LOGINMalphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.
Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.
“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.
“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.
“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”
Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”
Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lemah hingga bergantung pada setetes cairan untuk tetap waras. Suku Langit tidak membutuhkan penawar murahan. Kami menginginkannya karena dia langka, bukan karena kami sekarat.”
Elara melihat celah dalam keangkuhan Malphas. Ia menyadari bahwa meski Malphas mengaku tidak terkena “kegilaan”, obsesi pria itu untuk memilikinya adalah bentuk lain dari insting liar yang tak terkendali.
“Jika kau merasa begitu superior karena tidak membutuhkan darahku,” Elara meraih tangan Malphas yang memegang dagunya, “maka kau seharusnya tidak keberatan jika aku memberikan 'anugerah' ini kepada mereka yang lebih menghargainya.”
Elara menarik tangan Malphas, lalu dengan gerakan cepat, dia mengusapkan jari telunjuknya yang masih bersimbah darah ke telapak tangan Malphas.
“Apa yang kau—” Malphas tertegun.
Saat darah Elara bersentuhan dengan kulit Malphas, sebuah gelombang kehangatan yang asing menghantam sang Raja Elang.
Malphas yang selalu bangga dengan pikirannya yang “setajam silet” tiba-tiba merasakan sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Fokusnya yang dingin dan kaku perlahan mencair, digantikan oleh sensasi euforia yang membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan.
Lutut Malphas sedikit goyah. Matanya yang kuning emas melebar, dan untuk pertama kalinya, keangkuhannya retak.
“Darah ini ....” Malphas berbisik, suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan rasa lapar yang baru. “Apa yang kau lakukan pada sarafku?”
“Aku hanya menunjukkan bahwa kau sama seperti mereka, Malphas,” ujar Elara sambil melangkah mundur, lalu menatap kelima raja itu yang kini semuanya terfokus padanya.
“Kalian semua terikat padaku sekarang. Entah itu untuk kewarasan, gairah, atau sekadar rasa ingin tahu.”
Kelima raja itu berdiri mengelilingi Elara, Lucian dengan posesifnya, Kaelath dengan kelicikannya, Vrax dengan kekuatan masifnya, Zhen dengan gairahnya yang membara, dan Malphas yang kini terpaku oleh rasa darah Elara.
Suasana di aula itu berubah. Ketegangan yang tadinya akan meledak menjadi perang saudara kini berubah menjadi atmosfer pemujaan yang pekat.
Elara berdiri di tengah-tengah mereka, mungil namun berwibawa, seperti seorang ratu yang sedang menenangkan sekumpulan binatang buas yang sedang lapar.
“Dengarkan aku,” Elara mengangkat suaranya seraya menatap mereka satu per satu.
“Wilderheim tidak akan bertahan jika kalian terus bertarung seperti ini. Jika kalian ingin aku tetap di sini, jika kalian ingin darah ini terus mengalir untuk kalian, maka kalian harus belajar untuk berbagi.”
“Berbagi?” Lucian menggeram karena tidak setuju. “Kau ingin aku membiarkan ular dan burung ini menyentuhmu?”
“Jika tidak, aku akan memastikan darah ini tidak akan pernah menyentuh bibirmu lagi, Lucian,” ancam Elara tanpa ragu.
Vrax bersimpuh kembali di depan Elara, diikuti oleh Zhen yang masih tampak mabuk oleh aroma leher Elara. Kaelath melilitkan ekornya dengan lembut di pergelangan tangan Elara, seolah memberikan janji kesetiaan.
Malphas, yang baru saja merasakan 'siksaan' nikmat dari darah itu, hanya diam membisu, namun matanya tidak lagi menatap Elara sebagai mangsa, melainkan sebagai sesuatu yang harus dia lindungi dengan nyawanya.
“Kami akan melakukan apa pun,” bisik Kaelath. “Asalkan kau tidak menghilang kembali ke balik cermin itu.”
Elara menatap kelima pria perkasa itu. Ia tahu perjalanannya di dunia ini baru saja dimulai, dan meskipun dia telah menaklukkan insting mereka untuk saat ini, dia harus terus menggunakan kecerdasannya agar tidak benar-benar menjadi “milik” salah satu dari mereka.
“Bagus,” ucap Elara tipis.
“Sekarang, berikan aku tempat yang layak, dan jelaskan padaku lebih detail tentang dunia ini tanpa ada satu pun dari kalian yang mencoba menerkamku lagi. Aku butuh peta, informasi suku, dan yang paling penting ... aku butuh pakaian yang lebih layak dari ini.”
