Share

Bab 159

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-08-27 12:47:52

BRAKKK!

Pintu utama suite room itu hancur berkeping-keping. Debu kayu dan pecahan kaca beterbangan, mengiringi masuknya empat pria berotot tebal berbalut pakaian serba hitam dengan senjata api berperedam suara di tangan mereka.

"Sergap mereka! Jangan biarkan budak Faksi Himawan itu kabur!" teriak salah satu pengawal berwajah picak yang memimpin penyergapan.

Namun, Nagendra sudah bergerak lebih cepat. Dengan cahaya Naga Murni yang membakar sisa-sisa obat perangsang di dalam darahnya, refleks pem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 166

    Sosok merah tertawa, suara yang sama persis dengan tawa Satria. “Masih melindungi anak yang seharusnya milik kami? Klasik. Tapi kali ini kau tidak akan sempat.”Ia mengangkat tangan. DZAAAAARR!Gelombang energi merah pekat meledak. Satria menahan dengan perisai, tapi lantai di bawah kakinya retak. Hendra terpaksa menyingkir lebih jauh.“Den Satria,” kata Vanya lagi, suaranya hampir pecah. “Sinyal energi di ruang itu tidak stabil! Kalau kamu paksa terus, naga merah makin tau cara mengalahkanmu! Aku mohon, jangan dipaksa untuk terus menyerang!”Satria tidak menjawab. Ia melepaskan perisai dan menyerang balik dengan kecepatan penuh. SWUSSHH! CRAAKK! BRAKKK!Tombak emas berputar, menusuk bahu sosok merah, lalu menyabet kaki. Salinan itu terluka, tapi langsung pulih lebih cepat dari yang seharusnya.Hendra berbicara lagi, suara rendah. “Dia tidak bisa mati dengan mudah, Den. Trah Sangkala membuatnya dari potongan terkuat tubuhmu. Ditambah darah Naga Merah murni. Kau sedang melawan vers

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 165

    Sebuah bola energi terbang menuju orang itu. Tapi orang itu hanya menggeser tubuh sedikit. Bola itu menghantam dinding, membuat debu berterbangan.“Masih belum stabil,” gumamnya. “Racun naga merahnya masih mengganggu, kan, Den? Kamu terlalu berbahaya… buat semua orang, termasuk ayahmu.”Satria melangkah di antara mereka. “Cukup. Nagendra... Ayah bilang pergi, Nak!”Nagendra menatap ayahnya, napasnya memburu. “Yah…”“Pergi,” ulangi Satria lebih lembut. “Aku percaya kamu bisa melindungi ibu dan yang lain. Itu tugasmu sekarang.”Dari luar pintu, suara tembakan dan teriakan semakin dekat.Larasati mencoba bangkit, suaranya lemah. “Nagendra… c-cepat…”Nagendra menggigit bibir sampai berdarah. Akhirnya ia berlutut, mengangkat tubuh Larasati ke punggungnya. Cahaya di tubuhnya redup sedikit, dipaksa untuk stabil.Ia menatap orang itu sekali lagi. “Lo nggak akan selamat, Pak!”Orang itu hanya tersenyum. “Kita lihat saja nanti.”Nagendra berlari keluar membawa Larasati. “Hendra.” Satria menata

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 164

    “Aku nggak mau lari lagi, Bu. Aku mau bertarung.”Liana menarik lengan Nagendra lebih kuat. “Nagendra, dengarkan ibu! Kamu belum siap. Kekuatanmu masih tidak stabil!”“Aku siap, Bu. Jangan khawatir!” suara Nagendra meninggi, mata merah-emasnya berdenyut. “Aku udah lelah jadi korban yang cuma bisa disembunyiin. Kali ini aku yang lawan!”Satria berdiri di depan mereka, perisai energi emasnya membesar. “Nagendra, ini bukan soal berani atau takut. Ini soal waktu. Kalau kamu melepaskan keduanya sekarang, racun Naga Merah bisa menguasai—”Ledakan kedua mengguncang jendela. Kaca pecah. Bayangan hitam meloncat masuk.Larasati sudah di depan. Pedang peraknya berputar, memotong lengan penyerang pertama. “Dua di kiri! Tiga di kanan! Vanya, bagaimana situasi sekarang?!”Suara Vanya terdengar cepat dari komunikator. “Sistem keamanan aktif, tapi mereka sudah masuk ke area pengamanan. Ada enam sinyal di sisi timur, empat di utara. Den Satria, mereka membawa alat pengisap energi!”Ratu Pramudya berdi

