagaimana ini? Mengapa selalu kacau.”Dia mengacak kasar rambutnya. Tatapannya kosong tanpa arah, dia bingung. Anak dalam perutnya dia tak mengenal jelas siapa Ayahnya, haruskah dia mencari pria itu hanya dengan sedikit ciri yang dia ingat.“Sialan! Mana mungkin pria bajingan itu akan bertanggung jawab.”“Huh! Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.”Rasanya kepelikan tanpa henti menimpanya. Dia ingin menangis, berteriak kencang, namun dia juga tak bertenaga untuk melakukan hal itu.Di kediamannya Rhea semakin tak bersemangat. Dia bimbang melahirkan anak ini dengan konsekuensi yang akan diterimanya nanti atau memilih menggugurkannya.Rhea duduk di kursi kamarnya sembari menatap diri di cermin dengan mata memerah, lalu air mata meniti dari sela-sela matanya. Kedua tangannya menutupi wajah, tangisnya pecah.“Kau bodoh Rhea mengapa bisa terjebak di situasi ini,”“Rhea turunlah, mari makan malam!”Rhea tersentak kala mendengar nenek memanggilnya.Rhea bergegas menyeka wajahnya cepat, mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Beberapa kali dia tersenyum dengan menatap diri di cermin, dia berusaha menghilangkan kesan wajah sembab selepas menangis.Beberapa menit setelah yakin dia terlihat lebih baik, Rhea turun dari tangga. Tak lupa senyum indah merekah di bibirnya kala nenek menatapnya hangat.Keluarga Dominic memiliki orang-orang yang sibuk dengan dunia mereka. Entah karena kerja, bermain bersama teman-teman, sekedar bersenang-senang atau karena tak suka saling bertemu satu sama lain.Semua perilaku itu dibenci oleh sang nenek, maka dari itu beliau mengusung makan malam bersama tentu agar kondisi menjadi lebih akrab dan tak ada satupun yang boleh menolak perintahnya. Dan itu berlaku sampai detik ini.Makan malam berjalan dengan tenang. Namun, beberapa menit kemudian perhatian mereka tertuju pada Rhea yang terdiam tanpa menyentuh makanannya.“Kau hanya menatap makananmu. Bukankah itu tindakan tak terpuji?” ucap ketus Lili, sembari melirik neneknya berharap Rhea akan dimarahi.Lili Dominic usianya baru 17 tahun, dia tak jauh berbeda dari Ibunya. Lili sangat haus akan validasi, dia selalu ingin menjadi pusat perhatian. Dengan begitu tak akan ada yang memperhatikan kakaknya.“Tak biasanya kamu hanya menatap makananmu” ucap sang nenek.Sebenarnya Rhea ingin cepat makan dan pergi dari tempat ini, hanya saja ketika melihat meja makan yang penuh makanan berlemak napsu makannya menghilang.“Aku tidak bisa makan, nenek bolehkah aku naik ke kamarku lebih dulu? Aku merasa tak enak badan,” ucap Rhea lirih.Rhea sungguh tak tahan jika berlama-lama disini, bau menyengat dari daging sapi membuatnya kian tak tahan.Melihat Rhea yang tampak lesu neneknya memberi izin dengan mudahnya. Ayah dan Ibu tirinya sama sekali tak berkomentar apapun tentang kondisi anehnya.Bergegas Rhea ke kamarnya, dia dengan cepat merebahkan tubuh ke kasur.Tubuhnya terasa lemas dia tak ingin melakukan hal apapun, rasanya dia amat lelah. Beberapa kali dia membenahi posisi tidurnya, hingga dia terlelap tanpa sadar.Brak!Pintu di dobrak kasar. Lili masuk ke dalam kamar Rhea tanpa permisi. Wajahnya tampak masam dengan semangkuk bubur yang dia bawa.“Ini buburmu.”“Mm, letakan saja di meja,” jawab Rhea yang setengah sadar. Dia bahkan tak bertenaga untuk berurusan lebih dengan Lili.Lili tampak geram, dia mengomel kesal. “Enak-enakan tidur, gara-gara kau aku disuruh nenek membawa ini. Emangnya kau tuan putri dan aku pembantumu apa. Nenek sialan selalu membela cucu tak berguna seperti mu, aku kan cucunya juga. Kenapa aku di nomor duakan!!”Rhea memilih mengabaikan omelan Lili. Pada dasarnya hubungan mereka memang tak seperti adik kakak pada umumnya.Jika membalas omelan Lili hanya akan membuat masalah kian runyam. Itu melelahkan untuk sekarang.Lili melirik Rhea yang masih tidur pulas tanpa mendengarkan omelannya. Dia mendengus kian kesal, meski begitu dia meletakan semangkuk bubur di atas meja. Salah-salah dia bisa diomeli neneknya. Namun tangannya tak sengaja menyenggol tas yang ada di atas meja membuat tas itu terjatuh.Tas yang terbuka membuat selembaran foto USG ikut terjatuh ke lantai. Lili tak percaya dengan apa yang dia lihat. Buru-buru dia meraih foto USG itu.Matanya membelalak masih tak percaya. Dia lantas bergegas merogoh tas Rhea dan menemukan vitamin untuk Ibu hamil didalamnya.Lili tak percaya dengan apa yang ditemukannya, dia menutup mulutnya yang menganga sesekali melirik Rhea yang masih tertidur lesu.“Ah, itu sebabnya dia tiba-tiba mual dan tak napsu makan....” tebak Lili yang mulai mengerti kondisi tak biasa Rhea.