Share

Bab 8

Hari sudah gelap saat aku selesai membersihkan semua lantai, dinding dan pillar di rumah bak istana tersebut, termasuk beberapa kamar kosong yang harus kusiapkan sesuai yang Tuan Akmal katakan. Kelelahan, aku hanya bisa minum air dingin. Ingin makan, Tuan Abizar belum kunjung pulang. Rasanya ingin berbuat curang, mengintai kotak roti dan hendak mencomotnya. Baru saja hendak kumasukkan utuh satu biskuit langsung kulemparkan ke tong sampah saat melihat Tuan Abizar memerhatikanku di ambang pintu. Beliau bersender di kusennya, lalu mendekatiku.

"Kapan pulangnya, Tuan?"

Tuan Abizar melirikku tajam, lalu menuangkan air dingin ke gelas. "Mobilku macet di tengah jalan, jadi aku ke sini sambil jalan kaki."

Setelah meminum segelas air, Tuan Abizar meraih kotak cokelat simpananku. Dia menjulang menatapku tajam, merasa bersalah aku menjatuhkan diri dari kursi lalu duduk bersimpuh di lantai. Kedapatan melanggar aturan, tentu saja itu ancaman. "Lapar?"

"Tentu saja, Tuan."

"Aku juga lapar," dia menjawab. "Kalau kamu nyatanya sudah kenyang sebelum aku makan, sekalipun aku lapar aku tetap tidak punya alasan untuk mengisi perut."

Di dalam hati aku bergumam. Aneh.

"Sudah kubilangkan, kenapa aku suka menyiksamu seperti ini karena agar aku punya alasan untuk memakan sesuatu."

Dia ikut menjatuhkan diri di lantai, duduk menghadapku yang bersimpuh sambil menundukkan kepala. Dia membuka kotak rotiku, merobek bungkusnya. Biskuit itu dia gigit kurang dari setengah, sisanya diberikan padaku. "Makan," aku menurut, memasukkannya ke dalam mulut. "Malam ini kita cuma makan roti simpananmu ini." Aku melenguh. Dasar Anda, Tuan. Senang sekali menyiksaku. Beliau kembali membuka bungkus yang baru, merobeknya, menggigitnya setengah darinya lalu diberikan sisanya padaku.

"Enak, ya? Rasa madu."

Aku berhenti mengunyah, "rasa madu?" Apa beliau mengalami gangguan dalam indra pengecapnya.

"Rasa madu 'kan?" Tuan Abizar melirik kotak roti tersebut, memang ada gambar lebah dan sangkar penuh madu di sana. Itu hanya kotak lama, yang kumasukkan roti simpanan yang kubeli di warung sebelah.

"Ini roti rasanya asin, Tuan."

Tuan Abizar terdiam, "asin? Oh, asin. Itu maksudku."

Aku berhenti berkutik.

"Mau kubuatkan kopi, Tuan? Sepertinya Anda akan begadang malam ini."

"Oke," Tuan Abizar menjawab dengan nada datarnya seperti biasa.

Segera kubuatkan kopi, sengaja hendak mengetesnya. Sepertinya ada yang salah lagi pada diri tuanku. Aku buatkan kopi tanpa gula, lalu meletakkannya ke lantai. Kembali duduk bersimpuh menghadapnya di lantai. "Minumlah, Tuan." Tuan Abizar menurut, dia seperti biasa saja saat menyeruput minumanku. Sampai tandas, hingga gelas itu kosong. Tak ada seruan protes lain 'kah?

"Bagaimana rasanya, Tuan?"

Tuan Abizar mengangguk-angguk, "seperti biasa, enak. Kopi dan gulanya pas."

Aku tersedak angin. "Tuan ...." Panggilku lirih. "Anda ada masalah di indra pengecap?"

Tuan Abizar menatapku dingin, lalu menghela napas. Senyumnya kecut, "ya. Aku tidak bisa merasakan enak, asin, pahit, manis atau tidak enaknya sebuah makanan. Makanya kubilang, selain karena kamu aku tidak memiliki alasan untuk makan. Memasukkan makanan tanpa rasa ke mulutku hanya untuk mengganjal perut, amat membosankan untukku. Seperti roti ini," Tuan Abizar memperlihatkan roti asinku. Lalu memasukkannya ke dalam mulut setengahnya. "Sama sekali tak ada rasa di mulutku. Tapi aku semangat memakannya, jika aku bisa membaginya denganmu." Tangannya memberikanku sisa roti yang dia kunyah. Aku berkaca-kaca, menerimanya lalu memasukkannya ke dalam mulut.

