LOGINPintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.
Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.
Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.
Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.
“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”
Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”
“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dipancarkan Zhen.
“Kau memberikan darahmu pada kami berlima dalam waktu singkat. Kau tidak tahu apa yang kau picu?”
Elara menoleh ke arah Kaelath dengan waspada. “Aku hanya memberikan penawar!”
“Bagi kami, itu bukan sekadar penawar,” sela Vrax sembari melepas zirah bahunya, dan membiarkan otot-otot dadanya yang masif terlihat jelas di bawah cahaya obor.
“Darah betina yang memiliki kekuatan purifikasi adalah pemicu alami bagi Lust-Fever. Kau baru saja menyalakan api di dalam saraf kami yang sudah berabad-abad membeku, Sayang.”
Lucian, sang Serigala, berdiri di dekat pintu, mengunci akses keluar. Matanya yang keemasan berpendar redup.
“Insting kami tidak bisa membedakan antara rasa syukur dan keinginan untuk mengklaim. Saat ini, setiap sel dalam tubuhku berteriak untuk menjatuhkanmu di atas tumpukan bulu itu.”
“Kalian benar-benar gila,” desis Elara sambil mencoba mundur, namun ia malah menabrak dada bidang Malphas.
Sang Raja Elang memegang bahu Elara dengan jemari panjangnya. Kuku hitamnya yang tajam menggores ringan permukaan kain di bahu Elara.
“Jangan takut, Ratu kecil. Kami tidak akan merobekmu. Tapi kami tidak bisa menjamin kau akan bisa tidur dengan tenang malam ini.”
Zhen lalu meraih pinggang Elara dan menariknya mendekat hingga perut mereka bersentuhan. Elara bisa merasakan jantung Zhen berdetak seperti genderang perang.
“Lepaskan aku, Zhen! Ini bukan bagian dari kesepakatan!” Elara mendorong dada Zhen, namun pria itu tidak bergeming.
“Ini adalah bagian dari alam, Elara,” bisik Zhen lalu menunduk dan menghirup aroma leher Elara dengan tarikan napas kasar. “Kau ingin kami berbagi? Baik. Kami akan berbagi.”
Zhen mengangkat tubuh Elara dengan satu sentakan ringan, lalu menghempaskannya ke atas ranjang bulu yang empuk.
Sebelum Elara sempat bangkit, Malphas sudah mendarat di sisi kiri ranjang dengan keanggunan burung pemangsa, sementara Lucian merangkak naik dari ujung kaki.
“Siapa yang akan memberimu tanda pertama?” tanya Kaelath, lalu lidahnya yang bercabang menyentuh udara, mencicipi rasa takut dan gairah yang bercampur.
Vrax berlutut di sisi kanan, tangan raksasanya mencengkeram sprei di samping kepala Elara hingga kain itu robek. “Aku yang paling menderita karena kegilaan itu tadi. Aku yang berhak mendapatkan kedamaian pertama.”
“Kau terlalu kasar, Vrax,” ejek Malphas sembari mengulurkan tangannya lalu membelai garis rahang Elara dengan sangat hati-hati, namun matanya memancarkan obsesi yang dingin. “Dia butuh ketelitian, bukan kekuatan buta.”
Elara sontak melihat ke sekelilingnya. Lima predator puncak ini sekarang mengurungnya. Ia merasa seperti artefak langka yang siap diperebutkan, namun ada pemujaan yang berbahaya di mata mereka.
“Dengarkan aku!” Elara mencoba mengatur napasnya. “Jika kalian melakukannya sekarang, kalian hanya membuktikan bahwa kalian tetaplah binatang! Jika kalian ingin aku menghormati kalian sebagai raja, kalian harus belajar mengendalikan diri!”
Zhen sontak tertawa rendah, sebuah suara yang sangat sensual sekaligus mengancam. Ia lalu merangkak di atas Elara dan mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya.
“Menahan diri adalah untuk mereka yang punya waktu, Elara,” desis Zhen dan wajahnya hanya berjarak satu inci dari bibir Elara.
“Kami sudah menunggu ratusan tahun untuk saat ini. Persetujuanmu bukan lagi masalah, karena tubuhmu sendiri sudah merespons kami.”
Zhen benar. Elara merasakan sensasi panas yang asing menjalar dari titik-titik di mana kulit mereka bersentuhan. Darahnya terasa seperti mendidih, dipicu oleh feromon yang dikeluarkan oleh kelima jantan di sekitarnya.
Lucian menarik perlahan kaki Elara dan membuat lilitan ekor Kaelath terlepas, namun digantikan oleh genggaman tangan kasarnya. “Jangan melirik mereka, Elara. Lihat aku.”
“Kalian ... kalian akan menyesali ini semua,” ucap Elara, meski suaranya mulai melemah.
“Mungkin,” sahut Malphas sambil mulai menarik perlahan pakaian lusuh Elara. “Tapi penyesalan adalah urusan besok. Malam ini, kau milik Wilderheim.”
Tepat saat Zhen hendak menunduk untuk mencium bibir Elara, dan Vrax mulai menarik kain yang menutupi kaki Elara, sebuah suara ledakan terdengar dari luar gua. Suara itu diikuti oleh pekikan melengking yang bukan berasal dari suara beastman.
Gerakan kelima raja itu terhenti seketika. Telinga Lucian bergerak-gerak, sementara Malphas langsung berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah jendela gua.
“Bau ini….” Vrax menggeram, lalu taringnya keluar sepenuhnya. “Ini bukan bau suku darat atau udara.”
