เข้าสู่ระบบ"Aduh, bahaya nih..." bisik Lea pelan. Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan saat menyadari posisi mereka yang teramat dekat.Tawa kecil yang sejujurnya penuh rasa gugup lolos dari bibir manisnya.Dengan gerakan perlahan dan sedikit kaku, Lea menopang berat tubuhnya di atas dada tegap Alexander, mengikis jarak hingga napas hangat mereka saling menyapu."Kamu tahu..." bisik Alex, suaranya yang serak dan dalam kini terdengar sangat memabukkan. Jemari kekarnya merayap dari pergelangan tangan Lea turun mengusap lembut pinggang istrinya. "...saya sudah menunggu hari ini jauh-jauh hari. Jangan sampai kamu menyesal dan tidak bisa tidur sama sekali malam ini."Lea menelan ludah dengan susah payah. Binar matanya berkedip cepat, menyisakan rona merah yang kian pekat di kedua pipinya. "M-masa, sih? Nggak takut aku yang bikin Om... eh, Mas Alex yang nggak bisa tidur?"Alex terkekeh rendah. Nada kaku yang biasa ia pakai menguap tanpa sisa. Dengan gemas, ia melayangkan sentilan tipis di uju
"Ya istri Alexander Pramana-lah! Om kira aku ini alien dari mana, coba?"Alexander mendesah pelan. Tanpa aba-aba, tangan menutup lembaran berkas rahasia di hadapan mereka, lalu menariknya menjauh dari jangkauan jemari Lea."Eh! Om! Belum kelar!" protes Lea spontan, matanya membelalak kaget sambil melayangkan tatapan protes pada suaminya. "Itu baris ketiga kodenya lagi seru-serunya tahu! Kenapa ditutup?"Alex tidak langsung menjawab. Ia justru mengubah posisinya, bersila di atas karpet bulu tebal menghadap langsung ke arah istrinya. Tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi tadi perlahan melunak, menyisakan kehangatan yang membuat debaran jantung Lea mendadak mengambil alih."Jadi, sampai kapan kamu akan terus memanggilku 'Om', Lea?"Lea terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mendadak kehilangan kosa kata cerdas yang sedari tadi berputar di kepalanya."Y-ya..." Lea tergagap, pipinya m
Didalam mobil menuju kediaman barunya, Lea menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Kalimat terakhir dari sang ayah sebelum kembali dibawa ke mobil tahanan kejaksaan tadi terus bergema merdu di dadanya: "Terima kasih sudah membuat anakku terlihat sangat bahagia, Alex. Jaga dia. Ayah bahagia, dan Ayah bangga padamu, Lea... Kamu cantik, persis seperti ibumu." Lea terdiam, bahagia sekaligus haru. Di masa depan aslinya, ayahnya tewas tragis dengan cap penjahat di sel dingin. Namun hari ini, di garis waktu yang baru ini, ayahnya hidup, tersenyum, dan memberikan restu penuh untuk kebahagiaannya. Alexander yang duduk di balik kemudi, tangan kirinya terulur dari kemudi, menjangkau jemari Lea yang dingin di atas pangkuan, lalu mengepitnya hangat. Alex memahami betul gejolak jiwa istrinya, ia membiarkan Lea menumpahkan seluruh beban kerinduan dan rasa haru itu. Alex tahu, Lea hanya butuh waktu dan ruang sebelum kembali menjadi seperti sebelumnya. Lea menghembuskan napas panjang, mengus
Bab — Pernikahan RahasiaSuasana ruangan bernuansa serba putih di area aula makorps itu terasa begitu hening dan sakral. Tidak ada pesta megah, tidak ada dentuman musik romantis, apalagi karangan bunga mewah yang berjejer di sepanjang jalan. Hanya ada meja kayu beralaskan kain putih, sebuah kitab suci, penghulu dari KUA, serta beberapa saksi kunci—termasuk Kombes Satryo dan Joshua yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan seragam dinas resminya.Di dalam kamar rias yang tertutup rapat, suasana bergetar oleh haru."Kamu cantik banget, Sayang..." ujar Brian jujur, matanya berkaca-kaca menatap putri tunggalnya dari balik cermin besar.Lea mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus dengan riasan tipis yang elegan. Tidak berlebihan, namun memancarkan keindahan yang amat murni.Dengan segala pertaruhan reputasi dan jaminan nama besar Alexander Pramana, Brian mendapatkan izin khusus dari kejaksaan untuk hadir selama dua jam—tanpa borgol di tangannya—murni untuk berdiri sebagai w
"Jo! Kita bicara!" Ucap Lea ketika di parkiran. Joshua tidak menoleh. Bahunya naik-turun menahan gumpalan emosi yang sejak pagi membakar dadanya."Masuk. Gue nggak mau bicara di tempat ini,"Ia mengentakkan tangannya, memutar kunci, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah pinggir jalan.Joshua mematikan kontak, melepas sabuk pengaman, lalu keluar tanpa suara. Pintu ditutupnya dengan dentuman pelan namun tegas.Lea mengikutinya keluar."Sekarang jawab jujur," kata Joshua tanpa berbelit-belit. Matanya menatap Lea datar. "Lo jadian sama Papa gue?"Lea berdiri dua langkah di depan kap mobil, memasukkan kedua tangannya ke saku celana dinas. "Iya."Jawaban singkat itu membuat Joshua terkekeh hambar."Gue nggak paham sama jalan pikiran kalian berdua," celetuk Joshua, nadanya lebih ke arah lelah ketimbang meledak-ledak. "Lo tahu, selama ini cuma Papa yang gue punya. Tiap kali gue coba kenalin beliau sama wanita lain, Papa selalu nolak. Katanya cukup ada gue. Gue
"Om serius?" tanya Lea tak percaya.Sepasang mata indahnya membelalak lebar, tak percaya pada kalimat sederhana yang baru saja dia dengar. Alexander tidak menarik tangannya. Justru cengkeraman jemarinya pada jemari mungil Lea makin erat. "Saya pernah bertaruh nyawa di bawah tembakan peluru, Lea," tutur Alex dengan suara bass rendahnya yang sarat akan keteguhan mutlak. "Saya tidak pernah bercanda untuk hal-hal yang menyangkut masa depan... terutama soal kamu."Bibir Lea perlahan menyunggingkan senyum paling manis. Rasa lega dan kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa dingin pascaoperasi yang masih menggerogoti fisiknya."Mungkin... sekarang," pancing Alex lembut, menatap lekat sepasang mata perwira mudanya itu. "Apa rencanamu kedepannya?"Tanpa membuang waktu sedetik pun, dengan mata berbinar jahil, Lea meraih ponselnya di atas meja menggunakan tangan yang bebas. Jemari lentiknya bergerak lincah menari di atas layar sentuh."Ngasih tahu Joshua lah! Kal







