Share

6

Penulis: Elios
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 12:30:23

Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar.

“Ini, pakai helm dulu.”

Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini.

“Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila.

“Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan?

Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin.

Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya.

“Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu.

Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelumnya. Mereka mulai memasuki jalan yang membelah bukit, dengan pepohonan tinggi yang Kila lewati sebelumnya.

Di atas kepala Kila, langit sudah menjelma lebih indah lagi. Dengan warna jingga yang brecampur biru. Tanda kalau sebentar lagi petang. Baru Kali ini Kila menikmati perjalannya, diterpa angin. Helai demi helai rambutnya berkelibat lembut. Kila menghirup nafas panjang, segar. Udara yang tidak pernah bosan ia syukuri. Udara yang akan tetap bersih karena tidak akan tercemar asap kendaraan ataupun pabrik.

***

***

***

Raga rupanya hanya bermain - main dengan ucapannya. Buktinya, ia mengendarai motornya dengan pelan dan santai. Kila bisa menikmati perjalanan pulangya dengan santai.

“Mau jalan jalan dulu?” tanya Raga memberikan tawaran.

Dahi Kila berkerut, ia sedikit tertarik dengan tawaran Raga. Tapi dengan tegas Kila menolak dan menggelengkan kepala.

“Aku punya banyak acara sepulang nanti,” jawab Kila, toh ia juga tidak tertarik untuk pergi ke tempat manapun dengan Raga, tentu tidak. Meski Raga terlihat seperti laki - laki baik, Kila pun begitu. Tapi mata dan mulut orang desa, bisa berkata lain. Jadi, dari pada terkena skandal yang tidak Kila inginkan, lebih baik Kila menghindar.

“Kamu sendiri bukannya punya rencana selepas ini, kenapa malah menawari pergi - pergi.” cibir Kila, entah kenapa obrolan mereka tempo hari di mobil, saat Kila diantarnya untuk pulang setelah di ‘campakan’ oleh Kama. Membuat Kila jadi merasa bebas melontarkan cibiran barusan begitu saja.

“Kamu hanya basa - basi kan dengan ajakan tadi, sebenarnya kamu ada rencana dengan perempuan di toko tadi... “ ujar Kila kembali mencibir.

Raga menaik turunkan bahunya, “Aku tidak bisa di atur ataupun di perintah oleh siapapun kecuali bosku,” Raga menjawab dengan entengnya, seolah kue yang di bawa dan di pesan oleh perempuan tadi itu tidak ada kaitannya dengan Kama.

“Kamu tidak sedang pura - pura kan?” tanya Kila dengan nada menginterogasi.

“Pura - pura soal?” Raga menambahkan kecepatan, membuat Kila yang tidak siap jadi terkejut dan refleks mencengkeram baju Raga.

“Perempuan tadi memesan kue ulang tahun dengan permintaan hiasan yang meriah, bertuliskan Kama. Nama Bosmu.”

“Aku tidak lihat apa - apa.”

Jawaban Raga membuat Kila kesal, tentu saja Raga tau, bahkan Kama sendiri yang mengabari kedatangan perempuan itu jauh - jauh hari dan akhirnya memerintahkan Raga untuk menjaga Kila hari ini. Bahkan Raga harus mengurangi kecepatan lajunya agar tidak bertemu wanita itu. Raga harus menjauhkan Kila dari jarak pandang wanita bernama Ratu itu, harus!

Entah mengapa fakta kalau kue ulang tahun Kama dipesan oleh perempuan, membuat KIla kesal. Ia ingin sekali menyalurkan kekesalannya sekarang. Tapi itu akan membuatnya terkesan seperti hewan liar. Jadi Kila memilih untuk buang muka. Ia tak ingin melihat wajah Raga dari pantulan spion, itu sama saja mengingatkan Kila pada Kama. Kila memilih untuk melihat pemandangan sekitar. Mengalihkan panganganya pada pemandangan indah, bisa menenangkannya.

***

***

***

Ratu keluar dari mobilnya, seseorang turun setelahnya. Ratu tersenyum tipis melihat Kama yang berada di belakangnya.

“Aku tadi melihat Raga di toko kue, sepertinya dia menjemput kekasihnya.” Ratu membuka obrolan sembari melihat ke arah Kama, sepertinya laki - laki itu tidak tertarik dengan obrolanya.

“Apa kamu tidak tertarik, seperti apa rupa kekasih Raga, sahabatmu itu?” tanya Ratu memancing rasa antusias Kama. Tapi Kama masih diam saja, rupanya umpan ini tidak berhasil.

“Bisakah kamu berhenti mengurusi urusan pribadi orang lain?” suara Kama terdengar serak, dan penuh ancaman.

Tapi itu tidak cukup untuk mengucilkan nyali seorang Ratu.

“Tentu, aku tidak bisa berhenti. Karena aku sangat tertarik sekali.”

Jawaban Ratu terdengar seperti ejekan, kalau iya takan bisa diajak kooperasi.

Ratu mengangkat tanganya, jemarinya menari - nari di udara dengan gerakan seperti seorang penari. Tanganya mulus, begitu putih tanpa ada celah noda.

“Pria seperti Raga, yang tidak tertarik dengan perempuan pun, bisa memiliki kekasih.” tangan Ratu mendarat di bahu Kama.

Ekspresi Kama terskesan biasa saja, tapi Ratu tidak menyukainya. Bagaimana mungkin seorang laki - laki normal tidak memberikan respon sedikitpun saat seorang wanita cantik menyentuhnya? Aneh bukan, harga diri Ratu seperti dilukai.

“Jadi, bagaimana dengan seorang pria bernama Raharja Kamandaka ini? Hmmm?”

Kama menepis tangan Ratu, ia tak ingin tangan itu berlama lama bergelantung di lengannya. Respon Kama tentu saja sangat tidak disukai oleh Ratu. Wanita itu langsung memasang wajah masam.

“Tentu saja aku menyukai perempuan,” jelas Kama dengan suara tertahan.

Ratu tersenyum mengejek, perempuan seperti apa yang bisa menarik perhatian seorang Kama?

“Oh iya??” Ratu seolah mengejek Kama. Tapi Kama bukan orang yang mudah terpancing emosi. Dan Ratu juga bukan orang mudah di tebak. Tanpa Kama duga, Ratu berjalan mendekat menghampiri Kama. Penolakan tadi tidak akan mematahkan semangatnya untuk menggoda laki - laki ini. Tanpa Kama duga, Ratu beraksi diluar dugaan. Ia memeluk Kama dengan sangat erat dan sengaja menekan bagian dadanya agar bersentuhan dengan Kama. Hishh. Menggelikan.

“Lepas.” perintah Kama dengan suara dingin.

“Tidak mau,” tentang Ratu, ia malah makin lengket.

Dan adegan itu disaksikan oleh Kila.

Kila yang membonceng Raga, melihat dengan jelas Ratu yang memeluk Kama dengan sangat erat.

“Sial!” Maki Kama, ia dengan gesit mendorong tubuh Ratu agar menjauh darinya.

Akhirnya KIla sampai juga, memakan waktu cukup lama baginya, duduk di motor. Meski begitu, pinggangnya tidak bisa di ajak bekerja sama. Baru Kila ketahui meskipun menggunakan motor membuat waktu perjalanan lebih singkat. Tapi pinggangnya tidak berkata demikian. Kila tidak bisa rebahan seperti perjalanan di mobil.

“Terima kasih.” Kila berterima kasih sembari mengulurkan helm milik Raga.

Raga menerima uluran helm miliknya itu, “Sama - sama.”

Raga langsung naik kembali ke motornya, pergi begitu saja. Mesin di nyalakan, suara knalpot terdengar. Tak lama, Raga melesat pergi. Hari sudah malam. Ini sudah sewajarnya karena Kila menempuh perjalanan selama dua jam penuh.

Kila meregangkan tubuhnya, terasa nikmat sekali ketika ototnya direlaksasi seperti sekarang ini.

“Kila, apa - apaan kamu baru pulang selarut ini!”

Kila langsung menengok ke arah sumber suara, perempuan yang tengah memarahinya itu kini berlari dengan penuh semangat menghampiri Kila. Siapa lagi kalau bukan Bibinya? Bibi Zainal.

