Mag-log inKabut tebal masih menyelimuti perkemahan di kaki gunung saat jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Sesuai dengan skenario busuk yang telah ia rancang, Sarah sengaja bangun paling awal. Ia bahkan tidak sabar menunggu Thomas melapor, karena dalam benaknya, Rosella saat ini pasti sedang terlelap tanpa daya di samping Thomas akibat efek obat tidur yang ia berikan semalam.Dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru, Sarah menuju ke area tenda anak magang. "Astaga! Tolong! Ada apa ini?!"Sarah berteriak histeris, memecah keheningan pagi di pegunungan yang sunyi. Ia sengaja mondar-mandir di depan tenda Rosella sembari memegangi kedua pipinya, berpura-pura syok luar biasa. "Pak Jason! Semuanya, tolong keluar! Ada kejadian memalukan di tenda anak magang!"Teriakan melengking Sarah berhasil memicu kegaduhan instan. Satu per satu resleting tenda terbuka. Pak Jason selaku Direktur Perkebunan yang bertanggung jawab atas rombongan ini keluar dengan wajah mengantuk dan panik, diikut
“Batu…Gunting…Kertas!"Tiga tangan tersorot di bawah lampu ruang kerja yang temaram. Leon mengeluarkan batu, Lucas mengeluarkan gunting, dan Adrian mengeluarkan kertas.Lucas langsung mengerang frustasi sembari menjatuhkan dirinya ke sofa, sementara Leon hanya bisa menghembuskan napas pendek dan menurunkan tangannya dengan berat hati. Adrian, sang Tuan Muda Kedua, mengulas senyum kemenangan yang sangat tipis namun penuh kemenangan."Kertas membungkus batu, dan batu menghancurkan gunting. Aku yang menang," ujar Adrian tenang sembari membetulkan letak kacamatanya. "Pekerjaanku di kampus bisa didelegasikan kepada asisten dosen untuk tiga hari kedepan. Kalian berdua, tetaplah di London dan pantau dari jauh."Meskipun kesal setengah mati, Leon dan Lucas terpaksa mematuhi kesepakatan jantan itu. Malam itu juga, Adrian mulai menyusun rencana penyamaran yang sangat rapi sebagai pengawas eksternal dari komite botani universitas yang mendampingi program magang.Malam di Pegunungan dan Renc
Setelah menolak Sarah dengan kata "Tidak!" yang sedingin es, Adrian melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang panjang membawanya menuju mobil sedan mewah miliknya yang sudah terparkir di area depan. Pria itu membuka pintu mobil, bersiap untuk masuk dengan sisa kejengkelan di wajahnya karena terpaksa harus melepas Rosella pergi ke gunung lusa nanti."Tuan Adrian! Tunggu!"Sebuah suara cempreng yang sangat ia kenal membuat gerakan Adrian terhenti. Ia berbalik dan mendapati Rosella sedang berlari kecil ke arahnya sembari nafasnya sedikit terengah-engah. Di kedua tangannya, Rosella membawa sebuah mantel tebal milik Adrian yang tadi sempat diletakkan pria itu di kursi. "Ini... mantel Anda tertinggal, Tuan," ucap Rosella sembari menyerahkan mantel itu dengan senyuman manis. "Udara di luar sedang berangin, jangan sampai Anda yang masuk angin setelah memarahi Pak Direktur tadi."Adrian menatap mantel itu, lalu beralih menatap wajah Rosella. Detik itu juga, rona dingin di
Pagi itu, area kantin Toretto Agro-Corp riuh rendah oleh bisik-bisik yang tertuju langsung ke meja sudut tempat Rosella duduk. Teman sesama anak magangnya, Maya, langsung menggeser kursi mendekat dengan mata berbinar penasaran."Rosella, kamu hebat banget, sih! Kemarin ketiga Tuan Muda Toretto datang sendiri ke sini cuma buat merhatiin kamu, bahkan sampai meriksa dahi kamu segala," bisik Maya heboh. "Satu perkebunan dan kantor langsung gempar, tahu!"Rosella meremas pelan cangkir tehnya, mencoba bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena panik. Rencana penyamarannya hampir saja hancur berantakan di hari pertama."Ah, itu... kamu salah paham, Maya. Tuan Muda Lucas kan memang dokter utama di rumah sakit pusat, dia cuma kebetulan ikut peninjauan kualitas dan memastikan program kesehatan buruh berjalan dengan benar. Dia kebetulan lewat di dekatku saja," elak Rosella sebisa mungkin. Ia benar-benar tidak ingin usahanya untuk belajar dari nol sia-sia hanya karena u
Hal yang sama terjadi pada Adrian dan Lucas. Di kampus, Adrian yang sedang memberikan kuliah mendadak kehilangan minat mengajar begitu melihat jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Pikiran cerdasnya terus membayangkan apakah Rosella sudah makan siang atau belum.Tanpa berpikir panjang, Adrian memberikan tugas mandiri kepada mahasiswanya dan langsung melesat menuju rumah sakit tempat Lucas bekerja. Begitu sampai di sana, ia mendapati Lucas sedang duduk di ruangannya dengan wajah uring-uringan, membolak-balik berkas pasien tanpa minat."Kamu tidak ada jadwal operasi, Lucas?" tanya Adrian sembari masuk tanpa mengetuk pintu."Aku membatalkan semuanya yang tidak darurat," gerutu Lucas frustrasi. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Rosella. Bagaimana kalau dia pingsan karena kepanasan di dalam rumah kaca itu? Kulitnya sangat sensitif!""Kak Leon baru saja mengirim pesan," kata Adrian sembari menunjukkan ponselnya. "Dia memantau lewat CCTV rahasia. Katanya Rosella sedang mengangka
Pagi itu, suasana di Mansion Toretto terasa sangat berbeda. Rosella bangun lebih awal, bukan untuk menyiapkan keperluan para Tuan Muda seperti dulu, melainkan untuk bersiap-siap menuju hari pertamanya magang di perkebunan agrobisnis Toretto Agro-Corp.Sesuai dengan perjanjian rahasianya dengan Leon, Rosella mengenakan pakaian yang sangat sederhana, kemeja flanel kotak-kotak, celana jins longgar yang nyaman untuk bergerak, dan sepasang sepatu bot lapangan. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi. Ia menatap cermin sambil tersenyum puas. Tidak ada gaun desainer, tidak ada perhiasan mewah. Hari ini, dia hanyalah Rosella, seorang mahasiswi magang biasa.Namun, ketenangan Rosella terusik begitu ia turun ke ruang makan. Tiga Tuan Muda Toretto sudah duduk di sana, namun suasana di sekitar mereka tampak begitu mendung. Mereka menatap pakaian lapangan Rosella dengan raut wajah yang beralih antara kagum, cemas, dan tidak rela."Sayang, apa kamu benar-benar harus memakai baju sekaku itu? Ka
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Di kamar mandi, Adrian berdiri di bawah shower dengan air dingin mengalir membasahi tubuhnya.Pikirannya tidak pada air dingin ini tapi melayang pada Rosella.Di tengah kesulitan menjadi budak tapi Rosella masih ingin belajar, dan matanya sangat berbinar melihat buku dan Adrian tersenyum tipis meli
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal







