Share

Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai
Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai
Author: Devano

Bab 1

Author: Devano
Aku sudah menjadi penyiar radio larut malam selama sepuluh tahun. Telepon terakhir sebelum program itu dihentikan adalah dengan seorang mahasiswi.

"Halo, Bu Eirene, aku merasa sangat tersiksa. Aku jatuh cinta pada dosen universitasku sendiri. Meskipun dia sudah nikah, dia memperlakukanku dengan sangat spesial."

"Waktu aku sakit, dia masak untukku. Waktu aku sedih, dia temani aku ngobrol sampai larut malam, ngajak aku jalan-jalan untuk tenangin pikiran ...."

Setelah mendengarkannya dengan sabar, aku perlahan membuka mulut untuk menenangkan, "Memiliki perasaan kagum pada lawan jenis yang luar biasa itu sangat normal, tapi yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan kuliahmu."

"Sebenarnya, waktu SMA aku juga pernah diam-diam menyukai guru magang. Sampai akhirnya bertemu suamiku, barulah aku tahu seperti apa cinta yang dewasa itu. Semoga di masa depan kamu juga bisa bertemu orang yang benar-benar tepat untukmu."

Gadis itu tertawa pelan dengan nada yang sulit dimengerti. "Aku iri sekali padamu, istri dosenku."

....

Kepalaku langsung berdengung. Aku sontak mendongak ke arah Stevin yang sedang menungguku pulang kerja di luar studio.

Pantas saja suara gadis itu terdengar familier. Rupanya aku pernah mendengarnya di ponsel Stevin.

Produser sampai buru-buru berdiri dan mendesakku lewat headset agar terus berbicara.

Tatapan Stevin tampak suram. Sambil memegang ponsel, dia berbalik dan pergi. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyuman.

Setelah susah payah menjaga ketenangan, aku menyelesaikan naskah penutup tepat dalam lima menit, menutup program larut malam yang sudah kubawakan selama sepuluh tahun.

Lagu mulai diputar, seluruh sarafku seketika merasa rileks. Tubuhku sampai basah oleh keringat dingin.

Aku tersenyum mengejek diri sendiri dengan lemah. Rasanya benar-benar seperti pertama kali siaran. Tatapan rekan-rekan kerja padaku terasa sangat aneh. Mereka tampak kaget, penasaran, sekaligus iba.

"Bu Eirene ...."

Aku menerima ponsel itu. Nama program dan namaku sudah muncul di trending search.

[ Astaga! Gila banget! Nggak nyangka programnya dihentikan malah meledak skandal besar. ]

[ Singkatnya, ada mahasiswi bilang dia suka sama dosennya sendiri. Setelah penyiar selesai menasihati, si mahasiswi tiba-tiba manggil penyiar "istri dosenku", lalu siarannya langsung dipotong. ]

[ Suami penyiar itu namanya Stevin, profesor Fakultas Hukum Universitas Antara. ]

[ Ironis banget. Baru saja dia bilang hubungannya sama suaminya harmonis dan bahagia, detik berikutnya malah jadi badut dan digosipi. ]

....

Mungkin ini menjadi momen dengan rating tertinggi sepanjang program itu. Begitu keluar dari kantor, sakit di lambungku semakin parah. Aku memaksakan diri berjalan ke parkiran.

Stevin ada di dalam mobil. Di kursi belakang ada bunga dan hadiah yang dia belikan untukku.

"Gadis kecil itu cuma keras kepala dan belum ngerti apa-apa. Aku gantikan dia minta maaf." Nada bicaranya ringan, seolah-olah ini hanya masalah sepele.

"Lagi pula, program kalian juga nggak banyak pendengarnya, nggak akan ada pengaruh apa-apa."

Hanya dua kalimat itu. Setelahnya, dia langsung ingin memasangkan sabuk pengamanku dan bersiap menyetir.

Aku tertawa sambil menggertakkan gigi. "Soal kalian berdua, kamu nggak merasa perlu kasih aku penjelasan?"

Dia mengerutkan kening, suaranya terdengar dingin. "Penjelasan apa yang kamu mau? Aku selingkuh, jatuh cinta pada mahasiswiku sendiri. Aku bilang lembur di kampus, padahal habisin waktu bersama dia. Selama setengah tahun ini aku jarang menyentuhmu karena dia keberatan."

"Kalau kamu mau cerai, aku nggak keberatan."

Jantungku seperti diremas sampai hancur oleh sepasang tangan besar. Suaraku gemetar. "Kenapa ...."

"Memangnya ada alasan apa lagi untuk perselingkuhan? Perasaan memudar, bosan, lelah, cari sensasi baru." Dia terdiam beberapa saat, memutar cincin nikahnya, lalu perlahan melepaskannya.

"Aku tahu apa yang kulakukan nggak bermoral, tapi aku sudah terlanjur jatuh hati. Aku nggak bisa apa-apa. Dia memberiku perasaan hidup yang sangat kuat. Maaf, Eirene. Aku benar-benar nggak ingin menyakitimu."