“Aduh... “ Bibi Zainal berhenti tepat di depan Kila, menyisakan tiga langkah sebagai jarak diantara mereka.

“Kenapa sih kamu suka sekali membuat orang rumah kesal? Hah? “

Kila tersenyum polos, memangnya? Ia salah apa? Tapi bertanya kesalahannya, hanya akan membuat BIbi Zainal makin murka.

“Karin sudah kelaparang setengah mati, gara- gara kamu pulang selarut ini.”

Kila menyeringai masam, ah tentu saja.

“Sebentar Bi, aku segera masak untuk makan malam.”

Jadilah, Kila berlari terbirit - birit memasuki rumah. Perempuan ketika lapar akan menjadi singa. Bayangkan saja, Bibi Zainal dan sepuou - sepupu Kila pun sudah biasa menjadi singa, apalagi saat mereka lapar. Ish, ngeri. Kila tak sanggup membayangkannya.

***

***

Dan benar saja, saat Kila masuk ke dapur, Karin sudah memberikannya tatapan ultimatum.

“Dua puluh menit, aku janji makanannya akan siap dalam dua puluh menit.”

Kila spontan mengatakan itu pada Karin, apa boleh buat? Ia harus menyelamatkan hidupnya. Kalau tidak, Karin akan menerkamnya.

Karin tidak mau banyak bicara, ia menarik kursi dan duduk di depan meja makan. Matanya tajam mengawasi tiap gerak - gerik Kila.

Lambat sedikit saja, aku akan melemparkan pisau. Ujar Karin di dalam hati.

Kila buru - buru mengambil telur dan beberapa kondimen lain dari dalam kulkas. Tanganya dengan lincah mengupas bawang merah, bawang putih dan bawang bombay.

Kila tidak punya cukup waktu, dua puluh menit itu waktu yang singkat, tapi itu tidak akan menghasilkan apa - apa. Kila putuskan untuk membuat nasi goreng untuk mengganjal perut sembari memasak makanan lain.

Karin lemas, tentu saja ia tak punya energi.

Di rumah ini yang bisa memasak hanya Kila. Ibunya bisa memasak, skill memasaknya hanya sampai membuat bahan - bahan yang semula mentah menjadi masak. Karena semua makanan yang di masak Bibi Zainal selalu mendapatkan protes dari anak - anaknya. Tidak enak.

Dan bersyukurlah, Bibi Zainal juga menyadari ketidak mampuanya dalam memasak itu. Dan hadirlah Kila, dengan tanganya yang telaten. Menyelamatkan seisi rumah dari kelaparan.

Kila sibuk menumis bawang sampai layu dan mengeluarkan aroma wangi. Tidak lupa, Kila juga sudah menyiapkan nasi sisa tadi pagi, telur dan jamur kancing yang di dapatkannya dari warga tempo hari.

Kila memecahkan telur dengan satu tangan, terlihat sangat ahli karena sering melakukannya. Setelah telur masuk ke wajan, tanpa basa - basi, Kila mengorak arik telur dan menumisnya hingga matang, setelah itu Kila tinggal memasukan jamur. Tak selang beberapa lama, nasi sudah di masukan. Kila menambahkan kecap asin, kecap manis dan juga garam. Dengan taburan daun bawang sebagai pelengkap.

Dan dua puluh menit rupanya waktu yang cukup untuk Kila menghidangkan nasi goreng. Ia berbalik badan hendak mengantarkan nasi goreng buatanya ke meja makan. Dan sudah ada Bibi Zainal, serta Karin dengan tatapan lapar.

Akhir ...

Pasti itu arti dari tatapan mereka berdua.

“Aku akan masak ayam dan juga sayur, silahkan makan ini dulu.”

Kila meletakan piring nasi goreng, tanpa babibu, Karin langsung melahap nasi goreng itu dengan suapan besar tanpa peduli lidahnya akan melepuh kalau makan dengan cara seperti itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha

  • Tawanan Tuan Kama   7

    Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran

  • Tawanan Tuan Kama   6

    Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status