LOGINDi dalam ruang bawah tanah markas operasional siber Himawan Group, aroma ozon dan derum kipas pendingin server raksasa mengisi udara yang dingin. Vanya Cedric mengusap wajahnya yang lelah, menyandarkan punggung pada kursi kerja ergonimisnya. Di hadapannya, belasan monitor canggih masih menampilkan grafik frekuensi yang perlahan kembali stabil setelah pertempuran dahsyat di langit Jakarta."Semua titik koordinat Pasak Sangkala sudah dinetralkan seratus persen, Den Satria," ujar Vanya melalui sambungan komunikasi terenkripsi. Jemari lentiknya mengetik beberapa baris kode penutup. "Sistem Aura-Link di seluruh wilayah Jabodetabek dan Jawa Tengah-tengah sudah kembali dalam status proteksi hijau. Tidak ada anomali frekuensi yang tersisa.""Terima kasih, Vanya. Istirahatlah, kamu sudah bekerja sangat keras malam ini," balas suara bariton Satria dari seberang saluran. Suaranya terdengar begitu tenang, membawa rasa aman yang meresap ke dalam hati Vanya.Vanya tersenyum tipis. "Siap, Den. Tapi.
"Tetap di belakang saya, Li!" pinta Satria tegas, suara baritonnya menggelegar tenang namun penuh dominasi di tengah kegelapan yang melanda Penthouse.Tanpa menunggu hitungan detik, Satria menghentakkan tumit kakinya ke atas lantai marmer.WUUUSSHH!Tato naga emas di dada bidang Satria membara sangat terang, memancarkan gelombang cahaya keemasan yang seketika mengusir hawa dingin menusuk di dalam ruangan. Pendar energi murni itu membentuk perisai transparan yang membentenginya bersama Liana, menolak tekanan gaib dari luar.Liana memeluk erat lengan kokoh suaminya dari belakang. Meski napasnya sempat tertahan karena sirat kejahatan yang begitu pekat, matanya tetap memancarkan keberanian. "Sat, jaringan komunikasi terputus total! Vanya dan Pak Hendra gimana?""Mereka aman di bawah perlindungan Aura-Link dan pengawal khusus," sahut Satria tenang. "Tapi musuh kali ini tidak mengincar jaringan siber kita, Li."Satria memejamkan mata sejenak, membiarkan kemampuan netrakawaskitan-nya menembu
Di ruang banquet utama yang megah dan dihiasi kemewahan lampu-lampu kristal, ratusan tamu undangan dari japoran pengusaha, pejabat, hingga tokoh masyarakat berdiri dan memberikan tepuk tangan yang sangat riuh saat Satria, Liana, dan Vanya melangkah masuk.Baskoro Himawan berdiri di atas podium utama, menatap putri tunggal dan menantunya dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga tiada tara."Hari ini," suara Baskoro bergema penuh wibawa melalui pengeras suara, "Himawan Group tidak hanya merayakan kejayaan bisnis dan rekor pertumbuhan aset tertinggi dalam sejarah. Hari ini, kita merayakan hadirnya era baru kepemimpinan yang membawa kedamaian, keberanian, dan pelestarian sejati bagi tanah air kita."Baskoro merentangkan tangannya, mengisyaratkan Satria dan Liana untuk naik ke atas panggung.Satria menggenggam jemari Liana, menuntun istrinya melangkah tegap menyusuri karpet merah. Setiap langkah kaki Satria memancarkan aura keagungan seorang pelindung murni yang tak tergoyahkan."Di
Iring-iringan mobil melaju mulus memasuki kawasan cagar budaya dan konservasi hijau di Jakarta Selatan. Hawa sejuk dari pepohonan tua yang rindang membentang luas, menyambut kedatangan sang penguasa baru dengan ketenangan yang menyejukkan jiwa.Puluhan pejabat tinggi, sesepuh adat dari Solo, hingga jajaran insan pers sudah berkumpul di pelataran utama pendopo konservasi. Begitu pintu mobil terbuka, Hendra dengan sigap berdiri memberi jalan.Satria melangkah keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Liana. Kehadiran pasangan itu seketika menarik perhatian seluruh hadirin. Satria yang tampil dengan kemegahan wibawa alaminya dan Liana yang memancarkan pesona anggun nan cerdas membuat suasana acara terasa kian bergengsi dan sakral.Baskoro Himawan melangkah cepat menghampiri mereka, merangkul bahu menantunya dengan binar mata yang memancarkan kebanggaan tiada tara."Satria, Liana!" sapa Baskoro dengan suara mantap. "Seluruh jajaran pemerintah daerah dan sesepuh ada
Sinar fajar keemasan menerobos halus melalui celah tirai tipis Penthouse Himawan Tower, membiaskan pendar hangat di atas seprai sutra putih yang berantakan. Keheningan pagi di lantai teratas ibu kota itu terasa begitu tenang, jauh dari riuk pikuk intrik dan bentrokan kekuatan yang baru saja mereka lewati.Liana terbangun perlahan. Dia menggeser tubuhnya sedikit, menyandarkan dagunya di atas dada bidang Satria yang kokoh dan terbuka. Di bawah permukaan kulit suaminya, tato naga emas itu tampak redup dan tenang, hanya memancarkan hangat suam-suam kuku yang memberikan rasa aman mutlak bagi Liana.Jemari lentik Liana terangkat, mengusap pelan pahatan rahang tegas Satria yang masih terpejam dalam tidur nyenyaknya. Senyuman paling bahagia terukir indah di bibir Liana."Melihat kamu semanis ini kalau lagi tidur... enggak akan ada yang percaya kalau semalam kamu baru saja meleburkan artefak gaib jadi abu," bisik Liana lirih, terkekeh pelan.Satria tidak membuka matanya, namun bibir tegasnya p
“Iya… iya… di situ… jangan berhenti…”Satria menggeram pelan. Tangan satu menahan pinggang Liana agar tetap menerima setiap dorongan, sementara tangan lainnya menyusup ke rambut istrinya, mencengkeram lembut dan menarik kepala Liana sedikit ke belakang.“Ngghh...Satria ... aahh... aku milikmu.” desah Liana di sela napasnya yang putus-putus. Suaranya sudah bergetar. “Selamanya… hanya kamu… hanya kamu, Satria…”“Ulangi,” perintah Satria serak, semakin cepat. “Bilang lagi.”“Aku milik kamu… ahh… selamanya… cuma kamu yang boleh… ngghh… masukin aku sedalam ini…”Satria menjawab dengan ciuman yang menelan setiap kata itu. Lidahnya menyusup masuk, menuntut, tangan kekarnya meremas payudara yang bergerak liar. Sementara pinggulnya terus bergerak tanpa ampun. Irama mereka semakin mendesak. Peluh mulai membasahi pelipis, punggung, dan dada mereka. Napas saling bertubrukan. Kulit saling melekat. “Satria… aku… aku mau…” suara Liana sudah hampir menangis. “Aku nggak kuat… ahh… mau keluar…”“Kelua