Mataku dipenuhi air mata sampai wajahnya terlihat kabur dan terdistorsi.

"Eirene, selama ada aku, nggak akan ada yang bisa menyakitimu." Itu yang dia katakan saat melamarku di rumah sakit.

....

Malam tahun baru itu, aku pulang menemani ibuku merayakan tahun baru. Tak kusangka, dia kembali bersama ayahku yang suka berjudi dan melakukan KDRT, bahkan setuju menyerahkanku kepada bos besar untuk melunasi utang.

Aku dipaksa sampai tak punya jalan keluar, jadi aku melompat dari jendela lantai dua.

Begitu Stevin tahu, dia langsung datang. Dia mengancam sekaligus membujuk orang tuaku hingga mereka menandatangani surat pemutusan hubungan orang tua dan anak.

Aku melihat surat perjanjian itu sambil menangis dan tertawa bersamaan, lalu dia mengeluarkan sebuah cincin.

"Waktu terima teleponmu, aku lagi beresin barang peninggalan ibuku. Karena panik, aku asal memasukkannya ke saku dan baru sadar setelah turun dari pesawat."

"Eirene, menikahlah denganku. Biarkan aku menjadi keluargamu."

Aku terus mengangguk, ingin mengatakan "bersedia", tetapi tenggorokanku tersumbat hingga tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.

Setelah cedera tulangku sembuh, kami langsung mendaftarkan pernikahan.

....

Dari cinta menjadi tidak cinta, ternyata hanya butuh sepuluh tahun. Janji seumur hidup yang dulu begitu teguh kini seperti plastik rapuh. Terlihat masih utuh, tetapi sekali diremas langsung hancur.

Nada dering ponsel menarikku kembali ke kenyataan. Stevin melirikku. Mungkin dia merasa sudah tak perlu menghindariku lagi, jadi dia langsung mengangkat telepon di dalam mobil.

Di seberang sana, gadis itu terdengar seperti sedang terisak. Stevin menenangkannya dengan lembut, "Nggak apa-apa. Kamu tenang saja di rumah, aku akan bawa dia ke sana."

Mobil segera melaju. Aku meraih lengannya dan bertanya dia mau pergi ke mana.

"Alice ingin minta maaf padamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 8

    Sebulan kemudian, hasil keputusan dari pihak kampus keluar. Stevin sudah mengundurkan diri, jadi selain teguran resmi, dia tidak menerima hukuman yang berarti.Namun, ijazah Alice dicabut. Tanpa Stevin, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.Internet dipenuhi hujatan dan cacian terhadapnya, sementara Stevin juga menjauhinya seperti menjauhi wabah.Mentalnya benar-benar runtuh. Dia membuka siaran langsung di atap gedung firma hukum, semata-mata hanya agar Stevin melihatnya."Pak, aku cantik nggak pakai gaun pengantin begini? Kamu suka nggak? Kalau aku lompat, apa seumur hidup kamu nggak akan pernah melupakanku?"Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang menyuruhnya lompat saja kalau memang mau, jangan cuma berpura-pura.Tak lama kemudian, siaran langsung itu diblokir.Saat itu, aku dan Stevin baru saja selesai mengurus perceraian dan keluar dari pengadilan negeri.Ketika kami sampai di lokasi, Alice sudah dibawa ke ambulans. Gedungnya terlalu tinggi. Kemungkinan besar dia sudah ti

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 7

    Stevin berdiri dari balik meja dengan wajah muram.Kebetulan Alice masuk sambil membawa sepiring buah. Begitu melihat tatapannya, jantungnya langsung berdebar kencang."Ada apa? Masalah pekerjaan?"Stevin berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik."Alice, kamu tahu aku paling benci dibohongi. Aku cuma kasih satu kesempatan. Soal Eirene, itu ulahmu, 'kan? Kamu kenal orang yang menyebarkan rumor itu, benar?""Wanita yang memukuli Eirene di rumah sakit, para wartawan yang mewawancarainya, semua itu kamu yang atur, 'kan?"Ekspresi Alice membeku. Dia refleks menggeleng. "Mana mungkin aku .... Aku tahu masalah Bu Eirene memang bermula karena aku, itu salahku. Tapi soal yang lain aku benar-benar nggak tahu. Pak, tolong percaya padaku."Saat itu, bel pintu berbunyi. Alice segera berbalik membukakan pintu. Begitu melihat orang di luar, matanya langsung membelalak. Dia bertanya dengan suara rendah, "Gimana kamu menemukan tempat ini?"Jocelyn memasang ekspresi dingin dan l

