ANMELDENBeberapa waktu kemudian, pintu ruang operasi terbuka.Lucas keluar dengan masker bedah yang sudah diturunkan ke dagu, jas operasinya masih terpasang, rambutnya sedikit basah karena keringat.Wajahnya lesu, berbeda dari lelah biasa.Rosella langsung berdiri dari kursinya begitu melihat Lucas, melangkah cepat ke arahnya dengan mata yang sudah kembali berkaca.Lucas mengangkat tangannya sebelum Rosella sempat bertanya."Operasinya berhasil." Katanya.Rosella menghela nafas lega, senyumnya tersungging hingga mendengar kalimat Lucas berikutnya. "Tapi." Lucas melanjutkan, suaranya pelan dan hati-hati. "Kondisi ibumu masih kritis, Rosella. Dia harus dipindah ke ICU untuk dipantau ketat." Jelasnya. Rosella menatap Lucas dengan air mata yang tumpah. "Kritis artinya?""Artinya kita belum bisa bilang semuanya aman." Lucas menjawab jujur. "Tapi operasinya sendiri berjalan baik. Sekarang tergantung respons tubuhnya dalam dua puluh empat jam ke depan."Rosella mengangguk pelan, mencoba memahami
Adrian meninggalkan kampus meninggalkan kelasnya. Dia langsung ke alamat yang Ane berikan, rumah ibu Rosella. Kawasan perumahan ibu Rosella berbeda dengan distrik tempat mansion Toretto berdiri, jalan-jalannya lebih sempit, rumah-rumahnya lebih rapat dan usang. Adrian berhenti di depan rumah kecil dengan cat yang sudah memudar, pagar besi yang sedikit berkarat, dan pot bunga di depan pintu yang tanahnya kering.Dia mengetuk berkali-kali namun tidak ada jawaban. Di depan rumah ada seorang wanita lewat dan memberitahu Adrian kalau pemilik rumah dibawa ke rumah sakit. Mendengar itu Adrian sangat panik, dia bergegas masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah sakit yang dimaksud wanita tadi. Dalam perjalan Leon menelpon, Adrian memasang headset dan menerima panggilan kakaknya. "Bagaimana Adrian?" Tanyanya. "Ibunya masuk rumah sakit, aku kesana sekarang." Jawabnya. Hening sebentar di ujung telepon lalu Leon memutuskan sambungan teleponnya."Tunda rapatnya." Kata Leon setelah menutup s
"Kemarin sore dia dapat kabar ibunya sakit." Ane menjelaskan dengan suara sedih. “Dia langsung pergi terburu-buru, bahkan tasnya ketinggalan di petak, saya yang simpan." Jelasnya. Adrian mengerutkan dahinya, pantas panggilan tak dijawab sama sekali."Alamatnya di mana?" Tanya Adrian lagi. Ane memberitahu alamat rumah Rosella, kebetulan Ane sering datang kesana. Adrian mengucapkan alamat itu beberapa kali, lalu mengucapkan terima kasih, dan segera pergi. Ane dan kelompoknya saling pandang dengan ekspresi bertanya-tanya, melihat Adrian Toretto bertanya alamat Rosella."Pak Adrian Toretto sangat khawatir." Bisik Hardan. "Sampai minta alamat segala." Tom menyahut. "Ada apa sebenarnya?" Lizzy tak ketinggalan. Tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang tahu, apa yang terjadi. Namun yang jelas Ane mencium sesuatu. Di rumah sakit, koridor lantai dua lebih sepi dari lantai bawah.Rosella berjalan dengan langkah yang tidak teratur, matanya merah dan sedikit bengkak, rambutnya beranta
