Partager

Bab 6 Season 1

Auteur: Yuri
last update Date de publication: 2024-04-19 01:24:01

Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka.

“Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang.

Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,” bisiknya pelan, lalu kembali tersenyum ke arah Khalix dan Villian.

Kayn memasang senyum terpaksa dan mengangguk. “Iya, Nona Verlyn. Semoga kita bisa sering bertemu seperti ini, ya,” balasnya dengan nada senang yang dipaksakan.

Walau Verlyn tahu Kayn hanya berpura-pura demi dirinya sendiri, ia tetap merasa bahagia dan memeluk lengan Kayn lebih erat, membuat pria itu semakin tidak nyaman.

“Bisakah kau lepaskan pelukanmu? Aku merasa tidak nyaman,” ujar Kayn pelan.

“Kau tidak jago akting, ya, Tuan?” balas Verlyn pelan.

“Ibu jadi teringat masa muda saat melihat kalian,” ujar Villian, membuat Verlyn dan Kayn langsung menoleh. Villian sedang menatap mereka sambil tersenyum.

Khalix berdeham dan mengangguk setuju. “Ayah lebih suka kalian saling memanggil dengan nama saja. Itu akan membuat kalian semakin dekat.”

“Aku setuju, Ayah!” balas Verlyn bersemangat.

Kayn terkejut mendengarnya dan menoleh ke arah Verlyn. “Bagaimana bisa kau—”

Verlyn menatap Kayn dan tersenyum licik.

Villian mengangguk dan menoleh ke arah mereka. “Kayn, temani Verlyn berkeliling ke taman belakang. Di sana ada banyak bunga, mungkin saja Verlyn menyukainya.”

Verlyn tampak bersemangat dan mengangguk senang. “Terima kasih, Ibu!”

Ia langsung menggenggam tangan Kayn dan menariknya. “Ayo, Kayn, kita berkeliling sekarang!”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Ver—” Kayn belum sempat menyelesaikan ucapannya.

“Kami pergi dulu, Ayah, Ibu!” ujar Verlyn sambil melambaikan tangan dan melangkah pergi bersama Kayn.

Setelah keduanya menghilang dari balik pintu, Villian menatap tajam ke arah Khalix. “Perjodohan ini harus berhasil. Aku tidak ingin Kayn menikah dengan wanita lain selain Verlyn, Sayang.”

---

---

“Sekarang kau bisa melepas tanganku, kan?” ujar Kayn dengan nada kesal.

“Ups, maaf.” Verlyn melepaskan genggaman tangannya dan menatap sekeliling.

Ia takjub melihat taman yang penuh bunga berbagai jenis. “Pemandangannya indah sekali! Sangat sejuk meskipun cuacanya panas,” puji Verlyn.

“Apa kau bisa menjawab pertanyaanku sekarang?” tanya Kayn tanpa basa-basi.

Verlyn menatapnya sejenak lalu mengangguk. Ia berbalik dan menghampiri para pengawal yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Kalian bisa pergi. Aku akan aman di sini karena Kayn bersamaku.”

Para pengawal mengangguk. “Jika Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja kami,” ujar Farga.

Verlyn mengangguk, dan mereka membungkuk sedikit sebelum pergi meninggalkan taman.

“Jadi, bagaimana kau bisa cepat akrab dengan kedua orang tuaku?” tanya Kayn lagi.

Verlyn menghela napas dan berbalik menghadapnya. “Seperti yang kau tahu, kita dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Wajar kan kalau mereka mudah membuka hati untukku?”

“Jangan bertele-tele. Apa maumu setelah berhasil mengambil hati kedua orang tuaku?” tanya Kayn tegas.

“Kau cepat tanggap, ya?” Verlyn melangkah mendekati bunga yang tidak jauh dari posisi Kayn.

“Apa maksud—”

“Bunga Geranium biru ini cantik sekali, bukan?” Verlyn sengaja mengalihkan topik.

Kayn mengernyitkan dahi dan menatapnya kesal. “Jangan mengalihkan topik. Apa maksud perkataanmu sebelumnya, hah?!”

Verlyn berdiri dan tersenyum. “Itu…”

Ia melirik ke belakang Kayn, melihat salah satu pelayan rumah mendekati mereka.

“Bunga ini mirip warna matamu. Benar, kan?”

“Permisi, Tuan, Nona. Nyonya besar meminta Anda berdua masuk ke dalam. Sudah waktunya makan siang,” ujar pelayan tersebut sopan.

Verlyn mengangguk. “Baik, kami akan segera masuk.”

Pelayan itu membungkuk dan pergi. Sementara Verlyn dan Kayn masih terdiam di tempat.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja,” ujar Verlyn sambil melangkah melewati Kayn.

“Secepatnya akan kuungkap sifat aslimu di depan kedua orang tuaku,” ujar Kayn dingin.

Verlyn berhenti melangkah dan menoleh. “Kau bicara seolah sudah sangat mengenalku. Itu lucu.”

---

---

“Apa benar saya boleh ikut makan siang di sini, Ayah, Ibu?” tanya Verlyn memastikan.

Khalix mengangguk mantap. “Kau sudah bertanya begitu tiga kali, Verlyn. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Tidak perlu sungkan, Nak.”

“Makanlah yang banyak, Verlyn. Semoga makanan di sini cocok di lidahmu,” ujar Villian senang.

“Hehe, terima kasih, Ayah, Ibu,” ujar Verlyn malu-malu.

Kayn yang duduk di depan Verlyn tiba-tiba bangkit dari kursinya. “Aku akan makan nanti. Aku ingin istirahat di kamar.”

Ia langsung pergi meninggalkan meja makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.

Verlyn terus memperhatikan hingga Kayn hilang dari pandangan. Villian menghela napas. “Tak perlu dipikirkan, Verlyn. Kayn memang suka begitu kalau lelah. Lanjutkan saja makanmu.”

Verlyn mengangguk. Apa perkataanku di taman tadi menyinggung perasaannya, ya?

Saat kembali makan, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. “Ibu, apa aku boleh mengantarkan makanan ke kamar Kayn? Mungkin candaanku tadi sedikit menyinggung, jadi aku ingin meminta maaf sekalian mengantar makan siang.”

“Ide yang bagus, Verlyn!” puji Khalix.

Villian mengangguk. “Ibu setuju, Nak. Tapi habiskan dulu makananmu. Setelah itu kau boleh mengantarkannya.”

Verlyn mengangguk senang dan melanjutkan makan bersama Villian dan Khalix.

Setelah selesai, Verlyn membawa nampan berisi makanan, minuman, dan sedikit camilan untuk Kayn.

“Ibu, aku antar makanan ini ke kamar Kayn, ya,” ujar Verlyn.

“Hati-hati membawanya, Nak. Kalau kesulitan, minta tolong saja pada pelayan,” pesan Villian.

“Baik!” jawab Verlyn.

Ia menaiki anak tangga perlahan dan sampai di depan pintu berwarna hitam, ruangan yang dimasuki Kayn tadi.

Ini pasti kamarnya, kan?

Verlyn mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban. “Aku masuk, ya?” Ia memutar gagang pintu dan membukanya.

Benar saja, itu kamar Kayn. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kayn di dalam.

Aku taruh makanannya di nakas sebelah kasur. Kalau di kasur bisa tumpah, pikirnya.

Setelah menaruh nampan, Verlyn hendak keluar. Namun, saat membalikkan badan, ia melihat Kayn baru keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk yang melilit pinggulnya, rambutnya masih basah.

Kayn terkejut. “Apa yang kau lakukan di kamarku?!” tanyanya dengan nada tinggi.

Verlyn langsung memalingkan wajah. “A–aku tidak sengaja melihat, kok. Aku cuma mau mengantar makan siang dan, eh…”

Tanpa sadar, Kayn sudah berada di dekatnya. Ia menunduk ke arah telinga Verlyn dan berbisik,

“Selain serakah dan licik, kau juga mesum, ya?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 190 Season 3

    ​Hening yang menyelimuti ruang kerja Kaze terasa begitu pekat dan menekan bagi Verlyn. Kaze menatap putri tunggalnya dalam-dalam. Ada rasa bangga yang besar, namun di saat bersamaan, kesedihan merayap di benak sang ayah saat melihat betapa kuatnya dinding pertahanan yang dibangun oleh Verlyn. ​Pertanyaan Kaze mengenai kemungkinan rujuk jika Kayn datang memohon maaf tadi seolah memanggil kembali bayang-bayang masa lalu yang sudah bersusah payah Verlyn kubur dalam-dalam. Tapi, tidak ada ekspresi terkejut, marah, atau ragu di raut wajah Verlyn. Tatapan matanya tetap tenang. ​"Ayah mungkin sudah tahu sendiri alasanku membatalkan rencana aliansi dan perjodohan itu sejak awal," ujar Verlyn dengan tegas. "Kizen Group berdiri kokoh karena profesionalitas dan integritas, Ayah. Bukan karena belas kasihan atas sebuah hubungan yang sudah mati." ​Kaze menghela napas panjang, menempelkan kedua tangannya di atas meja lalu mengamati raut wajah putrinya d

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 189 Season 3

    ​Berbeda jauh dengan atmosfer tegang yang mengepung ruang kerja Kayn, suasana di ruang rapat lantai atas Kizen Group justru dipenuhi tepuk tangan riuh dari para jajaran direksi.​Di ujung meja rapat oval, Verlyn berdiri tegap dengan postur sempurna. Blazer hitam yang pas di badan dipadukan dengan kemeja putih gading sederhana makin memperkuat aura kepemimpinannya yang tegas tapi elegan. Layar proyektor di belakangnya menampilkan grafik pertumbuhan saham dan ekspansi proyek Kizen Group di Amerika Utara yang melonjak tajam, hasil nyata dari kerja sama strategis dengan Florest Group.​Seorang direktur senior, Pak Trian, menatap Verlyn dengan binar kagum yang tak bisa disembunyikan.​"Keputusan Nona Verlyn untuk mengeksekusi negosiasi di New York secara langsung benar-benar langkah genius," puji Pak Trian seraya mengangguk-angguk puas. "Tidak hanya berhasil mengamankan nilai investasi bernilai fantastis, tapi reputasi Kizen Group di pasar internasional juga na

