ANMELDENPertanyaan kritis itu membuat Tetua Song terdiam kaku.Mo Yuan melanjutkan dengan analisis yang kian tajam, "Dan kenapa hanya batch tertentu yang dipasok dua bulan lalu yang menunjukkan indikasi ini?"Tetua Song tidak dapat menjawab. Kebisuan menyelimuti ruang Alkimia tersebut selama beberapa detik.Pada saat yang sama, langkah kaki yang terburu-buru bergaung di sepanjang lorong. Seorang pria paruh baya berjubah biru tua tiba-tiba memasuki ruangan. Dia adalah Penatua Han, kepala pengawas gudang dan inventaris Paviliun Seribu Obat."Tetua Song!" panggil Penatua Han seraya menangkupkan kedua tangannya."Ada apa, Penatua Han?" tanya Tetua Song tegas."Kami sudah memeriksa catatan produksi alkimia dua bulan lalu," lapor Penatua Han cepat. "Batch yang dikonsumsi oleh Keluarga Luo memang dibuat tepat pada pertengahan bulan tersebut.""Siapa yang bertanggung jawab di tungku pemurnian saat itu?""Tim pemurnian ketiga," sahut Penatua Han.Mo Yuan langsung memotong, matanya berkilat tajam. "Se
Mo Yuan tidak menjawab lagi. Dia membawa ketiga tabibnya keluar dari penginapan.Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Luo Chen langsung mendekati Davien dengan raut wajah sangat cemas."Tuan Davien, apakah kau benar-benar percaya kepada mereka?!" tanya Luo Chen setengah berbisik. "Paviliun Seribu Obat adalah penguasa di kota ini. Jika kau pergi ke sana, kau akan berada di dalam wilayah mereka sepenuhnya!""Aku sama sekali tidak percaya," jawab Davien.Jawaban Davien begitu cepat dan dingin hingga Luo Chen seketika terdiam kaku."Kalau begitu kenapa kau mau pergi?" tanya Luo Chen bingung."Karena aku membutuhkan tungku mereka."Luo Chen tertegun, lidahnya mendadak kelu.Davien kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan wadah kecil berisi serbuk pil yang tadi diambilnya dari botol obat ibu Luo Chen."Dan aku ingin melihat bagaimana Paviliun Seribu Obat membuat pil tersebut secara langsung," lanjut Davien.Clara yang berdiri di sampingnya sejak tadi langsung memahami jalan pikiran Kakak S
Ruangan itu menjadi hening setelah ucapan Davien. Tidak ada satu pun dari mereka yang segera berbicara.Mo Yuan menatap Davien cukup lama, seolah berusaha membaca pikiran pemuda yang berdiri di hadapannya.Matanya yang tajam menyapu setiap jengkal ekspresi Davien—mulai dari cara berdiri pemuda itu yang tegap hingga lipatan kemeja hitam aneh yang dikenakannya. Namun wajah Davien terlalu tenang. Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan, bahkan tidak tampak sedikit pun keinginan untuk mundur di balik tatapan matanya yang sedingin cermin es abadi.Kegagalan untuk menemukan kegentaran pada diri Davien membuat ketenangan yang dipupuk Mo Yuan selama bertahun-tahun meretak tipis.Akhirnya Mo Yuan mengalihkan pandangannya kepada wanita tua di atas tempat tidur, mengamati napas teratur pasien yang dadanya kini tidak lagi bergetar histeris."Kalau begitu, izinkan kami memeriksa pasien," ujar Mo Yuan, memecah keheningan dengan nada suara yang tetap terjaga sopan."Untuk apa?" tanya Davien pendek
"Pil apa yang kau maksud?"Pemuda itu merogoh saku bagian dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berukirkan porselen putih dari sakunya.Davien mengambilnya dan membuka tutupnya.Aroma herbal yang sangat harum langsung memenuhi ruangan, membawa kesegaran alami yang menenangkan saraf.Dia menuangkan satu pil berwarna cokelat keemasan ke telapak tangannya.Pil itu terlihat sempurna.Tidak ada retakan di permukaannya, tidak ada perubahan warna, bahkan aroma spiritualnya sangat murni.Namun setelah Davien mengaktifkan sedikit energi di ujung jari untuk membakar lapisan luar pil tersebut, ekspresinya berubah."Pil ini tidak bermasalah," kata Davien.Pemuda itu terkejut dan membelalakkan matanya tak mengerti."Kalau begitu—""Masalahnya ada pada sesuatu yang ditambahkan ke dalam proses pembuatannya," sela Davien.Davien menghancurkan sedikit bagian pil menggunakan kuku jarinya.Serbuk halus jatuh ke telapak tangannya.Dia mengendusnya, lalu membiarkan energinya mengurai tiap ele
Pemuda itu terdiam kaku. Pikirannya berkecamuk hebat, membayangkan bayangan kematian ibunya yang kian mendekat.Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih dan menembus kulit."Apa kau... Apakah kau bisa menyembuhkannya?" tanyanya penuh getaran emosi, seraya menatap Davien bagaikan menatap satu-satunya jerat penyelamat di tengah lautan badai.Davien memandang wanita tua tersebut."Bisa," sahut Davien singkat.Jawaban sederhana tanpa keraguan itu membuat pemuda tersebut tidak mampu lagi menahan beban psikologis di dadanya. Dia melangkah maju dan langsung berlutut di lantai batu penginapan.BRUK!"Kalau begitu, aku mohon selamatkan ibuku!" jerit pemuda itu seraya menundukkan kepalanya rapat-rapt. "Aku akan membayarmu dengan apa pun, walau itu dengan nyawaku sekalipun!"Davien mengangkat tangannya pelan."Bangun. Aku tidak membutuhkan kau berlutut," tegur Davien dingin. "Tindakanmu hanya membuang waktu."Pemuda itu buru-buru bangkit kembali, lalu mengusap peluh di wajahnya
Fajar baru saja menyentuh atap-atap Kota Qingyuan ketika Davien menutup buku medis terakhir di hadapannya.Semalaman membaca membuat pikirannya dipenuhi berbagai teori pengobatan yang sebelumnya tidak pernah dia temui sebelumnya.Namun alih-alih merasa lelah, Davien justru merasa semakin tertarik.Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap cahaya pagi yang masuk melalui jendela."Menarik," bisik Davien pelan, jemarinya mengelus permukaan buku tua di depannya.Ilmu medis di Dimensi Gunung Terlarang ternyata bukan sekadar pengobatan menggunakan pil dan ramuan spiritual. Beberapa tabib telah mengembangkan metode untuk mengamati aliran energi dalam tubuh, memperbaiki meridian, bahkan menggunakan kesadaran spiritual untuk mendeteksi penyakit yang tidak terlihat secara fisik.Sayangnya, sebagian besar pengetahuan tersebut masih terpecah-pecah.Ada yang memahami meridian tetapi tidak memahami organ. Ada yang ahli meracik pil tetapi tidak memahami akar penyakit. Ada pula yang mampu menye
Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh
Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh
"Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin
“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P







