Mag-log inGedung pernikahan di pusat kota Chicago itu tampak begitu megah dan anggun. Momen sakral pernikahan Steven dan Aveline berlangsung hangat dan dipenuhi haru.Di antara deretan tamu undangan, kehadiran keluarga kecil Viondra-Alreo berhasil mencuri perhatian banyak orang. Verlyn tampil anggun berbalut dress formal bernuansa pastel, sementara Kayn berdiri gagah dengan jas hitamnya yang berpotongan rapi.Usai acara pemberkatan dan resepsi, Kayn dan Verlyn melangkah menghampiri pasangan pengantin baru di atas pelaminan. Verlyn menggendong Alan yang tampak menggemaskan dengan kemeja kecilnya, sedangkan Kayn menggendong Faye yang mengenakan dress mungil berwarna senada. Venzo dan Kayneryn berjalan rapi di samping kedua orang tua mereka."Selamat atas pernikahan kalian, Steven, Aveline," ucap Verlyn tulus seraya memberikan pelukan hangat pada Aveline.Steven yang biasanya berwajah tegas kini tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya. Matanya dipenuhi rasa senang saat menatap dua bayi mun
Suasana kamar utama terasa begitu hangat dan menenangkan. Kayn duduk bersandar di sisi ranjang, menatap lekat ke arah istrinya sebelum akhirnya ia tersenyum tipis."Buat bayi perempuan kita... aku pilih nama Faye, sweetheart. Kamu suka?" tanya Kayn lembut.Verlyn mengerjap pelan, lalu mengangguk mantap dengan senyum tulus di bibirnya. "Faye... nama yang indah banget, Kayn. Aku suka."Kayn mengusap lembut punggung tangan Verlyn, lalu menatap istrinya penuh rasa penasaran. "Kalau buat putra kita... kamu sudah nentuin namanya, sweetheart?"Sebenarnya Verlyn sempat bingung karena belum menemukan nama yang benar-benar pas untuk jagoan kecil mereka. Namun, begitu mendengar pilihan nama Kayn untuk anak perempuan mereka, sebuah ide langsung melintas di benaknya.Verlyn tersenyum hangat, menatap lurus mata suaminya. "Alan."Kayn tertegun sejenak, lalu balas tersenyum penuh arti. Pilihan nama mereka ternyata saling melengkapi dengan indah. Alan bermakna kesatria yang gagah, berpasangan s
Keesokan paginya, suasana ruang perawatan VIP rumah sakit terasa jauh lebih hidup dan cerah. Pintu ruangan terdorong terbuka, menampilkan dua sosok kecil yang berjalan tergesa-gesa dengan raut gembira dan penuh antusias. "Bunda!" panggil Venzo dan Kayneryn hampir bersamaan. Venzo dan Kayneryn langsung berlari kecil menuju sudut area santai ruangan, agak jauh dari posisi ranjang Verlyn, tempat dua boks bayi transparan diletakkan di dekat sofa. Keduanya menatap takjub ke arah adik-adik mereka tanpa memicu suara bising di dekat tempat tidur sang bunda. "Abang sama Kayneryn resmi jadi kakak dari dua adik sekaligus!" seru Venzo girang setengah berbisik. "Wah, hebat banget Bunda langsung borong dua!" Tak lama kemudian, Paman Ace, Bibi Selvania, serta putri kecil mereka, Delcina, ikut menyusul masuk ke ruangan. Delcina yang melihat bayi-bayi mungil di boks sudut ruangan itu langsung bertepuk tangan riang, membuat seisi ruangan tersenyum gemas. Sementara Kayn sedang sibuk mengurus s
Suasana koridor depan ruang persalinan rumah sakit terasa begitu senyap. Jam dinding digital di atas pintu menunjukkan pukul lima pagi. Kayn berdiri sendirian di sana, melangkah mondar-mandir tanpa henti dengan napas yang belum sepenuhnya stabil.Venzo dan Kayneryn masih tertidur lelap di mansion di bawah pengawasan para pelayan. Begitu tiba di rumah sakit tadi, Kayn langsung menghubungi orang tua mereka dalam keadaan panik.Tak lama kemudian, derap langkah terburu-buru memecah keheningan koridor. Villian, Khalix, Caroline, dan Kaze tampak berjalan cepat menghampiri Kayn dengan raut wajah yang diliputi rasa cemas luar biasa."Kayn! Gimana keadaan Verlyn, Nak?" tanya Caroline terengah-engah, matanya sembap menahan tangis.Kayn mengusap wajahnya kasar, menyisir rambut hitamnya ke belakang. Suaranya terdengar bergetar. "Sudah dua jam berlalu sejak Verlyn dibawa masuk ke dalam, Ma... tapi sampai sekarang belum ada kabar sama sekali dari dokter."Villian melangkah mendekat, lalu mene
Bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Setiap bulannya, rutinitas pemeriksaan kandungan di rumah sakit tak pernah terlewatkan. Kayn selalu menjadi suami siaga yang tidak pernah absen menemani Verlyn—mulai dari melihat perkembangan si kecil melalui USG, mendengarkan detak jantungnya, hingga memastikan Verlyn meminum semua vitamin kehamilan tepat waktu.Hingga tak terasa, usia kehamilan Verlyn kini telah memasuki bulan terakhir.Sore itu di kamar utama, Verlyn berdiri di depan cermin besar setinggi badan. Ia mengelus perutnya yang membuncah jauh lebih besar dibanding saat ia mengandung Venzo dan Kayneryn dulu. Wajah cantiknya menunduk, memancarkan rasa cemas yang mendadak hinggap di dadanya.Perubahan bentuk tubuh, berat badan yang bertambah, rasa takut akan munculnya stretch mark, hingga kaki dan jemarinya yang mulai membengkak membuat perasaan sensitif ibu hamil menguasai pikirannya. Bahkan, cincin pernikahan mereka yang biasa melingkar di jarinya kini terpaksa dilepas karena suda
Empat bulan kemudian...Suasana ruang keluarga mansion Viondra-Alreo sore itu terasa begitu hangat dan ramai. Meja panjang di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan lezat untuk acara kumpul keluarga.Seluruh anggota keluarga berkumpul di sana. Di salah satu sofa, Caroline dan Kaze—orang tua Verlyn—tampak sedang asyik mengobrol santai. Tak jauh dari mereka, Villian dan Khalix, orang tua Kayn, duduk berdampingan sambil menikmati teh hangat. Paman Ace dan Bibi Selvania juga sibuk menggoda Delcina yang tertawa riang di pangkuan ibunya.Di tengah kehangatan itu, Verlyn yang mengenakan dress rajut pastel melangkah pelan mendekati area tengah ruangan. Perutnya yang mulai membesar kini menjadi pusat perhatian yang sebentar lagi akan diungkapkan.Kayn berdiri di samping Verlyn, tangannya melingkar santai di pinggang sang istri. Pria itu menatap sekeliling ruangan dengan senyum tipis, sementara Verlyn menarik napas panjang menahan rasa gugup sekaligus bahagia."Ehem."Deheman pelan da
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar







