LOGINAdrian bak bayi yang kehausan dia terus menghisap dada Rosella dengan kuat. Rosella yang tak tahan terus mendesahTak peduli lagi kalo ada yang mendengar. Puas dengan dada Adrian menunggingkan Rosella di meja dan membuka resleting celananya. AaahhhhhhSuaranya menggema, saat miliknya masuk ke dalam sarang hangat Rosella. pasang mata yang melihat. Beberapa waktu kemudian Rosella duduk di kursi seberang meja Adrian, merapikan bajunya, rambutnya diikat ulang dengan cepat.Adrian sudah kembali ke ekspresi dosennya, sangat tenang, sangat biasa, seperti tidak ada yang terjadi dalam satu jam terakhir."Saya ke toilet dulu Tuan, mau bersih-bersih." Rosella berdiri, menaikkan tasnya di bahu."Aku juga." Adrian berdiri, mengambil jaketnya.Rosella menatapnya. "Kita tidak bisa keluar bersamaan.""Kamu dulu." Adrian mengangguk ke arah pintu.Rosella membuka pintu, mengintip, lalu keluar ke koridor dengan langkah yang sangat biasa.Toilet wanita ada di ujung lorong kiri. Rosella masuk, membe
Pagi itu kursi Leon dan Lucas sudah kosong sebelum Rosella selesai menghabiskan sarapannya. Leon berangkat lebih awal karena ada meeting, Lucas menyusul tidak lama setelah itu karena shift pagi di rumah sakit dimulai jam tujuh.Tinggal Rosella dan Adrian di meja makan.Rosella merapikan piring-piring yang sudah kosong, hendak membawanya ke dapur, ketika Adrian bersuara dari kepalanya meja."Berangkat bersamaku."Rosella menoleh. "Baik, Tuan."Di dalam mobil, suasananya lebih sunyi dari biasanya.Sopir mengemudi dengan tenang, Adrian di kursi belakang dengan ponsel di tangan, Rosella di sisinya dengan tas di pangkuan.Beberapa menit berlalu sebelum Rosella bersuara."Tuan Adrian, soal semalam." Dia memulai dengan suara pelan. "Saya ingin menjelaskan, saya tidak bermaksud mengabaikan Tuan, saya lupa dan janji dengan Tuan Lucas.” Dia menoleh takut, Rosella tahu dia yang salah. "Aku mengerti." Adrian memotong, tidak mengangkat matanya dari ponselnya.Rosella menatapnya. "Tuan tidak mara
Malam itu setelah semua pekerjaan rumah selesai dan ketiga Tuan Muda sudah ke kamar masing-masing, Rosella naik ke lantai atas.Dia berjalan di koridor dengan langkah yang pelan, memikirkan janji yang tadi diucapkannya di dalam mobil.Kamar Lucas malam ini. Rosella melangkah melewati kamar Adrian. Ceklek, pintu kamar Adrian terbuka.Adrian berdiri di ambang pintu dengan baju tidur yang sudah terpasang dan buku di tangannya. Matanya langsung menemukan Rosella yang berhenti di depan pintunya."Kamu mau kemana?" Tanyanya."Ke kamar Tuan Lucas." Jawab Rosella jujur.Adrian menatapnya kesal, Matanya turun ke buku di tangannya sebentar lalu kembali ke Rosella."Tadi di kampus aku bilang nanti." Suaranya keluar datar.“Aku pikir nanti itu malam ini kamu mempersiapkan diri untuk aku."Rosella meremas tangannya di depan tubuhnya, tidak tahu harus menjawab apa."Tuan Adrian, maaf. Tadi saya juga sudah janji ke Tuan Lucas.” Cicitnya pelan Adrian menghela nafas, merasa Rosella tidak adil. "
