
Budak Kesayangan Pangeran Buta
Setelah dinasti keluarganya runtuh, Ming Zhu, putri dari kaisar yang dilengserkan, kehilangan segalanya—orang tuanya dibunuh dan kakaknya, Ming Yue, dijual ke rumah bordil. Hidup dalam pelarian, Ming Zhu akhirnya bekerja sebagai asisten pribadi seorang bangsawan misterius bernama Liang Wei, pria dingin dengan penglihatan yang lemah dan rahasia yang tak diketahui siapa pun. Hubungan keduanya semakin menegang saat Liang Wei menyelamatkannya dari rumah bordil dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Di tengah intrik istana, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan, dua orang yang sama-sama hidup dalam bayangan akhirnya menyadari bahwa takdir mereka saling terikat. Ketika identitas mereka akhirnya terbongkar ke dunia, Ming Zhu dan Liang Wei tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.
Namun alih-alih jatuh, mereka memilih untuk bangkit. Bersama-sama mereka memulai permainan berbahaya melawan para pengkhianat yang telah menghancurkan masa lalu mereka. Akankah mereka berhasil merebut kembali tahta yang seharusnya milik mereka?
Read
Chapter: Kebenaran mulai terungkap“Dia tidak berbohong.” Suara itu terdengar dari belakang. Semua pandangan langsung beralih. Dan seorang pria tua keluar dari barisan para menteri. “Perdana Menteri Xu?” gumam Mo Lin. Perlahan ia berlutut. Kemudian menundukkan kepala dalam-dalam. "Hamba bersalah, Yang Mulia,” ucapnya pelan. Mata Liang Wei langsung menyipit. "Bersalah dalam hal apa?" tanya nya cepat "Dalam semuanya." "Dua belas tahun lalu, Hamba menerima perintah untuk memalsukan laporan kematian Pangeran Rui,” jelasnya. Aula langsung gempar. "APA?!" "Mustahil!" "Pemalsuan catatan kerajaan?!" Namun Perdana Menteri Xu hanya tertawa pahit. Karena setelah menyimpan rahasia selama dua belas tahun, ia tampak terlalu lelah untuk berbohong lagi. "Hamba menyaksikan peti mati itu." "Hamba menandatangani laporan kematian." "Hamba membantu menutup seluruh penyelidikan." Liang Jian berdiri dari kursinya. Meski tubuhnya masih lemah, matanya kini sangat tajam. "Siapa yang memerintahkanmu?" tanya
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Pangeran Rui“Kenapa kalian tidak bertanya. Siapa yang paling diuntungkan jika Pangeran Mahkota mati?” celetuk Tahanan itu. Liang Wei menatap tajam Pria itu. “Lanjutkan,” ucap Liang Wei. Tahanan itu menyeringai. “Yang Mulia. Apakah anda benar-benar ingin seluruh kebenaran ini terungkap?” Tatapan Kaisar berubah menjadi semakin gelap. Dan untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, tidak ada yang bisa membaca isi pikirannya. Bibi Lan menutup matanya. Air mata perlahan jatuh di pipinya. Ming Zhu mengepalkan tangan. Liang Wei menyipitkan mata. Sementara Putra Mahkota Liang Jian perlahan berdiri dari kursinya. Karena kini semuanya jelas. Rahasia yang mereka kejar selama ini bukan hanya tentang Han Qiye. Bukan hanya tentang Wang Ji'an. Bukan hanya tentang Dinasti Ming. Melainkan tentang sebuah konspirasi yang telah melibatkan bangsawan, kerajaan asing, dan orang-orang paling berkuasa di istana selama lebih dari dua belas tahun. Tahanan itu kembali tersenyum saat melihat ekspresi Kais
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: Sidang tertutup“Yang Mulia! Kaisar mengirimkan titah agar anda segera menghadap,” ujar salah satu kasim yang berteriak dari luar ruangan. Liang Wei menoleh. “Ayah sudah memulai sidang tertutup,” gumam Liang Wei sembari menatap Ming Zhu. Menjelang malam, suasana Istana Xuanyin berada dalam keadaan siaga penuh. Pasukan Naga Kekaisaran berjaga di setiap gerbang. Tidak ada seorang pun yang diizinkan keluar masuk tanpa pemeriksaan. Penangkapan seseorang yang membawa segel pribadi Han Qiye telah mengguncang seluruh istana. Dan karena perkara ini menyangkut Putra Mahkota, Dinasti Ming, serta keamanan kekaisaran, Kaisar Liang Sheng segera memanggil sidang tertutup. Di atas singgasana naga, Kaisar Liang Sheng duduk dengan wajah dingin. Di sisi kanan terdapat beberapa menteri senior dan Jenderal Gao Ren. Di sisi kiri berdiri Putra Mahkota Liang Jian yang masih tampak pucat namun tetap memaksakan diri hadir. Di belakangnya berdiri Liang Wei bersama Ming Zhu. Sementara Ming Yue, Tuan Tianyi, Bibi La