Rosella sudah setengah membungkuk dengan pel di tangannya namun ketika mendengar suara Lucas dia menghentikan tangannya."Tapi Tuan tidak ada yang…""Monica." Lucas berbalik ke arah pelayan itu yang masih duduk di tepi tangga. "Kamu yang menumpahkan jadi kamu yang harus membersihkan."Monica yang tadi masih memegangi lututnya langsung tegak."Baik, Tuan Lucas." Suaranya keluar pelan.Lucas mengambil pel dari tangan Rosella, menyerahkannya ke Monica tanpa ekspresi, lalu tangannya berpindah ke bahu Rosella mengarahkannya menjauh dari genangan air.“Hati-hati nanti jatuh.” Katanya penuh perhatian. Monica meremas pel yang baru dia terima, dia sangat kesal karena Lucas tak memperhatikannya sedikit pun. "Kamu sudah makan malam?" Tanyanya. "Belum, Tuan."“Aku juga belum ayo makan bersama.” Rosella menurut, melangkah bersama Lucas meninggalkan koridor tangga.Sementara itu Monica berlutut membersihkan genangan air itu sendirian dengan umpatan-umpatan untuk Rosella. #######Tanaman kelom
Monica terus mengamati gerakan tiga Tuan Muda, jam berapa Leon biasanya turun ke bawah, jam berapa Adrian pulang dari kampus dan kapan Lucas bersantai di taman samping rumah. Semua dicatat di kepalanya tak ada satupun yang terlewat.Hari ini dia mulai bergerak, pagi itu dia memastikan seragamnya terpasang dengan cara yang sedikit berbeda dari pelayan lain, kancing bajunya tak sepenuhnya dikancing, sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang cukup montok.Rambutnya diikat rapi, parfumnya lebih banyak dari kemarin sehingga baunya cukup semerbak. Begitu Leon terlihat di tangga, Monica segera berdiri di dekat meja makan dengan teko kopi di tangan, senyumnya mengembang, dibuat semanis mungkin agar Leon terpikat. "Selamat pagi Tuan Leon." Suaranya keluar dengan nada yang manis dan jelas.Leon melewatinya tanpa menoleh. "Mana Rosella?” Monica menelan senyumnya. "Rosella belum turun Tuan, apa perlu saya…""Tidak perlu." Leon sudah duduk di kepalanya meja, membuka ponsel, lalu menghubung
Pelayan itu mencuci piring dengan gerakan yang lebih keras, bunyi gesekan di wastafel mengisi dapur yang sepi.Namanya Monica, baru direkrut seminggu lalu untuk menggantikan pekerjaan Rosella. Dia mengamati situasi di mansion ini, dan merasa iri dengan Rosella yang diperlakukan ratu oleh para Tuan Muda. "Budak itu." Monica bergumam sendiri, tangannya membilas piring terakhir. "Apa sebenarnya keistimewaannya sampai ketiga Tuan Muda begitu memanjakannya."Di belakangnya, salah satu pelayan senior yang sudah lama bekerja disana melintas dengan handuk di tangan, mendengar gumaman itu tapi tidak berhenti."Dia yang makan tapi aku yang harus mencuci piringnya memangnya siapa dia! Hanya budak!" Monica meletakkan piring ke rak dengan bunyi yang sedikit terlalu keras. "Budak diperlakukan seperti putri.""Hati-hati bicaranya." Pelayan senior itu akhirnya berhenti, menyahut gumaman Monica."Aku hanya bicara fakta." Monica mengelap tangannya. “Heran aku apa istimewanya dia sampai-sampai kita se
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Setelah sarapan yang tegang, ketiga Tuan Muda berangkat ke aktivitas masing-masing dengan aura yang berbeda-beda.Leon berangkat dengan langkah yang sangat tegas bahkan lebih tegas dari biasanya dan wajah yang lebih dingin. Di dalam mobilnya, dia mencengkeram setir dengan kuat sambil mengingat keja
Rosella mengangguk di balik tangannya yang menutupi wajah."Iya, dia tidak kasar seperti biasanya. Tuan Leon memperlakukan saya dengan lembut. Dan saya benci diri saya karena saya menikmatinya, tubuh saya merespons sentuhan Tuan Leon, sentuhan Tuan Adrian, dan bahkan sentuhan Anda Tuan Lucas. Saya







