Share

Bab 2

Author: Devano
Aku tertawa sinis. Lambungku sakit sampai tubuhku meringkuk di kursi. Aku tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Stevin mengambil obat lambung dari laci dan menyodorkannya padaku. Aku tidak menerimanya. Dia pun melemparkannya kembali dengan ekspresi dingin.

Sesampainya di tempat tinggal Alice, dia menyeretku turun dari mobil.

"Kamu harusnya tahu apa yang harus kamu katakan. Kalau dia sudah tenang, syarat apa pun yang kamu ajukan akan kukabulkan."

Begitu masuk, terlihat mata Alice yang bengkak dan merah. Dia membungkuk padaku. "Maaf, Bu Eirene. Aku benar-benar nggak sengaja. Aku terlalu gugup sampai salah bicara."

"Aku nggak seharusnya bertindak seenaknya dan bikin masalah. Kalau kamu marah, silakan marahi aku. Aku akan terima."

Stevin memberi isyarat dengan matanya agar aku bicara.

Aku menggertakkan gigi. "Nggak apa-apa, aku nggak menyalahkanmu."

"Kalau kamu benar-benar merasa bersalah padaku dan ingin menebusnya, buat klarifikasi. Bilang kalau kamu diam-diam menyukai Stevin sepihak, lalu karena ditolak, kamu sengaja balas dendam pada kami. Kamu dan Stevin nggak punya hubungan yang nggak pantas."

"Terserah kalian mau gimana berhubungan, tapi jangan sampai memengaruhi karierku."

"Eirene, kamu terlalu egois. Kamu sendiri pernah difitnah, gimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu?" tanya Stevin dengan marah.

Saat baru masuk stasiun radio setelah lulus kuliah, aku pernah dilecehkan atasan, bahkan dipukuli istrinya karena dianggap simpanan.

Aku menghibur Stevin dengan berkata bahwa ini justru keberuntungan dalam kemalangan, karena setelah itu aku tidak perlu lagi bekerja bersama atasan itu.

Stevin marah sekaligus sedih, bertanya kenapa aku tidak memberitahunya. Dengan mata merah, dia berjanji padaku, "Sayang, aku pasti akan kerja keras supaya kamu punya keberanian dan kebebasan untuk resign kapan saja kamu mau."

Memang dia melakukannya. Kami membeli rumah, punya mobil, kehidupan kami semakin membaik.

Dia kasihan melihatku jadwalku yang terbalik siang malam dan sudah berkali-kali menyuruhku mengundurkan diri. Namun, aku punya perasaan khusus terhadap program ini. Penyiar pengganti datang dan pergi, dan pada akhirnya hanya aku yang tersisa.

Tiga bulan lalu, stasiun memutuskan menghentikan siaran program itu. Atas rekomendasi guru pembimbingku, aku lolos tiga tahap wawancara dan mendapat tawaran sebagai pembawa berita di stasiun televisi. Bulan depan aku sudah mulai bekerja.

Ini pekerjaan impianku. Opini publik bisa menjadi besar atau kecil. Sedikit saja kecerobohan, karierku bisa hancur.

Aku egois? Aku memfitnah orang? Bukankah mereka yang sedang menumpahkan kotoran ke kepalaku?

Alice menarik lengan Stevin sambil mengangguk dengan mata berkaca-kaca, mengatakan bahwa dia bisa melakukannya, lalu berbalik hendak mengambil ponsel.

Namun, aku sudah tidak sanggup bertahan lagi. Pandanganku menggelap, lalu aku jatuh pingsan.

Saat sadar, langit sudah tampak seperti menjelang senja. Aku berbaring di ranjang rumah sakit.

Stevin berdiri di dekat jendela dengan kaus putih berlengan pendek, membelakangiku. Sesaat, aku merasa linglung, seolah-olah dia masih pemuda sepuluh tahun lalu.

Kami pernah tidur siang sampai sore di kamar kontrakan sempit, tertidur melewati hujan deras. Saat itu, dia menoleh dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Eirene, cepat lihat! Ada pelangi!"

Stevin di dunia nyata berbalik menatapku dengan wajah muram dan lelah. Dia menyerahkan sebuah surat perjanjian cerai. "Kamu bisa bilang ke publik kalau kita sudah cerai dan kamu sekarang lajang. Dengan begitu, urusanku dan Alice nggak akan memengaruhimu."

