Share

7

Penulis: Elios
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 12:45:36

Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal.

Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran dengan dunia luar. Mereka bekerja secukupnya dan pulang semestinya. Berkumpul dengan keluarga.

“Pagi Tuan Kama.” sapa seorang pria setengah baya dengan sangat ramah.

Kama membalas senyuman itu dengan anggukan sementara matanya mengawasi karung besar berisi tebu yang di gendong pria itu. Mata tajam kama mengawasi sekeliling.

Semuanya berjalan dengan lancar, mungkin tiga jam lagi sampai di pukul sepuluh pagi sepertiga lahan tebu akan selesai di panen. Kama memutuskan untuk beranjak. Ia berjalan menuju jalan aspal. Jalur perkebunan ini dilewati oleh jalan utama menuju desa dan juga menuju kota, tepatnya menuju pelabuhan. Kama bisa menghitung jari, berapa banyak kendaraan yang lalu lalang. Tidak sampai sepuluh. Itupun mobil yang membawa banyak penumpang.

Warga harus membayar cukup mahal hanya untuk berangkat ke kota dan pulang lagi ke desa. Masyarakat tidak punya akses untuk kendaraan umum. Jadi mau tak mau, kendaraan seperti mobil pickup dan sejenisnya adalah transportasi mereka satu - satunya.

Sebelas. Ini adalah mobil ke sebelas yang melewati jalan. Sama seperti sebelumnya, mobil itu mengangkut banyak orang, mereka duduk dengan tenang mempercayakan nyawa mereka ke sopir tanpa sabuk pengaman yang terpakai.

Dua puluh meter jarak mobil itu dari Kama, sepuluh, lima... dan saat mobil itu melewati Kama. Ia melihat sosok yang tak asing, turut menjadi penumpang di atas mobil.

Kila. Ia berada di tengah kerumunan, terlihat berantakan karena rambutnya dikuncir dan terkena angin.

***

***

***

Hampir saja Kila datang terlambat untuk membuka toko, sudah sedari subuh ia di sibukan oleh Bibinya dan juga Karin. Semalam ia bilang akan datang lagi ke toko karena Tari tidak bisa bekerja. Tentu saja respon Bibi Aini dan Karin sama, yaitu keberatan. Kila sudah tau dengan sikap penolakan itu, maka dari itu sebelum Kila mengutarakan keinginannya, ia sudah memikirkan solusinya terlebih dahulu.

“Aku akan memasak untuk kalian, sedari subuh.” ucap Kila penuh keyakinan. Tentu saja, kesepakatan kecil seperti itu tidak langsung diterima dengan baik. Kila menghela nafas lebih dalam.

“Aku akan memasak tiga menu, untuk sarapan, makan siang dan juga malam kalau perlu. Tapi aku pastikan, sebelum petang, aku sudah kembali dan memasak makan malam.”

Dan solusi yang kedua disambut dengan senyum puas oleh Bibi Aini, serta anggukan setuju oleh Karin. Jadi? Apa boleh buat, sejak subuh Kila sudah memasak cukup banyak untuk memastikan orang rumah tidak kelaparan.

Krak.... gembok terbuka, Kila menggeser rolling door. Lalu, pintu toko pun di buka.

Hari ini Kila akan membuat beberapa kue, tentu saja tidak akan dibuat dalam jumlah bar - bar, tenaganya terbatas tanpa bantuan Tari. Terlebih tadi pagi ia sudah menguras tenaga terlebih dahulu, memasak untuk dua orang ‘rakus’. Kila sendiri belum sempat mengisi perutnya.

Hal pertama yang Kila lakukan adalah mengeluarkan semua alat dan bahan. Toko sudah ia bersihkan sorenya, jadi sekarang pun masih dalam kondisi bersih.

Kila mengeluarkan mixer, loyang, tepung - tepungan dan juga telur dan masih banyak lagi.

Baru saja ia hendak memulai, perutnya berbunyi.

“SIal, aku lapar... “ bibir Kila mengerucut. Tidak ada makanan, ia juga tak bisa membeli makanan karena uang yang ia bawa hanya cukup untuk membayar transport mobil untuk pulang.

Kila menunduk ke bawah, ia pun melihat roti yang hampir ‘kadaluwarsa’ yang baru kemarin ia singkirkan dari rak dan etalase.

Kila mengambil satu roti sobek rasa cokelat, tidak ia duga, roti yang kemarin hampir di ‘buang’ untuk pakan ternak, sekarang akan berakhir masuk ke dalam perutnya.

“Aku tidak pernah menyangka, kalau kastaku setara dengan ternak Pak Bakri.” gumam Kila dengan mulut penuh roti. Pak Bakri adalah peternah yang sering memesan roti yang hampir kadaluarwa untuk pakan ternaknya.

“Tapi tidak buruk,” ujar Kila mengomentari roti buatannya seminggu yang lalu dengan tari, “Rasanya masih enak,” Kila melanjutkan dengan gigitan besar.

“Pantas saja hewan ternak Pak Bakri besar besar dan gemuk, mereka sering makan enak rupanya... “ ujar Kila sembari tersenyum tipis menggoda dirinya sendiri dengan fakta ini.

