LOGINRupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar.
“Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelumnya. Mereka mulai memasuki jalan yang membelah bukit, dengan pepohonan tinggi yang Kila lewati sebelumnya. Di atas kepala Kila, langit sudah menjelma lebih indah lagi. Dengan warna jingga yang brecampur biru. Tanda kalau sebentar lagi petang. Baru Kali ini Kila menikmati perjalannya, diterpa angin. Helai demi helai rambutnya berkelibat lembut. Kila menghirup nafas panjang, segar. Udara yang tidak pernah bosan ia syukuri. Udara yang akan tetap bersih karena tidak akan tercemar asap kendaraan ataupun pabrik. *** *** *** Raga rupanya hanya bermain - main dengan ucapannya. Buktinya, ia mengendarai motornya dengan pelan dan santai. Kila bisa menikmati perjalanan pulangya dengan santai. “Mau jalan jalan dulu?” tanya Raga memberikan tawaran. Dahi Kila berkerut, ia sedikit tertarik dengan tawaran Raga. Tapi dengan tegas Kila menolak dan menggelengkan kepala. “Aku punya banyak acara sepulang nanti,” jawab Kila, toh ia juga tidak tertarik untuk pergi ke tempat manapun dengan Raga, tentu tidak. Meski Raga terlihat seperti laki - laki baik, Kila pun begitu. Tapi mata dan mulut orang desa, bisa berkata lain. Jadi, dari pada terkena skandal yang tidak Kila inginkan, lebih baik Kila menghindar. “Kamu sendiri bukannya punya rencana selepas ini, kenapa malah menawari pergi - pergi.” cibir Kila, entah kenapa obrolan mereka tempo hari di mobil, saat Kila diantarnya untuk pulang setelah di ‘campakan’ oleh Kama. Membuat Kila jadi merasa bebas melontarkan cibiran barusan begitu saja. “Kamu hanya basa - basi kan dengan ajakan tadi, sebenarnya kamu ada rencana dengan perempuan di toko tadi... “ ujar Kila kembali mencibir. Raga menaik turunkan bahunya, “Aku tidak bisa di atur ataupun di perintah oleh siapapun kecuali bosku,” Raga menjawab dengan entengnya, seolah kue yang di bawa dan di pesan oleh perempuan tadi itu tidak ada kaitannya dengan Kama. “Kamu tidak sedang pura - pura kan?” tanya Kila dengan nada menginterogasi. “Pura - pura soal?” Raga menambahkan kecepatan, membuat Kila yang tidak siap jadi terkejut dan refleks mencengkeram baju Raga. “Perempuan tadi memesan kue ulang tahun dengan permintaan hiasan yang meriah, bertuliskan Kama. Nama Bosmu.” “Aku tidak lihat apa - apa.” Jawaban Raga membuat Kila kesal, tentu saja Raga tau, bahkan Kama sendiri yang mengabari kedatangan perempuan itu jauh - jauh hari dan akhirnya memerintahkan Raga untuk menjaga Kila hari ini. Bahkan Raga harus mengurangi kecepatan lajunya agar tidak bertemu wanita itu. Raga harus menjauhkan Kila dari jarak pandang wanita bernama Ratu itu, harus! Entah mengapa fakta kalau kue ulang tahun Kama dipesan oleh perempuan, membuat KIla kesal. Ia ingin sekali menyalurkan kekesalannya sekarang. Tapi itu akan membuatnya terkesan seperti hewan liar. Jadi Kila memilih untuk buang muka. Ia tak ingin melihat wajah Raga dari pantulan spion, itu sama saja mengingatkan Kila pada Kama. Kila memilih untuk melihat pemandangan sekitar. Mengalihkan panganganya pada pemandangan indah, bisa menenangkannya. *** *** *** Ratu keluar dari mobilnya, seseorang turun setelahnya. Ratu tersenyum tipis melihat Kama yang berada di belakangnya. “Aku tadi melihat Raga di toko kue, sepertinya dia menjemput kekasihnya.” Ratu membuka obrolan sembari melihat ke arah Kama, sepertinya laki - laki itu tidak tertarik dengan obrolanya. “Apa kamu tidak tertarik, seperti apa rupa kekasih Raga, sahabatmu itu?” tanya Ratu memancing rasa antusias Kama. Tapi Kama masih diam saja, rupanya umpan ini tidak berhasil. “Bisakah kamu berhenti mengurusi urusan pribadi orang lain?” suara Kama terdengar serak, dan penuh ancaman. Tapi itu tidak cukup untuk mengucilkan nyali