Masuk“N-Nona Maya ...”
Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini. Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien. “Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?” Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Penjaga itu buru-buru melepas tangannya. “Nona Maya, kami kira—” “Kira apa?” potong Maya tajam. “Bahwa pengawalku tidak pantas berdiri di sini?” Suasana mendadak tegang dan sunyi. Pegawai yang tadi paling lantang menghina kini menunduk. “Kami hanya menjalankan standar pelayanan, Nona,” gumam salah satu dari mereka. “Standar?” Maya tersenyum tipis. “Kalau standar kalian adalah menilai dari pakaian dan mengusir tanpa sopan santun, itu bukan standar. Itu kesombongan.” Wajah-wajah memucat. “Maaf, Nona ... ini salah paham.” Maya tak peduli. Ia menoleh pada Davien. “Masuklah. Pilih yang terbaik.” Dalam hitungan detik, sikap mereka berubah total. “Silakan, Tuan.” “Ruang VIP sudah siap.” Beberapa menit kemudian, Davien keluar dengan jas hitam slim-fit yang memahat bahunya sempurna. Rambutnya rapi, garis rahangnya tegas. Ia tidak lagi tampak seperti pria kumuh yang mereka usir. Ia tampak seperti seseorang yang terlalu tinggi untuk direndahkan. Butik kembali sunyi. Yang tadi menyindir harga kini hanya bisa berbisik kagum. Yang tertawa paling keras kini tak berani mengangkat kepala. Davien menatap mereka satu per satu dengan tenang, lau tersenyum tipis. “Apa masih kelihatan salah alamat?” tanyanya pelan. Tidak ada yang berani menjawab. Pegawai pria yang tadi paling meremehkan langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Kami salah.” Davien hanya mengangguk kecil. Tapi, jawaban sederhana itu justru terasa seperti tamparan paling menyakitkan. Maya menyilangkan tangan, puas tapi tetap anggun. “Lain kali,” katanya kepada seluruh staf, “belajarlah melihat nilai seseorang lebih dari sekadar kain yang ia kenakan.” ___ Setelah mengunjungi butik eksklusif milik kenalan Maya, penampilan Davien berubah drastis. Ia kini mengenakan setelan jas hitam slim-fit dengan kemeja putih tanpa dasi. Potongan jas itu menonjolkan bahunya yang lebar dan pinggangnya yang tegap. Rambutnya yang sedikit berantakan kini tersisir rapi, mempertegas garis rahangnya yang tajam. Saat Davien keluar dari ruang ganti, Maya yang sedang menyesap kopinya hampir saja tersedak. Pemuda di hadapannya kini tidak lagi terlihat seperti pengembara misterius, melainkan seperti pangeran dari dinasti kuno yang menyamar menjadi pengusaha muda. "Rasanya agak aneh memakai baju seperti ini. Apa ini memang terlihat lebih bagus, Nona Maya?" tanya Davien, merasa sedikit risih dengan pakaian yang terlalu pas di tubuhnya. Maya berdehem, berusaha menjaga martabatnya. "Sempurna dan sangat cocok. Setidaknya sekarang kau tidak mempermalukanku." Mereka kembali ke mobil. Kali ini, Maya bersikeras agar Davien duduk di kursi pengemudi. "Pegang setirnya," perintah Maya yang duduk sangat dekat dengan Davien, aroma parfum melatinya memenuhi kabin mobil. Davien memegang kemudi dengan kaku. "Lalu?" "Injak remnya dulu, lalu pindahkan tuas ini ke posisi D," Maya mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tangan Davien untuk membimbingnya menggerakkan tuas transmisi. Deg! Maya merasakan aliran panas menjalar dari telapak tangannya. Kulit Davien terasa kasar namun hangat. Ia mendongak dan menyadari wajah Davien hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. "Nona Maya? Kenapa tanganmu gemetar," ucap Davien pelan. "A-ah, ini karena aku belum sarapan!" Maya berbohong dengan cepat dan segera menarik tangannya. Jantungnya berdebar sangat keras, ia takut Davien bisa mendengarnya. "Sekarang, pelan-pelan lepas remnya