author-banner
QuinzeeQ
QuinzeeQ
Author

Novels by QuinzeeQ

Budak Kesayangan Pangeran Buta

Budak Kesayangan Pangeran Buta

Setelah dinasti keluarganya runtuh, Ming Zhu, putri dari kaisar yang dilengserkan, kehilangan segalanya—orang tuanya dibunuh dan kakaknya, Ming Yue, dijual ke rumah bordil. Hidup dalam pelarian, Ming Zhu akhirnya bekerja sebagai asisten pribadi seorang bangsawan misterius bernama Liang Wei, pria dingin dengan penglihatan yang lemah dan rahasia yang tak diketahui siapa pun. Hubungan keduanya semakin menegang saat Liang Wei menyelamatkannya dari rumah bordil dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Di tengah intrik istana, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan, dua orang yang sama-sama hidup dalam bayangan akhirnya menyadari bahwa takdir mereka saling terikat. Ketika identitas mereka akhirnya terbongkar ke dunia, Ming Zhu dan Liang Wei tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Namun alih-alih jatuh, mereka memilih untuk bangkit. Bersama-sama mereka memulai permainan berbahaya melawan para pengkhianat yang telah menghancurkan masa lalu mereka. Akankah mereka berhasil merebut kembali tahta yang seharusnya milik mereka?
Read
Chapter: Penyelundupan
Malam di Istana Kekaisaran terasa lebih sunyi dari biasanya. Di Paviliun Putri Ketiga, lentera-lentera masih menyala terang. Bayangan tirai sutra bergoyang perlahan tertiup angin malam, menciptakan suasana tenang yang menipu. Di dalam, Mu Rong Shanming duduk tegak di depan meja rendah. Di hadapannya terbentang beberapa gulungan laporan. Namun tak satu pun benar-benar ia baca. Pikirannya masih berada di Aula Naga. Pada satu kalimat. Pelayan pribadi. Sederhana. Namun justru itu yang mengganggunya. Liang Wei bukan pria yang mudah ditebak. Ia menolak perjodohan tanpa alasan yang jelas, namun reaksinya berubah hanya saat topik itu disentuh. Berarti—Orang itu nyata. Dan penting. Shanming perlahan mengangkat cangkir tehnya, lalu menurunkannya kembali tanpa sempat menyesap. “Masuk,” ucap Shanming pelan. Pintu terbuka tanpa suara. Seorang wanita berpakaian gelap melangkah masuk, lalu berlutut dengan satu lutut. “Salam Putri Ketiga,” ucapnya. Shanming tidak menoleh. “Aku ing
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Kecurigaan Kaisar
“Yang Mulia,” sela Mu Rong Shanming sebelum kaisar benar-benar menutup pertemuan hari itu. “Ada lagi?” Mu Rong Shanming tidak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak dan mengalihkan pandangannya pada Liang Wei. “Jika Liang Wei menolak dengan alasan tidak layak , maka aku bisa terima,” ujar Mu Rong Shanming. “Namun ada satu hal yang membuat ku tidak percaya, Yang Mulia,” ucap Mu Rong Shanming. “Apa itu?” Aula kembali sunyi. Nada bicaranya masih halus. Tapi kini jelas ia tidak lagi sekadar berbicara sebagai putri kerajaan. Ada emosi di sana. Tipis, tapi nyata. “Pelayan pribadimu,” ucapnya sembari tersenyum tipis kearah Liang Wei. “Apa maksud anda Putri?” Seketika, suasana berubah. Beberapa pejabat saling melirik. Topik itu tidak seharusnya dibawa ke aula seperti ini. Liang Wei langsung menatapnya. Lebih tajam dari sebelumnya. Shanming melanjutkan, seolah tidak peduli. “Seorang pelayan yang kau lindungi dengan sangat baik. Seorang pelayan yang tidak pernah terlihat j
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Penolakan di aula utama
“Kau tidak biasanya mencampuri urusan seperti ini,” ucap Kaisar. “Aku lelah mendengar berita yang bercerita buruk tentang hubungan ku dan Liang Wei, Ayah,” ucap Shanming. “Jika Liang Wei bersedia, maka kita bisa melangsungkan pernikahan. Tapi jika ia menolak-“ Ia berhenti sejenak. “Maka aku ingin Ayah memberi keputusan yang adil,” ucap Shanming. Kaisar bersandar sedikit di singgasananya. “Baik. Aku akan memanggil Liang Wei ke istana dan memintanya menjawab dihadapanku secara langsung,” ujar Kaisar. Mu Rong Shanming tersenyum. “Terimakasih Ayah,” katanya. Aula Naga dipenuhi ketegangan yang halus namun menekan. Hari itu, tidak ada pembahasan perang, tidak ada laporan pajak. Namun seluruh pejabat hadir karena satu hal yang tampak sederhana, tetapi membawa dampak besar: perjodohan Putri Ketiga, Mu Rong Shanming. Pintu aula terbuka. Liang Wei melangkah masuk. Seperti biasa, penampilannya tidak mencolok. Jubahnya sederhana, sikapnya tenang. Tidak ada yang akan menyangka bahw