seorang Ratu. “Tentu, aku tidak bisa berhenti. Karena aku sangat tertarik sekali.” Jawaban Ratu terdengar seperti ejekan, kalau iya takan bisa diajak kooperasi. Ratu mengangkat tanganya, jemarinya menari - nari di udara dengan gerakan seperti seorang penari. Tanganya mulus, begitu putih tanpa ada celah noda. “Pria seperti Raga, yang tidak tertarik dengan perempuan pun, bisa memiliki kekasih.” tangan Ratu mendarat di bahu Kama. Ekspresi Kama terskesan biasa saja, tapi Ratu tidak menyukainya. Bagaimana mungkin seorang laki - laki normal tidak memberikan respon sedikitpun saat seorang wanita cantik menyentuhnya? Aneh bukan, harga diri Ratu seperti dilukai. “Jadi, bagaimana dengan seorang pria bernama Raharja Kamandaka ini? Hmmm?” Kama menepis tangan Ratu, ia tak ingin tangan itu berlama lama bergelantung di lengannya. Respon Kama tentu saja sangat tidak disukai oleh Ratu. Wanita itu langsung memasang wajah masam. “Tentu saja aku menyukai perempuan,” jelas Kama dengan suara tertahan. Ratu tersenyum mengejek, perempuan seperti apa yang bisa menarik perhatian seorang Kama? “Oh iya??” Ratu seolah mengejek Kama. Tapi Kama bukan orang yang mudah terpancing emosi. Dan Ratu juga bukan orang mudah di tebak. Tanpa Kama duga, Ratu berjalan mendekat menghampiri Kama. Penolakan tadi tidak akan mematahkan semangatnya untuk menggoda laki - laki ini. Tanpa Kama duga, Ratu beraksi diluar dugaan. Ia memeluk Kama dengan sangat erat dan sengaja menekan bagian dadanya agar bersentuhan dengan Kama. Hishh. Menggelikan. “Lepas.” perintah Kama dengan suara dingin. “Tidak mau,” tentang Ratu, ia malah makin lengket. Dan adegan itu disaksikan oleh Kila. Kila yang membonceng Raga, melihat dengan jelas Ratu yang memeluk Kama dengan sangat erat. “Sial!” Maki Kama, ia dengan gesit mendorong tubuh Ratu agar menjauh darinya. Akhirnya KIla sampai juga, memakan waktu cukup lama baginya, duduk di motor. Meski begitu, pinggangnya tidak bisa di ajak bekerja sama. Baru Kila ketahui meskipun menggunakan motor membuat waktu perjalanan lebih singkat. Tapi pinggangnya tidak berkata demikian. Kila tidak bisa rebahan seperti perjalanan di mobil. “Terima kasih.” Kila berterima kasih sembari mengulurkan helm milik Raga. Raga menerima uluran helm miliknya itu, “Sama - sama.” Raga langsung naik kembali ke motornya, pergi begitu saja. Mesin di nyalakan, suara knalpot terdengar. Tak lama, Raga melesat pergi. Hari sudah malam. Ini sudah sewajarnya karena Kila menempuh perjalanan selama dua jam penuh. Kila meregangkan tubuhnya, terasa nikmat sekali ketika ototnya direlaksasi seperti sekarang ini. “Kila, apa - apaan kamu baru pulang selarut ini!” Kila langsung menengok ke arah sumber suara, perempuan yang tengah memarahinya itu kini berlari dengan penuh semangat menghampiri Kila. Siapa lagi kalau bukan Bibinya? Bibi Zainal. “Aduh... “ Bibi Zainal berhenti tepat di depan Kila, menyisakan tiga langkah sebagai jarak diantara mereka. “Kenapa sih kamu suka sekali membuat orang rumah kesal? Hah? “ Kila tersenyum polos, memangnya? Ia salah apa? Tapi bertanya kesalahannya, hanya akan membuat BIbi Zainal makin murka. “Karin sudah kelaparang setengah mati, gara- gara kamu pulang selarut ini.” Kila menyeringai masam, ah tentu saja. “Sebentar Bi, aku segera masak untuk makan malam.” Jadilah, Kila berlari terbirit - birit memasuki rumah. Perempuan ketika lapar akan menjadi singa. Bayangkan saja, Bibi Zainal dan sepuou - sepupu Kila pun sudah biasa menjadi singa, apalagi saat mereka lapar. Ish, ngeri. Kila tak sanggup membayangkannya. *** *** Dan benar saja, saat Kila masuk ke dapur, Karin sudah memberikannya tatapan ultimatum. “Dua puluh menit, aku janji makanannya akan siap dalam dua puluh menit.” Kila spontan mengatakan itu pada Karin, apa boleh