分享

Bab 3

作者: Devano
"Bukan dia pelakunya." Stevin berkata dengan tegas, "Mustahil dia kenal teman-teman SMA-mu, apalagi mendapatkan foto-foto itu."

"Kamu yang bersikeras membahas soal rasa suka diam-diam pada guru pria waktu SMA. Kamu seharusnya pikirkan baik-baik, dulu pernah menyinggung siapa, punya konflik dengan siapa, atau pernah melakukan hal memalukan apa."

"Aku sudah hubungi akun itu dan menyuruh mereka hapus postingan aslinya. Masalah ini akan kutangani."

Aku terpaku tak percaya. Hidungku langsung terasa perih dan sesak. "Maksudmu apa? Kamu pikir itu benaran? Kamu nggak percaya padaku, kamu pikir aku membohongimu?"

Aku mencabut jarum infus, lalu turun dari ranjang. Kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menahanku, lalu menekan tubuhku kembali ke atas ranjang.

"Kamu mau apa? Nggak sadar kalau kamu lagi demam? Apa gunanya memperdebatkan ini sekarang? Soal masa lalu, benar atau nggak, aku sama sekali nggak peduli."

Dia menambahkan satu kalimat lagi. "Tapi fakta bahwa kamu nggak bisa hamil itu memang benar."

Jantungku terasa seperti diremas keras. Tiga tahun lalu, kami mulai program hamil. Namun, dua kali kehamilanku berakhir keguguran sebelum usia kandungan mencapai tiga bulan.

Aku sebenarnya masih ingin terus mencoba, tetapi Stevin merasa kasihan padaku dan bersikeras tak ingin aku menjalaninya lagi karena terlalu menyiksa tubuh.

"Aku memang nggak terlalu suka anak kecil. Kita nggak usah punya anak saja. Berdua bukannya lebih baik? Nggak ada yang ganggu."

Aku terengah-engah, tetapi tetap merasa sesak. Dia sudah menghancurkan kepercayaanku padanya, bahkan meragukan kepribadianku.

Lebih dari sepuluh tahun saling mengenal dan mencintai, kini kalah hanya oleh satu baris fitnah dan satu foto yang dipelintir maknanya.

Di saat itu, hatiku benar-benar membeku. Ponselku berbunyi. Itu telepon dari guruku.

"Eirene, soal mulai kerjanya mungkin harus ditunda dulu. Kamu istirahat yang baik untuk sementara waktu."

Aku menahan kesedihan dan meminta maaf padanya. Setelah menutup telepon, aku mengambil surat perjanjian cerai di nakas, lalu tersenyum sambil merobeknya.

"Nggak perlu lagi, aku nggak akan cerai. Selama itu, dia akan selamanya jadi simpanan yang hina. Profesor Stevin, masa depanmu juga akan dihancurkan oleh tangannya sendiri. Semoga suatu hari nanti, saat kamu juga bosan padanya, kamu nggak nyesal."

Dia terdiam beberapa detik. "Aku sudah resign. Temanku mengajakku jadi partner di firma hukumnya dan aku setuju."

Aku tercengang sejenak, lalu tertawa keras hingga sudut mataku perlahan basah.

Pantas saja Alice begitu berani. Di acara itu dia memanggilku seperti itu, yang sama saja langsung membongkar identitas Stevin, tetapi Stevin sama sekali tidak peduli dan tidak marah.

"Kalau dia?"

"Dia lulus lebih cepat."

Aku tak kuasa menepukkan tangan dua kali. Ternyata cuma aku badutnya.

Stevin yang malu sekaligus marah tampak semakin murung. "Aku akui, kali ini memang salah Alice. Dia masih muda dan pencemburu. Kemarin ulang tahunnya, dia kesal karena aku nggak bisa temani dia, jadi dia sengaja bikin ulah seperti ini."

Jadi lagi-lagi salahku. Aku tidak seharusnya memintanya menemaniku merekam episode terakhir program itu. Kalau tidak, semua ini tidak akan terjadi.

"Dia sudah minta maaf padamu, kenapa kamu harus terus membesar-besarkan masalah ini?" Dia menarik napas dalam untuk menahan emosinya, lalu memberi solusi, "Bukannya kamu ingin lanjut studi ke luar negeri?"

"Pergi saja belajar beberapa tahun. Setelah kembali nanti, nggak akan ada yang ingat masalah ini lagi. Kamu mau jadi penyiar atau melakukan apa pun juga bisa."