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Hasutan Putri Ketiga
“Aku akan menempatkanmu di tempat yang aman.” “Tapi, kau tidak boleh kembali ke kehidupan lamamu,” lanjut Liang Wei. Ming Yue langsung menggeleng. “Tidak. Tidak akan pernah, Tuan,” ucapnya. Tangannya sedikit gemetar. Ming Zhu menggenggamnya lebih erat. “Dengarkan dia,” bisiknya pelan. Ming Yue mengangguk. Air matanya kembali jatuh kali ini bukan karena putus asa. Tapi karena akhirnya ada jalan keluar. Kereta mulai bergerak. Meninggalkan distrik itu perlahan. Di dalam, suasana sunyi. Ming Yue duduk di sudut, masih memegang tangan Ming Zhu seolah takut semuanya akan hilang jika ia melepaskannya. Sementara Liang Wei duduk di seberang. Kereta terus berjalan selama hampir setengah hari perjalanan. Tapi Ming Yue tidak dibawa kembali ke kediaman Liang Wei. Sebaliknya, ia dibawa ke bagian luar kompleks pemerintahan tempat para pelayan istana dilatih sebelum ditempatkan. Bangunan itu tidak semewah istana, tapi jauh dari kumuh. Teratur. Dijaga. Aman setidaknya di permukaan. Ming Y
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Menyelamatkan Ming Yue
“Hamba tidak berani menebak keputusan Tuan,” ucap Ming Zhu “Kau pintar,” celetuk Mu Rong Shanming. “Tapi kepintaran saja tidak cukup untuk bertahan ditempat seperti ini,” lanjutnya. Wanita itu kemudian berdiri dan hendak pergi. Tapi sebelum ia pergi, ia berkata, “Mulai besok aku akan terus mendatangi kediaman ini. Aku ingin lihat, seberapa tanda itu akan melindungimu.” Ming Zhu buru-buru berdiri. “Baik, Yang Mulia,” ucapnya. Sore itu, langit mulai berubah kelabu. Awan menggantung rendah, seolah menekan seluruh kediaman dalam diam yang aneh. Para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya bukan karena diperintah, tapi karena firasat. “Mulai besok, Putri ketiga akan terus kemari, Tuan,” ucap Ming Zhu sembari menyeduh teh diruang kerja Liang Wei. “Aku tahu. Aku sudah mendapat kabar dari istana,” ucap Liang Wei. “Perjodohan kalian pasti bukan hanya untuk memperkuat aliansi,” ucap Ming Zhu tiba-tiba sembari menyodorkan secangkir teh kearah Liang Wei. “Kau bisa memahami se
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Perseteruan Baru
“Tuan, putri ketiga telah tiba,” ucap Su Mu yang masuk dengan tergesa. “Biarkan dia masuk,” ucap Liang Wei. Ming Zhu kemudian memundurkan langkahnya menjauh dari Liang Wei dan sedikit menunduk saat Su Mu menatap mereka. “Baik, Tuan,” ucap Su Mu. Pintu paviliun terbuka. Putri Ketiga masuk dengan langkah anggun, diikuti beberapa pelayan istana. Pakaian dan perhiasannya tidak mencolok, tapi jelas menunjukkan statusnya yang tinggi. Tatapannya langsung menyapu ruangan. Dan berhenti pada Ming Zhu. “Jadi ini orangnya?” “Hamba memberi salam pada Putri Ketiga,” ucap Ming Zhu sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. “Angkat wajahmu,” ucap Mu Rong Shanming. Ming Zhu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu lagi kali ini lebih dekat, lebih jelas. “Lebih berani dari yang kukira,” ucap nya. “Liang Wei, pelayanmu ini tidak biasa,” ucap Mu Rong Shanming. Liang Wei berdiri tak jauh dari mereka, tenang seperti biasa. “Dia memang bukan pelayan biasa,” katanya. Jaw
Last Updated: 2026-03-23
Nyonya Ketiga Keluarga Moonstone

Nyonya Ketiga Keluarga Moonstone

“Kau hanya perlu mendengar dan patuh dengan semua kata-kataku, maka hidupmu tidak akan berada dalam kesulitan!” geram Lelaki bertubuh semampai itu sambil menatap tajam kearah gadis kecil dihadapannya. Akankah gadis itu mampu bertahan untuk menjalani hidup nya dengan Pria itu? Atau ia menyerah dan memilih merintis karirnya sendiri demi melunasi hutang keluarganya?
