MasukSemua orang segera terkejut dan menoleh ke arah asal suara. "Adeline!!! Hentikan!!!" seruan itu terdengar lagi, tapi kali ini disusul oleh kemunculan seorang pria yang segera berlari ke arah mereka dan meraih tangan Adeline. "Tian!!! Mau apa kamu di sini?!" seru Yasmin terkejut. Sementara itu Adeline berusaha melepaskan diri dari genggaman Tian. "Lepaskan!!! Lepas, Tian!!!" serunya histeris. Tiba-tiba terlintas di pikirannya memori saat Tian dulu bertengkar dengannya dan tidak sengaja mendorongnya hingga kepalanya terbentur di pinggir meja. "Jangan bunuh aku lagi, Tian!!!" serunya kali ini dua kali lebih histeris. Saga segera mendekati Tian dan menarik Adeline lalu menendang dada Tian. BUGHHH!!! "AAARGHH!!!" seru Tian segera, kesakitan. Saga segera memeluk Adeline yang sedang panik dan ketakutan. Adeline menutup kepalanya dengan kedua tangannya dan terisak tak terkendali. "Tenang, tenang. Kamu nggak apa-apa," kata Saga kemudian berusaha menenangkannya. "ADELINE!!!" seru Tia
Hari itu benar-benar seru. Mereka berbelanja bahan-bahan untuk dimasak bareng seperti jagung dan sosis, paprika, nanas, saus barbeque, saus pedas, dan bumbu-bumbu lainnya. Adam dan Saga bertugas membeli minuman. Mereka memborong dua soda dalam ukuran satu liter, es batu, juga kopi karena mereka berniat begadang. "Saya nggak nyangka Bapak beneran jadian sama Kakak saya," kata Adam sambil melihat rak minuman di depannya. Saga mengangguk. "Saya juga nggak menyangka. Kalian itu orang-orang yang berasal dari dunia yang beda sama saya. Tapi Adeline benar-benar down to earth dan bukan tipe cewek manja," jawabnya panjang lebar. Adam menghela napas panjang. "Kakak terbiasa mandiri, Pak. Sejak orangtua kami meninggal, Kakek meminta kami buat belajar mandiri, apalagi nanti kami kerja di perusahaan medis keluarga. Kalo kami nggak dilatih buat kuat, Kakek takut kami nggak bisa bertahan di dunia bisnis yang keras," jelasnya. Saga mengangguk mengerti. "Memang. Dulu dia waktu tinggal di rumah
Pak Harris menggebrak meja. "Sialan!!! Pak Kombes sudah turun tangan!!! Mana aku kena semprot, lagi!!!" serunya marah selepas upacara pagi itu. Saga dan Tama segera saling berpandangan. Pak Kombes Arjuna Pahlevi memang menyempatkan datang ke markas, setelah itu merujak Pak Harris dengan pedasnya. Dia dituduh menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan besar yang sudah dilakukan oleh Guntur. "Baguslah, Bos ketemu lawan yang sepadan," bisik Tama dan Saga segera mengangguk. "Ini soalnya udah melampaui kuasa kita. Pak Harris memang salah," balasnya. "Kabarnya sidang perceraian sama Vera juga udah selesai. Katanya alasannya karena Vera mandul dan cemburuan," lanjut Tama. Saga menghela napas panjang. "Nasib orang emang nggak ada yang tahu, Tam. Mungkin ini karma dia, balasan atas semua hal buruk yang udah dia lakukan," katanya pelan. Tama mengangguk. "Bapak lega?" tanyanya pelan. Saga menggelengkan kepalanya. "Saya nggak peduli, jujur saja. Saya udah di titik bodo amat sama dia," k
"Awal tahun lalu, tepatnya 21 Januari, Anda melakukan pembelian saham yang mencurigakan, lalu menjualnya kembali dengan harga yang tinggi. Pada pertengahan tahun, Anda membeli properti yang juga mencurigakan dan setelah diselidiki termasuk money laundering. Lalu pada..." Pak Santoso berbicara kembali tapi segera diputus oleh Guntur. "STOP!!! ITU NGGAK BENAR!!!" serunya segera dengan marah. "Ada bukti-buktinya, Pak. Kami tidak asal menuduh Anda. Anda pikir kami serendah itu?" tanya Bu Asrina dengan dingin.Guntur segera menggebrak meja. "DIAM!!!" serunya. "Apa kalian nggak ngerti kalau ini udah masuk ranah pribadi saya?!" lanjutnya. Pak Unggul menatapnya dengan penuh arti. "Apa Bapak nggak tahu kalau ini tindakan kriminal dan merugikan perusahaan? Belum lagi skandal Anda dan wanita itu!!!" seru beliau lalu menunjukkan Amara dengan wajah merah. "Mengabaikan istri yang sedang sakit, lalu menjalin hubungan dengan sekretaris pribadi dan kemudian menikahinya secara siri, apa yang And
Guntur menatap sekretarisnya, yang adalah istrinya sendiri, Amara, dengan tatapan tajam. "Mereka mau aku datang ke rapat Direksi? Buat apa? Aku nggak diberi tahu apa-apa sebelumnya!" serunya. Amara mengelus pundak suaminya (dan sekaligus bosnya). "Ah, mungkin memang ada yang dibicarakan. Setahuku semua petinggi perusahaan hadir," jawabnya. Guntur mengelus dagunya. "Hmmm, perasaanku kok nggak enak, ya? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi di perusahaan tapi aku nggak tahu?" tanyanya pada dirinya sendiri. Amara tertawa kecil. "Mana ada! Kamu punya banyak mata-mata di mana-mana. Kalau ada yang terjadi, kamu yang pertama tahu," katanya menenangkan. Guntur manggut-manggut. "Memang benar. Ya sudah, kita lihat saja apa mau mereka sekarang," katanya lalu berdiri dan merapikan jasnya. Amara mengangguk dan mengikuti Guntur sambil membawa tabletnya. Ketika mereka muncul di lorong kantor, para karyawan langsung memberi jalan, tapi kemudian ketika Guntur dan Amara sudah lewat, bisik-b
"Jadi dia emang suka jualan?" tanya Saga untuk kesekian kalinya. Adeline segera memutar bola matanya. "Iya, Yang. Kan tadi aku udah bilang," jawabnya agak kesal. "Aku masih nggak percaya," kata Saga sambil merenung. "Orang kayak dia, yang udah punya segalanya, harus jualan, gitu?" tanyanya tak habis pikir. Adeline dan Yasmin segera saling berpandangan. "Yaelah Pak, orang kaya dan berkuasa nggak menjamin hidupnya bersih dan nggak macam-macam. Orang kayak Bianca itu punya prinsip semakin banyak uang, semakin bagus. Lagipula dia emang kekurangan kasih sayang orangtua, terutama ayahnya jadi dia nyari validasi di luar dari om-om gadun itu, ya begitulah," jawab Yasmin panjang lebar. "Semua anak-anak lingkaran kalian kayak gitu?" tanya Saga pelan. Adeline segera menggeleng. "Lingkunganku enggak. Kami suka hidup lurus dan tenang, nggak banyak drama dan masalah. Tapi di luar sana, banyak anak-anak orang kaya yang memang suka jualan," jelasnya. Saga kembali merenung. Dia lalu tiba-tib







