INICIAR SESIÓNWaktu telah menunjukkan pukul 01.00 tengah malam. Pasukan yang dipimpin oleh Wanita Srigala tiba di lokasi target. Rumah besar yang tampak tua itu berdiri sunyi, seolah telah lama ditinggalkan. Wanita Srigala mengetuk pintu dengan tenang. Tidak ada respons. Tak terdengar langkah kaki, tak terlihat tanda-tanda pintu akan dibuka.
Beberapa saat kemudian, Wanita Srigala memberi isyarat. Pasukannya segera bersembunyi di balik taman yang ada di pekarangan. Dari dalam rumah, seseorang tampaHugo berbalik, kemudian mendapati sebuah penayangan video yang langsung berasal dari depan Gedung Merah, tempat biasa Hugo menjalankan bisnis perdagangan manusia.Semua mata kini tertuju pada layar tersebut."Hugo, sekarang juga perintahkan orangmu yang ada di gedung untuk membakar gedung tersebut. Hancurkan semua akses dan sistem untuk orang-orang menuju ke sana, kecuali kamu ingin melihat Roy mati di depan matamu. Sebelum kepergiannya, aku juga akan mengirim video pengakuan Roy tentang kejahatan kalian, di mana di dalamnya ada nama Hendro, Doni, dan orang-orang kesayanganmu lainnya. Tidak lupa, kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab alias dalang utama atas kejahatan kalian." Elshi tersenyum sinis.Tiba-tiba saja Roy berdiri dari tempat duduknya. Tangannya terlihat tidak dalam keadaan terikat seperti sebelumnya. Dia mengambil pistol di dekat pinggang Elshi dan langsung mengarahkannya tepat di kepala Elshi.Melihat keadaan lengah, Hendro,
Setelah memakan perjalanan sekitar tiga jam, mereka akhirnya tiba di kediaman masing-masing. Vita memilih diantarkan terlebih dulu ke rumahnya, sementara yang lainnya turun di kediaman Axel, baru pulang ke rumah masing-masing.Axel terkulai lemah saat ibunya bertanya di mana Vita, mengapa tidak balik sama-sama."Bu, Vita marah karena aku tidak membalas cintanya, dia bilang mau melupakanku, menurut ibu apa aku salah? Tapi ya sudahlah, Axel juga tidak mau Bu dibikin repot urusan cinta, Axel mau fokus di karier. Lagian Vita orang kaya, Axel tidak pantas juga bersanding dengannya. Lebih baik Axel memantaskan diri dulu," jelas Axel.Ibu Axel tersenyum mendengar cerita anaknya. Dia bilang dia menyukai Vita. Menurut ibunya tidak apa-apa kalau mau memantaskan diri dulu, tapi jangan menyesal kelak jika Vita justru bersama orang lain. Karena yang memilih ingin jalan masing-masing adalah Axel. Ibunya lebih menyarankan kalau memang suka, jalani saja, apa susahnya hid
"Axel, leher kamu? Hemm, bagus lah," kata Roy dengan ceplas-ceplos.Sementara Vita tampak membawa tas yang berisi barang-barangnya keluar. Dia sudah mencuci muka dan siap berangkat."Vita, biar aku yang bawa tas kamu, tasnya berat. Kamu masuk saja ke mobil," kata Axel."Tidak perlu. Oya, satu lagi, tolong hapus kontakku, atau kalau tidak biar aku yang memblokir nomormu," kata Vita.Axel tampak mematung. Kenapa dia berkata begitu tadi ke Vita? Mungkin seharusnya dia senang mendapat ciuman selamat bangun tidur dari Vita. Kenapa dia justru menuduh Vita yang tidak-tidak?Roy, Zea, Elshi, dan Roy membatu melihat pertengkaran mereka.Zea dan Elshi segera menyusul Vita yang buru-buru ke mobil."Elshi, aku mau duduk bersama kamu dan Damian di kursi belakang." Vita tampak masuk mobil dan duduk di kursi belakang lebih dulu.Mendengar Vita mengucapkan itu, Damian berinisiatif untuk duduk di kursi bagian tengah mobil bersam