Kila menghabiskan dua bungkus roti cokelat, rasa laparnya cukup diganjal dengan dua roti barusan. Kini Kila sudah siap untuk membuat beberapa kue, kue yang diminati oleh warga adalah kue yang lembut tanpa banyak isian, namun bervariasi.

Seperti roti sobek dengan berbagai varian rasa. Kila sering membuat rasa cokelat, cokelat kacang, pandan dan beberapa lainnya. Kila pernah mendapatkan resep roti yang tengah laku keras di kota - kota. Cromboloni namanya. Kila dan Tari sudah bersemangat membuat Cromboloni itu, selain adonannya berlapis lapis, yang memakan waktu lama untuk pembuatannya, Kila dan Tari juga butuh waktu lama dalam memanggang agar tiap lapisan Cromboloni matang dan renyah saat di gigit.

Dan saat hari pertama penjualan, wush... tidak ada yang mau membeli. Masyarakat tidak ada yang tertarik dengan roti yang memiliki guratan seperti ulat sagu katanya. Dan beberapa ibu yang membawa anak, mencibir kalau Cromboloni terlalu mahal, padahal effort KIla dan Tari tidak main - main di dapur.

Itu hanya omong kosong karena anak mereka menangis ingin membeli, tapi harga satu Cromboloni setara dengan dua loyang roti sobek. Sebagai ibu yang perhitungan, mereka menggunakan berbagai cara agar anaknya berhenti menangis meminta kue aneh berbentuk ulat sagu itu.

Kila dan Tari hanya bisa tersenyum kecut. Hari pertama peluncuran Cromboloni menjadi hari terakhir roti itu beredar di sana. Masyarakat tidak akan menemukannya lagi.

***

***

***

Kila mulai membuat adonan, ia membuat biang ragi. Menakar tepung, telur, gula dan masih banyak lagi. Tangan Kila benar - benar terlatih untuk menguleni adonan. Kila yang telaten, sabara menunggu adonan mengembang. Tanpa sadar waktu sudah berjalan lebih dari satu jam. Kila larut dengan kesibukan dan dunianya.

Meski toko kue ini memiliki desain yang cantik bagi Kila, Akong, begitu Kila memanggil kakek pemilik toko. Akong mendesain toko dengan nuansa laut. Pintu dan kaca jendela di buat besar hingga bisa menampung cahaya dengan maksimal. Di depan toko ada dua kursi dan satu meja rotan berwarna putih yang di beli Akong saat berlibur dengan anaknya ke pulau sebrang yang terkenal dengan kerajinan tangannya. Kursi dan meja itu untuk memfasilitasi mereka yang ingin langsung memakan roti yang baru matang.

Bangunan dua lantai ini di buat tinggi, agar sirkulasi udara tetap terjaga. Maklum, Akong sedikit perhitungan masalah biaya operasional toko. Ia tak mungkin memasang AC kan? Andai penjualan kue disini mencapai jutaan atau puluhan juta setiap harinya, mungkin Akong akan mempertimbangkan memasang AC. Tapi berkhayal saja sana, karena itu sangat... ehm, sulit terealisasi?

Ah, apa Kila sudah menjelaskan ini sebelumnya? Alih - alih di pasang bel elektroni. Akong lebih memilih menaruh lonceng di atas pintu, begitu seseorang keluar masuk mendorong pintu, lonceng itu akan berbunyi. Lagi - lagi Akong menggunakan lonceng dengan alasan biaya operasional. Tapi ini sangat berguna ketika Kila membelakangi etalase dan tidak sedang melihat ke arah luar, ia jadi tau ketika ada pelanggan. Minusnya, ketika banyak pelanggan toko akan berisik dnegan lonceng yang berbunyi terus.

Ada dreamcatcer yang dibuat dari cangkang kerang - kerang berwarna warni berukuran besar yang di gantung tepat di atap toko, ketika terkena angin cangkang itu akan berbenturan dan menghasilkan bunyi berisik, tapi tidak mengganggu. Justru menyenangkan, Kila selalu menunggu saat cangkang kerang itu berbenturan karena angin. Menurut Kila, itu bagian paling menyenangkan di toko ini.

Kila sudah memasukan adonan pertama yang akan di panggang, ia tinggal menunggu sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit lagi sampai matang. Kila bisa sedikit bersantai karena adonan yang lain sudah ia susun rapi di loyang dan ia tutup dengan kain bersih agar tidak kering begitu menunggu giliran untuk di panggang.

Suara lonceng berbunyi, tanda seseorang memasuki toko. Ah pelanggan pertama pagi ini, ujar Kila.

Kila hendak berbalik badan dan mengucapkan selamat pagi.

“Kila... “ panggilnya dengan sorot mata kalut.

Akan tetapi niat Kila terhenti begitu melihat siapa yang datang.

“Tari... kamu kenapa?” KIla buru - buru mendekati Tari yang basah karena keringat, wajah Tari yang tegang dan ketakutan tentu saja menambah kekhawatiran Kila.

