LOGIN“Kemarilah, para suamiku,” bisik Elara, suaranya parau namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.Bersamaan dengan ajakan yang begitu berani, Elara meloloskan ikatan jubah luarnya. Kain sutra itu meluncur jatuh tanpa suara, menyingkap raga polosnya yang berkilau seputih pualam di bawah temaram cahaya mawar emas di dadanya.Keindahan mutlak itu seketika membakar habis sisa-sisa kewarasan kelima penguasa Wilderheim yang memang sudah bergairah sejak di meja makan tadi. Tubuh indahnya telah sepenuhnya siap menerima gempuran bertubi-tubi yang akan segera datang.“Kau benar-benar meminta kehancuranmu sendiri malam ini, Ratu-ku,” geram Kaelen, dan dalam sekejap mata, Sang Raja Panther memotong jarak.Kaelen menerkam dari depan, menyergap tengkuk Elara dan menautkan bibir mereka dalam ciuman yang sangat berbahaya, panas, dan liar. Lidahnya menginvasi rongga mulut Elara dengan sapuan yang menuntut, menghisap habis sisa napas istrinya hingga Elara melenguh tertahan di dalam pagutan tersebut.T
Aroma sedap dari sup rempah yang kental dan daging rusa panggang madu memenuhi ruang makan pribadi istana. Di atas meja kayu ek yang kokoh, hidangan hasil buruan siang tadi tersaji dengan rapi dan menggugah selera.Elara duduk di kursi tengah yang empuk, menikmati suasana makan malam yang jauh lebih tenang dibandingkan kegaduhan siang hari. Kelima bayinya telah tertidur lelap di dalam kamar sebelah, kelelahan setelah seharian bermain bersama para ayahnya.Di sekeliling meja, kelima raja binatang menemani istri mereka dengan tatapan yang dipenuhi pemujaan. Sesekali Lucian menuangkan anggur manis ke cawan Elara, sementara Vrax memastikan potongan daging terbaik selalu berada di piring sang Ratu.“Bagaimana rasa supnya, Elara? Aku menambahkan tanaman obat dari lereng barat untuk memulihkan staminamu,” tanya Zhen, matanya yang teduh menatap lekat setiap kunyahan istrinya.Elara menelan makanannya perlahan, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan binar mata yang puas.“Ini luar biasa, Z
Angin pagi yang segar berembus membelah belantara purba Wilderheim, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hutan yang lebat.Di bawah naungan pohon-pohon raksasa, kelima raja binatang bergerak bagai bayangan yang beriringan. Langkah mereka ringan tanpa suara, memburu mangsa terbaik demi memenuhi kebutuhan gizi sang Ratu yang semalam telah terkuras energinya.Sembari menembus semak belukar, perbincangan beralih pada ketegangan yang sempat menyelimuti Aula Utama beberapa jam lalu.“Cahaya dari portal itu benar-benar sudah padam sepenuhnya,” Malphas membuka suara terlebih dahulu, sayap peraknya melipat rapat saat ia melompat dari satu dahan besar ke dahan lainnya. “Insting elangku tidak mendeteksi sisa riak sihir dimensi lagi di langit istana.”Lucian, yang memimpin di barisan paling depan dengan hidung yang mengendus jejak rusa jantan, menyahut tanpa mengurangi kecepatannya. “Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi? Fenomena itu tidak mungkin muncul tanpa pemicu yang jelas.”“Bisa jadi,
