Mag-log in"Molluscum contagiosum," kata lelaki di hadapannya. Bianca segera mengernyit. "Hah? Apa, Dok?" tanyanya dengan tidak mengerti. "Itu adalah infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh Poxvirus. Gejalanya meliputi bintil kulit yang disebut papula yang berukuran kecil sekitar 2–5 mm, berbentuk kubah, berwarna seperti kulit asli, putih, atau merah muda, lalu memiliki cekungan di tengahnya. Penyakit ini umumnya bersifat jinak dan dapat sembuh sendiri. Tapi untuk kasus Mbak—" lanjut si dokter panjang lebar tapi Bianca segera memotongnya, tidak peduli bahwa itu tidak sopan. "Sebentar, katanya bisa sembuh sendiri, Dok? Tapi ini udah sebulan, Dok! Saya terganggu banget! Sampai saya nggak bisa kerja—eh!" Dia segera menghentikan kata-katanya. Tatapan dokter di hadapannya seolah memiliki kata-kata yang bisa Bianca baca. Dokter itu pastilah tahu apa "pekerjaan" yang dimaksud oleh Bianca. "Memang, Mbak. Tapi harus menunggu enam sampai dua belas bulan kalau kondisi badan Anda sehat dan—" Si
Sayangnya, kali ini Adeline sudah bersiap-siap. Dia bukanlah korban yang pasrah akan keadaan lagi.Jadi ketika Tian mendekatinya dengan pandangan mata yang mencurigakan, Adeline segera menggulingkan tubuhnya menghindari laki-laki itu. GUBRAK!!! Tian menabrak pinggir tempat tidur dan terjatuh ke atas ranjang. "Aaarghhh!!!" erangnya dengan marah. Adeline membelalakkan matanya menatap Tian yang masih terbujur di tempat tidur. "Adeline! Kenapa kabur?!" protes Tian segera sambil bangkit. "Kamu gila, Tian!" seru Adeline. Dia lalu segera membalikkan badan dan menuju pintu keluar. Tapi pintunya ternyata dikunci! "Kuncinya di sini, Sayang!" panggil Tian tiba-tiba sambil menggoyangkan kunci di tangannya. Adeline menatap marah pada Tian. "Udah kubilang jangan panggil aku Sayang!!!" sentaknya penuh kebencian. Tian menyeringai. "Kenapa? Kita kan pernah berhubungan, Del? Sekarang semuanya mau aku ulang lagi dari awal! Kita bisa bersama-sama lagi!" serunya dengan nada gembira. Adeline s
Tian membawa Adeline ke sebuah apartemen yang sudah lama tidak ditinggalinya. Apartemen itu adalah salah satu dari sedikit aset yang masih dimilikinya. Saat ini, dia rupanya diam-diam sudah menjual satu asetnya di luar negeri, uang penjualannya cukup untuknya mempertahankan gaya hidupnya yang hedon selama beberapa bulan. Tian mengeluarkan kunci apartemen dari celananya dengan susah payah sambil mulai menggaruk tengkuknya. "Sial!!!" serunya ketika aktivitas itu mengganggunya untuk berkonsentrasi saat membuka pintu apartemennya. "Aku sumpahin si Bianca itu sakit lebih dari ini!!!" serunya berapi-api. Setelah pintu apartemennya terbuka, dia segera menggendong Adeline masuk. Dia berhati-hati agar tangannya tidak berkontak dengan kulit Adeline. Dia tidak mau menularkan penyakitnya pada Adeline. Setelah menaruh Adeline di kasur, dia segera cuci tangan dan menggunakan sarung tangan agar tidak bisa menyentuh kulit Adeline. Walaupun dia laki-laki nekat, dia tidak sejahat itu buat menularka
Adeline sedang terlelap ketika dia mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Mengira itu Adam, Saga atau bahkan kakeknya, dia segera berkata pelan, "Besok aja ya kalo ada perlu.""Aku nggak mau menunggu sampai besok, Adeline." Sebuah suara segera terdengar. Dalam dan serak. Mata Adeline segera terbuka lebar dan membelalak. Kelopak matanya bergetar, badannya langsung kaku. Dia tidak mampu untuk bergerak untuk mengkonfirmasi ketakutannya. Lagipula, dia tidak perlu melakukannya. Dia sudah tahu siapa yang bicara. "Tian, pergi," katanya dengan suara gemetar yang diusahakannya tetap tenang. "Nggak, Adeline. Kamu harus ikut denganku dulu," balas Tian. Dia lalu mendekati Adeline dan tanpa peringatan sebelumnya, mengeluarkan sebuah kain dari balik jaketnya dan segera menutup mulut dan hidung gadis itu menggunakannya. "Mmmhhh... Mmmhhh!!!" seru Adeline segera, berusaha berontak. Tapi semakin keras dia melawan, semakin keras juga usaha Tian untuk melumpuhkannya. Lalu setelah berusaha melawan
Malam itu Tian mengendap-endap menuju rumah Adeline. Dia tahu bahwa Adeline selalu tidur menjelang tengah malam, karena gadis itu suka menonton film atau drama Korea terlebih dahulu. Tapi Tian tidak tahu, kali ini semuanya berbeda. Kondisi Adeline sedang tidak baik-baik saja jadi dia tidak melakukan tindakan yang biasanya dilakukannya. Seharian Adeline gantian ditemani oleh Adam dan Saga karena kakek sedang sibuk mengurusi pekerjaan di kantor. Kedua lelaki itu merasa miris dengan keadaan Adeline. "Bapak nggak bisa, apa, nangkap Tian gitu aja?" tanya Adam dengan pedas. Saga segera menatapnya dengan tajam. "Kamu kira hukum semudah itu? Atas dasar apa saya menangkap dan menjebloskan Tian ke penjara? Dia mengancam Adeline, oke. Tapi—sori aja—itu akan dianggap sekadar kata-kata karena emosi belaka," jelasnya. Adam mendengus. "Jadi harus nunggu sampai Tian brengsek itu bertindak secara langsung?! Keburu kena mental, Kakak saya, Pak!" protesnya.Saga kembali menatapnya dengan tajam. "
Semua orang segera terkejut dan menoleh ke arah asal suara. "Adeline!!! Hentikan!!!" seruan itu terdengar lagi, tapi kali ini disusul oleh kemunculan seorang pria yang segera berlari ke arah mereka dan meraih tangan Adeline. "Tian!!! Mau apa kamu di sini?!" seru Yasmin terkejut. Sementara itu Adeline berusaha melepaskan diri dari genggaman Tian. "Lepaskan!!! Lepas, Tian!!!" serunya histeris. Tiba-tiba terlintas di pikirannya memori saat Tian dulu bertengkar dengannya dan tidak sengaja mendorongnya hingga kepalanya terbentur di pinggir meja. "Jangan bunuh aku lagi, Tian!!!" serunya kali ini dua kali lebih histeris. Saga segera mendekati Tian dan menarik Adeline lalu menendang dada Tian. BUGHHH!!! "AAARGHH!!!" seru Tian segera, kesakitan. Saga segera memeluk Adeline yang sedang panik dan ketakutan. Adeline menutup kepalanya dengan kedua tangannya dan terisak tak terkendali. "Tenang, tenang. Kamu nggak apa-apa," kata Saga kemudian berusaha menenangkannya. "ADELINE!!!" seru Tia