dan injak gasnya sedikit saja." BRUM! Mobil melonjak sedikit, membuat tubuh Maya terdorong ke depan. Secara refleks, Davien merentangkan tangan kirinya di depan dada Maya agar gadis itu tidak menghantam dasbor. Namun, yang sama sekali tidak Davien sadari adalah, tangannya mendarat tepat di bongkahan kenyal milik Maya! "Maaf," ucap Davien begitu tersadar, ia menarik cepat tangannya. Tapi, sensasi lembut itu jelas masih terasa di telapak tangan Davien, meskipun kini ia telah mencoba menggenggam setir dengan kuat. "T-tidak apa-apa," bisik Maya, wajahnya yang sempat menegang, kini kembali memerah padam. “Lanjutkan saja.” Akhirnya, meskipun masih merasa terkejut, Davien berusaha tetap fokus. Bagaimanapun juga, ia adalah lelaki normal. Selama ini hidup dengan gurunya, jelas ia hampir tak pernah berurusan dengan wanita, apalagi bersentuhan. Jadi, ini jelas membuat tubuh Davien merasakan getaran yang tak biasa. “E–ekhem, baik Nona,” jawab Davien mencoba tenang. Di balik kemudi, Davien terus memperhatikan instruksi Maya. Meskipun fokus pada jalanan, ia bisa merasakan kegugupan gadis di sampingnya. Mobil itu merayap pelan keluar dari area parkir butik. Davien berusaha keras membagi fokusnya antara pedal gas yang sensitif, spion yang membingungkan, dan aroma parfum melati dari tubuh Maya yang seolah-olah sengaja masuk ke dalam paru-parunya. Sepanjang perjalanan menuju kantor, suasana di dalam mobil terasa sangat canggung namun entah mengapa terasa manis. Maya berulang kali membuang muka ke arah jendela samping, pura-pura memperhatikan gedung-gedung pencakar langit Metropolis G, padahal jantungnya masih berdebar kencang. Di sisi lain, Davien mulai menemukan ritme menyetirnya. Sebagai jenius bela diri, adaptasinya memang luar biasa. Hanya dalam waktu lima belas menit, ia sudah tidak lagi membuat mobil itu melonjak. Gerakannya menjadi halus, sehalus aliran tenaganya saat melakukan pengobatan. "Davien," panggil Maya memecah keheningan. Suaranya kini sudah lebih tenang, meski rona merah di pipinya belum hilang sepenuhnya. "Iya, Nona?" "Di kantor nanti jangan panggil aku 'Nona' jika tidak ada orang lain. Panggil saja Maya. Terasa aneh mendengarnya darimu," ucap Maya sambil diam-diam meliriknya. Davien melirik sekilas melalui spion tengah. "Baik, Maya." Mendengar namanya disebut tanpa gelar formal oleh Davien membuat hati Maya mencelos. Suara Davien yang berat dan rendah memberikan kesan dominan namun melindungi. Maya sedikit menggigit bibir bawahnya, merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutnya, perasaan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya sebagai pewaris tunggal keluarga kaya yang selalu dikelilingi pria-pria penjilat. "Aku benar-benar tidak menyangka, laki-laki aneh sepertimu ternyata benar-benar hebat," gumam Maya tiba-tiba. "Hebat bagaimana maksudnya?" Davien melirik Maya sekilas, bingung dengan arah pembicaraan gadis itu. "Sebelumnya kau menyembuhkan kakekku, lalu semalam kau menghancurkan sekelompok orang asing dengan begitu mudah. Dan sekarang, kau belajar menyetir dalam waktu singkat." Maya menoleh dan menatap profil samping Davien yang tegas. "Aku jadi penasaran, kira-kira apa yang tidak bisa kau lakukan?" Davien terdiam sejenak. "Membiarkan orang yang sudah membantuku berada dalam bahaya. Itu satu hal yang tidak akan pernah bisa aku lakukan." Jawaban itu sederhana, tapi bagi Maya terdengar seperti janji setia yang paling romantis. Ia merasa terlindungi, seolah-olah Davien adalah pelabuhan tenang di tengah badai Metropolis G yang kejam. Saat lampu merah menyala di perempatan jalan protokol, Davien menghentikan mobil dengan sangat mulus. Ia menoleh ke arah Maya yang sedari tadi terus memperhatikannya. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Davien sambil meraba jas hitamnya. Ia masih merasa jas itu terlalu pas di tubuhnya yang atletis.“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Penjaga itu buru-buru melepas tangannya. “Nona Maya, kami kira—”“Kira apa?” potong Maya tajam. “Bahwa pengawalku tidak pantas berdiri di sini?”Suasana mendadak tegang dan sunyi. Pegawai yang tadi paling lantang menghina kini menunduk.“Kami hanya menjalankan standar pelayanan, Nona,” gumam salah satu dari mereka.“Standar?” Maya tersenyum tipis. “Kalau standar kalian adalah menilai dari pakaian dan mengusir tanpa sopan santun, itu bukan standar. Itu kesombongan.”Wajah-wajah memucat. “Maaf, Nona ... ini salah paham.”Maya tak peduli. Ia menoleh pada Davien. “Masuklah. Pilih yang terbaik.”Dalam hitungan detik, sikap mereka berubah total.“Silakan, Tuan.”“Ruang VIP sudah siap.”Beberapa men
Anggota anak buah Suro yang tersisa, dengan tangan gemetar, segera menyeretnya keluar dari halaman depan kediaman Tuan Besar Pratama. Davien berdiri di tengah kekacauan itu sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pundak kemejanya dengan gerakan santai."Maafkan aku, Tuan Besar Pratama," kata Davien memecah kesunyian yang mencekam. "Aku tidak bermaksud menghancurkan acara makan malam Anda."Handoko Pratama, yang sedari tadi terpaku melihat pemandangan di depannya menghela napas panjang."Apa maksudmu menghancurkan acara makan malam?" Handoko tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh kelegaan yang luar biasa. “Kau telah menyelamatkan nyawa kami sebanyak dua kali. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."Belum sempat Davien merespon, Handoko kembali bersuara dengan lebih tegas."Security! Seret anjing-anjing ini keluar!" suara Tuan Handoko Pratama menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. "Pastikan mereka tidak meninggalkan jejak di kediamanku!"Beberapa pengawal internal
Istana keluarga Pratama berdiri megah di kawasan elit Metropolis G, dikelilingi taman yang luas dan sistem keamanan tingkat tinggi. Namun bagi Davien, kemegahan ini terasa sunyi. Ia duduk di ruang makan formal, hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana kain yang baru dibelikan Maya.Handoko Pratama, sang Tuan Besar, duduk di kepala meja. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan semburat merah kehidupan setelah teknik jarum Davien membersihkan jalur nadinya."Jadi, namamu Davien?" tanya Handoko, suaranya parau namun penuh hormat."Benar, Tuan," jawab Davien seraya mengangguk. Dia sengaja memutus marga 'Adiputra' agar tidak memancing kegaduhan terlalu dini.Tuan Handoko menarik napas panjang. Lalu bicara, "Kau memiliki kemampuan medis yang ajaib, Davien. Dokter Wijaya yang sombong itu pun hanya bisa membawa malapetaka. Aku berutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Saham di Pratama Group? Atau apa?" Davien meletakkan garpunya. Suara dentingan l
Suara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit. Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang."Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan. Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan.Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan.Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tid
CRASH!!BOOM!!“Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah.Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta.Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara.Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram.Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian.Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah







