Share

Bab 10 Reward

Author: Allina
last update publish date: 2026-10-18 22:10:17

Selesai kelas, di koridor lantai dua, Rehan berpapasan dengan Nadia. Perempuan selebgram itu berjalan dikawal dua temannya, satu membawa tripod dan satu lagi memegang ponsel yang sudah menyala merekam.

Biasanya Rehan langsung memindahkan pandangan ke lantai. Pagi ini, berkat satu poin Karisma, lehernya tetap lurus.

Nadia berhenti, menyibakkan rambut hitam panjangnya ke belakang bahu, lalu mengangkat satu alis tegasnya. "Tumben kepalamu nggak nyium lantai, Rehan. Kamu minum vitamin apa?"

"Kata d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 24 Mmph, jangan berhenti...

    Rehan memegang kedua pinggul Tante dan masuk dari belakang. Tante mendesah panjang, kepalanya terkulai di antara lengannya. "Aah, dalem banget, Han. Lebih dalem lagi. Tante kuat."Plak. Plak. Plak.Bunyi daging bertemu daging memenuhi dapur, dan gelas di atas meja ikut bergetar.Rehan menghentak makin cepat. Pinggul Tante bergoyang mengikuti irama, dan kedua payudaranya ikut terayun di bawah dadanya. Rehan mengulurkan tangan, menangkup salah satunya dari belakang, lalu meremasnya pelan."Mmh, Han, iya, remes. Hhh, Tante, Tante mau keluar!""Saya nggak berhenti, Tante.""Jangan berhenti! Dikit lagi, aah, dikit lagi!""Sayuuur! Bu Ratih! Terongnya baru dateng, Bu!"Celaka tiga belas! Teriakan itu menembus jendela dapur. Gerobak Mbak Ningsih berhenti tepat di depan pagar, rodanya berderit, dan suara perempuan itu terdengar jelas di seberang tembok.Rehan membeku di tengah gerakan. Tante menutup mulutnya dengan telapak tangan, menoleh dengan mata melotot, lalu menggeleng keras ke arah Reh

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 23 Masukin lagi...

    Di ambang dapur, Rehan berhenti. Tante berdiri di depan kompor memakai kemeja kotak-kotak milik Rehan yang kemarin dia pakai, dan hanya dua kancing bagian bawah yang terpasang. Ujung kemeja itu jatuh sampai pertengahan paha. Tiap kali Tante mengangkat tangan untuk mengambil garam, bagian belakangnya yang bulat ikut mengintip keluar.Mochi duduk di kursi makan dan mengawasi wajan dengan mata malas."Duduk, Han. Telurnya sebentar lagi mateng," kata Tante tanpa menoleh.Rehan menurut, tapi dia memilih kursi yang menghadap jendela, bukan kompor. Dari kaca jendela dapur, dia bisa melihat pantulan Tante yang sedang menggoyangkan wajan, dan pantulan itu terlalu jelas untuk ukuran pagi hari.Tante berjalan ke kulkas dengan langkah melebar dan kaku, seperti orang yang baru turun dari motor setelah perjalanan jauh."Tante, kakinya kenapa?" tanya Rehan, polos sekali.Tante berbalik sambil menodongkan spatula. "Gara-gara siapa coba?""Saya nggak tahu, Tante.""Kamu tahu. Jangan pura-pura bodoh."

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 22 Mmh, buka dikit...

    "Tante nyaman. Dari tadi Tante mikirin ini terus." Tante mengangkat wajahnya, dan matanya yang masih basah memantulkan lampu jalan.Layar biru menyala redup di samping kursi Rehan.[Misi: Balas ciuman Tante. Syarat, Tante yang mulai. Reward: 4 poin.]Dalam gelap, dada Tante naik turun di balik kebaya hijau yang tegang, dan tiap tarikan napasnya menekan lengan Rehan. Wangi melati dari sanggulnya bercampur bau keringat dan air mata yang mengering. Lalu Tante menempelkan bibirnya ke bibir Rehan.Hanya menempel, diam, hangat, dan sedikit asin karena air mata. Rehan kaku dengan mulut tertutup rapat dan kedua tangan mencengkeram lututnya sendiri.Tante tertawa kecil di bibir Rehan. "Buka dikit, Han. Kamu kayak lagi dicium tukang parkir.""Maaf, Tante, saya belum pernah," bisik Rehan jujur."Tante tau. Makanya Tante yang ajarin."Ujung lidah Tante menyentuh bibir bawah Rehan. "Mmh, buka dikit, iya, gitu."Rehan membuka mulutnya. Lidah Tante masuk, hangat dan basah, menyentuh lidahnya sekali,