Read
Chapter: Medan Perang
Cath Company Glen berdiri di ruang rapat Cath Company dengan jas gelap dan ekspresi dingin. Ruangan penuh—manajer, kepala divisi, bahkan perwakilan klien utama hadir. Semua mata tertuju padanya. “Ashley sedang dalam kondisi medis yang tidak bisa diganggu,” kata Glen lugas. “Tapi Cath Company tidak akan dibiarkan jatuh.” Ia menatap layar presentasi. “Proyek Kerjasama dengan Zaxe company tidak gagal. Strateginya perlu disesuaikan, dan itu sedang dilakukan.” Nada suaranya tidak ramah, tapi meyakinkan. “Untuk sementara,” lanjutnya, “aku yang akan menjadi pengambil keputusan strategis. Semua revisi kampanye lewat aku.” Beberapa orang saling pandang—terkejut, tapi juga lega. Glen bukan Ashley. Tapi ia adalah pemimpin Vierca. Dan nama itu cukup untuk membuat klien berpikir dua kali. Disisi lain, Ashley sedang tertidur diranjang rumah sakit. Dan George, Pria itu menemani Ashley tepat disamping ranjangnya sembari sibuk mengutak atik laptop yang berada dipangkuannya. Saat Ashley
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Istirahat Total
“Aku tahu. Kita harus mencari cara agar dia tidak memaksa untuk terus bekerja. Sangat berbahaya bagi bayi yang dikandung,” ujar George. Saat sedang berdiskusi, Dokter tiba. “Tuan Glen, saya ingin bicara dengan anda,” Dokter kandungan masuk kedalam kamar Ashley dengan map ditangannya. Wajahnya profesional namun serius. Glen mengikuti langkahnya dibelakang. Ia menutup pintu, memastikan ruangan tenang. Monitor berdetak stabil, tapi justru itu yang membuat kata-katanya terdengar lebih berat. “Kontraksi yang Anda alami bukan kejadian biasa,” lanjutnya. “Ini respons tubuh terhadap stres emosional yang cukup ekstrem.” Ashley menelan ludah. “Apakah… berbahaya?” “Jika terulang, iya.” Dokter itu menatap Ashley lurus. “Risiko kelahiran prematur meningkat. Dan pada kondisi tertentu, bisa mengancam ibu dan janin.” Glen mengepal tangan. “Apa yang harus kami lakukan?” “Pertama,” jawab dokter tegas, “rawat inap sampai kondisi stabil. Kedua, hilangkan sumber stres.” Kalimat itu me
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: Kontraksi Palsu
“Ada apa?” tanya Alfredo curiga begitu melihat ekspresi Louis yang tak biasa. Louis menggeleng dengan wajah gugup. Dibenaknya hanya terpikir kata-kata George dan Ashley yang barusan ia dengar. Tangannya gemetar tak beraturan. “Bagaimana jika itu bayiku.” kata kata George terus terputar dikepalanya. Ia sudah lama menjadi asisten George. Ia tahu sisi liar bosnya, tahu perubahan sikap George sejak Ashley muncul kembali. Tapi yang barusan ia dengar—itu bukan sekadar obsesi. Ini sangat bahaya. Jika rumor ini keluar, bukan hanya George yang hancur. Ashley. Glen. Cath Company. Bahkan Slytzean. Semua bisa ikut tenggelam. Sementara itu, di lantai atas, Ashley masuk kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu, bersandar di sana beberapa detik, lalu perlahan mengusap perutnya. “Tenang,” bisiknya. Entah pada dirinya sendiri, atau pada bayi itu. Percakapan barusan membuat dadanya sesak. Bukan karena George semata—melainkan karena ketakutan yang selama ini ia tekan mulai menemukan be
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: Rapat Di Cath Company