buat? Ia harus menyelamatkan hidupnya. Kalau tidak, Karin akan menerkamnya. Karin tidak mau banyak bicara, ia menarik kursi dan duduk di depan meja makan. Matanya tajam mengawasi tiap gerak - gerik Kila. Lambat sedikit saja, aku akan melemparkan pisau. Ujar Karin di dalam hati. Kila buru - buru mengambil telur dan beberapa kondimen lain dari dalam kulkas. Tanganya dengan lincah mengupas bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Kila tidak punya cukup waktu, dua puluh menit itu waktu yang singkat, tapi itu tidak akan menghasilkan apa - apa. Kila putuskan untuk membuat nasi goreng untuk mengganjal perut sembari memasak makanan lain. Karin lemas, tentu saja ia tak punya energi. Di rumah ini yang bisa memasak hanya Kila. Ibunya bisa memasak, skill memasaknya hanya sampai membuat bahan - bahan yang semula mentah menjadi masak. Karena semua makanan yang di masak Bibi Zainal selalu mendapatkan protes dari anak - anaknya. Tidak enak. Dan bersyukurlah, Bibi Zainal juga menyadari ketidak mampuanya dalam memasak itu. Dan hadirlah Kila, dengan tanganya yang telaten. Menyelamatkan seisi rumah dari kelaparan. Kila sibuk menumis bawang sampai layu dan mengeluarkan aroma wangi. Tidak lupa, Kila juga sudah menyiapkan nasi sisa tadi pagi, telur dan jamur kancing yang di dapatkannya dari warga tempo hari. Kila memecahkan telur dengan satu tangan, terlihat sangat ahli karena sering melakukannya. Setelah telur masuk ke wajan, tanpa basa - basi, Kila mengorak arik telur dan menumisnya hingga matang, setelah itu Kila tinggal memasukan jamur. Tak selang beberapa lama, nasi sudah di masukan. Kila menambahkan kecap asin, kecap manis dan juga garam. Dengan taburan daun bawang sebagai pelengkap. Dan dua puluh menit rupanya waktu yang cukup untuk Kila menghidangkan nasi goreng. Ia berbalik badan hendak mengantarkan nasi goreng buatanya ke meja makan. Dan sudah ada Bibi Zainal, serta Karin dengan tatapan lapar. Akhir ... Pasti itu arti dari tatapan mereka berdua. “Aku akan masak ayam dan juga sayur, silahkan makan ini dulu.” Kila meletakan piring nasi goreng, tanpa babibu, Karin langsung melahap nasi goreng itu dengan suapan besar tanpa peduli lidahnya akan melepuh kalau makan dengan cara seperti itu.*** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor
*** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu
*** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga
Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala
Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg
"Aku antarkan kamu pulang, berpura - puralah tidak terjadi apa - apa." Kama memberitahu. Kila mengangguk, dan mereka menuju rumah Paman Zainal. Kila sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Kama. Ini harus dilakukan. Dengan pelan Kila mundur perlahan. Kama bisa merasakan pergerakan Kila. "Kalau kamu bergerak sekali lagi, kamu akan mati." Kila menelan ludahnya, gugup. "Kita bisa mati kalau kamu terus mencoba menjauh. Aku bisa kehilangan keseimbangan dan kita terjatuh." Jelas Kama. Yah... Benar juga. Masuk akal memang, tapi ada rasa enggan dan takut saat berdekatan dengan Kama. Meski begitu, Kila harus menepis perasaanya sekarang ini. Ini bukan waktunya. Sepanjang jalan, terlihat asri dengan peponohan yang menjulang serta sinar matahari yang mulai menerobos dedaunan, kilau - kilau keemasan itu menakjubkan untuk dilihat. Tapi jalanan ini akan mengerikan ketika dilintasi di malam hari. *** Suara deru motor Kama terdengar hingga ruang tamu di kediaman Paman Zainal. Bibi Aini yang
“Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet d
Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Ka
"Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya re
Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan peker