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 21 Misi Kecil

    Om muncul dari belakang membawa segelas sirup merah, lalu sengaja memperkeras suaranya supaya terdengar sampai meja sebelah."Sopir saya izin, Bu, jadi anak ini saya pinjam buat nyetir. Soal gemuk, kebayanya sampai kayak lemper, Bu. Udah saya bilangin dari rumah supaya ganti, tapi Ratih ngeyel," kata Om, dan tawanya pecah paling keras di antara semua orang.Saudara-saudara di meja itu ikut tertawa."Lemper isi daging, Mas Burhan, makanya Ratih nggak muat!" seru seorang bibi bersanggul, dan tawa di meja itu pecah lagi, lebih keras.Senyum Tante membeku di wajahnya seperti pajangan toko. Tangan kirinya yang bercincin mencengkeram ujung jarik sampai kain itu kusut, dan Rehan tahu betul perempuan itu sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.Rehan menggenggam tas selempang itu sampai buku jarinya memutih. Mati kutu. Kalau dia maju dan membentak Om di depan saudara-saudara, Om punya alasan sempurna untuk mengusirnya malam ini juga.Kalau Rehan diusir, UKT tidak terbayar. Kala

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 20 Cepat, Han...

    Tiiin! Tiiin!Klakson mobil Om membelah subuh dari carport, padahal jam dinding kamar tamu baru menunjuk pukul empat lewat lima.Rehan terlonjak dari kasur kempes, lalu mengancingkan kemeja putih lungsuran seragam SMA-nya dengan jari yang masih setengah tidur.Dari kamar Tante terdengar suara yang melengking tapi ditahan supaya tidak sampai ke carport. "Han! Resleting kebaya Tante macet di tengah punggung, dan Mas Burhan udah klakson dua kali! Cepat ke sini, Tante nggak bisa narik sendiri!"Rehan menyelinap masuk, lalu langsung menyesal punya mata. Tante berdiri membelakangi pintu di depan cermin lemari, memakai jarik wiru dan kebaya hijau zamrud yang resletingnya tersangkut di antara dua tulang belikat. Dari celah selebar telapak tangan itu mengintip kulit kuning langsat dan tali BH renda hitam yang baru kemarin mereka beli.Sayang beribu sayang, kebaya itu jelas dijahit saat badan Tante masih sembilan tahun lebih kurus. Kain hijau itu membungkus pinggul Tante sampai jarik di bawahny

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 19 Kotak Kejutan

    Belalang hijau itu melompat keluar dari kerah Rehan, mendarat di tutup kardus, lalu menggosok sungutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waduh! Si pelaku utama malah santai, sementara korbannya hampir pingsan.Tante tertawa. Bahkan dia tertawa sampai menunduk di punggung Rehan, kardus di pangkuannya miring, dan air mata mengalir di pipinya."Itu tadi belalangnya yang keras, atau punya kamu, Han?" tanya Tante di sela napasnya yang tersengal."Belalangnya, Tante. Punya saya sekarang lagi pingsan," jawab Rehan dengan muka merah sampai ke telinga.Tante tertawa lagi. Telapak tangannya masih menempel di sana sedetik lebih lama dari yang diperlukan, lalu dia menariknya dan pura-pura sibuk membetulkan kardus.‘Jo, kamu masih hidup? Bilang apa kek, jangan diam begitu,’ batin Rehan.[Insiden: belalang di celana. Tante menerima kejadiannya. 3 poin. Saldo 38, XP 52.][XP 52. Rehan naik ke Level 3.][Fitur baru terbuka. Kartu FL dan Gelar.][Paket Naik Level. 3 Poin Atribut dan satu Kotak Kejutan gr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status