Mag-log inKama akhirnya muncul di ruang tengah, tubuhnya sangat segar sekarang. Apalagi ia terkena air hujan. Sedangkan Kila sudah duduk dengan kepala tertunduk berhadapan dengan Raga dan Rafa. Ikan yang di masak sudah di taruh di meja dengan beralaskan daun. Sementara itu Rafa sedang sibuk memisahkan duri ikan dari daging ikan. Raga tengah sibuk memakan daging yang sudah Rafa bersihkan, bahkan tanpa malu - malu selah Rafa melakukannya untuk Raga. "Hujan - hujan begini mandi?" Tanya Rafa, ia kembali mengambil daging ikan dan melahapnya tanpa rasa khawatir tersedak duri ikan. Kama duduk mendekat dan megambil tempat duduk di samping Kila. "Memangnya kenapa? Bukanya segar mandi hujan.." Kama menjawab pertanyaan Raga. Diluar sudah gelap, meski begitu hujan tak kunjung reda. "Untuk kamu segar, tapi kamu tidak melihat Kila tadi... Dia basah kuyup karena tiba - tiba hujan saat di kamar mandi." Jelas Raga, ia menunjuk - nunjuk udara. "Kan aku sudah bilang, tutup saja kamar mandi belakang, Kil
*** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor
*** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu
*** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga
Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala
Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg
Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak
Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?Kama bah
Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama s
Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepe