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: Rahasia Lama“Pasukan naga kekaisaran turun tangan, Yang Mulia,” bisik Mo Lin. “Kaisar telah menunjukkan kepercayaan terhadap Pangeran ketiga,” celetuk Ye Shuang setelah mendengar titah Kaisar barusan. Namun di tengah suasana tegang itu, Bibi Lan tiba-tiba mencengkeram lengan Ming Zhu. Tubuh wanita tua itu gemetar. Ming Zhu langsung menoleh. "Bibi Lan?" Wajah wanita tua itu pucat. Matanya menatap ke arah salah satu bendera Pasukan Naga Kekaisaran. "Terlambat,” gumamnya "Apa maksudmu?" tanya Ming Zhu cepat. Bibi Lan menelan ludah. Tatapannya dipenuhi ketakutan. "Kalau Wang Ji'an sudah muncul, berarti permainan yang tersembunyi selama dua belas tahun akhirnya dimulai,” jelasnya pelan. Liang Wei meliriknya tajam. “Dia harus diamankan. Bawa dia menjauh dari Putri Ming,” titah Liang Wei. Dua anggota Pasukan Naga Kekaisaran segera maju. Namun Bibi Lan langsung menggenggam lengan Ming Zhu lebih erat. "Tidak!” Ming Zhu terkejut. "Bibi Lan?" “Aku ikut denganmu, Putri Ming,”
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Xuanye Wang Ji’anMing Zhu membeku. Asal usul kehancuran Dinasti Ming, selalu menjadi luka yang belum pernah benar-benar sembuh. Selama bertahun-tahun, semua bukti mengarah pada satu nama. Han Qiye. Jenderal pengkhianat yang membuka gerbang ibu kota. Pria yang bersekutu dengan para bangsawan rakus. Pria yang menyebabkan keluarga kerajaan Ming tumbang. Namun kini, wanita tua itu justru menggeleng keras. "Han Qiye bukan dalang sebenarnya, Putri,” ucapnya pelan. Mata Ming Zhu membesar. Gadis itu membeku saat wanita tua itu berkata bahwa Han Qiye bukanlah dalang sebenarnya. "Itu tidak mungkin,” gumamnya Suara Ming Zhu terdengar dingin. Karena tidak seperti orang lain, ia mengenal Han Qiye secara pribadi. Sangat pribadi. Han Qiye bukan sekadar nama dalam sejarah kehancuran Dinasti Ming. Ia pernah menjadi jenderal muda paling berbakat di kerajaan. Pria yang tumbuh bersama para bangsawan istana. Pria yang pernah berdiri di sisi Kaisar Ming. Dan.., pria yang pernah mencintainya. Ming Zhu per
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Wanita misterius“Pasukan naga kekaisaran?” “Sudah lama mereka tidak terlihat.” Mata para menteri langsung membesar. Pasukan Naga Kekaisaran. Pasukan elit yang biasanya hanya bergerak saat terjadi ancaman besar terhadap keluarga kekaisaran. Sudah bertahun-tahun pasukan itu tidak dikerahkan. Bahkan saat terjadi pemberontakan kecil di perbatasan, Kaisar tidak menggunakannya. Namun sekarang, beliau memanggil mereka. Jenderal Pengawal langsung menundukkan kepala. "Hamba mengerti, Yang Mulia.” Saat semua orang sibuk menerima perintah, Kaisar Liang Sheng tetap memandang ke arah asap di kejauhan. Wajahnya sulit dibaca. Namun di dalam hatinya, sebuah firasat buruk perlahan muncul. Terlalu banyak rahasia lama yang bangkit bersamaan. Permaisuri Shen Yurong. Selir Ning. Racun Seribu Senja. Dan kini serangan terbuka di dalam istana. Seseorang sedang memaksa rahasia yang terkubur selama belasan tahun untuk muncul kembali. Lalu Kaisar teringat satu nama. Liang Wei. Putra yang paling mirip
Last Updated: 2026-06-01

Tawanan Hasrat Raja Lingga
Setiap kali Zhiya terlelap, tubuhnya jatuh ke dunia lain—ke dalam pelukan Lingga, sang raja yang seolah menunggu di ujung antara mimpi dan kematian.
Dalam mimpi itu, sentuhannya terasa nyata. Panas. Memabukkan. Seolah maut pun tak mampu memisahkan mereka.
Namun cinta di antara dua dunia bukanlah anugerah, melainkan kutukan.
Untuk memecahkannya, mereka harus menyatu—dan memilih satu dunia untuk bertahan.
Ketika fajar menuntut keputusan, Zhiya tahu… pada akhirnya ia harus kembali ke dunianya.
“Apa yang kau inginkan dariku…?” suara Zhiya nyaris tidak terdengar.
Lingga menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat hingga Zhiya dapat merasakan panas napasnya menyentuh kulit.
“Aku ingin memastikan kau tetap nyata di sini,” bisiknya.
“Aku ingin memastikan kau tidak lenyap lagi, Yu Zhiya.”
Tangannya menyentuh garis rahang Zhiya, lalu menelusur perlahan ke bawah—hangat, lembut, namun mengandung kekuatan yang mampu mengikat jiwa.
Dan ketika Zhiya membuka matanya kembali, ia sudah tidak berada di istana itu lagi.
Hanya napasnya yang masih bergetar, hanya detak jantungnya yang masih mengingat bentuk pelukan itu.
Saat ia kembali ke dunianya, dalam pameran itu— nama Lingga. Raja yang hilang dari peradaban ribuan tahun lalu.
[MATURE 21+]
Read
Chapter: Era kejayaan QingzhouDi Paviliun Anggrek Giok, Zhiya masih duduk diam ketika pintu tiba-tiba terbuka. Lingga masuk. Biasanya para penjaga akan mengumumkan kedatangan kaisar, tetapi kali ini ia datang terlalu cepat. Zhiya menatapnya sedikit terkejut. “Lingga—” Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Lingga sudah berdiri di depannya. Tatapannya jatuh pada wajah Zhiya… lalu perlahan pada perutnya. “Apakah itu benar?” Suaranya lebih pelan dari biasanya. Zhiya tersenyum lembut. “Tabib Qin sudah memastikannya.” Untuk pertama kalinya sejak kabar itu keluar, Lingga benar-benar terlihat kehilangan kata-kata. Tangannya perlahan menyentuh tangan Zhiya. Hati-hati. Seolah ia takut menyentuh sesuatu yang terlalu berharga. “Zhiya…” Ia jarang memanggil namanya dengan suara selembut itu. Zhiya memandangnya dengan hangat. “Kau akan menjadi ayah.” Lingga menatapnya lama. Kemudian sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah Kaisar Qingzhou muncul— Senyum kecil. Ia menarik Zhiya ke dalam pel
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Kehamilan PertamaPerjamuan dimulai. Pelayan istana membawa hidangan satu demi satu: bebek panggang madu, ikan sungai giok kukus, sup ginseng kekaisaran, dan anggur bunga plum yang harum. Para penari istana memasuki aula, pakaian sutra mereka berputar seperti kelopak bunga di udara. Musik menjadi lebih hidup. Namun perhatian terbesar tetap tertuju pada meja utama. Seorang pejabat tua akhirnya bangkit dari kursinya. Itu adalah Menteri Agung Han, penasihat senior kerajaan sekaligus mertua dari kakaknya, Yu Lian. Ia mengangkat cawan anggurnya dan membungkuk hormat. “Hari ini Qingzhou mendapatkan seorang permaisuri yang berbudi luhur dan berjasa besar bagi negeri. Kami, para pejabat kerajaan, mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.” Seluruh aula mengikuti. Cawan-cawan terangkat. “Untuk Ratu Qingzhou!” Zhiya mengangkat cawannya dengan tenang. Tatapannya menyapu aula sebelum ia berkata lembut namun jelas, “Aku hanyalah seorang wanita yang kebetulan diberi kesempatan melindungi