Kalau keluar dari mulutnya, semuanya selalu terdengar begitu ringan.

Dia menatapku sambil menghela napas, lalu membungkuk memunguti sobekan kertas di lantai sebelum keluar.

Kata-kata cinta yang sudah rusak hanyalah omong kosong.

Setelah mereka pergi, demam ringanku tak kunjung turun. Aku memaksakan diri tetap sadar dan menulis klarifikasi lebih dari 1.000 kata.

Tepat saat hendak diposting, tiba-tiba aku menerima pesan dari Alice. Dia mengirimkan hasil tes darah. Dia hamil.

[ Bu Eirene, aku bisa nggak punya status apa-apa, tapi anak ini nggak bisa. Tolonglah, restui kami. ]

Aku menatap layar ponsel lekat-lekat. Tenggorokanku terasa dipenuhi rasa pahit dan amis.

Aku membalas dengan dua kata.

[ Selamat ya. ]

Kemudian, aku mengambil tangkapan layar itu dan menekan tombol unggah.

Lima menit kemudian, postingan itu langsung dilaporkan dan dihapus dengan alasan menyebarkan informasi palsu dan fitnah.

Tak lama setelah itu, Stevin menelepon. Suaranya menahan amarah. "Eirene, berhentilah membuat masalah."

Aku balik bertanya, "Aku bahkan nggak boleh mengklarifikasi diriku sendiri? Kalimat mana yang bukan fakta? Bagian mana yang fitnah?"

Dia tertawa sinis. "Kamu pakai hasil tes darahmu sendiri untuk memfitnah Alice hamil. Kamu memang baru puas kalau berhasil memfitnah dia ya? Kalau kamu terus buat masalah, aku akan menuntutmu secara hukum."

Aku langsung terpaku. Aku memperbesar foto hasil tes itu dan memang tidak ada nama di sana.

Aku berlari keluar mencari perawat. "Aku hamil?"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 8

    Sebulan kemudian, hasil keputusan dari pihak kampus keluar. Stevin sudah mengundurkan diri, jadi selain teguran resmi, dia tidak menerima hukuman yang berarti.Namun, ijazah Alice dicabut. Tanpa Stevin, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.Internet dipenuhi hujatan dan cacian terhadapnya, sementara Stevin juga menjauhinya seperti menjauhi wabah.Mentalnya benar-benar runtuh. Dia membuka siaran langsung di atap gedung firma hukum, semata-mata hanya agar Stevin melihatnya."Pak, aku cantik nggak pakai gaun pengantin begini? Kamu suka nggak? Kalau aku lompat, apa seumur hidup kamu nggak akan pernah melupakanku?"Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang menyuruhnya lompat saja kalau memang mau, jangan cuma berpura-pura.Tak lama kemudian, siaran langsung itu diblokir.Saat itu, aku dan Stevin baru saja selesai mengurus perceraian dan keluar dari pengadilan negeri.Ketika kami sampai di lokasi, Alice sudah dibawa ke ambulans. Gedungnya terlalu tinggi. Kemungkinan besar dia sudah ti

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 7

    Stevin berdiri dari balik meja dengan wajah muram.Kebetulan Alice masuk sambil membawa sepiring buah. Begitu melihat tatapannya, jantungnya langsung berdebar kencang."Ada apa? Masalah pekerjaan?"Stevin berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik."Alice, kamu tahu aku paling benci dibohongi. Aku cuma kasih satu kesempatan. Soal Eirene, itu ulahmu, 'kan? Kamu kenal orang yang menyebarkan rumor itu, benar?""Wanita yang memukuli Eirene di rumah sakit, para wartawan yang mewawancarainya, semua itu kamu yang atur, 'kan?"Ekspresi Alice membeku. Dia refleks menggeleng. "Mana mungkin aku .... Aku tahu masalah Bu Eirene memang bermula karena aku, itu salahku. Tapi soal yang lain aku benar-benar nggak tahu. Pak, tolong percaya padaku."Saat itu, bel pintu berbunyi. Alice segera berbalik membukakan pintu. Begitu melihat orang di luar, matanya langsung membelalak. Dia bertanya dengan suara rendah, "Gimana kamu menemukan tempat ini?"Jocelyn memasang ekspresi dingin dan l

