Share

Bab 5 Season 1

Author: Yuri
last update publish date: 2024-03-16 16:49:21

Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu.

“Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna.

Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku memang hanya seperti ini kepada orang yang kusukai.” Ia pun bangkit dan melangkah mendekati Kayn.

"Apa yang ingin kau lakukan lagi padaku, Nona Verlyn?" tanya Kayn dingin, sorot matanya mencurigakan.

"Aku menyukaimu sejak pandangan pertama! Bukankah ini seperti pernyataan cinta?" Verlyn tersenyum percaya diri.

Kayn menatapnya, kali ini dengan kesal. “Sebelum menyatakan cinta, seharusnya kau berpikir dulu. Apakah itu benar cinta, atau hanya rasa kagum sesaat?”

Ia melewati Verlyn tanpa menoleh lagi, lalu melangkah keluar ruangan.

Verlyn membalikkan badannya dan tersenyum kecil. "Lihat sifat arogannya itu... Aku sangat menyukainya!" gumamnya, lalu mengambil tas selempangnya dan menyusul keluar.

Begitu di luar ruangan, para pengawal Verlyn langsung menghampiri.

“Nona, bagaimana pertemuannya?” tanya Divan.

“Tuan Muda Kayn tidak mengganggu Anda, kan?” tambah Farga dengan nada cemas.

Verlyn tersenyum tipis. “Tenang saja, pertemuanku dengan Tuan Kayn berjalan lancar. Kami hanya berbincang.”

“Syukurlah,” sahut Saron. “Tapi… Tuan Muda Kayn terlihat agak kesal saat keluar tadi.”

“Iya,” Regil mengangguk. “Kami sempat khawatir ada hal yang tak beres.”

“Kesal?” Verlyn berakting seolah bingung.

Para pengawal mengangguk serempak. Verlyn melirik ke arah Kayn dari kejauhan. Pria itu sedang berbicara dengan staf, lalu masuk ke dalam lift dan menghilang dari pandangan.

“Entahlah, mungkin dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan,” ucap Verlyn kalem.

‘Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Imutnya...’

“Ayo kita pergi sekarang,” lanjut Verlyn ringan.

“Baik, Nona Verlyn,” sahut para pengawal serempak.

Namun sebelum sempat masuk mobil, ponsel Verlyn berdering—panggilan dari Kaze.

“Aku akan angkat dulu,” ujar Verlyn.

Mereka mengangguk, dan Verlyn menekan tombol jawab.

“Halo, Ayah. Ada apa?”

“Pertemuanmu dengan Kayn sudah selesai? Kau tidak membuat masalah, kan?”

“Semuanya lancar, Ayah. Aku melakukannya dengan baik,” jawab Verlyn mantap.

“Bagus. Tapi jangan langsung pulang. Tuan Presdir Khalix ingin bertemu denganmu. Alamatnya sudah Ayah kirim ke Pak Rian.”

“Apa?! Pertemuan lagi? Ayah bercanda?!”

“Ini demi masa depanmu. Jangan banyak alasan!”

Tut!

Telepon ditutup sepihak. Verlyn mendengus kesal.

“Pertemuan lagi dan lagi!” gumamnya, lalu masuk ke dalam mobil. “Langsung ke lokasi, Pak Rian.”

“Baik, Nona.”

---

---

Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang besar hitam yang dijaga dua petugas. Setelah diizinkan masuk, Verlyn melongok ke luar jendela.

“Indah sekali... Tamannya luas dan asri!” gumamnya kagum.

Begitu mobil berhenti di depan rumah megah berwarna biru muda, Verlyn buru-buru mencari parfumnya. Ia menyemprotkannya di leher, pergelangan tangan, dan pakaian.

Pak Rian membukakan pintu. Verlyn menarik napas panjang.

“Oke, bersikaplah manis. Kau bisa, Verlyn!”

Ia keluar, dan sudah disambut oleh pria tinggi dengan rambut hitam dan mata biru navi. Di sampingnya berdiri seorang wanita anggun dengan mata merah muda.

‘Itu pasti Tuan Presdir Khalix dan istrinya, Nyonya Villian,’ pikir Verlyn.

Nyonya Villian langsung menghampiri dan memegang tangan Verlyn dengan lembut.

“Ibu sudah lama ingin bertemu! Kau lebih cantik dari yang ibu bayangkan!”

Verlyn tersenyum. “Nyonya Villian bisa saja, saya tidak secantik itu.”