Tanpa ragu sedikit pun, aku menerima pena dan hendak menandatangani. Namun, dia tiba-tiba menarik kembali surat itu. "Kamu segitu nggak sabar?"

Aku menatapnya dengan bingung, lalu tertawa geli. "Kalau nggak, mau gimana lagi? Kamu berharap aku bereaksi seperti apa? Nggak rela? Terus histeris tanya kenapa kamu sudah nggak mencintaiku lagi, kenapa mengkhianati hubungan kita yang sudah lebih dari sepuluh tahun? Apa ada gunanya?"

Dia tertawa pendek dengan dingin. "Nggak kok, tanda tangani saja."

Setelah selesai menandatangani, aku mencari ponselku. Dengan ekspresi ragu-ragu, dia akhirnya mengeluarkannya.

Firasatku langsung menjadi buruk. Notifikasi di ponsel meledak. Namaku muncul sendirian di trending search.

[ Penyiar radio wanita, Eirene, pernah aborsi saat SMA ]

Pukul 3 dini hari, sebuah akun yang mengaku teman SMA-ku membocorkan bahwa saat SMA aku menggoda guru magang dan bermain-main dengan guru pria di ruang kelas hingga menyebabkan guru itu dikeluarkan dari sekolah.

Katanya aku mengambil cuti setengah bulan untuk pergi melakukan operasi aborsi.

Di bawahnya ada foto kelulusan kelas, juga foto diriku memakai seragam sekolah dan duduk di luar ruang kandungan.

Aku tertawa, lalu mendongak menatap Stevin. "Keuntungan apa yang kalian dapatkan dari menghancurkanku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 8

    Sebulan kemudian, hasil keputusan dari pihak kampus keluar. Stevin sudah mengundurkan diri, jadi selain teguran resmi, dia tidak menerima hukuman yang berarti.Namun, ijazah Alice dicabut. Tanpa Stevin, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.Internet dipenuhi hujatan dan cacian terhadapnya, sementara Stevin juga menjauhinya seperti menjauhi wabah.Mentalnya benar-benar runtuh. Dia membuka siaran langsung di atap gedung firma hukum, semata-mata hanya agar Stevin melihatnya."Pak, aku cantik nggak pakai gaun pengantin begini? Kamu suka nggak? Kalau aku lompat, apa seumur hidup kamu nggak akan pernah melupakanku?"Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang menyuruhnya lompat saja kalau memang mau, jangan cuma berpura-pura.Tak lama kemudian, siaran langsung itu diblokir.Saat itu, aku dan Stevin baru saja selesai mengurus perceraian dan keluar dari pengadilan negeri.Ketika kami sampai di lokasi, Alice sudah dibawa ke ambulans. Gedungnya terlalu tinggi. Kemungkinan besar dia sudah ti

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 7

    Stevin berdiri dari balik meja dengan wajah muram.Kebetulan Alice masuk sambil membawa sepiring buah. Begitu melihat tatapannya, jantungnya langsung berdebar kencang."Ada apa? Masalah pekerjaan?"Stevin berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik."Alice, kamu tahu aku paling benci dibohongi. Aku cuma kasih satu kesempatan. Soal Eirene, itu ulahmu, 'kan? Kamu kenal orang yang menyebarkan rumor itu, benar?""Wanita yang memukuli Eirene di rumah sakit, para wartawan yang mewawancarainya, semua itu kamu yang atur, 'kan?"Ekspresi Alice membeku. Dia refleks menggeleng. "Mana mungkin aku .... Aku tahu masalah Bu Eirene memang bermula karena aku, itu salahku. Tapi soal yang lain aku benar-benar nggak tahu. Pak, tolong percaya padaku."Saat itu, bel pintu berbunyi. Alice segera berbalik membukakan pintu. Begitu melihat orang di luar, matanya langsung membelalak. Dia bertanya dengan suara rendah, "Gimana kamu menemukan tempat ini?"Jocelyn memasang ekspresi dingin dan l

