LOGINDia bahkan hendak berlutut di hadapan Davien. Namun Davien menahannya dengan satu gerakan. Tangan kirinya mencengkeram lengan pria paruh baya itu sebelum lututnya menyentuh lantai."Jangan berlutut," tegur Davien dingin. "Siapkan apa yang aku minta.""Baik, aku akan menyiapkan apa pun! Katakan saja!" sahut sang ayah cepat seraya menghapus air matanya."Jarum perak baru. Dua puluh tujuh batang. Air spiritual murni. Dan satu tungku kecil."Tabib tua itu tertegun. Alisnya bertaut heran. "Jarum perak?"Davien menoleh kepadanya, pandangannya sedingin es."Yang kau gunakan tadi sudah terkontaminasi racun. Jangan dipakai lagi."Wajah tabib tua itu sedikit memerah akibat sindiran mendasar tersebut.Namun kali ini dia tidak membantah. Keahlian analisis Davien yang tepat sasaran tadi telah meruntuhkan seluruh keangkuhan profesionalnya.Dia segera memerintahkan para murid untuk mengambil perlengkapan yang diminta Davien. "Cepat! Ambilkan set jarum perak dari ruang penyimpan utara dan tungku pe
Suara seorang pria terdengar panik. Suara itu menggema memecah ketenangan lantai satu Paviliun Seribu Obat.Orang-orang segera menoleh.Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian mewah bersulam benang perak sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Pakaian pria itu compang-camping di beberapa bagian, bersimbah lumpur dan bercak darah kering.Wajah anak itu pucat. Bibirnya membiru.Tubuhnya terus bergetar. Hawa dingin berbau racun kental menyembur pelan dari tiap helaan napasnya yang patah-patah.Seorang tabib tua segera berlari mendekat. Pria tua itu mengenakan jubah hijau bersulam garis emas, memegang tas berisi perlengkapan jarum dan ramuan medis."Letakkan dia di sini!"Anak itu dibaringkan di atas meja pemeriksaan yang terbuat dari kayu giok dingin.Tabib tua tersebut segera memeriksa denyut nadinya. Dua jarinya menempel rapat di pergelangan tangan sang anak dan segera menyalurkan hawa murni untuk melacak aliran darahnya.Ekspresinya perlahan berubah
Langkah Davien terhenti. Kalimat Kaisar Dewa Surgawi terus terngiang di dalam benaknya.Davien menatap keramaian Kota Qingyuan dengan sorot mata yang perlahan berubah serius. Selama berada di Valthoria, dia telah terbiasa menjadi sosok yang hampir tidak memiliki lawan. Bahkan ketika menghadapi para praktisi dari Dimensi Gunung Terlarang sebelumnya, kekuatannya telah cukup untuk membuat sebagian besar lawan bertekuk lutut.Tanpa disadari, dia mulai menganggap pencapaiannya saat ini sudah cukup tinggi.Namun, perkataan Kaisar Dewa Surgawi mengingatkannya pada kenyataan yang jauh lebih luas.Dimensi Gunung Terlarang ternyata tidak sesederhana yang dia bayangkan."Aku mengerti," jawab Davien dalam hati.Kaisar Dewa Surgawi tidak berkata apa-apa lagi. Suara sang penguasa perlahan surut, meninggalkan keheningan yang dalam di dasar kesadarannya.Davien kembali melangkah bersama Clara.Mereka menyusuri jalan utama Kota Qingyuan untuk mencari penginapan sekaligus mencari tahu bagaimana cara
Dua pengawal keluarga Lin melangkah mundur satu tapak dengan raut ketakutan yang amat sangat, tak berani mencabut senjata mereka. "M-mundur! Kekuatan pemuda itu... berada jauh di atas tingkat kita!"Tidak ada seorang pun menyangka bahwa pemuda berpakaian aneh yang dikira manusia biasa ternyata merupakan praktisi dengan kekuatan yang jauh melampaui mereka.Keheningan yang mencekam melingkupi area gerbang selama beberapa helaan napas. "Aku hanya ingin melintas," kata Davien datar, suaranya yang tenang merembes ke dalam kesadaran setiap orang di tempat itu. "Aku tidak datang untuk mencari masalah, tapi jangan memaksaku membuatnya."Tanpa memandang Lin Zhaoyang yang masih gemetar berlutut di tanah, Davien membawa Clara memasuki Kota Qingyuan. Dia melangkah melewati dua penjaga gerbang yang kini berdiri kaku bagaikan patung tanpa berani mengangkat tombak atau meminta dokumen apa pun. Clara mengikuti di sisinya dengan kepala tegak, menatap para praktisi di sekeliling mereka yang kini me
Dua orang pria tegap berseragam zirah kulit berukirkan lambang Kota Qingyuan menyilangkan tombak mereka tepat di depan dada Davien. Keduanya memandang dari kepala hingga kaki dan mengira Davien adalah manusia biasa yang datang bersama seorang praktisi."Berhenti," tegur salah satu penjaga dengan alis bertaut tajam. Matanya menatap jaket hitam dan sepatu Davien dengan pandangan jijik. "Dilarang membawa warga luar atau budak tanpa dokumen resmi ke dalam Kota Qingyuan."Clara segera menjelaskan bahwa Davien adalah seorang praktisi."Dia bukan manusia biasa!" potong Clara dengan suara tegas, lalu melangkah maju menyampingi Davien. "Beliau adalah seorang ahli kultivasi dan kakak seperjuanganku!"Namun salah seorang penjaga malah tertawa.Suara tawa seraknya mengundang perhatian beberapa orang di sekitar antrean. Penjaga itu memegang gagang tombaknya rapat-rapt seraya menyapu pandangan ke arah Davien dengan cengiran mengejek."Praktisi?" kekeh penjaga itu sengal. "Adik kecil, jangan bercan
Jenderal Haryo menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut terperanjat. "Apa?! Mengapa, Davien? Urusanmu di sana bukankah sudah selesai? Kristal ini sudah ada di tangan kita!"Davien menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam cahaya perak lorong dimensi seraya mengutarakan pandangannya."Memperbarui segel pembatas dimensi dengan kristal ini hanya solusi sementara, Jenderal," terang Davien dengan nada tegas dan rasional. "Segel itu hanya mengulur waktu. Selama Dimensi Gunung Terlarang dan Negeri Valthoria terpisah oleh benteng ketakutan, batas dimensi ini akan selalu menjadi sasaran empuk bagi kelompok-kelpok gelap di sana untuk mengeksploitasi dunia modern kita."Davien memalingkan pandangannya, menatap lurus ke manik mata Jenderal Haryo."Aku akan kembali ke Dimensi Gunung Terlarang," lanjut Davien. "Aku akan menggembleng kekuatanku di sana, menghancurkan kelompok kegelapan yang tersisa, dan menyatukan seluruh wilayah Dimensi Gunung Terlarang di bawah satu kendali mutlak."Jende
Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh
Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh
"Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin
“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P