"Terimakasih, Tuan ...."

"Sudahlah, seharusnya aku yang bilang begitu." Tampik beliau sambil membuka bungkus baru roti.

"Untuk wanita baru yang akan dinikahkan dengan Tuan apakah Tuan benar-benar akan menolaknya lagi?"

Tuan Abizar menatapku tajam saat aku memberanikan diri menanyakannya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Apa salahnya, Tuan? Umur Anda sudah cukup tua—maksudku 27 tahun, apa salahnya menikah? Memiliki anak? Bahagia?"

"Diam," Tuan Abizar menyumpal roti ke mulutku. "Aku malas membahasnya."

"Saatnya berhenti menjadi pemilih dan waktunya untuk memilih, oke?"

"Aku sudah memilih tapi wanita itu tidak memilihku balik. Terlebih, untuk nasib pernikahan kami kelak aku tidak bisa memilih untuk benar-benar membahagiakannya. Menghindarkan semua rasa sakit dari pernikahan kami kelak, aku tidak bisa memilih untuk itu. Karena keluargaku yang akan memilih."

Aku terdiam.

"Tuan," napasku terhembus. "Saya tidak kuat melihat hidupmu yang kacau seperti ini. Terombang-ambing, tidak teratur, seperti tidak ada pedoman dan pemandu. Bahkan tujuan ...."

"Hidupku memang kacau, terombang-ambing, tidak teratur dan seperti tidak ada pedoman dan pemandu seperti yang kamu katakan. Oke, aku akui. Tapi aku memiliki tujuan." Tuan Abizar menatapku dalam.

"Kalau begitu Anda butuh pemandu, pengendali, yaitu istri. Yang akan menemanimu dan memberitahumu kalau kamu berbuat salah agar jalan yang kamu lalui lebih jelas—"

"Kamu mau mendengarkan tujuanku? Yaitu menjadikanmu pemanduku." Kedua tangan Tuan Abizar menangkup pipiku. "Istriku. Wanitaku. Cintaku. Agar aku tidak tersesat, agar kehidupanku tidak terombang-ambing, agar kehidupanku memiliki pegangan tapi bagaimana caranya aku mempertahankan pemanduku? Bagaimana caranya agar dia tidak terluka dan tersakiti, padahal di keluargaku kami sumber duri untuk hati wanita?" Beliau menempelkan kedua kening kami, membelai ujung hidungku dengan ujung hidungnya, masih menangkup kuat kedua pipiku seakan tidak ingin melepaskannya. Aku panik saat bibirnya nyaris menggapai bibirku. Tidak, Tuan. Jangan berbuat dosa karena aku. Pergerakannya berhenti, seperti sadar. Aku lihat matanya memerah, "kamu tahu." Dia berbisik, "aku pernah nyaris menidurimu di kamarmu. Aku pernah nyaris menciummu saat kamu tidur. Aku berkali-kali nyaris memerkosamu. Tapi aku berusaha menahan diri. Dan memberi pelajaran terhadap diriku sendiri." Napas hangatnya terhembus, "agar aku jera dan tidak pernah melakukannya. Ajaibnya, selama tiga tahun aku berhasil. Bahkan aku tidak pernah mencium bibirmu, apalagi menodaimu."

Tuan Abizar bangkit, beliau mendekati kompor mengambil sebuah panci air panas. Awalnya pergerakannya belum bisa kutebak. "Bara api panas lebih baik kupegang daripada kamu 'kan? Ini cara lelaki untuk tegas pada diri sendiri, kadang mereka harus belajar bagaimana caranya menahan diri, termasuk rasa keinginan kuat mereka terhadap seorang wanita."

"TUAN!" Aku menjerit saat dia membasuh kedua tangannya dengan air panas itu. Aku langsung menahan pinggangnya, berusaha menjauhkannya dari kompor. Tanpa sadar aku terisak, "kumohon, jangan berbuat BODOH! Anda boleh memeluk saya, Anda boleh menyentuh tangan saya, Anda boleh mencium saya, tapi jangan berbuat bodoh! Saya mohon, jangan berbuat bodoh, Tuan!"

"Sekalipun begitu, saya tidak mau menodaimu, Mawar ...." Dagu beliau mendekat, seperti ragu untuk menyapukan bibir ke keningku. Niat itu diurungkan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status