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 163

    Di ruang kontrol, Vanya masih sibuk memantau pergerakan unggahan-unggahan di media sosial. Wajahnya tegang, jari-jarinya terus menari di atas konsol. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar—berita baru yang mulai menyebar dengan cepat."Den Satria!" panggil Vanya melalui komunikator. "Ada yang harus saya laporkan. Ini penting."Satria menekan tombol komunikator di telinganya. "Apa, Vanya?""Trah Sangkala sudah mulai menyebarkan data itu. Mereka mengumumkan kalau Nagendra campuran Naga Murni dan Naga Merah. Mereka menyebutnya... 'monster yang harus dimusnahkan'. Berita ini sudah mulai menyebar di semua media public."Satria mengepalkan tangannya, matanya menyala emas. "Vanya, aku butuh kamu un—""Tunggu, Den," potong Vanya, suaranya tiba-tiba berubah. "Ada yang aneh.""Apa?"Vanya terdiam sejenak, lalu suaranya kembali terdengar dengan nada bingung. "Tanggapan publik... mereka tidak memihak Trah Sangkala. Mereka... mereka membela Nagendra."Satria mengerutkan kening. "Apa maksudmu

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 162

    "Aku cuma takut... gimana kalau foto-foto itu terus menyebar?" suara Nagendra masih bergetar, meskipun pelukan Satria masih erat melingkari tubuhnya. "Gimana kalau mereka nggak berhenti? Gimana kalau reputasi Ayah hancur karena aku?"Satria melepaskan pelukannya, menatap putranya dengan mata yang tenang. "Dengar, Nak. Ayah sudah menghadapi lebih buruk dari ini. Trah Sangkala sudah mencoba menghancurkan Ayah berkali-kali. Tapi Ayah masih di sini. Dan Ayah masih berdiri."Nagendra menggeleng, air matanya masih mengalir. "Tapi ini beda, Yah. Ini... ini foto-foto aku. Ini aib keluarga. Orang-orang akan bilang Ayah gagal mendidik anak. Mereka akan—""Cukup," potong Satria dengan tegas, tapi lembut. "Ayah tidak peduli apa kata orang. Ayah cuma peduli mental kamu. Kamu masa depan kami, Nagendra!"Liana melangkah mendekat, meraih tangan Nagendra dan menggenggamnya erat. "Nagendra, lihat ibu. Ibu tidak marah. Ibu hanya khawatir. Dan ibu tahu kamu pasti sangat malu dan takut. Tapi kamu pulang.

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 161

    "Kakek... foto-foto itu... semuanya tersebar..."Suara Nagendra pecah, nyaris tak terdengar di antara embun pagi Gunung Lawu yang mulai menebal. Tangannya gemetar memegang ponsel, layar yang masih menampilkan unggahan-unggahan dengan foto dirinya dalam pelukan wanita asing. Jantungnya berdetak begitu kencang, seolah ingin meledak dari dadanya.Pak Baskoro mendekat, meraih ponsel dari tangan cucunya. Matanya yang tua dan tajam langsung menangkap gambar-gambar itu. Wajahnya tidak berubah—tetap tenang, tetap tegas—tapi di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh. Bukan marah pada Nagendra, tapi marah pada Trah Sangkala."Ini..." Pak Baskoro menghela napas panjang. "Mereka tidak pernah berhenti, bukan?"Nagendra tidak menjawab. Dadanya naik turun dengan cepat, dan air mata mulai mengalir di pipinya. Tapi kali ini, bukan karena malu—tapi karena ketakutan yang menghujam jauh di dalam hatinya."Kakek..." bisiknya, suaranya bergetar. "Ayah... Ayah pasti marah. Ayah pasti... nggak mau lagi ngakuin ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status