Share

Bab 150

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-20 16:05:32

Davien kembali melangkah maju dengan santai, melewati mayat-mayat yang mulai mendingin di atas lantai batu halaman. Pandangan matanya mengunci lurus ke arah pintu aula utama istana yang berada di ujung tangga batu tinggi yang berundak-undak.

"Aku sudah mengatakannya tadi kepada kalian," ucap Davien, nadanya tetap terdengar dingin laksana es abadi yang tidak terpengaruh oleh kepanikan di sekitarnya.

"Namaku Davien. Dan malam ini, Kelompok Pembunuh Bayangan akan dihapus dari sejarah dunia ini un
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 227

    Rombongan kecil itu bergerak cepat menyusuri koridor-koridor dalam menuju gudang penyimpanan bahan alkimia. Kali ini, tidak ada satu pun murid atau penjaga yang berani menghalangi atau memandang rendah Davien.Pintu gudang bagian dalam dibuka. Seketika itu juga, aroma ratusan jenis tanaman spiritual, mineral alkimia, dan akar obat memenuhi udara.Davien berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong rak kayu tinggi. Matanya yang tajam mengamati setiap kotak dan wadah tanpa menyentuhnya secara langsung.Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah rak di sudut timur."Berhenti," kata Davien.Tetua Song dan Mo Yuan langsung menghentikan langkah mereka.Davien menunjuk salah satu kotak kayu hitam berselot perunggu. "Buka kotak itu."Seorang murid dengan tangan gemetar segera membukanya. Di dalamnya tersusun rapi puluhan batang tanaman berdaun merah gelap yang membiaskan pendar redup.Mo Yuan mengerutkan kening. "Bunga Darah Jiwa..."Davien mengambil satu batang menggunakan ujung jarum dan me

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 226

    Tetua Song segera mendekat dengan raut tegang. "Berikan benda itu kepadaku, Tuan Davien. Kami harus menyimpannya di ruang segel."Davien tidak menyerahkannya, dia tetap menahan kristal itu di atas telapak tangannya."Aku perlu memeriksanya lebih lanjut," sahut Davien tanpa nada kompromi.Tetua Song mengerutkan keningnya, memasang wajah keras. "Itu adalah barang berbahaya dari sumber bencana ini!""Justru karena itu aku tidak akan memberikannya kepadamu sebelum mengetahui apa yang terkandung di dalamnya," potong Davien lugas.Mo Yuan memandang Tetua Song, lalu beralih menatap Davien."Tetua... biarkan dia," potong Mo Yuan menenangkan sang senior.Tetua Song menoleh terkejut. "Mo Yuan?!""Dia benar," aku Mo Yuan berat. "Metode Alkimia kita bahkan tidak sanggup mendeteksi parasit ini sejak awal. Kita butuh keahliannya untuk memahami apa yang sebenarnya kita hadapi."Davien merogoh sakunya, hendak memasukkan kristal itu ke dalam wadah porselen khusus.Namun tiba-tiba—KRAK!Retakan halus

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 225

    Davien mengamati simbol merah itu sekali lagi dan mengunci fluktuasi energi yang memancar darinya."Seharusnya?" gumam Davien. "Di dunia kultivasi, kata itu sering kali berarti mereka hanya bersembunyi di balik kegelapan untuk memulihkan kekuatan," jawab sang Kaisar dingin.Davien belum sempat menjawab ketika suara pedang beradu terdengar keras dari arah belakangnya.TRANG!"Ahkk!"Seorang murid Paviliun Seribu Obat terlempar dan jatuh berguling beberapa meter dari tempat Davien berdiri. Pelindung dadanya retak dan bersimbah uap hitam beracun.Dua parasit hitam berukuran sedang melesat cepat mengejarnya, kaki-kaki tipis mereka mematuk tanah dengan bunyi mendesis yang mengerikan.Davien mengangkat tangan kirinya secara spontan. Dua jarinya menjentik udara.Dua jarum cahaya emas melesat bagaikan kilat melintasi malam.SRET! SRET!Kedua parasit itu tertusuk secara presisi di udara, tubuh hitam mereka membeku seketika sebelum hancur menjadi debu.Murid tersebut menatap Davien dengan waja