Di kelas, mahasiswa masih ramai membicarakan kunjungan tadi. "Angel berhasil foto bareng mereka bertiga." Suara dari baris belakang."Keren sekali dia.""Iri banget, enak jadi anak Rektor.""Katanya Angel yang mengantarkan mereka ke kebun langsung.""Serius? Langsung diajak sama Toretto bersaudara?"Rosella duduk di sebelah Ane dengan buku terbuka di depannya, membaca paragraf yang sama untuk ketiga kalinya karena suara-suara di belakang terus masuk ke telinganya meski tidak ingin didengarkan.Dia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum geli. Ane yang melihatnya tersenyum kecil. "Kamu kenapa geleng-geleng?""Tidak apa-apa." Rosella kembali ke bukunya.Drrtt… Ponsel Rosella bergetar, satu pesan diterima. [Aku masih di depan kampus, keluar sebentar.]Mata Rosella membulat ketika membaca pesan itu. Dia melihat ke depan kelas, dosen belum masuk, masih sekitar tujuh menit sebelum kelas dimulai."Ane." Rosella menyiku temannya. "Tolong simpankan tas aku kalau dosen masuk, bilang aku ke
Rektor menoleh ke Rosella dengan senyum yang ramah."Tuan Muda Toretto yang ingin berbicara denganmu, Rosella."Rosella menatap Rektor sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke ketiga pria yang berdiri di dekat petaknya."Ada apa, Tuan?" Suaranya keluar dengan nada yang sangat netral, nada seorang mahasiswa yang berbicara dengan tamu penting kampusnya.Leon, Lucas, dan Adrian saling pandang sebentar.Ada sesuatu yang berbeda dari pertemuan ini.Rosella di depan mereka bukan Rosella yang setiap pagi menyiapkan sarapan di meja makan, bukan Rosella yang mendesah setiap kali disentuh, bukan Rosella yang tertawa kecil di samping mereka atau yang tidur dengan kepala di dada Tuan Muda. Perempuan yang berdiri di depan mereka sekarang adalah mahasiswa, dengan tas di pundak dan buku di tangan. Adrian yang pertama bersuara."Tanaman kelompokmu sangat subur." Katanya, menatap petak di belakang Rosella."Iya Tuan, kami merawat mereka sepenuh hati." Rosella menjawab, ada senyum kecil yang muncul
Pertemuan dengan Rektor berlangsung di ruang rapat lantai dua gedung utama.Leon dan Lucas duduk di sisi kanan meja panjang, Adrian di sebelah Leon, Rama di belakang dengan laptopnya. Rektor dan beberapa dekan di sisi kiri, membahas konsep acara anniversary yang tinggal tiga minggu lagi.Angel ada di sana karena ayahnya Rektor, duduk di kursi paling ujung dengan ponsel di tangan yang sesekali diangkat diam-diam memotret ketiga Tuan Muda dari sudut yang dia pikir tidak ketahuan.Foto Leon yang berbicara dengan serius.Foto Lucas yang mendengarkan dengan satu tangan di dagu.Foto Adrian yang menulis sesuatu di catatannya.Semua langsung dikirim ke grup mahasiswa dengan caption yang tidak perlu ditambahkan apapun karena fotonya sudah berbicara sendiri.Grup langsung meledak.[Angel beruntung banget astaga… ][Yang tengah itu siapa? Tampannya tidak manusiawi][Itu Leon Toretto, CEO Toretto Group.Bisa minta foto bareng tidak ya?][Kamu harus minta Angel]Angel membaca semua komentar itu d
Di kamar utama yang sangat luas dengan jendela besar menghadap lembah, Adrian menutup pintu dengan kaki sambil terus menatap Rosella yang berdiri dengan gugup."Relaks, tidak perlu tegang seperti itu,” bisik Adrian sambil melangkah mendekat.Rosella menelan ludah, jantungnya berdebar sangat kencang
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella mematikan keran, mengeringkan tangannya di kain lap yang tergantung di sisinya, lalu mengambil nampan kosong dan berpura-pura sibuk menyusun peralatan dapur yang sebenarnya sudah rapi dari tadi.Baru kali pertama merasakan hal indah seperti ini kini dia harus patah hati. Rosella terdiam sa
"Tidak." Jawab Rosella terlalu cepat.Leon tidak bergeming. Tangannya masih melingkar di pinggang Rosella, menahan wanita itu tetap di tempatnya, di atas pangkuannya."Tidak?" Ulangnya pelan."Tidak, Tuan." Rosella membuang pandangan ke arah jendela.Leon menatap sisi wajah Rosella yang menghindari