“Ayo duduk... “ Kila menarik kursi dan menyuruh Tari untuk duduk, untungnya di tengah kekalutan ini Tari menurut saja. Ia duduk sembari mengambil nafas panjang.

Kila tak langsung memberikan pertanyaan, ia buru - buru mengambil minum untuk Tari.

Tari masih menarik nafas, ia masih berusaha utuk bernafas yang teratur setelah berlari cukup lama sampai nafasnya tersengal. Begitu tangan Kila mengulurkan segelas air, Tari langsung menerimanya. Ia meneguk air itu dengan rakus, tenggorokannya sudah sangat kering.

Kila berdiam diri di situ, tepat di depan Tari. Selang tiga atau empat menit, ia baru berani bertanya.

“Ada apa Tari?” tanya Kila dengan suara lembut.

Tari mendongakan wajahnya, ia menggenggam tangan Kila dengan erat.

“Maaf aku merepotkan kamu, adikku terkena demam berdarah.”

Mendengar penjelasan Tari, KIla turut bersimpati. Tari tak mampu menahan air matanya, seketika tangisnya pecah. Tak kuasa dengan keadaan yang begitu menyiksa.

“Aku pulang untuk mengambil pakaian dan menemui Ayah, biaya berobat cukup mahal... “ isak Tari dengan suara rintihan.

Kila mengusap pelan punggung Tari yang naik turun akibat tangisannya, luar biasa bukan? Kila bisa membayangkan bagaimana perasaan Tari sekarang.

“Aku tidak mengira kalau biaya rumah sakit akan sebesar ini,” tutur Tari dengan nada putus asa, “Ayah bahkan rela tidak pulang, terombang - ambing di lautan untuk mendapatkan uang tambahan. Tapi adiku, dia harus berada di bawah pengawasan dokter selama seminggu, semalam dia baru saja mendapatkan tranfusi darah.”

Beginilah nasib hidup di pulau terpencil yang bahkan tidak di lirik oleh pemerintah, entahlah... Kila tak tau kerja pemerintah di sana seperti apa, pejabat - pejabat yang Kila sendiri tak tau rupanya bagaimana. Akses transportasi sulit dan tidak layak, pendapatan masyarakat minim dengan hasil seadanya dan fasilitas kesehatan yang kurang. Bahkan tidak ada. Biasanya warga akan berobat ke mantri, namun sekali mereka terkena penyakit yang parah wush... beberapa ada yang meninggal. Beruntung bagi mereka yang nekat ke pulau sebrang untuk berobat ke rumah sakit. Tapi akhirnya? Mereka akan kesulitan biaya, ujungnya akan ada yang berhutang.

“Kami belum tentu bisa mengumpulkan uang untuk seluruh biaya pengobatan,” isak Tari.

Kila menghela nafas panjang, sangat di sayangkan di situasi seperti ini, tidak ada bantuan yang bisa ia ulurkan. Uang? Kila sendiri tidak punya banyak uang. Ia jarang memegang uang, kecuali uang belanja. Selebihnya, ia meminta pada Paman Zainal untuk membelikan kebutuhannya seperti pakaian, sandal dan lainya, itu pun jarang. Kila lebih banyak mendapatkan sumbangan pakaian dari Karin dan Kemala.

“Aku mungkin tidak bisa bekerja di toko selama beberapa hari, Kila... tidak ada yang bisa merawat adikku. Aku tidak mungkin bergantian menemani adiku di rumah sakit dengan ayahku... “

Tari mengusap air matanya, ia mengatupkan bibirnya rapat - rapat, sekali lagi ia meneteskan air mata, bisa di pastikan ia akan menangis sepanjang jalan.

“Kamu tau kan, orang tua di sini sangatlah kolot. Ayahku mungkin nelayan yang handal, tidak hilang arah di tengah samudra. Tapi aku yakin, ketika dia menjaga adiku sendirian di rumah sakit, ia akan langsung linglung dan lupa di mana ruangan perawatan adiku.”

Kila mengangguk paham, mungkin ini satu - satunya bantuan yang bisa ia tawarkan pada Tari, “Kamu bisa menemani adiku sampai ia sembuh, sebagai gantinya aku akan di toko. Bekerja menggantikan kamu sampai kamu bisa bekerja lagi.”

Kalimat yang di lontarkan Kila benar - benar seperti angin sejuk untk Tari, tanganya terulur menggenggam tangan Kila.

“Terimakasih, terimakasih banyak Kilaa... “

Kila mengangguk pelan, “Tidak perlu berterima kasih.”

***

***

Dan seperti yang Kila bicarakan dengan Tari, perempuan itu sudah sepakat untuk menggantikan Tari bekerja di toko. Kila tau, BIbi dan Karin akan keberatan sekali kalau ia tidak akan ada di rumah selama beberapa hari ke depan untuk memasak. Tapi apa boleh buat, semua butuh pengorbanan.

Seperti Tari dan ayahnya yang rela berkorban untuk kesembuhan adiknya tercinta.

Kila juga harus berkorban untuk sahabatnya itu.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha

  • Tawanan Tuan Kama   7

    Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran

  • Tawanan Tuan Kama   6

    Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status