Pagi di mansion berjalan rapi seperti biasa. Glen sudah berpakaian formal, jasnya sempurna, ekspresinya tenang. Ashley turun menyusul dengan langkah pelan, satu tangannya menahan perut yang mulai terasa berat. “Aku antar kamu ke kantor,” ujar Glen.. Ashley tersenyum kecil. “Kamu tidak terlambat?” “Aku masih bisa mengatur waktu,” jawabnya ringan. Perjalanan menuju Cath Company berlangsung hening namun nyaman. Glen sesekali melirik Ashley, memastikan ia duduk dengan baik. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa menenangkan. Sesampainya di depan gedung Cath Company, Glen turun lebih dulu, membukakan pintu. “Jangan memaksakan diri,” katanya singkat namun tegas. “Kalau lelah, hentikan rapat.” Ashley mengangguk. “Aku tahu.” Glen menunggu sampai Ashley benar-benar masuk ke gedung sebelum kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju Vierca Group. Tak lama setelah itu, sekretaris Ashley mengetuk pintu ruang kerjanya. “Nyonya Ashley, Tuan George dari Slytzea
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Moment bahagia Ashley dan Glen
Sore itu paviliun belakang mansion terasa tenang. Angin berembus pelan, membawa aroma teh hangat yang baru diseduh. Ashley duduk dengan posisi rapi namun santai, satu tangannya memegang cangkir, tangan lain sesekali menyentuh perutnya. Glen duduk di hadapannya. Sebagai anak bungsu keluarga Moonstone, sikapnya selalu terlihat lebih ringan dibanding saudara-saudaranya—namun tetap penuh perhitungan. “Kamu sudah dengar soal Rensca?” tanya Ashley membuka pembicaraan. Glen mengangguk pelan. “Sudah. Keputusan itu langsung dari Tuan Besar.” Ashley menarik napas. “Jujur saja, aku merasa caranya terlalu keras. Dia sedang hamil, tapi justru dipindahkan dan dijauhkan dari William.” Glen menyandarkan punggungnya dengan tenang. “Di keluarga Moonstone, stabilitas selalu lebih penting daripada perasaan. Ayah hanya melakukan apa yang menurutnya perlu.” Nada suaranya datar, tidak membela, namun juga tidak menentang. Ashley menatap permukaan teh di cangkirnya. “Aku takut kondisi Rensca mal
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Nasib Rensca
Dengan segala pertimbangan, Akhirnya Rensca dilarukan kerumah sakit terdekat. Koridor rumah sakit kembali sunyi setelah dokter masuk ke ruang observasi. Rensca masih terbaring lemah di balik pintu tertutup itu—bertarung sendirian mempertahankan janin yang hampir saja hilang. Di luar, keluarga Moonstone berdiri tanpa empati. Tuan Besar Moonstone duduk di kursi tunggu paling ujung. Tongkat kayunya bertumpu di lantai, genggamannya mantap, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Usia tak pernah melemahkan wibawanya—justru memperkerasnya. “Dokter bilang janin masih hidup,” lapor salah satu anggota keluarga dengan suara hati-hati. “Masih,” ulang Tuan Besar pelan. Satu kata itu terdengar seperti vonis. William berdiri tak jauh, rahangnya mengeras. “Ayah, kondisi Rensca tidak stabil. Dia hampir—” “Dia kehilangan kendali,” potong Tuan Besar dingin. “Dan itu tidak bisa ditoleransi dalam keluarga Moonstone.” Tak ada nada khawatir. Hanya penilaian. Seorang paman Mo
Last Updated: 2025-12-24
Tawanan Hasrat Raja Lingga

Tawanan Hasrat Raja Lingga

Setiap kali Zhiya terlelap, tubuhnya jatuh ke dunia lain—ke dalam pelukan Lingga, sang raja yang seolah menunggu di ujung antara mimpi dan kematian. Dalam mimpi itu, sentuhannya terasa nyata. Panas. Memabukkan. Seolah maut pun tak mampu memisahkan mereka. Namun cinta di antara dua dunia bukanlah anugerah, melainkan kutukan. Untuk memecahkannya, mereka harus menyatu—dan memilih satu dunia untuk bertahan. Ketika fajar menuntut keputusan, Zhiya tahu… pada akhirnya ia harus kembali ke dunianya. “Apa yang kau inginkan dariku…?” suara Zhiya nyaris tidak terdengar. Lingga menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat hingga Zhiya dapat merasakan panas napasnya menyentuh kulit. “Aku ingin memastikan kau tetap nyata di sini,” bisiknya. “Aku ingin memastikan kau tidak lenyap lagi, Yu Zhiya.” Tangannya menyentuh garis rahang Zhiya, lalu menelusur perlahan ke bawah—hangat, lembut, namun mengandung kekuatan yang mampu mengikat jiwa. Dan ketika Zhiya membuka matanya kembali, ia sudah tidak berada di istana itu lagi. Hanya napasnya yang masih bergetar, hanya detak jantungnya yang masih mengingat bentuk pelukan itu. Saat ia kembali ke dunianya, dalam pameran itu— nama Lingga. Raja yang hilang dari peradaban ribuan tahun lalu. [MATURE 21+]
Read
Chapter: Era kejayaan Qingzhou
Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya masih duduk diam ketika pintu tiba-tiba terbuka. Lingga masuk. Biasanya para penjaga akan mengumumkan kedatangan kaisar, tetapi kali ini ia datang terlalu cepat. Zhiya menatapnya sedikit terkejut. “Lingga—” Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, Lingga sudah berdiri di depannya. Tatapannya jatuh pada wajah Zhiya… lalu perlahan pada perutnya. “Apakah itu benar?” Suaranya lebih pelan dari biasanya. Zhiya tersenyum lembut. “Tabib Qin sudah memastikannya.” Untuk pertama kalinya sejak kabar itu keluar, Lingga benar-benar terlihat kehilangan kata-kata. Tangannya perlahan menyentuh tangan Zhiya. Hati-hati. Seolah ia takut menyentuh sesuatu yang terlalu berharga. “Zhiya…” Ia jarang memanggil namanya dengan suara selembut itu. Zhiya memandangnya dengan hangat. “Kau akan menjadi ayah.” Lingga menatapnya lama. Kemudian sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah Kaisar Qingzhou muncul— Senyum kecil. Ia menarik Zhiya ke dalam pel
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Kehamilan Pertama
Perjamuan dimulai. Pelayan istana membawa hidangan satu demi satu: bebek panggang madu, ikan sungai giok kukus, sup ginseng kekaisaran, dan anggur bunga plum yang harum. Para penari istana memasuki aula, pakaian sutra mereka berputar seperti kelopak bunga di udara. Musik menjadi lebih hidup. Namun perhatian terbesar tetap tertuju pada meja utama. Seorang pejabat tua akhirnya bangkit dari kursinya. Itu adalah Menteri Agung Han, penasihat senior kerajaan sekaligus mertua dari kakaknya, Yu Lian. Ia mengangkat cawan anggurnya dan membungkuk hormat. “Hari ini Qingzhou mendapatkan seorang permaisuri yang berbudi luhur dan berjasa besar bagi negeri. Kami, para pejabat kerajaan, mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Raja dan Ratu.” Seluruh aula mengikuti. Cawan-cawan terangkat. “Untuk Ratu Qingzhou!” Zhiya mengangkat cawannya dengan tenang. Tatapannya menyapu aula sebelum ia berkata lembut namun jelas, “Aku hanyalah seorang wanita yang kebetulan diberi kesempatan melindungi
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Penobatan Zhiya
Langit Qingzhou pagi itu tampak lebih jernih dari biasanya, seolah seluruh alam ikut menyaksikan perubahan besar yang akan tercatat dalam sejarah istana. Genderang upacara ditabuh bertalu-talu dari Gerbang Naga Emas hingga ke Aula Kemuliaan Agung. Para pejabat tinggi berdiri berjajar dalam balutan jubah resmi mereka, kepala tertunduk khidmat, sementara para pelayan istana bergerak cepat namun nyaris tanpa suara. Hari itu, nama Zhiya akan diukir selamanya dalam silsilah kekaisaran Qingzhou. Di Paviliun Anggrek Giok, Zhiya duduk tenang di depan cermin perunggu. Gaun permaisuri berwarna merah kekaisaran membalut tubuhnya—sutra halus bersulam burung phoenix emas yang tampak hidup ketika tersentuh cahaya pagi. Mahkota phoenix bertatah mutiara dan giok hijau terpasang anggun di kepalanya. Namun di balik kemegahan itu, mata Zhiya tetap jernih… dan berat. Yu Lian berdiri di belakangnya, membantu merapikan lipatan lengan. “Yang Mulia,” bisik Yu Lian pelan, suaranya bergetar haru, “hari