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Penobatan ZhiyaLangit Qingzhou pagi itu tampak lebih jernih dari biasanya, seolah seluruh alam ikut menyaksikan perubahan besar yang akan tercatat dalam sejarah istana. Genderang upacara ditabuh bertalu-talu dari Gerbang Naga Emas hingga ke Aula Kemuliaan Agung. Para pejabat tinggi berdiri berjajar dalam balutan jubah resmi mereka, kepala tertunduk khidmat, sementara para pelayan istana bergerak cepat namun nyaris tanpa suara. Hari itu, nama Zhiya akan diukir selamanya dalam silsilah kekaisaran Qingzhou. Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya duduk tenang di depan cermin perunggu. Gaun permaisuri berwarna merah kekaisaran membalut tubuhnya—sutra halus bersulam burung phoenix emas yang tampak hidup ketika tersentuh cahaya pagi. Mahkota phoenix bertatah mutiara dan giok hijau terpasang anggun di kepalanya. Namun di balik kemegahan itu, mata Zhiya tetap jernih… dan berat. Yu Lian berdiri di belakangnya, membantu merapikan lipatan lengan. “Yang Mulia,” bisik Yu Lian pelan, suaranya bergetar haru, “hari
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Pengakuan ZhiyaSore merambat pelan di Paviliun Teratai Putih. Cahaya keemasan menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai marmer. Kolam teratai di luar jendela tenang—terlalu tenang, seolah ikut menahan napas. Pintu paviliun tertutup. Hanya ada dua orang di dalam. Zhiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak terlalu keras. Di seberang ruangan— Yu Lian berdiri membelakanginya. Anggun. Tenang. Namun bahunya sedikit gemetar. Seolah ia juga menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam. “Kak….” Suara Zhiya pecah lebih pelan dari yang ia kira. Yu Lian membeku. Perlahan… ia berbalik. Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Tidak ada istana. Tidak ada Qingzhou. Tidak ada kutukan. Hanya dua saudari yang akhirnya saling menemukan lagi. Mata Yu Lian langsung memerah. “Zhiya…” Langkahnya goyah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu—ia memeluk Zhiya erat. Zhiya sempat kaku. Sepersekian detik. Lalu lengannya balas memeluk. Kuat. Sangat kuat. Seolah
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: Mengobati Lingga“Kalau suatu hari aku kembali ke Aetheria…” lirih Zhiya “Apakah kau akan mencariku?” lanjutnya. “Aku akan menyeberangi dunia.” ucap Lingga. “Seribu kali.” Zhiya tersenyum, “Aku berharap… kita tidak perlu dan jangan sampai berpisah.” Kereta berguncang lembut. Di luar, suara burung pagi terdengar. Lingga mulai terlelap. Kepalanya miring. Tanpa sadar, bersandar di bahu Zhiya. Zhiya kaku sesaat. Lalu membiarkannya. Ia menyelimuti Lingga dengan mantel. Menatap wajahnya lama. “Raja yang keras kepala…” bisiknya. “…tapi paling baik.” Beberapa jam kemudian—menara istana terlihat. Berkilau di bawah matahari pagi. Zhiya menarik napas panjang, “Sudah sampai…” Lingga membuka mata dan Menatapnya, “Terima kasih… sudah pulang bersamaku.” Zhiya menggenggam tangannya dan mengangguk. “Zhong Li, bantu Yang Mulia kembali ke kamar,” ujar Zhiya dari dalam kereta. “Baik Nona,” ucap Zhong Li. Setelah Zhong Li memapah Lingga, Zhiya berbalik badan dan berbicara dengan Han Yu. “Beri