“Panggil ibu saja. Kau sudah seperti anak sendiri.”

“Hehe, baik, Ibu.”

“Dan panggil aku Ayah,” sambung Khalix dari belakang.

“Baik, Ayah!” balas Verlyn semangat.

Mereka duduk di ruang tamu, ditemani pelayan yang menyajikan minuman. Verlyn sempat teringat pada Pak Rian dan para pengawalnya.

“Ibu, bolehkah aku minta tolong sesuatu?” tanya Verlyn sopan.

“Tentu, Nak. Ada apa?”

“Maaf jika ini lancang, tapi... bolehkah dibuatkan juga minuman seperti ini untuk supir dan pengawalku? Mereka belum minum.”

Khalix dan Villian terdiam sejenak, lalu tertawa.

“Kenapa minta maaf, Verlyn?” kata Villian geli.

“Kami malah kagum pada perhatianmu,” tambah Khalix bangga.

“Jarang ada orang muda sepeduli itu.”

Villian segera memberi instruksi pada pelayan untuk membuatkan minuman lagi dan membawanya ke luar.

“Terima kasih, Ayah, Ibu!” Verlyn tersenyum tulus.

“Kami memang tidak salah memilih calon menantu,” kata Khalix sambil tersenyum bangga.

Verlyn tersipu. Namun saat suasana mulai mencair, suara seseorang terdengar dari arah pintu.

“Ayah, Ibu. Aku pulang.”

“Selamat datang, anakku, Kayn!” sapa Villian.

Kayn tersenyum... lalu mendongak menatap tamu yang duduk di dekat ibunya.

“Ibu, siapa dia?”

Verlyn membalikkan wajahnya. “Hai! Kita ketemu lagi, Kayn~”

Kayn melotot. “Kau?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 224 Season 3

    ​Pengakuan jujur yang meluncur dari bibir Kayn membuat suasana ruang rapat itu mendadak hening mendadak. Verlyn terpaku di tempatnya. Ia menatap lekat manik mata hitam pria di hadapannya—mata yang kini memancarkan ketegasan tanpa ragu sedikit pun.​Jarak mereka yang begitu dekat membuat Verlyn bisa menghirup aroma parfum kayu tebal khas Kayn. Aroma yang dulu selalu memberi rasa aman, kini malah memicu desir aneh yang menusuk hingga ke dada.​"Tuan Kayn..." suara Verlyn tertahan, tenggorokannya terasa kering seketika. "Anda... tidak berhak menentukan hal itu."​"Aku tahu," potong Kayn cepat. Suaranya melembut, tapi tetap menyimpam intensitas yang mengunci perhatian Verlyn. Pria itu sengaja tidak memangkas jarak lebih jauh, memberi Verlyn ruang untuk bernapas meski tatapannya sama sekali tidak teralih.​"Aku tahu aku belum berhak, Verlyn. Karena itu aku tidak menuntut jawabanmu sekarang. Aku cuma ingin kamu tahu... aku tidak pernah main-main dengan

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 223 Season 3

    ​Pesan dari Kayn sukses membuat Verlyn tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Bayangan kalimat terputus itu terus berputar di kepalanya, menghadirkan rasa gelisah yang tak kunjung surut hingga fajar menyingsing di atas langit New York. ​Sekitar pukul delapan pagi, deru mesin mobil terdengar berhenti di pelataran halaman mansion. Steven sudah menunggu di depan pintu utama, tampil rapi dengan setelan jas abu-abu gelap. Pria itu memilih menjemput Verlyn secara pribadi untuk berangkat bersama menuju ruang rapat gabungan di kantor pusat Vyntie Group. ​"Selamat pagi, Verlyn," sapa Steven dengan senyum hangat saat Verlyn melangkah keluar. Pria itu segera membukakan pintu mobil untuknya. "Aku sudah memastikan tim pengawalan memantau rute perjalanan kita agar tetap aman pagi ini." ​"Terima kasih, Steven," balas Verlyn seraya mengulas senyum tipis lalu masuk ke dalam mobil. ​Sepanjang pe