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 6

    Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Stevin sudah menungguku.Aku berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun dan langsung menandatangani surat itu.Rumah menjadi milikku, mobil menjadi miliknya, harta dibagi rata. Dia bahkan menambahkan satu poin khusus, memberikan 1 miliar sekaligus biaya studiku ke luar negeri.Seolah-olah dengan begitu semua luka yang dia timbulkan padaku bisa ditebus."Rekamannya." Dia membuka ponselnya, lalu menghapusnya tepat di depanku. "Kamu tenang saja, aku nggak punya cadangan, juga nggak akan memulihkannya lagi. Ayahmu juga sudah janji padaku, nggak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun lagi."Aku tertawa pelan, lalu mempersilakannya keluar dari rumahku.Dia berdiri dan menatapku dengan sorot mata suram. "Eirene, aku ingin dengar jawaban jujur darimu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nial? Atau biar kuubah pertanyaannya, kalian pernah tidur bersama? Anak itu anakku?"Aku merasa muak. "Pergi dari sini!"Dia juga ikut emosi. "Kenapa? Nggak berani jawab?

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 5

    Di lorong rumah sakit, kami berpapasan dengan Stevin.Dia baru sadar, lalu langsung berhenti dan menoleh, bertanya dengan tidak percaya, "Nial?"Nial meliriknya dengan dingin, lalu terus berjalan ke depan."Nial, turunkan Eirene! Dia istriku, kamu nggak punya hak membawanya pergi!"Aku sampai tertawa mendengarnya, lalu berkata dengan lemah, "Pak Stevin, hukum mana yang mengatakan istri adalah milik suami? Memangnya suami boleh membatasi kebebasan istrinya?"Wajah Stevin langsung menjadi semakin masam.Aku memeluk leher Nial lebih erat dan berkata pelan, "Kita pergi.""Minggir."Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Dengan enggan, Stevin akhirnya menyingkir.Nial membawaku ke rumah sakit swasta dengan privasi yang sangat ketat. Setelah memeriksa, dokter mengatakan anakku sudah tidak ada.Aku mencengkeram pakaian Nial sambil menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil rapuh yang kehilangan rasa aman."Kak Nial ....""Sudah nggak apa-apa, aku ada di sini." Suara Nial juga tercekat.

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 4

    Setelah mendapat jawaban pasti, seluruh tubuhku membeku. Aku tertawa dan menangis bersamaan. Kenapa harus tepat di saat seperti ini?Perawat membantuku kembali ke ruang rawat dan mengingatkanku agar emosiku tidak terlalu bergejolak.Aku mengambil ponsel, lalu melihat Stevin memosting sebuah pernyataan.Dia mengatakan semua ini adalah sandiwara yang kurekayasa sendiri demi mencari popularitas. Katanya aku membayar seseorang untuk berpura-pura menelepon di acara itu dan dia sama sekali tidak mengenal mahasiswi itu.[ Hubunganku dan Eirene memang sudah nggak harmonis. Saat ini, kami sedang dalam proses perceraian. Tindakannya telah merusak reputasiku secara serius. Aku berhak menempuh jalur hukum untuk menuntutnya. ]Arah opini publik langsung berubah. Kolom komentar penuh dengan orang yang memakiku karena rela melakukan apa saja demi terkenal. Ada yang mengedit fotoku dengan tulisan "pelacur" yang besar di wajahku.Stevin mengirim sebuah rekaman suara. Dengan tangan gemetar, aku membukan

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 3

    "Bukan dia pelakunya." Stevin berkata dengan tegas, "Mustahil dia kenal teman-teman SMA-mu, apalagi mendapatkan foto-foto itu.""Kamu yang bersikeras membahas soal rasa suka diam-diam pada guru pria waktu SMA. Kamu seharusnya pikirkan baik-baik, dulu pernah menyinggung siapa, punya konflik dengan siapa, atau pernah melakukan hal memalukan apa.""Aku sudah hubungi akun itu dan menyuruh mereka hapus postingan aslinya. Masalah ini akan kutangani."Aku terpaku tak percaya. Hidungku langsung terasa perih dan sesak. "Maksudmu apa? Kamu pikir itu benaran? Kamu nggak percaya padaku, kamu pikir aku membohongimu?"Aku mencabut jarum infus, lalu turun dari ranjang. Kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menahanku, lalu menekan tubuhku kembali ke atas ranjang."Kamu mau apa? Nggak sadar kalau kamu lagi demam? Apa gunanya memperdebatkan ini sekarang? Soal masa lalu, benar atau nggak, aku sama sekali nggak peduli."Dia menambahkan satu kalimat lagi. "Tapi fakta bahwa kamu nggak bisa hamil itu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status