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 224

    Davien terdiam kaku di kursinya.Jika spekulasi gurunya benar, maka dinamika di balik penyakit ibu Luo Chen bukan sekadar skandal persaingan alkimia lokal atau perselisihan harga obat biasa... melainkan konspirasi gelap yang melibatkan praktisi tingkat atas.Tiba-tiba—BOOM!Sebuah dentuman dahsyat menggelegar membelah keheningan malam Kota Qingyuan!Guncangan gelombang kejut raksasa membuat seluruh bangunan Penginapan Awan Jernih bergetar hebat. Jendela di samping Davien terbuka membanting dinding, dan beberapa genteng di atap bangunan seberang jalan runtuh berhamburan.Clara berdiri secara spontan dari kursinya, tangannya refleks mencabut pedang tipisnya. "Apa itu?!"Davien melangkah cepat ke ambang jendela dan menatap lurus ke arah pusat kota.Di kejauhan, tepat di atas kompleks megah Paviliun Seribu Obat, cahaya hitam terlihat membubung tinggi menembus gumpalan awan malam. Gelombang hawa dingin yang busuk meledak menyapu atmosfer kota.Jeritan histeris dan teriakan panik mulai te

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 223

    Pertanyaan kritis itu membuat Tetua Song terdiam kaku.Mo Yuan melanjutkan dengan analisis yang kian tajam, "Dan kenapa hanya batch tertentu yang dipasok dua bulan lalu yang menunjukkan indikasi ini?"Tetua Song tidak dapat menjawab. Kebisuan menyelimuti ruang Alkimia tersebut selama beberapa detik.Pada saat yang sama, langkah kaki yang terburu-buru bergaung di sepanjang lorong. Seorang pria paruh baya berjubah biru tua tiba-tiba memasuki ruangan. Dia adalah Penatua Han, kepala pengawas gudang dan inventaris Paviliun Seribu Obat."Tetua Song!" panggil Penatua Han seraya menangkupkan kedua tangannya."Ada apa, Penatua Han?" tanya Tetua Song tegas."Kami sudah memeriksa catatan produksi alkimia dua bulan lalu," lapor Penatua Han cepat. "Batch yang dikonsumsi oleh Keluarga Luo memang dibuat tepat pada pertengahan bulan tersebut.""Siapa yang bertanggung jawab di tungku pemurnian saat itu?""Tim pemurnian ketiga," sahut Penatua Han.Mo Yuan langsung memotong, matanya berkilat tajam. "Se

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 222

    Mo Yuan tidak menjawab lagi. Dia membawa ketiga tabibnya keluar dari penginapan.Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Luo Chen langsung mendekati Davien dengan raut wajah sangat cemas."Tuan Davien, apakah kau benar-benar percaya kepada mereka?!" tanya Luo Chen setengah berbisik. "Paviliun Seribu Obat adalah penguasa di kota ini. Jika kau pergi ke sana, kau akan berada di dalam wilayah mereka sepenuhnya!""Aku sama sekali tidak percaya," jawab Davien.Jawaban Davien begitu cepat dan dingin hingga Luo Chen seketika terdiam kaku."Kalau begitu kenapa kau mau pergi?" tanya Luo Chen bingung."Karena aku membutuhkan tungku mereka."Luo Chen tertegun, lidahnya mendadak kelu.Davien kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan wadah kecil berisi serbuk pil yang tadi diambilnya dari botol obat ibu Luo Chen."Dan aku ingin melihat bagaimana Paviliun Seribu Obat membuat pil tersebut secara langsung," lanjut Davien.Clara yang berdiri di sampingnya sejak tadi langsung memahami jalan pikiran Kakak S

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 8

    Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 7

    Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 6

    "Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 5

    “N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status