MasukLeon berdiri di ambang ruang tamu, menatap Rosella yang diapit Lucas di kiri dan Adrian di kanan.Sesuatu bergemuruh, jelas itu rasa cemburu.Memang diantara mereka bertiga Leon lah yang memiliki rasa cemburu paling besar.Dia berjalan masuk, langkahnya teratur, dan tangannya menarik Rosella dari antara kedua adiknya dengan satu gerakan yang sangat pas. Lucas dan Adrian menoleh ke Leon bersamaan."Kalian." Leon menatap keduanya di atas kepala Rosella. "Bersiaplah. Kita ke villa.""Sekarang?" Adrian menoleh ke jam di dinding."Sekarang." Leon mengulang. "Kita jenguk mertua kita."Ruangan itu hening beberapa detik, lalu Lucas tertawa, bukan tawa kecil, tawa yang keluar penuh dari seseorang yang tidak menyangka kata itu akan keluar dari mulut kakaknya dengan nada seprofesional laporan bisnis. Adrian menggeleng sambil bangkit. "Ya ya, kita akan bersiap."Lucas menyusul berdiri, masih tersenyum. "Aku ambil jaket dulu."Rosella yang ada di samping Leon menatap ketiganya bergantian, matany
Hari ini Rosella ikut Lucas ke rumah sakit, bukan menemani kerja melainkan untuk mengambil obat saja. “Ayo sayang kita pulang.” Bisik Lucas setelah mendapatkan obat untuk sang ibu. “Ayo sayang.” Sahut Rosella sambil tertawa. Mata Lucas menatap Rosella, tak percaya kalau Rosella juga memanggilnya sayang. “Ulangi lagi kamu memanggil aku apa?” pinta Lucas. “Nggak ada siaran ulang,” Sahut Rosella lalu keluar lebih dulu. Rosella berlari melewati lorong, dan Lucas sedikit berlari mengejar Rosella. “Sayang tunggu.” Katanya. “Nggak mau.” Mereka berpapasan dengan Dokter cantik waktu itu, melihat Rosella dan Lucas tertawa tangannya mengepal. “Dok.” Sapanya. Tapi Lucas tak menggubris, dia melewati dokter itu begitu saja, karena bagi Lucas Rosella lah yang terpenting. Di lift Lucas mengunci tubuh Rosella, “Ulang lagi kamu memanggil aku apa.” Pintanya. “Sayang.” Jawab Rosella. Lucas tersenyum, hatinya berbunga mendengar panggilan sayang dari Rosella. “Terima kasih.” Keluar lift mer
Pagi itu Leon tiba di kampus, begitu turun dari mobil semua mata mahasiswa tertuju padanya. Rama berjalan dua langkah di belakang nya, dengan wajah serius. Setibanya di ruang Rektor, Leon dan Rama langsung dipersilahkan masuk karena memang kehadiran mereka sudah ditunggu. “Selamat pagi Tuan Leon, Pak Rama.” Sapa Rektor sambil tersenyum. Rektor lalu duduk di seberang Leon dan Rama. “Maaf Tuan Leon untuk permasalahan kemarin apa harus dibahas seperti ini?” Tanya Rektor yang heran. Pasalnya dari video yang beredar, Adrian dan Robin sampai segitunya membela Rosella padahal Rosella hanyalah mahasiswa biasa. Apa hebatnya?"Angel mengancam mencabut beasiswa salah satu mahasiswa." Leon berbicara dengan nada yang sangat santai dan sangat profesional. "Tak hanya itu dia juga mendorongnya, untung ada dosen yang kebetulan lewat kalau tidak mahasiswa itu bisa jatuh." Leon menatap Rektor. Rektor tampak bingung, hanya perkara Rosella kenapa sampai Leon turun tangan? Wajar saja kalau ada pert
Angel membuka mulutnya tapi tidak ada suara yang keluar.Koridor itu masih diam. Ponsel-ponsel masih terangkat. Mahasiswa masih berdiri di tempat masing-masing seperti patung yang tidak tahu apakah boleh bernafas.Adrian melangkah satu langkah maju ke arah Angel.Hanya satu langkah tapi cukup untuk membuat gadis itu mundur setengah langkah tanpa sadar."Aku tanya sekali lagi." Suara Adrian tidak naik. Justru turun, lebih rendah dari sebelumnya, dan itu jauh lebih berbahaya. "Kenapa kamu mendorong dia." Sambil menunjuk Rosella. Angel menoleh ke teman-temannya.Tidak ada bantuan di sana. Keduanya sudah mundur dua langkah, ekspresi mereka sudah berubah dari mendukung menjadi menyelamatkan diri masing-masing."Aku hanya..." Angel memulai."Hanya apa." Adrian memotong."Dia yang mulai, dia mengganggu…""Mengganggu apa." Robin yang berbicara kali ini, dari sisi kiri Rosella, suaranya tenang tapi matanya tidak. "Jelaskan dengan spesifik apa yang dia lakukan sampai kamu merasa punya hak mend
Jam istirahat kampus adalah simponi kebisingan yang kacau. Namun, bagi Rosella, keramaian itu hanyalah latar belakang yang kabur.Dia berjalan menyusuri koridor luar, jemarinya sesekali menyentuh layar ponsel, pikirannya masih tertambat pada pesan singkat dari Robin tadi pagi."Rosella."Langkahnya terhenti. Suara itu tidak keras, tapi sarat dengan intensitas yang disengaja.Angel berdiri di tengah koridor, diapit dua temannya seperti benteng yang sudah dipersiapkan. Rosella memasukkan ponsel ke saku dengan tenang. "Ada apa?""Aku harus bicara," Angel melangkah maju, memangkas jarak hingga batas yang terasa mengintimidasi. "Bicaralah."Angel memindai Rosella dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebuah tatapan yang dirancang untuk merendahkan. "Aku tidak tahu kamu pakai cara apa," mulainya dengan nada rendah yang tajam. “Tapi berhentilah menggoda Pak Adrian dan Pak Robin, kamu tak pantas!” Ucapnya lantang. Rosella tetap bergeming. Keheningannya bukan karena takut, melainkan k
Rosella tidak langsung menjawab, dia menatap jalanan London yang bergerak di luar jendela, lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu di jam sore yang menjelang gelap."Apa kamu ingin meninggalkan kami?"Pertanyaan Adrian menggantung di udara mobil yang tiba-tiba terasa lebih sempit dari biasanya.Rosella menoleh ke Adrian, pria itu menatap balik dengan cara yang sangat jarang terlihat di wajahnya. "Tidak Tuan." Jawab Rosella akhirnya, sangat pelan.Adrian menatapnya dua detik lagi, lalu memalingkan wajah ke depan."Bagus." Katanya, satu kata, tapi nadanya menyimpan lebih banyak dari itu.Mobil melaju dalam diam sampai mansion.Malam itu di villa, William duduk di kursi yang sudah sangat dikenalnya.Ibunya Rosella berbaring dengan posisi yang lebih tegak dari kemarin, rambutnya disisir rapi oleh perawat, dan tangannya ada di atas selimut seperti biasa.Tapi malam ini ada yang berbeda.William meletakkan bunga di meja samping, duduk, dan sebelum dia sempat membuka percakapan, i
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.







