Home / Romansa / Tawanan Hasrat Raja Lingga / Waktu yang semakin menipis

Share

Waktu yang semakin menipis

Author: QuinzeeQ
last update Last Updated: 2026-01-08 16:11:05

Di Aetheria, pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai rumah sakit.

Ibu Zhiya berdiri di dekat ranjang, menatap wajah putrinya yang masih tertidur—napasnya teratur, namun terlalu dalam, terlalu lama. Mesin di samping ranjang berdetak pelan, menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan.

Tangannya bergetar sedikit saat ia meraih ponsel.

“Arga,” suaranya terdengar setelah sambungan tersambung, berusaha tetap tenang. “Ini aku.”

“Ada apa, Bu?” Arga langsung siaga. “Zhiya bagaimana?”

Ibu Zhiya menghela napas panjang. “Dokter bilang kondisinya stabil, tapi… dia belum sadar. Mereka menyebutnya tidur berkepanjangan akibat kelelahan ekstrem dan tekanan mental.”

Di seberang sana, hening sejenak. “Belum ada tanda-tanda bangun?”

“Belum.” Suara sang ibu melembut, sarat cemas. “Aku ingin kau tahu, supaya dia tidak sendirian dalam pikirannya saat nanti bangun. Zhiya selalu tenang di depan orang lain, tapi… aku tahu dia membawa terlalu banyak hal sendirian.”

Arga m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Kehidupan baru di Qingzhou

    Di Qingzhou, hari-hari berlalu tanpa sempat dihitung. Kerjasama dengan Shangzhou menyita hampir seluruh waktu Lingga. Aula perundingan kembali ramai sejak fajar, gulungan perjanjian berganti tangan, utusan datang dan pergi membawa segel serta catatan perubahan. Namun di tengah kesibukan itu, satu hal berubah tanpa disadari banyak orang—Zhiya selalu berada di sana. Ia duduk di sisi Lingga saat rapat, berdiri di balik tirai saat audiensi, dan berjalan menyusuri koridor istana membawa catatan yang semakin tebal. Para menteri mulai terbiasa dengan kehadirannya, bahkan mencari pandangannya sebelum mengajukan keberatan. Nama Zhiya disebut pelan, namun semakin sering. Waktu menjadi sesuatu yang kabur. Pagi sering menyatu dengan siang, dan malam datang tanpa disadari. Zhiya kerap lupa berapa lama ia tidak tidur—atau lebih tepatnya, berapa lama ia tidak kembali. Tarikan itu masih ada, tapi tenggelam di bawah tumpukan keputusan dan tanggung jawab yang terasa terlalu nyata untuk ditingga

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Waktu yang semakin menipis

    Di Aetheria, pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai rumah sakit. Ibu Zhiya berdiri di dekat ranjang, menatap wajah putrinya yang masih tertidur—napasnya teratur, namun terlalu dalam, terlalu lama. Mesin di samping ranjang berdetak pelan, menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan. Tangannya bergetar sedikit saat ia meraih ponsel. “Arga,” suaranya terdengar setelah sambungan tersambung, berusaha tetap tenang. “Ini aku.” “Ada apa, Bu?” Arga langsung siaga. “Zhiya bagaimana?” Ibu Zhiya menghela napas panjang. “Dokter bilang kondisinya stabil, tapi… dia belum sadar. Mereka menyebutnya tidur berkepanjangan akibat kelelahan ekstrem dan tekanan mental.” Di seberang sana, hening sejenak. “Belum ada tanda-tanda bangun?” “Belum.” Suara sang ibu melembut, sarat cemas. “Aku ingin kau tahu, supaya dia tidak sendirian dalam pikirannya saat nanti bangun. Zhiya selalu tenang di depan orang lain, tapi… aku tahu dia membawa terlalu banyak hal sendirian.” Arga m

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Bertahan Di Qingzhou

    Saat siang beranjak, Lingga menerima undangan makan siang resmi—kali ini dengan susunan yang lebih kecil, lebih selektif. Beberapa menteri kunci Shangzhou hadir, namun kursi di sisi Lingga dibiarkan kosong—jelas diperuntukkan bagi Zhiya. “Ini langkah mereka,” kata Lingga pelan sebelum memasuki aula. “Mereka ingin menguji reaksi.” “Biarkan,” jawab Zhiya tenang. “Kita tidak memberi lebih dari yang perlu.” Di meja makan, percakapan berputar pada rencana lanjutan: jadwal pengiriman, titik penyimpanan, pengamanan jalur laut. Raja Shangzhou sesekali melempar pertanyaan langsung pada Zhiya—bukan jebakan, melainkan pengukuran. Zhiya menjawab ringkas, berbasis data, selalu mengaitkan kembali pada kesepakatan tertulis. Seorang menteri mencoba menggiring isu personal. “Nona Zhiya tampaknya memiliki pengaruh besar di Qingzhou.” Zhiya tersenyum sopan. “Pengaruh hanya berarti bila ia membantu keputusan menjadi lebih baik. Jika tidak, ia seharusnya dipertanyakan.” Raja Shangzhou tertawa

