MasukBelum sempat Sarah memecahkan teka-teki itu, tirai tenda utama terbuka. Pak Jason melangkah keluar terlebih dahulu dengan ekspresi wajah yang dipaksakan setenang mungkin, disusul oleh Adrian yang sudah kembali mengenakan masker hitam dan kupluknya, berjalan angkuh di belakang sang Direktur. "Semuanya, harap tenang dan dengarkan saya!" seru Pak Jason dengan suara lantang, mengumpulkan kembali perhatian seluruh staf dan anak magang yang masih berdiri mengerumuni tenda Rosella. Suasana seketika hening. Sarah buru-buru meninggalkan Thomas dan berdiri di barisan depan, berharap Pak Jason akan tetap menjatuhkan hukuman pada Rosella atas keberadaan pria misterius tersebut. "Saya ingin meluruskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi agar tidak menjadi gosip miring di perkebunan kita," ujar Pak Jason, berdehem sejenak untuk menutupi kegugupannya. "Pria di sebelah saya ini adalah perwakilan tim pengawas eksternal dari komite botani pusat yang sengaja dikirim untuk mendampingi riset kali
"T-Tuan Adrian..."Pak Jason langsung membungkuk sedalam-dalamnya, nafasnya tersengal karena ketakutan luar biasa. "Maafkan kelalaian saya, Tuan! Saya benar-benar tidak tahu kalau Anda yang berada di dalam sana... tapi, bagaimana bisa Anda... dan anak magang bernama Rosella itu..."Adrian berjalan menuju meja lipat, bersandar di sana dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajah tampannya terlihat sangat datar tanpa ekspresi. Karena situasi sudah tertangkap basah seperti ini, mau tidak mau Adrian harus mengatakan kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan demi kelancaran magang Rosella."Rosella adalah calon Nyonya Muda Toretto," ujar Adrian, suaranya terdengar sangat tenang namun berbobot mutlak. "Dia adalah wanita yang memegang hati ketiga Toretto. Dan dia juga adalah Putri kandung dari keluarga Anderson di Liverpool."Deg.Pak Jason merasa dunianya runtuh seketika. Informasi itu menghantamnya seperti gada besi. Otak tuanya langsung berputar cepat, mengingat kembali kejadian
Kabut tebal masih menyelimuti perkemahan di kaki gunung saat jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Sesuai dengan skenario busuk yang telah ia rancang, Sarah sengaja bangun paling awal. Ia bahkan tidak sabar menunggu Thomas melapor, karena dalam benaknya, Rosella saat ini pasti sedang terlelap tanpa daya di samping Thomas akibat efek obat tidur yang ia berikan semalam.Dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru, Sarah menuju ke area tenda anak magang. "Astaga! Tolong! Ada apa ini?!"Sarah berteriak histeris, memecah keheningan pagi di pegunungan yang sunyi. Ia sengaja mondar-mandir di depan tenda Rosella sembari memegangi kedua pipinya, berpura-pura syok luar biasa. "Pak Jason! Semuanya, tolong keluar! Ada kejadian memalukan di tenda anak magang!"Teriakan melengking Sarah berhasil memicu kegaduhan instan. Satu per satu resleting tenda terbuka. Pak Jason selaku Direktur Perkebunan yang bertanggung jawab atas rombongan ini keluar dengan wajah mengantuk dan panik, diikut
“Batu…Gunting…Kertas!"Tiga tangan tersorot di bawah lampu ruang kerja yang temaram. Leon mengeluarkan batu, Lucas mengeluarkan gunting, dan Adrian mengeluarkan kertas.Lucas langsung mengerang frustasi sembari menjatuhkan dirinya ke sofa, sementara Leon hanya bisa menghembuskan napas pendek dan menurunkan tangannya dengan berat hati. Adrian, sang Tuan Muda Kedua, mengulas senyum kemenangan yang sangat tipis namun penuh kemenangan."Kertas membungkus batu, dan batu menghancurkan gunting. Aku yang menang," ujar Adrian tenang sembari membetulkan letak kacamatanya. "Pekerjaanku di kampus bisa didelegasikan kepada asisten dosen untuk tiga hari kedepan. Kalian berdua, tetaplah di London dan pantau dari jauh."Meskipun kesal setengah mati, Leon dan Lucas terpaksa mematuhi kesepakatan jantan itu. Malam itu juga, Adrian mulai menyusun rencana penyamaran yang sangat rapi sebagai pengawas eksternal dari komite botani universitas yang mendampingi program magang.Malam di Pegunungan dan Renc
Setelah menolak Sarah dengan kata "Tidak!" yang sedingin es, Adrian melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang panjang membawanya menuju mobil sedan mewah miliknya yang sudah terparkir di area depan. Pria itu membuka pintu mobil, bersiap untuk masuk dengan sisa kejengkelan di wajahnya karena terpaksa harus melepas Rosella pergi ke gunung lusa nanti."Tuan Adrian! Tunggu!"Sebuah suara cempreng yang sangat ia kenal membuat gerakan Adrian terhenti. Ia berbalik dan mendapati Rosella sedang berlari kecil ke arahnya sembari nafasnya sedikit terengah-engah. Di kedua tangannya, Rosella membawa sebuah mantel tebal milik Adrian yang tadi sempat diletakkan pria itu di kursi. "Ini... mantel Anda tertinggal, Tuan," ucap Rosella sembari menyerahkan mantel itu dengan senyuman manis. "Udara di luar sedang berangin, jangan sampai Anda yang masuk angin setelah memarahi Pak Direktur tadi."Adrian menatap mantel itu, lalu beralih menatap wajah Rosella. Detik itu juga, rona dingin di
Pagi itu, area kantin Toretto Agro-Corp riuh rendah oleh bisik-bisik yang tertuju langsung ke meja sudut tempat Rosella duduk. Teman sesama anak magangnya, Maya, langsung menggeser kursi mendekat dengan mata berbinar penasaran."Rosella, kamu hebat banget, sih! Kemarin ketiga Tuan Muda Toretto datang sendiri ke sini cuma buat merhatiin kamu, bahkan sampai meriksa dahi kamu segala," bisik Maya heboh. "Satu perkebunan dan kantor langsung gempar, tahu!"Rosella meremas pelan cangkir tehnya, mencoba bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena panik. Rencana penyamarannya hampir saja hancur berantakan di hari pertama."Ah, itu... kamu salah paham, Maya. Tuan Muda Lucas kan memang dokter utama di rumah sakit pusat, dia cuma kebetulan ikut peninjauan kualitas dan memastikan program kesehatan buruh berjalan dengan benar. Dia kebetulan lewat di dekatku saja," elak Rosella sebisa mungkin. Ia benar-benar tidak ingin usahanya untuk belajar dari nol sia-sia hanya karena u
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n