Sinar mentari pagi yang cerah menerobos masuk melalui jendela-jendela besar Aula Utama, namun kehangatan fajar itu langsung tenggelam di balik kebisingan yang memekakkan telinga.Ruangan takhta yang biasanya sakral dan sunyi, kini berubah total menjadi arena sirkus yang kacau balau. Teriakan, tawa berat, dan hentakan kaki dari kelima penguasa Wilderheim menggema, saling bersahutan membelah langit-langit istana.“Ayo, Ignis! Jangan biarkan ekor bayangan si Nyx mendahuluimu! Kerahkan apimu untuk mendorong tubuhmu!” raung Lucian, Sang Raja Serigala, yang kini sedang bertiarap di atas lantai marmer dengan zirah setengah terbuka.“Kau curang, Lucian! Kau tidak bisa menyuruh anakmu memakai elemen api di karpet bulu ini!” protes Kaelen dengan sengit. Ia sedang berjongkok di ujung ruangan, menggerak-gerakkan jemarinya untuk memancing Nyx, sang bayi panther, agar merangkak lebih cepat. “Nyx, kemari, Nak! Lewati pangeran serigala payah itu!”Di sudut lain, Vrax tertawa terbahak-bahak hingga dad
Suasana di dalam kungkungan sayap perak Malphas berganti drastis menjadi sebuah tungku peleburan yang pekat akan hawa berahi. Elara, dengan tatapan yang sayu namun penuh kendali, mulai mengurai ikatan jubah sutra putih yang membungkus tubuh moleknya.Kain mahal itu merosot lambat, menumpuk di atas bantalan singgasana, memperlihatkan raga porselennya yang kini telah pulih sempurna. Kulitnya yang mulus bersinar di bawah temaram lilin, memancarkan aroma manis yang memabukkan bagi indra penciuman kaum manusia binatang yang begitu sensitif.Sambil menggigit bibir bawahnya perlahan, Elara menatap kelima suaminya yang telah mengepung takhta. “Kalian hanya akan berdiri di sana menyaksikan daku kedinginan?”“Kau tahu pasti kami sedang menahan diri agar tidak menerkammu sampai hancur, Elara,” geram Lucian, urat-urat di lehernya menegang seiring dengan matanya yang kian menguning keemasan.“Dua pekan tanpa menyentuhmu adalah siksaan terbesar bagi insting harimauku,” timpal Vrax, langkah kakinya
Keheningan yang sempat mencekam di dalam kamar pribadi Lucian perlahan mencair ketika Elara menuntun kelima suaminya kembali ke Aula Utama. Di atas singgasana kristal yang megah, Elara mendudukkan diri dengan keanggunan seorang penguasa sejati.Kelima raja Binatang, Lucian, Malphas, Zhen, Vrax, dan Kaelen berdiri membentuk setengah lingkaran di hadapannya, tatapan mereka masih menyiratkan sisa-sisa kecemasan yang belum sepenuhnya padam.Elara menatap mereka satu per satu, lalu mengembuskan napas lembut. “Duduklah di dekatku, para suamiku. Dan dengarkan aku baik-baik.”Lucian mengambil posisi paling dekat di sisi kanan takhta, disusul Vrax di sisi kiri, sementara tiga raja lainnya bersandar pada undakan marmer di bawah kaki Elara.“Kalian harus berhenti menyiksa pikiran kalian sendiri dengan pusaran cahaya yang tiba-tiba muncul tadi,” ucap Elara, suaranya mengalun merdu namun penuh penekanan.“Bisa jadi, portal itu bukanlah sebuah ancaman atau jemputan paksa. Anggap saja itu adalah tan
Malam itu, Wilderheim seolah ikut menahan napas. Di dalam kamar batunya yang hanya diterangi oleh temaram obor lemak hewan, Elara berdiri mematung di depan satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan masa lalu: Cermin Obsidian.Permukaannya yang hitam pekat tetap dingin dan diam, namun
“Ekor dan tubuhku bisa memberinya kehangatan yang stabil selama berjam-jam. Darah dingin ini butuh kehangatan darinya terlebih dahulu. Aku yang paling logis untuk pembukaan.”“Diam kalian semua!” Lucian menyela, dan taringnya menyembul. “Akulah yang menemukann
Zhen menarik bahu Elara, memaksanya berbalik. Tanpa aba-aba, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Elara, memberikan ciuman-ciuman panas yang membuat Elara lemas.“Aromamu malam ini, kau tidak bisa menyembunyikannya dengan kain apa pun, Elara. Kau sedang menginginkan kami sama seperti kami menging
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan ben