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 6

    Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Stevin sudah menungguku.Aku berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun dan langsung menandatangani surat itu.Rumah menjadi milikku, mobil menjadi miliknya, harta dibagi rata. Dia bahkan menambahkan satu poin khusus, memberikan 1 miliar sekaligus biaya studiku ke luar negeri.Seolah-olah dengan begitu semua luka yang dia timbulkan padaku bisa ditebus."Rekamannya." Dia membuka ponselnya, lalu menghapusnya tepat di depanku. "Kamu tenang saja, aku nggak punya cadangan, juga nggak akan memulihkannya lagi. Ayahmu juga sudah janji padaku, nggak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun lagi."Aku tertawa pelan, lalu mempersilakannya keluar dari rumahku.Dia berdiri dan menatapku dengan sorot mata suram. "Eirene, aku ingin dengar jawaban jujur darimu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nial? Atau biar kuubah pertanyaannya, kalian pernah tidur bersama? Anak itu anakku?"Aku merasa muak. "Pergi dari sini!"Dia juga ikut emosi. "Kenapa? Nggak berani jawab?

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 5

    Di lorong rumah sakit, kami berpapasan dengan Stevin.Dia baru sadar, lalu langsung berhenti dan menoleh, bertanya dengan tidak percaya, "Nial?"Nial meliriknya dengan dingin, lalu terus berjalan ke depan."Nial, turunkan Eirene! Dia istriku, kamu nggak punya hak membawanya pergi!"Aku sampai tertawa mendengarnya, lalu berkata dengan lemah, "Pak Stevin, hukum mana yang mengatakan istri adalah milik suami? Memangnya suami boleh membatasi kebebasan istrinya?"Wajah Stevin langsung menjadi semakin masam.Aku memeluk leher Nial lebih erat dan berkata pelan, "Kita pergi.""Minggir."Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Dengan enggan, Stevin akhirnya menyingkir.Nial membawaku ke rumah sakit swasta dengan privasi yang sangat ketat. Setelah memeriksa, dokter mengatakan anakku sudah tidak ada.Aku mencengkeram pakaian Nial sambil menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil rapuh yang kehilangan rasa aman."Kak Nial ....""Sudah nggak apa-apa, aku ada di sini." Suara Nial juga tercekat.

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 4

    Setelah mendapat jawaban pasti, seluruh tubuhku membeku. Aku tertawa dan menangis bersamaan. Kenapa harus tepat di saat seperti ini?Perawat membantuku kembali ke ruang rawat dan mengingatkanku agar emosiku tidak terlalu bergejolak.Aku mengambil ponsel, lalu melihat Stevin memosting sebuah pernyataan.Dia mengatakan semua ini adalah sandiwara yang kurekayasa sendiri demi mencari popularitas. Katanya aku membayar seseorang untuk berpura-pura menelepon di acara itu dan dia sama sekali tidak mengenal mahasiswi itu.[ Hubunganku dan Eirene memang sudah nggak harmonis. Saat ini, kami sedang dalam proses perceraian. Tindakannya telah merusak reputasiku secara serius. Aku berhak menempuh jalur hukum untuk menuntutnya. ]Arah opini publik langsung berubah. Kolom komentar penuh dengan orang yang memakiku karena rela melakukan apa saja demi terkenal. Ada yang mengedit fotoku dengan tulisan "pelacur" yang besar di wajahku.Stevin mengirim sebuah rekaman suara. Dengan tangan gemetar, aku membukan

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 3

    "Bukan dia pelakunya." Stevin berkata dengan tegas, "Mustahil dia kenal teman-teman SMA-mu, apalagi mendapatkan foto-foto itu.""Kamu yang bersikeras membahas soal rasa suka diam-diam pada guru pria waktu SMA. Kamu seharusnya pikirkan baik-baik, dulu pernah menyinggung siapa, punya konflik dengan siapa, atau pernah melakukan hal memalukan apa.""Aku sudah hubungi akun itu dan menyuruh mereka hapus postingan aslinya. Masalah ini akan kutangani."Aku terpaku tak percaya. Hidungku langsung terasa perih dan sesak. "Maksudmu apa? Kamu pikir itu benaran? Kamu nggak percaya padaku, kamu pikir aku membohongimu?"Aku mencabut jarum infus, lalu turun dari ranjang. Kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing. Dia menahanku, lalu menekan tubuhku kembali ke atas ranjang."Kamu mau apa? Nggak sadar kalau kamu lagi demam? Apa gunanya memperdebatkan ini sekarang? Soal masa lalu, benar atau nggak, aku sama sekali nggak peduli."Dia menambahkan satu kalimat lagi. "Tapi fakta bahwa kamu nggak bisa hamil itu

  • Telepon Gadis Misterius Sebelum Siaran Usai   Bab 2

    Aku tertawa sinis. Lambungku sakit sampai tubuhku meringkuk di kursi. Aku tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Stevin mengambil obat lambung dari laci dan menyodorkannya padaku. Aku tidak menerimanya. Dia pun melemparkannya kembali dengan ekspresi dingin.Sesampainya di tempat tinggal Alice, di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status