“Gagak Pemakan Bangkai,” desis Kaelath, dan wajahnya langsung berubah pucat pasi. “Mereka tidak seharusnya berada di wilayah ini. Suku Terbuang.”
Zhen melepaskan cengkeramannya pada tangan Elara dan berdiri, auranya berubah dari gairah menjadi haus darah yang murni dalam sekejap. “Mereka mencium bau sang Penawar. Mereka datang untuk menculikmu, Elara.”
Elara segera duduk dan menarik pakaiannya yang berantakan dengan tangan gemetar. “Siapa mereka?”
“Makhluk yang sudah kehilangan seluruh kemanusiaannya. Mereka tidak ingin kesembuhan, mereka hanya ingin kekuatan darahmu untuk menjadi monster yang tak terkalahkan,” jelas Malphas singkat.
Pintu batu kamar itu bergetar hebat karena hantaman dari luar. Suara cakaran pada batu terdengar mengerikan.
“Lucian, Vrax! Jaga pintu!” perintah Zhen. “Kaelath, Malphas, bawa dia ke terowongan belakang!”
“Tidak!” Elara berdiri. “Jika aku pergi, mereka akan meratakan tempat ini dan membunuh semua orang di lembah!”
“Kau adalah prioritas!” bentak Vrax. “Jika mereka mendapatkanmu, Wilderheim akan tamat!”
Hantaman kedua menghancurkan bagian atas pintu batu. Sebuah tangan hitam legam dengan kuku panjang yang membusuk masuk melalui celah. Elara menatap tangan itu, lalu beralih ke lima rajanya.
“Kalian bilang kalian adalah pemimpin? Buktikan. Aku tidak akan lari seperti mangsa.”
Zhen menoleh ke arah Elara, matanya yang ungu berkilat penuh kekaguman sekaligus kemarahan.
“Kau ingin bertaruh dengan nyawamu, Manusia?” tanya Zhen dengan nada menantang.
Elara mengambil sebuah fragmen obsidian tajam dari meja samping. “Aku ingin bertaruh dengan kekuasaanku. Sekarang, buka pintunya, dan biarkan aku melihat siapa yang berani menyentuh Ratu kalian.”
Zhen sontak tersenyum lalu memberi isyarat pada Lucian dan Vrax untuk bersiap.
“Baiklah, Elara,” ucap Zhen sambil mencabut belati dari pinggangnya. “Tapi jika satu helai rambutmu tersentuh, aku akan memastikan seluruh suku mereka musnah malam ini. Kau siap melihat bagaimana cara kami berpesta darah?”
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih pertama.”“Tunggu, bukan itu maksudku—”“Darahmu sudah memberi tahu kami bahwa kau siap, Elara,” Malphas berbisik di telinga kirinya, jemarinya yang dingin mulai menelusuri garis leher Elara, membuka kancing sutranya satu demi satu.“Membangun kota butuh waktu bertahun-tahun. Kami akan mulai membangun fondasinya besok, tapi malam ini kami akan memastikan ada nyawa yang akan mewarisi takhta itu.”Zhen menundukkan kepalanya, lalu bibirnya menyentuh kulit pundak Elara yang terbuka. “Satu anak untuk Suku Panther, satu untuk Serigala, Harimau, Ular, dan Elang. Kita punya banyak waktu untuk membangun kota, tapi gairah ini tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.”Elara merasa seperti terjebak di d
Zhen, yang sudah bangkit dengan bibir berdarah, menatap Elara dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Malphas yang mendarat di belakang Elara.Mereka melihat bagaimana seorang wanita tanpa taring dan kuku tajam sanggup menghentikan invasi monster hanya dengan kata-katanya.Perlahan, makhluk raksasa itu menjatuhkan tubuhnya yang berat ke lantai. Suku Terbuang lainnya, yang bergerak berdasarkan insting pemimpin mereka, ikut merangkak mundur dan menundukkan kepala.“Keluar dari sini,” ucap Elara dingin. “Tunggu di luar gerbang gua. Jika kalian mencoba menyerang lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat cahaya lagi.”Tanpa kata, kawanan monster itu merayap mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan suara seret kaki yang perlahan menjauh.Setelah pintu yang hancur itu kosong, Elara hampir jatuh karena lemas jika Zhen tidak segera menangkap pinggangnya.“Kau benar-benar gila, Elara,” bisik Zhen dengan suara bergetar antara amarah dan kekaguman yang
Debu batu berhamburan saat pintu ruang atas itu akhirnya hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang gelap, muncul makhluk-makhluk yang lebih mirip mimpi buruk daripada manusia.Kulit mereka yang keabu-abuan, membusuk di beberapa bagian, dan mata mereka hanya berupa lubang hitam yang memancarkan kebencian murni. Suku Terbuang, para beastman yang telah kehilangan kemanusiaan mereka sepenuhnya karena kegilaan yang terlalu lama.Vrax meraung, sebuah suara yang sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun. Jenderal Harimau itu menerjang maju, lalu kapak batunya berayun membentuk busur maut yang membelah dua makhluk pertama yang berani melangkah masuk.“Jangan biarkan satu pun kuku busuk mereka menyentuh lantai ini!” perintah Vrax dengan suara menggelegar di sela suara tulang yang patah.Elara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang tak tertembus.Zhen berada tepat di depannya, belatinya menari-nari di udara, menebas tenggorokan setiap lawan yang
Pintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dip
Malphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lema
Zhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyer







