Share

Bab 71

Author: Anna Sahara
last update publish date: 2026-05-16 11:25:27
Angin dari sungai Vltava menusuk sampai tulang, tapi bukan itu yang membuat dada Aarick sesak. Ketika dia mendapatkan pujian dari banyak orang, di kepalanya, hanya ada satu nama.

Ara.

Gadis itu adalah satu-satunya wanita yang membuat Aarick merasa seperti manusia normal, bukan alat yang kerap dimanfaatkan banyak orang. Jemarinya bergerak sendiri, merogoh ponsel dalam saku mantel.

Aarick hanya ingin mendengar suara Ara. Namun belum sempat layar ponsel menyala.

"Aarick."

Suara itu datan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 74

    Asisten sutradara bernama Gladi berseru, "Kapten Bara masuk dari pintu timur, Anne berlari dari tangga. Action!" Aarick berjalan. Langkahnya berbeda. Cepat, presisi, tetapi tidak kaku. Alina berlari ke arahnya, sesuai koreografi. Dalam naskah, Bara menarik Anne, melindunginya dengan badan, lalu... "Cut!" Aarick mengangkat tangan sebelum Anne sampai. Dia menoleh ke arah sutradara. "Peluk bisa. Tapi cium sampai kokop-kokopan tolong diganti." Ini flim pertamanya dan akan dipersembahkan untuk seorang gadis yang dicintainya, Aarick ingin menjaganya dari adegan vulgar yang ekstrim. Mendengar itu, Erick langsung turun dari kursinya. "Aarick, kontrak kit ..." "Saya tahu kontrak," potong Aarick pelan. "Tapi saya merasa berat untuk melakukan ini. Kalian bisa ganti sudut pengambilan, ganti dari bahu, ganti apa saja, asal adegan ciuman gak diambil." Hening. Seratus dua puluh figuran diam dan fokus mendengar. Seluruh kru juga menunggu keputusan. Anne Voss berhenti tiga langkah dari Aarick.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 73

    Rokok yang baru dinyalakan baru saja menyentuh bibir ketika Aarick mendengar suara langkah kaki mendekatinya dengan pelan dan terukur. Karena mengira itu adalah Velove, Aarick sama sekali tidak menoleh. Dia tetap saja menatap Vltava sambil mengepulkan asap rokoknya, sampai seorang wanita memanggil namanya."Aarick ...!" panggil wanita itu.Aarick pun menoleh. "Anita," desahnya.Langkah Anita berhenti satu meter di depan Aarick. "Aku senang kamu langsung mengingat aku," suara Anita tenang untuk memastikan. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Malam-malam berdiri sendirian di sini? Kamu kayak banyak masalah, padahal aku tahu kamu baru saja melewati hari yang baik."Aarick menghisap rokok sekali sebelum bertanya, "Kamu sendiri ngapain di sini, mengikutiku sampai Praha?" kata Aarick. "Tentu saja pekerjaan yang membawaku ke sini. " Anita tersenyum tipis. "Selain menjabat di anggota dewan, aku juga punya banyak bisnis sampai mancanegara, dan asal kamu tahu, Erick, sutradara yang m

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 72

    Layar ponsel itu masih menyala dengan nama Ara di atasnya.Velove langsung tegang. Dia setengah duduk di ranjang, selimut ditarik untuk menutupi dada. Matanya ke ponsel Aarick, lalu berpindah ke muka sang pemilik ."Jangan diangkat," gertaknya cepat dan sedikit panik. "Kau angkat, berarti aku kirim videonya. Sekarang."Aarick tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri dengan kemeja terbuka. Bertahun-tahun dia dikunci dengan ancaman yang sama dan selama itu juga hanya bisa menurut karena takut. Malam ini, Aarick akhirnya mengambil keputusan. Dia menunduk unt memungut ponselnya dari lantai. Jempolnya menggantung di atas layar antara ingin mematikan atau menjawab panggilan itu.Velove melihat reaksi itu dengan perasaan bercampur aduk. Dia pikir Aarick akan menurut seperti biasa, menolak panggilan, lalu balik lagi ke dia. Tapi Aarick diam lama. Lalu tanpa diduga-duga pria itu mengangkat muka, menatap Velove dengan tajam."Kirim saja ...!" kata Aarick singkat. Velove terkejut. "Apa?""K