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih pertama.”“Tunggu, bukan itu maksudku—”“Darahmu sudah memberi tahu kami bahwa kau siap, Elara,” Malphas berbisik di telinga kirinya, jemarinya yang dingin mulai menelusuri garis leher Elara, membuka kancing sutranya satu demi satu.“Membangun kota butuh waktu bertahun-tahun. Kami akan mulai membangun fondasinya besok, tapi malam ini kami akan memastikan ada nyawa yang akan mewarisi takhta itu.”Zhen menundukkan kepalanya, lalu bibirnya menyentuh kulit pundak Elara yang terbuka. “Satu anak untuk Suku Panther, satu untuk Serigala, Harimau, Ular, dan Elang. Kita punya banyak waktu untuk membangun kota, tapi gairah ini tidak bisa menunggu sedetik pun lagi.”Elara merasa seperti terjebak di d
Zhen, yang sudah bangkit dengan bibir berdarah, menatap Elara dengan pandangan tak percaya. Begitu juga dengan Malphas yang mendarat di belakang Elara.Mereka melihat bagaimana seorang wanita tanpa taring dan kuku tajam sanggup menghentikan invasi monster hanya dengan kata-katanya.Perlahan, makhluk raksasa itu menjatuhkan tubuhnya yang berat ke lantai. Suku Terbuang lainnya, yang bergerak berdasarkan insting pemimpin mereka, ikut merangkak mundur dan menundukkan kepala.“Keluar dari sini,” ucap Elara dingin. “Tunggu di luar gerbang gua. Jika kalian mencoba menyerang lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak pernah melihat cahaya lagi.”Tanpa kata, kawanan monster itu merayap mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan suara seret kaki yang perlahan menjauh.Setelah pintu yang hancur itu kosong, Elara hampir jatuh karena lemas jika Zhen tidak segera menangkap pinggangnya.“Kau benar-benar gila, Elara,” bisik Zhen dengan suara bergetar antara amarah dan kekaguman yang
Debu batu berhamburan saat pintu ruang atas itu akhirnya hancur berkeping-keping. Di ambang pintu yang gelap, muncul makhluk-makhluk yang lebih mirip mimpi buruk daripada manusia.Kulit mereka yang keabu-abuan, membusuk di beberapa bagian, dan mata mereka hanya berupa lubang hitam yang memancarkan kebencian murni. Suku Terbuang, para beastman yang telah kehilangan kemanusiaan mereka sepenuhnya karena kegilaan yang terlalu lama.Vrax meraung, sebuah suara yang sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun. Jenderal Harimau itu menerjang maju, lalu kapak batunya berayun membentuk busur maut yang membelah dua makhluk pertama yang berani melangkah masuk.“Jangan biarkan satu pun kuku busuk mereka menyentuh lantai ini!” perintah Vrax dengan suara menggelegar di sela suara tulang yang patah.Elara berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang tak tertembus.Zhen berada tepat di depannya, belatinya menari-nari di udara, menebas tenggorokan setiap lawan yang
Pintu batu berat itu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan debu dari langit-langit gua.Elara berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak, namun jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan kain kasar bergetar hebat.Aroma di kamar ini telah berubah, bukan lagi bau tanah kering, melainkan aroma maskulin yang pekat, panas, dan mendesak dari lima predator yang mengurungnya.Zhen melangkah maju, memutus jarak hingga Elara bisa merasakan radiasi panas dari tubuh sang Panther.“Kau baru saja melakukan langkah besar, Elara,” bisik Zhen serak. “Menundukkan lima raja di depan rakyatnya. Itu sangat menggairahkan.”Elara menepis tangan Zhen yang mencoba menyentuh pipinya, lalu berkata, “Aku melakukannya agar kalian tidak saling membunuh. Jangan salah paham, Zhen.”“Tapi darahmu sudah bekerja lebih cepat dari logikamu,” sahut Kaelath. Sang Raja Ular itu sudah berada di belakang Elara tanpa suara. Ekor putihnya yang dingin melilit pergelangan kaki Elara, kontras dengan hawa panas yang dip
Malphas berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Kuku-kuku hitamnya yang tajam masih menempel di dagu Elara, memaksa wanita itu untuk terus menatap mata kuning emasnya yang dingin.Berbeda dengan Lucian atau Vrax yang meledak-ledak karena kegilaan, Malphas tampak sangat terkendali, dan itulah yang membuatnya jauh lebih berbahaya.“Kau menatapku seolah aku adalah makanan, Malphas,” ucap Elara, dengan nada suara yang tetap tenang meski napasnya masih sedikit memburu akibat interaksinya dengan Zhen tadi.“Kau memang makanan, Manusia,” jawab Malphas dengan suara jernih yang meremehkan.“Kau adalah anugerah yang seharusnya tidak diperebutkan oleh binatang-binatang darat yang kotor ini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan di atas tanah.”Zhen menggeram di samping Elara, otot-ototnya menegang siap untuk menerkam kembali. “Lepaskan dia, Malphas. Dia sudah menandai kami dengan darahnya. Kau tidak punya hak di sini.”Malphas melirik Zhen dengan jijik. “Darah? Kalian semua begitu lema
Zhen tidak bergeming. Cengkeramannya pada leher Elara terasa seperti lilitan kawat baja yang panas.Mata ungu sang Panther berkilat, memantulkan bayangan Elara yang terhimpit di antara tubuh perkasa pria itu dan dinding gua yang dingin.Gairah yang dipicu oleh Lust-Fever membuat Zhen kehilangan akal sehatnya; baginya, Elara bukan lagi sekadar penawar, melainkan objek pemuasan yang harus ditaklukkan saat itu juga.“Kau pikir ancamanmu akan mempan, Manusia?” desis Zhen dengan nada rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Elara. “Darahmu memanggilku. Setiap tetesnya berteriak agar aku mengklaimmu.”Elara bisa merasakan ujung taring Zhen yang tajam menggores permukaan kulit lehernya, memberikan sensasi perih sekaligus getaran aneh yang menjalar ke seluruh tulang belakangnya.Namun, Elara tidak memejamkan mata. Ia justru menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin Zhen yang liar memenuhi paru-parunya.“Kau sedang terbakar, Zhen,” ucap Elara, suaranya kini melunak, hampir menyer







