Se connecter"Kamu bisa mendesah yang suaramu bisa langsung hilang disapu angin, Sayang," bisik Adrian seksi sebelum menurunkan tubuh mereka berdua ke dalam air.Sore itu, Adrian benar-benar berubah menjadi singa yang gila dan tak terkendali. Di bawah langit London yang luas, mereka melakukan banyak gaya percintaan tanpa rasa takut sedikit pun. Mulai dari pergulatan panas di dalam air kolam yang hangat, berpindah ke tepi kolam dengan dekapan yang semakin erat, hingga beralih ke atas kursi berjemur di mana Adrian menuntut haknya dengan sangat ugal-ugalan. Rosella mencengkeram bahu tegap Adrian, mendesah sekeras-kerasnya menumpahkan segala rasa pekat yang membakar dadanya. Seperti ucapan Adrian tadi suara desahan Rosella langsung hilang menguap terbawa angin. Setelah badai gairah itu mereda, Adrian bersiap untuk mengajak Rosella pulang bersama. Namun, menyadari bahwa Adrian saat ini masih dalam masa boikot oleh Leon dan Lucas, Rosella mulai merasa khawatir.Di dalam mobil, Rosella menatap Adri
“Walah Walah habislah aku,” batin Rosella panik, merutuki mulutnya sendiri yang terlalu cepat luluh pada pesona sang dosen licik.Tanpa memperdulikan jam kuliah Rosella yang masih tersisa, Adrian benar-benar bergerak cepat. Dia menggandeng tangan Rosella dengan erat, membawa gadis itu menyusuri koridor sepi dan gedung dosen agar tidak memancing perhatian mahasiswa lain. “Tuan, kamu ngajakin aku bolos, kalau dicari bagaimana?” Tanya Rosella. “Nanti aku akan bilang, lagian jadi mahasiswa jangan terlalu patuh, sesekali bolos tak masalah.” Pria itu tersenyum licik. Adrian menepati janjinya. Sebelum menuju tujuan utama, dia membawa Rosella mampir ke sebuah kedai gelato terkenal untuk membelikan dua kerucut es krim stroberi besar, lalu mengajak gadis itu berjalan-jalan santai di sepanjang tepi sungai demi mengembalikan suasana hatinya.Setelah senyuman manis Rosella kembali merekah sepenuhnya, barulah Adrian melajukan mobilnya membelah jalanan London menuju sebuah gedung apartemen pen
‘Tidak! Aku tidak mau memberikan jatah kepada mereka, enak saja,’ batin Adrian dengan rahang mengeras.Jika di mansion Leon dan Lucas memegang kendali penuh untuk mengawasinya, maka besok di kampus akan menjadi cerita yang berbeda. Kampus adalah wilayah kekuasaannya, dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan kembali Rosella. Keesokan paginya di kampus, Adrian benar-benar terobsesi untuk mendapatkan maaf dari Rosella.Adrian sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di pilar koridor utama kampus, menunggu kedatangan Rosella sejak pagi-pagi sekali.Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul. Rosella melangkah memasuki koridor setelah diantar oleh Lucas tadi. Namun, begitu manik mata manis Rosella menangkap keberadaan Adrian yang berdiri menatapnya, wanita itu langsung memutar tubuhnya, berbalik arah untuk menghindar."Rose! Rosella, tunggu!" panggil Adrian panik. Pria itu langsung melebarkan langkahnya untuk mengejar.Namun, Rosella sama sekali tidak mau berhent
"Ya, dia sedang menikmati es krim di taman bersamaku setelah kamu membuatnya seperti orang bodoh menunggumu yang sudah pergi!" bentak Leon dengan suara baritonnya, membuat Adrian di seberang telepon seketika bungkam dan tercekat.Mendengar perdebatan itu, Rosella perlahan mendongak. Dia menatap Leon dengan mata yang masih menyiratkan luka, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arah sang CEO."Tuan Leon berikan ponselnya padaku. Biar aku yang bicara," pinta Rosella, suaranya terdengar tenang tapi itulah yang membuat Leon was was. Leon sempat ragu sejenak, dan dengan gerakan slow motion dia menyerahkan ponselnya kepada dalam Rosella.Rosella menempelkan ponsel ke telinganya, baru kata halo yang terucap Adrian sudah menyahut. "Rose! Sayang, maafkan aku, tadi benar-benar darurat. Ayah Daisy kecelakaan dan meninggal di tempat, kondisinya sangat histeris aku ingin menghubungimu tapi ponselku tertinggal di kampus, sungguh aku tidak bermaksud—""Sudah selesai bicaranya, Tuan Adrian?"
Rosella menggeleng, “Sudahlah Tuan jangan bicarakan Adrian itu!”Leon terdiam selama beberapa detik. Tatapan matanya yang tajam meneliti gurat kekecewaan yang mendalam di wajah Rosella. Melihat wanitanya begitu murung dan enggan membahas sang adik, Leon benar-benar kehilangan minat untuk melanjutkan pekerjaannya hari ini. Baginya, senyuman Rosella jauh lebih berharga daripada meeting tadi. Leon mengulurkan tangan tegapnya, menekan tombol interkom yang terhubung langsung ke meja Rama. "Rama, batalkan sisa rapat hari ini. Jadwalkan ulang besok pagi. Dan kosongkan seluruh jadwalku sampai malam," perintah Leon dengan nada bariton yang dingin.Dari seberang interkom, suara Rama terdengar sedikit terkejut namun tetap profesional. "Baik, Tuan. Saya akan kembali ke ruang rapat."Rosella mendongak, matanya yang sedikit sembab menatap Leon dengan pandangan tidak enak. "Tuan Leon kenapa dibatalkan? Bukanlah Kata Tuan Rama itu rapat penting?"Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia jus
“Tega kamu Adrian!” bisik Rosella lirih, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.Enggan pulang ke mansion sendirian dengan perasaan hancur dan digantung seperti ini, Rosella mengambil keputusan cepat. Dia menyeka sudut matanya, lalu berjalan keluar dari area parkir Dosen untuk memesan taksi.Tujuannya siang ini hanya satu, gedung pencakar langit Toretto Group di pusat kota London.Sementara itu, di lantai teratas gedung Toretto Group, suasana di dalam ruang rapat utama tampak sangat formal dan tegang. Leon Toretto, sang CEO tertinggi, sedang duduk di ujung meja memimpin rapat krusial bersama para pemegang saham asing. Rapat besar itu sebenarnya sudah berjalan hampir tiga jam dan sudah memasuki tahap finalisasi kesepakatan hanya tinggal tiga puluh menit lagi sebelum resmi ditutup.Tok, tok.Pintu ruang rapat sedikit terbuka. Rama, asisten kepercayaan Leon, melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Dia berjalan mendekati kursi Leon dan membungkuk untuk membisikkan ses
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.