Tiba-tiba saja alat pendeteksi kata yang baru saja di aktifkan Axel, sebagai percobaan awal mengeluarkan sinyal alarm, tertulis di layar alat sebesar ponsel genggam, nama Hugo, bahkan kata itu terdeteksi di ucapkan sebanyak lebih dari 5 kali. Jarak deteksi maksimal adalah 200 meter. Berarti orang yang menyebut nama itu ada di sekitar atau tidak jauh dari Axel. Benar saja di sebuah tempat duduk santai, di dekat kamar Elshi dan Damian yang ada di ujung, terlihat Elshi dan Roy sedang bicara berduaan. Axel mendekat dan mencoba menguping pembicaraan mereka. "Roy, jadi bagaimana? apa sebenarnya rencana Hugo, kenapa dia tidak membalas pesan yang ku kirim dengan surat? Jangan-jangan kamu berkhianat padaku, kamu bilang dia akan menghubungi Minggu dini hari, bukti nya besok hari sudah Senin, tapi dia tidak ada menghubungiku sama sekali." Elshi tampak mencengkram kerah kemeja Roy. Mata Axel terbelalak, rasa-rasanya dia ingin berteriak karena kaget, dia berusaha menstabilkan dirinya, percaka
"Aku belum yakin tentang perasaanku. Aku ke kamar mandi dulu, aku akan mengatasi diriku. Kamu istirahatlah dengan baik," kata Axel.Vita segera berbaring di ranjang. Sudah 30 menit Axel di kamar mandi, dia sepertinya tidak bisa mengatasi dirinya. Vita melihat siluet tubuh di kamar mandi yang dikelilingi kaca tersebut. Vita menelan ludahnya dan berusaha menstabilkan dirinya. Axel tampak mengangkat kepalanya ke atas dan meletakkan tangannya ke bawah.Vita kemudian beranjak dari ranjang dan menghampiri Axel yang dari tadi berdiri di kamar mandi."Axel, apa kamu capek? Apa tanganmu sakit? Keluarkan, mungkin aku bisa sedikit membantumu," kata Vita.Axel membuka pintu kamar mandi tersebut dan segera menggendong Vita ke atas ranjang.Keduanya kini larut dalam ciuman sarat emosi. Beberapa kali mereka terlihat saling bergantian menggigit leher satu sama lain dengan manis.Vita meminta Axel berbaring, kemudian kedua tangannya mulai beraksi
Axel terdiam sejenak."Pak, bagaimana? Apa jadi mesan kamarnya? Kalau tidak jadi, akan kami serahkan ke antrian di belakang," kata resepsionis."Jadi, tentu saja jadi. Tidak masalah 3 kamar, kami bisa saling berbagi," jawab Roy.Roy kemudian menyelesaikan pembayaran kamar yang mereka pesan. 3 kunci diserahkan pada Roy.Mereka kemudian berjalan menuju kamar. Kamar tersebut bernomer 78, 79, dan 80. Mereka ternyata tinggal bersebelahan.Roy segera membuka pintu 78 dan bersiap masuk. Axel ikut masuk mengikutinya."Axel, kamu mau ngapain? Kenapa masuk ke kamarku?" tanya Roy."Bukannya kita tidur sama-sama? Memang tidak boleh aku sekamar denganmu?" tanya Axel."Aku mau tidur dengan pacarku, Zea. Di sini terlalu dingin untuk tidur dengan teman pria," kata Roy sambil tertawa."Roy, kamu mau apa? Jangan macam-macam, kalian belum cukup dewasa untuk itu," kata Elshi."Kak Elshi, tenang saja. Aku cuma pelu
Jerry segera menurunkan Dara, dan berlari ke arah Zea yang membungkuk memungut bekas beling yang berserakan."aau sakit sekali." Seru Zea"Zea, kenapa, tanganmu berdarah, sudah lepaskan belingnya biar aku yang bersihkan." Kata JerryJerry tampak mengecup tangan kanan Ze
"Pak Jerry, kenapa pak Jerry ada di sini, apa Bu Elshi sedang ke luar negeri?" Tanya Damian"Damian, Bu Elshi yang memintaku agar bekerja di ruangannya, Bu Elshi sedang keluar kota, besok baru masuk kembali, Damian apapun yang terjadi di antara kita, tolong jangan bawa ke pekerjaan ya, d
Zea, Pak Damai adalah kepala pelayan dari keluarga kita. Dia adalah kepercayaan ayah. Bahkan beberapa kali aku mendengar ayah bercanda manis kepada Pak Damai. Dia bilang jika anak kita tumbuh besar, aku tidak keberatan jika mereka berjodoh. Aku yakin anak Pak Damai adalah anak baik seperti ayahny
Kenapa tiba-tiba ingin begitu?" tanya Elshi tersipu."Sebenarnya tadi aku cuma mau bicara santai sama kamu. Tiba-tiba saja saat melihat badanmu, aku berhasrat."Setelah berkata begitu, Damian tampak tertidur. Elshi memandang pria tampan itu dengan tatapan penuh kasih. Rasanya d