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Peperangan Melawan Wu ShenTiba-tiba— tepuk tangan pelan terdengar. “Kalian cepat juga.” Dari balik tirai batu, seorang pria muncul. Berusia sekitar empat puluh. Berjubah kelabu. Mata dingin. Lingga mengenalnya. “Wu Shen…” Mantan penasehat Dewan Lama. Yang seharusnya sudah mati. Wu Shen tersenyum tipis. “Raja muda… dan gadis dua dunia.” “Pasangan yang menarik.” Zhiya melangkah maju. “Semua ini ulahmu.” Wu Shen mengangguk santai. “Tentu.” “Qingzhou terlalu bersih sekarang.” “Perlu sedikit… kekacauan.” Lingga mengangkat pedang. “Kau akan menjawab di hadapan hukum.” Wu Shen tertawa. “Hukum siapa?” Ia menjentikkan jari. Dari lorong-lorong— puluhan bandit muncul. Mengurung mereka. Pedang terhunus. Busur diarahkan. Zhiya berbisik “Kita terjebak.” Lingga menggenggam tangannya “Belum.” Matanya menyala “Selama kita bersama.” Api biru di tengah Kuil Angin Retak berdenyut semakin cepat. Seolah merasakan darah yang akan tumpah. Angin malam menerobos celah dinding, membawa suara log
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Medan PerangCath Company Glen berdiri di ruang rapat Cath Company dengan jas gelap dan ekspresi dingin. Ruangan penuh—manajer, kepala divisi, bahkan perwakilan klien utama hadir. Semua mata tertuju padanya. “Ashley sedang dalam kondisi medis yang tidak bisa diganggu,” kata Glen lugas. “Tapi Cath Company tidak akan dibiarkan jatuh.” Ia menatap layar presentasi. “Proyek Kerjasama dengan Zaxe company tidak gagal. Strateginya perlu disesuaikan, dan itu sedang dilakukan.” Nada suaranya tidak ramah, tapi meyakinkan. “Untuk sementara,” lanjutnya, “aku yang akan menjadi pengambil keputusan strategis. Semua revisi kampanye lewat aku.” Beberapa orang saling pandang—terkejut, tapi juga lega. Glen bukan Ashley. Tapi ia adalah pemimpin Vierca. Dan nama itu cukup untuk membuat klien berpikir dua kali. Disisi lain, Ashley sedang tertidur diranjang rumah sakit. Dan George, Pria itu menemani Ashley tepat disamping ranjangnya sembari sibuk mengutak atik laptop yang berada dipangkuannya. Saat Ashley
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Istirahat Total“Aku tahu. Kita harus mencari cara agar dia tidak memaksa untuk terus bekerja. Sangat berbahaya bagi bayi yang dikandung,” ujar George. Saat sedang berdiskusi, Dokter tiba. “Tuan Glen, saya ingin bicara dengan anda,” Dokter kandungan masuk kedalam kamar Ashley dengan map ditangannya. Wajahnya profesional namun serius. Glen mengikuti langkahnya dibelakang. Ia menutup pintu, memastikan ruangan tenang. Monitor berdetak stabil, tapi justru itu yang membuat kata-katanya terdengar lebih berat. “Kontraksi yang Anda alami bukan kejadian biasa,” lanjutnya. “Ini respons tubuh terhadap stres emosional yang cukup ekstrem.” Ashley menelan ludah. “Apakah… berbahaya?” “Jika terulang, iya.” Dokter itu menatap Ashley lurus. “Risiko kelahiran prematur meningkat. Dan pada kondisi tertentu, bisa mengancam ibu dan janin.” Glen mengepal tangan. “Apa yang harus kami lakukan?” “Pertama,” jawab dokter tegas, “rawat inap sampai kondisi stabil. Kedua, hilangkan sumber stres.” Kalimat itu me
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: Kontraksi Palsu“Ada apa?” tanya Alfredo curiga begitu melihat ekspresi Louis yang tak biasa. Louis menggeleng dengan wajah gugup. Dibenaknya hanya terpikir kata-kata George dan Ashley yang barusan ia dengar. Tangannya gemetar tak beraturan. “Bagaimana jika itu bayiku.” kata kata George terus terputar dikepalanya. Ia sudah lama menjadi asisten George. Ia tahu sisi liar bosnya, tahu perubahan sikap George sejak Ashley muncul kembali. Tapi yang barusan ia dengar—itu bukan sekadar obsesi. Ini sangat bahaya. Jika rumor ini keluar, bukan hanya George yang hancur. Ashley. Glen. Cath Company. Bahkan Slytzean. Semua bisa ikut tenggelam. Sementara itu, di lantai atas, Ashley masuk kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu, bersandar di sana beberapa detik, lalu perlahan mengusap perutnya. “Tenang,” bisiknya. Entah pada dirinya sendiri, atau pada bayi itu. Percakapan barusan membuat dadanya sesak. Bukan karena George semata—melainkan karena ketakutan yang selama ini ia tekan mulai menemukan be