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Pengakuan Zhiya
Sore merambat pelan di Paviliun Teratai Putih. Cahaya keemasan menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai marmer. Kolam teratai di luar jendela tenang—terlalu tenang, seolah ikut menahan napas. Pintu paviliun tertutup. Hanya ada dua orang di dalam. Zhiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak terlalu keras. Di seberang ruangan— Yu Lian berdiri membelakanginya. Anggun. Tenang. Namun bahunya sedikit gemetar. Seolah ia juga menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam. “Kak….” Suara Zhiya pecah lebih pelan dari yang ia kira. Yu Lian membeku. Perlahan… ia berbalik. Mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Tidak ada istana. Tidak ada Qingzhou. Tidak ada kutukan. Hanya dua saudari yang akhirnya saling menemukan lagi. Mata Yu Lian langsung memerah. “Zhiya…” Langkahnya goyah. Satu langkah. Dua langkah. Lalu—ia memeluk Zhiya erat. Zhiya sempat kaku. Sepersekian detik. Lalu lengannya balas memeluk. Kuat. Sangat kuat. Seolah
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: Mengobati Lingga
“Kalau suatu hari aku kembali ke Aetheria…” lirih Zhiya “Apakah kau akan mencariku?” lanjutnya. “Aku akan menyeberangi dunia.” ucap Lingga. “Seribu kali.” Zhiya tersenyum, “Aku berharap… kita tidak perlu dan jangan sampai berpisah.” Kereta berguncang lembut. Di luar, suara burung pagi terdengar. Lingga mulai terlelap. Kepalanya miring. Tanpa sadar, bersandar di bahu Zhiya. Zhiya kaku sesaat. Lalu membiarkannya. Ia menyelimuti Lingga dengan mantel. Menatap wajahnya lama. “Raja yang keras kepala…” bisiknya. “…tapi paling baik.” Beberapa jam kemudian—menara istana terlihat. Berkilau di bawah matahari pagi. Zhiya menarik napas panjang, “Sudah sampai…” Lingga membuka mata dan Menatapnya, “Terima kasih… sudah pulang bersamaku.” Zhiya menggenggam tangannya dan mengangguk. “Zhong Li, bantu Yang Mulia kembali ke kamar,” ujar Zhiya dari dalam kereta. “Baik Nona,” ucap Zhong Li. Setelah Zhong Li memapah Lingga, Zhiya berbalik badan dan berbicara dengan Han Yu. “Beri
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Peperangan Melawan Wu Shen
Tiba-tiba— tepuk tangan pelan terdengar. “Kalian cepat juga.” Dari balik tirai batu, seorang pria muncul. Berusia sekitar empat puluh. Berjubah kelabu. Mata dingin. Lingga mengenalnya. “Wu Shen…” Mantan penasehat Dewan Lama. Yang seharusnya sudah mati. Wu Shen tersenyum tipis. “Raja muda… dan gadis dua dunia.” “Pasangan yang menarik.” Zhiya melangkah maju. “Semua ini ulahmu.” Wu Shen mengangguk santai. “Tentu.” “Qingzhou terlalu bersih sekarang.” “Perlu sedikit… kekacauan.” Lingga mengangkat pedang. “Kau akan menjawab di hadapan hukum.” Wu Shen tertawa. “Hukum siapa?” Ia menjentikkan jari. Dari lorong-lorong— puluhan bandit muncul. Mengurung mereka. Pedang terhunus. Busur diarahkan. Zhiya berbisik “Kita terjebak.” Lingga menggenggam tangannya “Belum.” Matanya menyala “Selama kita bersama.” Api biru di tengah Kuil Angin Retak berdenyut semakin cepat. Seolah merasakan darah yang akan tumpah. Angin malam menerobos celah dinding, membawa suara log
Last Updated: 2026-02-14
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status