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 71

    Angin dari sungai Vltava menusuk sampai tulang, tapi bukan itu yang membuat dada Aarick sesak. Ketika dia mendapatkan pujian dari banyak orang, di kepalanya, hanya ada satu nama. Ara. Gadis itu adalah satu-satunya wanita yang membuat Aarick merasa seperti manusia normal, bukan alat yang kerap dimanfaatkan banyak orang. Jemarinya bergerak sendiri, merogoh ponsel dalam saku mantel. Aarick hanya ingin mendengar suara Ara. Namun belum sempat layar ponsel menyala. "Aarick." Suara itu datang dari kabut. Manis, tapi pasti ada duri di ujungnya. Velove berdiri lima langkah di depannya, di tempat yang sedetik lalu kosong. Mantel bulunya terbuka. Gaun merah di baliknya terlalu tipis untuk Praha bulan Desember. Bibirnya merah dengan senyum yang menuntut. Dengan rahang yang mengeras, Aarick memasukkan ponselnya kembali. "Ngapain di sini, Vel." Velove melangkah perlahan. "Tentu saja karena aku kangen," katanya. Jari lentiknya menyentuh dada mantel Aarick. "Kamu dingin, begitu juga

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 70

    Di ujung jembatan, sesosok tubuh yang tadi berdiri di balik kabut terhuyung. Senapan laras panjang terlepas dari tangannya. Dia terhantuk di pagar batu, lalu terguling, jatuh ke tanah dengan suara yang dalam dan final. Sungai pun menelannya. Hening kembali merayap masuk, hanya dipecah oleh napas tersengal pria jas mahal yang masih dijadikan tameng oleh Aarick. Aarick melepaskannya. Pria itu langsung jatuh terduduk di es dengan kaki lemas. Aarick berjongkok di depannya. Dengan tangan kiri dia mengambil koper yang tergeletak. Ibu jarinya menekan kait. Klik. Koper terbuka. Di dalamnya, terikat rapi di dalam busa hitam, sebuah hard drive militer. "Crimson Protokol," gumam Aarick. Lebih ke dirinya sendiri daripada ke pria di depannya. Dia menutup koper itu kembali. Aarick kemudian berdiri. Menatap pria berjas mahal yang masih gemetar di tanah. "Berdiri." Pria itu mencoba, tapi kakinya tidak kuat. "Lari," kata Aarick. "Sekarang. Ke arah Kastil. Jangan berhenti sampai kau menghila

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 69

    Salju turun tanpa suara di atas Praha, jatuh satu per satu seperti abu dari langit yang sudah mati. Pukul 02:14 pm sebuah drone dari atas sungai turun pelan, memperlihatkan jembatan kosong hingga tilt down menemukan sosok Aarick di tengah frame. Pria itu berdiri diam. Menggunakan mantel hitam dengan rokok yang tidak menyala di mulut.Aarick berdiri tepat di tengah jembatan. Mantel wol hitam sepanjang betis membungkus tubuhnya. Kerah ditegakkan, menahan dinginnya angin yang menggigit rahang. Napasnya keluar dalam gumpalan putih, teratur, dan terukur. Suara langkah memecah keheningan. Tiga pasang mata dengan bobot tubuh yang berbeda. Yang tengah lebih kecil, tapi paling percaya diri. Yang di kiri menyeret sedikit seperti memiliki bekas luka cedera lama di lutut. Yang kanan terlalu terukur, seperti orang yang menghitung setiap langkahnya agar tidak salah.Mereka muncul dari kabut arah Mala Strana. Tiga siluet. Aarick sudah menghitung. Sembilan detik sejak suara pertama sampai mereka be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status