MasukBab — Pernikahan RahasiaSuasana ruangan bernuansa serba putih di area aula makorps itu terasa begitu hening dan sakral. Tidak ada pesta megah, tidak ada dentuman musik romantis, apalagi karangan bunga mewah yang berjejer di sepanjang jalan. Hanya ada meja kayu beralaskan kain putih, sebuah kitab suci, penghulu dari KUA, serta beberapa saksi kunci—termasuk Kombes Satryo dan Joshua yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan seragam dinas resminya.Di dalam kamar rias yang tertutup rapat, suasana bergetar oleh haru."Kamu cantik banget, Sayang..." ujar Brian jujur, matanya berkaca-kaca menatap putri tunggalnya dari balik cermin besar.Lea mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus dengan riasan tipis yang elegan. Tidak berlebihan, namun memancarkan keindahan yang amat murni.Dengan segala pertaruhan reputasi dan jaminan nama besar Alexander Pramana, Brian mendapatkan izin khusus dari kejaksaan untuk hadir selama dua jam—tanpa borgol di tangannya—murni untuk berdiri sebagai w
"Jo! Kita bicara!" Ucap Lea ketika di parkiran. Joshua tidak menoleh. Bahunya naik-turun menahan gumpalan emosi yang sejak pagi membakar dadanya."Masuk. Gue nggak mau bicara di tempat ini,"Ia mengentakkan tangannya, memutar kunci, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah pinggir jalan.Joshua mematikan kontak, melepas sabuk pengaman, lalu keluar tanpa suara. Pintu ditutupnya dengan dentuman pelan namun tegas.Lea mengikutinya keluar."Sekarang jawab jujur," kata Joshua tanpa berbelit-belit. Matanya menatap Lea datar. "Lo jadian sama Papa gue?"Lea berdiri dua langkah di depan kap mobil, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dinas. "Iya."Jawaban singkat itu membuat Joshua terkekeh hambar."Gue nggak paham sama jalan pikiran kalian berdua," celetuk Joshua, nadanya lebih ke arah lelah ketimbang meledak-ledak. "Lo tahu, selama ini cuma Papa yang gue punya. Tiap kali gue coba kenalin beliau sama wanita lain, Papa selalu nolak. Katanya cukup ada gue. Gue
"Om serius?" tanya Lea tak percaya.Sepasang mata indahnya membelalak lebar, tak percaya pada kalimat sederhana yang baru saja dia dengar. Alexander tidak menarik tangannya. Justru cengkeraman jemarinya pada jemari mungil Lea makin erat. "Saya pernah bertaruh nyawa di bawah tembakan peluru, Lea," tutur Alex dengan suara bass rendahnya yang sarat akan keteguhan mutlak. "Saya tidak pernah bercanda untuk hal-hal yang menyangkut masa depan... terutama soal kamu."Bibir Lea perlahan menyunggingkan senyum paling manis. Rasa lega dan kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa dingin pascaoperasi yang masih menggerogoti fisiknya."Mungkin... sekarang," pancing Alex lembut, menatap lekat sepasang mata perwira mudanya itu. "Apa rencanamu kedepannya?"Tanpa membuang waktu sedetik pun, dengan mata berbinar jahil, Lea meraih ponselnya di atas meja menggunakan tangan yang bebas. Jemari lentiknya bergerak lincah menari di atas layar sentuh."Ngasih tahu Joshua lah! Kal
Setelah sosok Brian menghilang di balik pintu besi mobil tahanan yang tertutup rapat. Ia melangkah pelan, lalu mendudukkan dirinya di bangku kayu panjang tepat di samping Alexander.Ia melirik pria paruh baya di sebelahnya itu dari sudut mata."Jadi... Om sebenarnya dekat atau udah kenal lama ya sama Ayah?" tanya Lea penasaran, mengingat keakraban canggung namun penuh pengertian di antara kedua pria itu.Alex terkekeh keci, mengingat kembali memori masa lalu mereka berdua. "Ibumu... Lia, dulu adalah tunanganku," ujar Alex tenang, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Sebelum akhirnya dia direbut oleh pria gila bernama Brian Aditama itu."Mata Lea terbelalak kecil. Mulutnya sedikit terbuka, benar-benar tidak menyangka plot penderitaan cinta segitiga masa lalu di antara mereka. Namun tak lama kemudian, tawa renyah lolos dari bibir manisnya. Ia tersenyum geli menatap Alexander yang mendadak membetulkan posisi kerah dinasnya."Astaga... Plot twist macam apa ini?" kekeh Lea sambil menopa
"Ayah..." Sapa Lea, membuat Brian menoleh seketika. Lea berdiri di sana.Gadis itu mengenakan seragam dinas harian kepolisian lengkap dengan pangkat Satu Strip Emas (Ipda) di pundaknya. Meski garis wajahnya masih menyisa warna pucat pascaoperasi, Lea berdiri sangat tegap.Di belakangnya, Alexander berdiri mengawal dalam diam bersama Joshua yang berjaga kaku di ambang pintu.Bayangan masa depan yang kelam mendadak berputar liar di kepala Lea. Bayangan tentang tubuh ayahnya yang terujung kaku, karena tak sanggup menahan beban fitnah dan dosa masa lalu... bayangan trauma hancur yang membawanya kembali menembus waktu untuk mengubah takdir ini.Ayah tidak mati... kali ini Ayah hidup, batin Lea menjerit lega di balik dadanya yang sesak."Dua belas tahun penjara..." potong Lea pelan, menyuarakan angka putusan hakim yang baru saja diketok beberapa menit lalu di ruang sidang utama.Lea melangkah mendekat, lalu berlutut di depan kursi Brian. Jemari Lea yang halus menjangkau tangan Brian yang t
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alex saat melangkah masuk ke dalam ruang perawatan intensif.Bahu dan lengannya dibalut perban putih tebal di balik pakaian rumah sakit. Ia memaksakan bergerak mendekati brankar tempat Lea terbaring lemah dengan selang oksigen dan monitor detak jantung yang berbunyi teratur.Di sisi tempat tidur, Brian duduk kaku di atas kursi roda. Perutnya yang baru selesai dioperasi tertutup kain kassa ketat, dan kedua pergelangan tangannya kini kembali terikat oleh borgol besi yang dikunci pada lengan kursi. Dua polisi bersenjata berdiri menjaga di luar pintu kaca.Brian memindahkan tatapannya dari wajah pucat Lea ke arah Alex. "Dia sudah melewati masa kritis."Ruangan itu mendadak hening. Brian memandangi tangannya sendiri yang terborgol, lalu mendongak menatap Alex yang berdiri tegap di sampingnya."Alex... apa ada kemungkinan buatku untuk bebas?" tanya Brian. Sebuah pertanyaan yang diucapkan dengan nada begitu pelan, dari seorang pria yang sebenarnya sudah tahu pas