“Ini sungguhan. Kakak yang abai dengan asmara, tiba-tiba hamil? Gila! Siapa pria yang bermain dengannya?” benak Lili bersemangat sekaligus masih terkejut.Bagi Lili, Rhea cukup aneh. Dia cantik, namun tak mampu memanfaatkannya. Dia bisa dengan mudah terkenal dengan parasnya dan harusnya Rhea mampu mengait 3-5 pria.Namun, sekalipun dia tak pernah berkencan. Terlebih, dia bisa menggoda pria-pria kaya yang jelas tak akan menolaknya.Senyum jahat terukir di bibir Lili, dia menyembunyikan foto USG itu. Ketika keluarganya tahu, maka sudah jelas apa yang akan dialami oleh kakaknya.Lili merasa puas, pertunjukan menyenangkan akan didapatkan. Melihat sang kakak kian terpuruk menjadi hal menyenangkan, sekaligus untuk pertama kalinya dia melihat kakaknya akan hancur karena ulahnya sendiri.Kakak yang cantik dan terkesan angkuh hanya karena dia anak tertua. Dia akan terhempas dan itu akhir dirinya di keluarga Dominic. Lili yakin, Ayah akan kian murka dan neneknya tak akan mentolerirnya.“Ini akan menyenangkan.” Lili sudah tak sabar.Sore harinya, mereka telah kembali sampai di kediaman mereka. Saat melangkah masuk, hanya Marie yang tampak berdiri menyambut di lobi utama. "Tuan kecilku pasti lapar," kata Marie dengan nada manja yang dibuat-buat begitu melihat Kenzo. Kenzo mengangguk-angguk penuh semangat. Marie kini dengan cekatan langsung melayani tuan kecilnya itu. Padahal Benjamin sudah memberinya pangkat yang cukup tinggi di dalam organisasi Oleander, namun wanita itu berulang kali menegaskan bahwa dia jauh lebih tertarik menjadi pengasuh pribadi Kenzo kecil. "Di mana Daniel dan Anna?!" tanya Benjamin saat tidak mendapati keberadaan dua orang itu. "Ah! Mereka menitipkan pesan sebelum pergi," jawab Marie, mencoba mengingat-ingat. "Anna baru saja pergi untuk menjelajahi kota lain, sedangkan Daniel kembali ke klub miliknya." Marie melanjutkan, "Seperti Daniel yang kita kenal, uang adalah segalanya. Dia sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan barunya... menjadi penyanyi di klubnya sendiri." Benjamin han
Tiga tahun berlalu sejak badai besar yang hampir merenggut kebahagiaan mereka. Waktu perlahan menyembuhkan banyak luka, mengubah banyak hal, dan membawa kedamaian yang selama ini mereka impikan. "Hei, kenapa kau berlari..." Anna terengah-engah mengejar Kenzo. "Larinya lincah sekali!" "Bibi hanya ingin memeluk!" rengeknya kemudian, merasa gemas sendiri. Kenzo kecil kini menginjak usia tiga tahun. Langkah kakinya yang mungil sebenarnya masih tertatih, namun ia cukup gesit hingga membuat Anna kesulitan menangkapnya. "Dia tidak mau bersamamu," tukas Daniel seraya bangkit dari duduknya. Pria itu memasang kuda-kuda, bersiap menangkap Kenzo yang hendak melesat melewatinya. Namun, Kenzo melintas begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Daniel. Bocah kecil itu berlari lurus menghampiri Rhea yang duduk tepat di sebelah kursi Daniel tadi. "Bu... Ib-u. Bibib mena-nggu..." ucap Kenzo terbata-bata. Di usianya sekarang, dia memang belum lancar berbicara dan kata-katanya masih agak sulit dip
Benjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep
Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata
Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami
Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua
"Benjamin, siapa dia Ayah?" tanya Lili yang terheran dengan reaksi Ayahnya. "Dia.. dia Pemimpin Mafia Oleander." jawab Hendra masih tak percaya. Pemimpin Oleander tak pernah sekalipun menunjukan wajahnya pada orang lain dan mereka sangat rapi dalam menangani masalah __ "Masuklah." pria itu memb
Rhea membuka matanya kala menyadari seseorang menatap ke arahnya tajam. Belum tersadar penuh, tanpa aba-aba Ayahnya langsung menarik lengannya kasar, menyeretnya bangun dari kasurnya. "Kau sangat hina!" cerca Ayahnya. Rhea tidak mengerti dengan kondisi tiba-tiba ini. Saat menuruni anak tangga se
Cahaya mentari masuk dari jendela dengan gorden yang dibuka lebar. Rhea mengernyit, merasa terganggu. Dia menggeliat, lalu merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Matanya mengerjap. Kemudian dia tersadar berapa di tempat asing. Matanya membelalak, penggalan ingatan semalam muncul memenuhi dirinya, ke
Rhea harus lembur lagi malam ini. Ia baru saja hendak pulang namun, langit sudah tampak mendung dengan angin malam menderu, dinginnya begitu menusuk. Rhea hendak bersiap untuk menerobos hujan, dia mengeluarkan payung dalam tasnya. Namun, saat sedang membuka payungnya dia melihat seorang pria duduk