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Perbincangan Pribadi Dengan Raja Shangzhou

    Istana Shangzhou menyambut mereka dengan kemegahan yang berbeda dari Qingzhou—lebih keras, lebih terang, seolah ingin menegaskan kekuatan melalui kilau. Aula utama dipenuhi pilar tinggi berlapis emas pucat, lantainya licin seperti cermin, memantulkan langkah siapa pun yang masuk. Raja Shangzhou telah menunggu. Senyumnya lebar, hangat—terlalu hangat untuk sepenuhnya tulus. “Yang Mulia Lingga,” katanya sambil membuka tangan. “Qingzhou selalu membawa angin perubahan.” “Dan Shangzhou selalu tahu cara menangkapnya,” jawab Lingga dengan nada seimbang. Mereka duduk berhadap-hadapan. Di antara mereka, meja panjang dipenuhi gulungan perjanjian, cap kerajaan, dan cawan teh yang belum disentuh. Percakapan dimulai dengan basa-basi—panen, cuaca, keamanan jalur dagang—lalu perlahan menyempit pada inti. Ketika pembahasan harga besi memanas, seorang menteri Shangzhou tersenyum tipis. “Qingzhou diuntungkan oleh jalur laut kami. Ketergantungan itu wajar.” Zhiya yang sejak tadi diam, mengangka

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Bisnis Antara Shangzhou dan Qingzhou

    Di Aetheria, waktu berjalan tanpa mengetahui apa yang sedang diputuskan di Qingzhou. Tubuh Zhiya masih terbaring di kamar rumah pesisir milik ibunya. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin laut, membiarkan cahaya pagi jatuh lembut di wajahnya. Napasnya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya terjaga. Ibunya duduk di kursi dekat ranjang sejak subuh. Semangkuk sup hangat telah mendingin di meja kecil, disentuh berkali-kali namun tak pernah diminum. Setiap beberapa menit, ia meraih tangan Zhiya—memastikan hangatnya masih ada, denyut nadinya masih stabil. Dokter telah datang malam sebelumnya. Pemeriksaan menunjukkan tidak ada luka, tidak ada gangguan organ. “Tidur yang sangat dalam,” katanya ragu, seolah istilah itu tak cukup menjelaskan. Namun firasat seorang ibu tidak pernah puas dengan jawaban klinis. Di sudut kamar, ponsel Zhiya tergeletak diam. Tidak ada pesan baru. Tidak ada getaran. Dunia modern terus bergerak—ombak datang dan pergi, burung camar melinta

  • Tawanan Hasrat Raja Lingga   Perjamuan Keluarga Han

    Sore itu berlalu dengan ketegangan yang tertahan rapi, seolah istana berusaha kembali pada ritmenya. Namun Qingzhou memiliki cara sendiri menyimpan gema—tidak menghilang, hanya menunggu. Menjelang malam, seorang utusan istana datang membawa laporan singkat. Lingga membacanya tanpa perubahan ekspresi, lalu melipatnya perlahan. “Keluarga Han mengajukan jamuan malam,” katanya tenang. “Alasannya: membahas dukungan logistik militer.” Zhiya menatapnya. “Dan alasan yang tak tertulis?” “Menguji batas,” jawab Lingga jujur. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Lentera-lentera mulai dinyalakan di halaman. “Aku akan menerima jamuan itu,” lanjutnya. “Bukan untuk memberi mereka panggung—melainkan untuk menutup celah.” Zhiya mengangguk. “Aku tidak perlu hadir.” “Tidak,” kata Lingga, lalu menoleh. “Tapi aku ingin kau aman. Malam ini, tetap di area dalam. Pengawal ganda.” Zhiya tersenyum tipis. “Aku mengerti.” Malam turun. Dari kejauhan, bunyi musik jamuan terdengar samar—riuh yang dibuat-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status