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 6

    Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Stevin sudah menungguku.Aku berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun dan langsung menandatangani surat itu.Rumah menjadi milikku, mobil menjadi miliknya, harta dibagi rata. Dia bahkan menambahkan satu poin khusus, memberikan 1 miliar sekaligus biaya studiku ke luar negeri.Seolah-olah dengan begitu semua luka yang dia timbulkan padaku bisa ditebus."Rekamannya." Dia membuka ponselnya, lalu menghapusnya tepat di depanku. "Kamu tenang saja, aku nggak punya cadangan, juga nggak akan memulihkannya lagi. Ayahmu juga sudah janji padaku, nggak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun lagi."Aku tertawa pelan, lalu mempersilakannya keluar dari rumahku.Dia berdiri dan menatapku dengan sorot mata suram. "Eirene, aku ingin dengar jawaban jujur darimu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nial? Atau biar kuubah pertanyaannya, kalian pernah tidur bersama? Anak itu anakku?"Aku merasa muak. "Pergi dari sini!"Dia juga ikut emosi. "Kenapa? Nggak berani jawab?

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 5

    Di lorong rumah sakit, kami berpapasan dengan Stevin.Dia baru sadar, lalu langsung berhenti dan menoleh, bertanya dengan tidak percaya, "Nial?"Nial meliriknya dengan dingin, lalu terus berjalan ke depan."Nial, turunkan Eirene! Dia istriku, kamu nggak punya hak membawanya pergi!"Aku sampai tertawa mendengarnya, lalu berkata dengan lemah, "Pak Stevin, hukum mana yang mengatakan istri adalah milik suami? Memangnya suami boleh membatasi kebebasan istrinya?"Wajah Stevin langsung menjadi semakin masam.Aku memeluk leher Nial lebih erat dan berkata pelan, "Kita pergi.""Minggir."Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Dengan enggan, Stevin akhirnya menyingkir.Nial membawaku ke rumah sakit swasta dengan privasi yang sangat ketat. Setelah memeriksa, dokter mengatakan anakku sudah tidak ada.Aku mencengkeram pakaian Nial sambil menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil rapuh yang kehilangan rasa aman."Kak Nial ....""Sudah nggak apa-apa, aku ada di sini." Suara Nial juga tercekat.

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 4

    Setelah mendapat jawaban pasti, seluruh tubuhku membeku. Aku tertawa dan menangis bersamaan. Kenapa harus tepat di saat seperti ini?Perawat membantuku kembali ke ruang rawat dan mengingatkanku agar emosiku tidak terlalu bergejolak.Aku mengambil ponsel, lalu melihat Stevin memosting sebuah pernyataan.Dia mengatakan semua ini adalah sandiwara yang kurekayasa sendiri demi mencari popularitas. Katanya aku membayar seseorang untuk berpura-pura menelepon di acara itu dan dia sama sekali tidak mengenal mahasiswi itu.[ Hubunganku dan Eirene memang sudah nggak harmonis. Saat ini, kami sedang dalam proses perceraian. Tindakannya telah merusak reputasiku secara serius. Aku berhak menempuh jalur hukum untuk menuntutnya. ]Arah opini publik langsung berubah. Kolom komentar penuh dengan orang yang memakiku karena rela melakukan apa saja demi terkenal. Ada yang mengedit fotoku dengan tulisan "pelacur" yang besar di wajahku.Stevin mengirim sebuah rekaman suara. Dengan tangan gemetar, aku membukan

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 3

    "Bukan dia pelakunya." Stevin berkata dengan tegas, "Mustahil dia kenal teman-teman SMA-mu, apalagi mendapatkan foto-foto itu.""Kamu yang bersikeras membahas soal rasa suka diam-diam pada guru pria waktu SMA. Kamu seharusnya pikirkan baik-baik, dulu pernah menyinggung siapa, punya konflik dengan siapa, atau pernah melakukan hal memalukan apa.""Aku sudah hubungi akun itu dan menyuruh mereka hapus postingan aslinya. Masalah ini akan kutangani."Aku terpaku tak percaya. Hidungku langsung terasa perih dan sesak. "Maksudmu apa? Kamu pikir itu benaran? Kamu nggak percaya padaku, kamu pikir aku membohongimu?"Aku mencabut jarum infus, lalu turun dari ranjang. Kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menahanku, lalu menekan tubuhku kembali ke atas ranjang."Kamu mau apa? Nggak sadar kalau kamu lagi demam? Apa gunanya memperdebatkan ini sekarang? Soal masa lalu, benar atau nggak, aku sama sekali nggak peduli."Dia menambahkan satu kalimat lagi. "Tapi fakta bahwa kamu nggak bisa hamil itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status