MasukKakak iparku mengandalkan kondisiku yang buta, sehingga tidak pernah sungkan untuk telanjang bulat di depanku. Namun, aku tidak pernah menyangka jika dia malah berinisiatif memintaku untuk membantunya mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya. Aku meraba-raba tubuh kakak iparku, hingga akhirnya atas petunjuknya, tanganku masuk ke dalam anusnya yang hangat dan basah, lalu menyentuh potongan pare yang patah di sana. Sebenarnya, tidak ada yang tahu. Mataku sudah sembuh.
Lihat lebih banyakKami berdua bercinta selama setengah jam penuh."Ah!"Kami berdua mengeluarkan seruan kepuasan di saat yang bersamaan.Setelah itu, aku memintanya dua kali lagi berturut-turut. Barulah aku merasa gairah yang terpendam sedikit mereda.Bibi Fenti sudah terkulai lemas di lantai seperti lumpur, tidak mampu bergerak sedikit pun.Aku merapikan pakaian, memberikan peringatan sekali lagi kepadanya, baru kemudian meninggalkan ladang jagung itu.Sesampainya di rumah, saat melewati pintu kamar Kak Liana, aku mendengar suara Kak Liana sedang menelepon. Sepertinya dia sedang melakukan panggilan video dengan Kak Rizal.Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak sedikit mendekat."Sayang … aku kangen banget ... cepatlah pulang ...." Suara Kak Liana terdengar manja dan penuh kerinduan, membuat hatiku merasa penasaran."Sayang, hal yang Ibu bicarakan padamu, soal Gatot itu … bagaimana pendapatmu? Kamu nggak benar-benar ingin mengadopsi anak, 'kan? Aku nggak setuju!"Terdengar suara Kak Rizal, "Gatot itu k
"Lihatlah, betapa nggak sabarannya kamu!" Bibi Fenti mengeluh sambil setengah menolak. "Semenjak melihat punyanya Si Gatot, punyamu ini rasanya hampir nggak sebanding lagi di mata Bibi. Nggak bisa sampai ke dasar, masih lebih mantap punya dia."Meskipun bicara seperti itu, Bibi Fenti tetap menurut dan membungkukkan badan, mulai melayani Randy dengan mulutnya.Randy mengerang keenakan, "Masih berani bicara! Kamu sih sudah merasakannya sekali, sementara aku cuma kebagian sedikit, rugi besar. Hari ini, kamu harus benar-benar menebusnya padaku!"Aku bersembunyi di balik batang jagung dan diam-diam merekam video dengan ponselku. Jantungku berdegap kencang karena bersemangat.Dengan kartu As ini di tanganku, lihat saja apa Randy masih berani macam-macam pada Kak Liana.Dengan tabiat buruknya itu, Randy bahkan tidak pantas untuk sekadar menjadi pembantu Kak Liana!Melihat mereka berdua berguling-guling dan saling bercengkerama di tanah, tubuhku sendiri mulai bereaksi. Aku merasakan panas dan
Teriakan tiba-tiba dariku membuat Bibi Fenti dan Randy terlonjak kaget.Bibi Fenti bergegas turun dari tubuhku dengan kelabakan, lalu mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru.Randy juga tampak seperti kucing yang ekornya terinjak. Dia langsung melompat menjauh dari sisi Kak Liana dan menatapku dengan tegang."Gatot, kamu sudah bangun?" Bibi Fenti berusaha tampak tenang. "Kakak iparmu sedang mabuk berat dan belum sadar. Berbaringlah sebentar lagi. Pulanglah setelah kamu merasa lebih baik."Aku berpura-pura masih linglung, menggerakkan tubuh sedikit, lalu mengerutkan kening. "Bibi Fenti, kenapa celanaku basah dan lengket begini? Apa ada minuman yang tumpah?""Hah? Oh, iya! Benar, benar sekali!" Bibi Fenti buru-buru menyahut, mengikuti alur bicaraku. "Tadi waktu Bibi membantumu, nggak sengaja menyenggol gelas sampai tumpah ke badanmu. Terasa nggak nyaman, ya? Sini, biar Bibi bersihkan."Bibi Fenti mengambil handuk basah, menyingkap pakaianku dan dengan hati-hati menyeka bagian bawah tub
Melihat Randy masuk, hatiku langsung mencelos.Mungkinkah ini jebakan yang direncanakan oleh Randy dan Bibi Fenti? Sengaja membohongi Kak Liana untuk datang ke sini dan membuatnya mabuk?"Fenti, kamu memang punya cara. Kamu benar-benar berhasil membawa wanita ini ke sini."Randy menggosok-gosokkan kedua tangannya. Tatapan matanya yang mesum menyapu sekujur tubuh Kak Liana yang sedang terkapar mabuk. "Aku sudah mati-matian menginginkannya. Hari ini, aku harus benar-benar bersenang-senang sepuasnya!"Sambil berkata seperti itu, Randy hendak menerjang ke arah Kak Liana. Akan tetapi, langkahnya langsung diadang oleh Bibi Fenti."Sabar sedikit. Gatot masih di sini. Meski dia buta, telinganya sangat tajam. Kalau masalah ini sampai heboh, kita semua nggak akan punya muka lagi untuk tinggal di desa ini!" ucap Bibi Fenti dengan suara yang ditekan rendah."Apa yang perlu ditakutkan?" Randy tidak ambil pusing. "Justru lebih bagus si buta ini ada di sini. Begitu aku selesai bermain, aku akan barin
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.