MasukSebulan kemudian, hasil keputusan dari pihak kampus keluar. Stevin sudah mengundurkan diri, jadi selain teguran resmi, dia tidak menerima hukuman yang berarti.Namun, ijazah Alice dicabut. Tanpa Stevin, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.Internet dipenuhi hujatan dan cacian terhadapnya, sementara Stevin juga menjauhinya seperti menjauhi wabah.Mentalnya benar-benar runtuh. Dia membuka siaran langsung di atap gedung firma hukum, semata-mata hanya agar Stevin melihatnya."Pak, aku cantik nggak pakai gaun pengantin begini? Kamu suka nggak? Kalau aku lompat, apa seumur hidup kamu nggak akan pernah melupakanku?"Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang menyuruhnya lompat saja kalau memang mau, jangan cuma berpura-pura.Tak lama kemudian, siaran langsung itu diblokir.Saat itu, aku dan Stevin baru saja selesai mengurus perceraian dan keluar dari pengadilan negeri.Ketika kami sampai di lokasi, Alice sudah dibawa ke ambulans. Gedungnya terlalu tinggi. Kemungkinan besar dia sudah ti
Stevin berdiri dari balik meja dengan wajah muram.Kebetulan Alice masuk sambil membawa sepiring buah. Begitu melihat tatapannya, jantungnya langsung berdebar kencang."Ada apa? Masalah pekerjaan?"Stevin berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik."Alice, kamu tahu aku paling benci dibohongi. Aku cuma kasih satu kesempatan. Soal Eirene, itu ulahmu, 'kan? Kamu kenal orang yang menyebarkan rumor itu, benar?""Wanita yang memukuli Eirene di rumah sakit, para wartawan yang mewawancarainya, semua itu kamu yang atur, 'kan?"Ekspresi Alice membeku. Dia refleks menggeleng. "Mana mungkin aku .... Aku tahu masalah Bu Eirene memang bermula karena aku, itu salahku. Tapi soal yang lain aku benar-benar nggak tahu. Pak, tolong percaya padaku."Saat itu, bel pintu berbunyi. Alice segera berbalik membukakan pintu. Begitu melihat orang di luar, matanya langsung membelalak. Dia bertanya dengan suara rendah, "Gimana kamu menemukan tempat ini?"Jocelyn memasang ekspresi dingin dan l
Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Stevin sudah menungguku.Aku berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun dan langsung menandatangani surat itu.Rumah menjadi milikku, mobil menjadi miliknya, harta dibagi rata. Dia bahkan menambahkan satu poin khusus, memberikan 1 miliar sekaligus biaya studiku ke luar negeri.Seolah-olah dengan begitu semua luka yang dia timbulkan padaku bisa ditebus."Rekamannya." Dia membuka ponselnya, lalu menghapusnya tepat di depanku. "Kamu tenang saja, aku nggak punya cadangan, juga nggak akan memulihkannya lagi. Ayahmu juga sudah janji padaku, nggak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun lagi."Aku tertawa pelan, lalu mempersilakannya keluar dari rumahku.Dia berdiri dan menatapku dengan sorot mata suram. "Eirene, aku ingin dengar jawaban jujur darimu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nial? Atau biar kuubah pertanyaannya, kalian pernah tidur bersama? Anak itu anakku?"Aku merasa muak. "Pergi dari sini!"Dia juga ikut emosi. "Kenapa? Nggak berani jawab?
Di lorong rumah sakit, kami berpapasan dengan Stevin.Dia baru sadar, lalu langsung berhenti dan menoleh, bertanya dengan tidak percaya, "Nial?"Nial meliriknya dengan dingin, lalu terus berjalan ke depan."Nial, turunkan Eirene! Dia istriku, kamu nggak punya hak membawanya pergi!"Aku sampai tertawa mendengarnya, lalu berkata dengan lemah, "Pak Stevin, hukum mana yang mengatakan istri adalah milik suami? Memangnya suami boleh membatasi kebebasan istrinya?"Wajah Stevin langsung menjadi semakin masam.Aku memeluk leher Nial lebih erat dan berkata pelan, "Kita pergi.""Minggir."Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Dengan enggan, Stevin akhirnya menyingkir.Nial membawaku ke rumah sakit swasta dengan privasi yang sangat ketat. Setelah memeriksa, dokter mengatakan anakku sudah tidak ada.Aku mencengkeram pakaian Nial sambil menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil rapuh yang kehilangan rasa aman."Kak Nial ....""Sudah nggak apa-apa, aku ada di sini." Suara Nial juga tercekat.
Setelah mendapat jawaban pasti, seluruh tubuhku membeku. Aku tertawa dan menangis bersamaan. Kenapa harus tepat di saat seperti ini?Perawat membantuku kembali ke ruang rawat dan mengingatkanku agar emosiku tidak terlalu bergejolak.Aku mengambil ponsel, lalu melihat Stevin memosting sebuah pernyataan.Dia mengatakan semua ini adalah sandiwara yang kurekayasa sendiri demi mencari popularitas. Katanya aku membayar seseorang untuk berpura-pura menelepon di acara itu dan dia sama sekali tidak mengenal mahasiswi itu.[ Hubunganku dan Eirene memang sudah nggak harmonis. Saat ini, kami sedang dalam proses perceraian. Tindakannya telah merusak reputasiku secara serius. Aku berhak menempuh jalur hukum untuk menuntutnya. ]Arah opini publik langsung berubah. Kolom komentar penuh dengan orang yang memakiku karena rela melakukan apa saja demi terkenal. Ada yang mengedit fotoku dengan tulisan "pelacur" yang besar di wajahku.Stevin mengirim sebuah rekaman suara. Dengan tangan gemetar, aku membukan
"Bukan dia pelakunya." Stevin berkata dengan tegas, "Mustahil dia kenal teman-teman SMA-mu, apalagi mendapatkan foto-foto itu.""Kamu yang bersikeras membahas soal rasa suka diam-diam pada guru pria waktu SMA. Kamu seharusnya pikirkan baik-baik, dulu pernah menyinggung siapa, punya konflik dengan siapa, atau pernah melakukan hal memalukan apa.""Aku sudah hubungi akun itu dan menyuruh mereka hapus postingan aslinya. Masalah ini akan kutangani."Aku terpaku tak percaya. Hidungku langsung terasa perih dan sesak. "Maksudmu apa? Kamu pikir itu benaran? Kamu nggak percaya padaku, kamu pikir aku membohongimu?"Aku mencabut jarum infus, lalu turun dari ranjang. Kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menahanku, lalu menekan tubuhku kembali ke atas ranjang."Kamu mau apa? Nggak sadar kalau kamu lagi demam? Apa gunanya memperdebatkan ini sekarang? Soal masa lalu, benar atau nggak, aku sama sekali nggak peduli."Dia menambahkan satu kalimat lagi. "Tapi fakta bahwa kamu nggak bisa hamil itu