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 188 Season 3

    ​"Mau sampai kapan kamu membiarkan kinerja Vyntie Group makin merosot seperti ini, Kayn?!" ​Suara berat dan penuh penekanan dari Khalix menusuk ke dalam telinga Kayn begitu ia mengangkat panggilan telepon di ruangan kerjanya. Kayn memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi eksekutif yang kini terasa sangat tidak nyaman untuk tubuhnya. ​"Papa tahu kamu pusing, tapi ini semua memang murni kesalahanmu!" cecar Khalix tanpa memberi ruang bagi Kayn untuk membela diri. "Sejak hubunganmu dengan Verlyn meregang dan rencana aliansi kita dengan Kizen Group berantakan, beberapa investor mulai meragukan kepemimpinanmu. Harusnya kamu sadar, Verlyn itu bukan hanya putri dari keluarga Kizen, tapi dia pembawa stabilitas untuk perusahaan kita!" ​Kayn mengepalkan tangannya di atas meja, menahan rasa sesak di dadanya. "Papa, aku sedang berusaha merapikan beberapa proyek—"

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 187 Season 3

    ​"Wah, ternyata ramai juga ya jam segini?" ​Verlyn merapatkan mantel tipisnya saat melangkah keluar dari mobil. Hawa sejuk pagi hari di New York langsung menyapa kulitnya, namun pemandangan banyak pengunjung di kawasan pusat perbelanjaan ternama itu membuat suasana terasa sedikit lebih hangat. ​Steven yang menyusul di sampingnya terkekeh pelan, ia menyamakan langkah kakinya dengan Verlyn. "Pilihan yang tepat berbelanja pagi-pagi begini. Udaranya masih segar dan kita juga tidak perlu berdesak-desakan saat toko-toko mulai penuh nanti." Verlyn mengangguk setuju. "Kau benar, Steven. Seperti ini lebih baik." ​Setelah melewati semalam yang melelahkan di Grand Business Gala, mereka sengaja mengosongkan jadwal dalam beberapa jam. Steven hendak berburu oleh-oleh untuk Kina sebelum terbang kembali ke Chicago, sementara Verlyn dengan senang hati menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. ​Mereka melangkah masuk ke sebuah t

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 186 Season 3

    ​Malam harinya setelah Grand Business Gala usai, suasana di dalam kediaman mewah keluarga Viondra terasa begitu sunyi. Kayn melempar jas serta kunci mobil dinasnya ke atas sofa ruang tengah, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.​Pikirannya masih berisik. Bayangan Verlyn yang berjalan anggun mengenakan gaun krem berkilauan di samping Steven Florest terus berputar-putar di kepalanya. Belum lagi dia terus mendapatkan omelan pedas dari ayahnya kemarin malam karena batalnya rencana perjodohan keluarga Alreo dan Viondra yang membuat kepalanya semakin mau pecah.​Di tengah kepenatannya, ponsel Kayn di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Sellina.​[ Sellina ]Aku baru mendarat di New York. Jemput aku sekarang di kafe Terminal 4 bandara. Pakai mobil pribadimu ya, jangan pakai mobil kantor Vyntie, nanti ada yang tahu kalau itu kamu.​Kayn menghela napas panjang. Hubungan mereka memang sengaja dirahasiakan dari publik dan kelua

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 185 Season 3

    Acara Grand Business Gala di New York malam itu berlangsung di sebuah tempat megah yang bernuansa emas dan sangat mewah. Banyak petinggi bisnis antar kota bahkan luar negeri yang sedang saling bertukar sapa dan berjabat di dalam sana. Pintu utama ballroom terbuka dan ada dua petinggi lain di dekat ambang pintu yang seketika menarik banyak perhatian pasang mata. ​Verlyn melangkah masuk dengan anggun. Ia mengenakan gaun off-shoulder berwarna krem lembut bertabur glitter dan manik-manik halus yang berkilau mewah diterpa cahaya lampu. Potongan gaun yang pas di badanya itu memancarkan pesona yang begitu elegan dan berkelas. Rambutnya ditata gaya low side-bun yang cantik dengan beberapa helai poni menjuntai lembut membingkai wajahnya, dipadu riasan tipis yang menawan. ​Di sampingnya, Steven melangkah gagah dengan setelan tuksedo hitam yang amat rapi. Pria itu memberikan senyuman yang ramah kepada semua orang di sana sambil setia mendampingi V

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 1 Season 1

    “Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 7 Season 1

    "A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 5 Season 1

    Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 2 Season 1

    “Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status