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: Rapat Di Cath CompanyPagi di mansion berjalan rapi seperti biasa. Glen sudah berpakaian formal, jasnya sempurna, ekspresinya tenang. Ashley turun menyusul dengan langkah pelan, satu tangannya menahan perut yang mulai terasa berat. “Aku antar kamu ke kantor,” ujar Glen.. Ashley tersenyum kecil. “Kamu tidak terlambat?” “Aku masih bisa mengatur waktu,” jawabnya ringan. Perjalanan menuju Cath Company berlangsung hening namun nyaman. Glen sesekali melirik Ashley, memastikan ia duduk dengan baik. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa menenangkan. Sesampainya di depan gedung Cath Company, Glen turun lebih dulu, membukakan pintu. “Jangan memaksakan diri,” katanya singkat namun tegas. “Kalau lelah, hentikan rapat.” Ashley mengangguk. “Aku tahu.” Glen menunggu sampai Ashley benar-benar masuk ke gedung sebelum kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju Vierca Group. Tak lama setelah itu, sekretaris Ashley mengetuk pintu ruang kerjanya. “Nyonya Ashley, Tuan George dari Slytzea
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Moment bahagia Ashley dan GlenSore itu paviliun belakang mansion terasa tenang. Angin berembus pelan, membawa aroma teh hangat yang baru diseduh. Ashley duduk dengan posisi rapi namun santai, satu tangannya memegang cangkir, tangan lain sesekali menyentuh perutnya. Glen duduk di hadapannya. Sebagai anak bungsu keluarga Moonstone, sikapnya selalu terlihat lebih ringan dibanding saudara-saudaranya—namun tetap penuh perhitungan. “Kamu sudah dengar soal Rensca?” tanya Ashley membuka pembicaraan. Glen mengangguk pelan. “Sudah. Keputusan itu langsung dari Tuan Besar.” Ashley menarik napas. “Jujur saja, aku merasa caranya terlalu keras. Dia sedang hamil, tapi justru dipindahkan dan dijauhkan dari William.” Glen menyandarkan punggungnya dengan tenang. “Di keluarga Moonstone, stabilitas selalu lebih penting daripada perasaan. Ayah hanya melakukan apa yang menurutnya perlu.” Nada suaranya datar, tidak membela, namun juga tidak menentang. Ashley menatap permukaan teh di cangkirnya. “Aku takut kondisi Rensca mal
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Nasib RenscaDengan segala pertimbangan, Akhirnya Rensca dilarukan kerumah sakit terdekat. Koridor rumah sakit kembali sunyi setelah dokter masuk ke ruang observasi. Rensca masih terbaring lemah di balik pintu tertutup itu—bertarung sendirian mempertahankan janin yang hampir saja hilang. Di luar, keluarga Moonstone berdiri tanpa empati. Tuan Besar Moonstone duduk di kursi tunggu paling ujung. Tongkat kayunya bertumpu di lantai, genggamannya mantap, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Usia tak pernah melemahkan wibawanya—justru memperkerasnya. “Dokter bilang janin masih hidup,” lapor salah satu anggota keluarga dengan suara hati-hati. “Masih,” ulang Tuan Besar pelan. Satu kata itu terdengar seperti vonis. William berdiri tak jauh, rahangnya mengeras. “Ayah, kondisi Rensca tidak stabil. Dia hampir—” “Dia kehilangan kendali,” potong Tuan Besar dingin. “Dan itu tidak bisa ditoleransi dalam keluarga Moonstone.” Tak ada nada khawatir. Hanya penilaian. Seorang paman Mo
Last Updated: 2025-12-24