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 222 Season 3

    ​Kembali ke gedung Kizen Group di pusat kota New York, Steven sudah menunggu di lobi. Pria itu terus melangkah bolak-balik di dekat pintu masuk utama, mengabaikan beberapa staf yang berlalu-lalang dan menatapnya penuh tanya.​Begitu sosok Verlyn muncul di balik pintu kaca besar, Steven langsung menghampirinya dengan langkah lebar.​"Verlyn! Kamu tidak apa-apa?" tanya Steven cepat. Matanya menyapu penampilan Verlyn dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tak ada luka. "Aku baru dapat laporan dari tim keamanan kalau situasi di sana sempat tidak terkendali."​Verlyn mengulas senyum tipis, mencoba menenangkan. "Semuanya aman, Steven. Polisi dan tim hukum sudah menangani lokasinya."​"Lalu... bagaimana kamu bisa lepas dari kerumunan massa yang memojokkanmu itu?" tanya Steven lagi. Nada suaranya bergetar tipis, menahan rasa bersalah dan emosi yang berkecamuk.​Verlyn mendesah pelan seraya merapikan tali tas di bahunya. "Tuan Kayn datang tepat

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 221 Season 3

    ​Sikap profesional Kayn selama beberapa hari berikutnya perlahan mengubah atmosfer kerja. Tak ada lagi teror bunga, pesan singkat yang mendesak, atau tindakan menyegat Verlyn di pelataran kantor. Kayn benar-benar menepati janjinya untuk menjaga jarak, meski tatapannya tiap kali mereka berpapasan di lorong masih menyimpan kerinduan yang ditahan rapat-rapat. ​Ketenangan itu mendadak diuji saat krisis pecah di lokasi konstruksi proyek gabungan mereka—sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota New York. Laporan masuk menyebutkan adanya sengketa perizinan dari kontraktor lama yang sengaja memprovokasi massa di area pembangunan. ​Lokasi New York ini memegang peranan penting untuk peluncuran awal. Sebagai penanggung jawab utama Kizen Group di New York, Verlyn memutuskan turun langsung ke lapangan bersama tim hukumnya. ​"Verlyn, aku ikut," tawar Steven saat berpapasan di koridor. "Kondisi di sana mungkin belum aman."

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 220 Season 3

    ​Dua hari sejak insiden restoran itu, kata-kata Verlyn masih berputar tanpa henti di kepala Kayn. Pria itu akhirnya sadar: emosi mentah dan rasa cemburu yang ia pertontonkan justru mempertegas betapa kekanak-kanakannya ia di mata Verlyn. Kalau ia ingin Verlyn benar-benar memandangnya kembali, ia harus berhenti memohon. Ia harus membuktikannya lewat tindakan nyata. ​Hari itu, ruang rapat utama Kizen Group kembali menjadi medan pertempuran tiga pihak. Steven duduk tenang di samping Verlyn, sementara Kayn hadir didampingi tim analis terbaik dari Vyntie Group. ​Tensi di dalam ruangan terasa membeku sejak menit pertama. Begitu Verlyn berdiri dan mulai memaparkan modul strategi ekspansi bursa untuk kuartal mendatang, tidak ada lagi gestur mengintimidasi dari Kayn. Pria itu tidak lagi memotong pembicaraan atau melontarkan kritik asal untuk mencari perhatian. Kayn menyandarkan punggungnya, mendengarkan tiap detail penjelasan Verlyn dengan fokus penuh, sesekali

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 219 Season 3

    ​Kayn tidak pernah merasa sefrustrasi ini sepanjang hidupnya.​Melihat Verlyn berjalan keluar gedung bersama Steven serasa menyiramkan minyak ke dalam api cemburu yang membakar dadanya. Rasa takut kehilangan yang begitu besar melumpuhkan akal sehatnya. Tanpa membuang waktu, Kayn menyuruh Rainon mencari tahu lokasi restoran tempat Verlyn dan Steven makan siang, lalu bergegas meluncur ke sana dengan dalih pertemuan bisnis dadakan.​Restoran bergaya modern di kawasan Jakarta Selatan itu bernuansa tenang dan temaram. Dari mejanya yang berjarak hanya beberapa meter, Kayn terus memperhatikan setiap pergerakan Verlyn.​Steven yang duduk di hadapan Verlyn bersikap amat sopan. Pria itu mendengarkan setiap analisis bursa yang dipaparkan Verlyn dengan perhatian penuh, sesekali memberikan tanggapan cerdas dan tertawa kecil tanpa pernah melewati batas atau melakukan kontak fisik. Ketenangan, kedewasaan, serta rasa hormat yang ditunjukkan Steven justru membuat interaksi

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 4 Season 1

    Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 3 Season 1

    Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 2 Season 1

    “Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 1 Season 1

    “Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status