Share

Bab 5. PENYATUAN BATIN

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-05-18 17:53:15

Liana yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh indahnya yang molek dan sintal terjatuh tepat di atas ranjang, hanya beberapa sentimeter di atas tubuh Satria. Aroma wangi parfum mewah yang menguar dari tubuh Liana semakin memicu gejolak di dalam darah Satria.

"Arrgghhh!" Akal sehat Satria berteriak untuk tidak melakukan hal yang tak terduga. Ia mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak merusak kehormatan gadis di atasnya. Namun, akibat menahan benturan dua energi ekstrem yang dahsyat di dalam dadanya, tubuh Satria justru semakin bergetar hebat. Wajahnya yang tampan terlihat sangat tersiksa.

"Dingin... di dalam... sangat dingin..." racau Satria lagi, tubuhnya kini mendadak menggigil seolah membeku.

Melihat Satria yang tersiksa demi menyelamatkan nyawa ayahnya, hati Liana tersentuh. Hilang sudah rasa takut, berganti dengan rasa iba dan untuk menolong pemuda ini. Ia merebahkan tubuhnya di samping Satria, lalu melingkarkan kedua lengan untuk memeluk tubuh Satria dengan erat, berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri.

Begitu tubuh mereka melekat tanpa jarak, denyut di dada Satria sedikit melambat. Aura murni seorang wanita mulai menenangkan energi naga di dalam tubuhnya.

Namun, itu belum cukup. Energi itu masih mencari jalan keluar untuk menyatu dengan energi penyeimbang. Liana menatap wajah Satria yang berada sangat dekat dengannya. Jantungnya berdegup tak beraturan.

CUP!

Bibir lembut Liana menempel di atas bibir Satria yang panas.

Seketika, seperti ada aliran listrik yang menyengat, energi giok naga di dada Satria meledak dalam kepuasan. Sentuhan bibir itu memicu insting alpha sang naga yang selama ini tertidur. Satria yang setengah sadar tidak lagi sekadar pasrah, tubuhnya berbalik mengambil alih kendali dengan agresif.

Tangan kanan Satria yang besar dan hangat perlahan naik, menyusup ke balik rambut hitam Liana yang halus, menahan tengkuk gadis itu agar ciuman mereka semakin dalam

Sedangkan tangan kirinya bergerak turun ke pinggang ramping Liana, lalu merayap naik, membelai punggung pembawa aura penyeimbang itu dengan usapan yang lembut.

"Nghh..." Liana melenguh pelan di sela ciuman mereka. Tubuhnya mendadak lemas, kehilangan seluruh kekuatan untuk memberontak. Sentuhan tangan Satria di punggungnya memancarkan gelombang panas yang aneh.

Di tengah pagutan yang semakin menuntut, insting liar Satria semakin tidak terkendali. Tangan kirinya yang tadi membelai punggung Liana perlahan bergerak merayap ke samping, menyusup ke sela-sela dada mereka yang menempel rapat.

Telapak tangan Satria yang besar langsung bertumpu dan meremas gundukan kenyal di dada Liana dengan cukup kuat.

“Nghhh... aahhh!” Mata Liana langsung membelalat. Tubuhnya menegang seperti tersengat listrik, dan wajahnya memerah padam. Sensasi asing yang begitu intens langsung menyengat seluruh sarafnya. Ia ingin mendorong Satria, tapi cengkeraman tangan Satria di tengkuk dan remasan kuat di dadanya justru membuat seluruh persendian Liana mendadak lumpuh tak bertenaga. Ia hanya bisa pasrah menikmati sentuhan intim yang memabukkan itu.

"Liana... mmphh!" Satria memimpin ciuman panas selama beberapa menit, membiarkan energi panas di tubuhnya terserap dan dinetralisir sepenuhnya oleh kelembutan tubuh Liana.

Setelah gejolak energi di dadanya benar-benar mereda dan mengendap dengan tenang di dalam tato naganya, cengkeraman tangan Satria di tengkuk dan dada Liana perlahan melonggar. Suhu tubuhnya kembali normal, napasnya berubah menjadi embusan yang teratur, dan pemuda itu akhirnya jatuh tertidur dengan lelap.

Liana segera menarik tubuhnya dan terduduk di tepi ranjang dengan napas terengah-engah. Wajahnya luar biasa merah, dan jantungnya berdebar tidak karuan. Sambil merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, ia menatap pemuda yang kini tidur dengan sangat tenang di atas ranjang setelah merenggut ciuman pertama sekaligus kehormatan dadanya.

***

*TOK... TOK... TOK...*

"Satria? Apa kamu sudah bangun? Ini saya, Baskoro. Kalau sudah sehat, mari kita sarapan bersama," suara bariton Baskoro Himawan terdengar dari balik pintu, terdengar sangat bugar dan penuh energi.

Mendengar suara ayahnya, Liana seketika membeku. Matanya membelalak panik. Jantungnya yang tadinya berdegup karena canggung, sekarang berpacu karena ketakutan setengah mati. Ayahnya sama sekali tidak tahu kalau Liana menghabiskan malam di ranjang yang sama dengan Satria. Jika Pak Baskoro membuka pintu sekarang dan melihat penampilan Liana yang acak-acakan dengan kancing baju atas terbuka, tamatlah riwayatnya!

"S-Satria... bagaimana ini?" bisik Liana panik, suaranya hampir tidak keluar. Tubuhnya gemetaran sampai selimut yang ia pegang ikut bergetar.

Satria melihat kepanikan Liana. Berkat energi giok naga yang sudah seimbang, pikiran Satria kini menjadi sangat jernih dan tenang. Ia melirik ke sekeliling kamar mewah itu. Kamar tamu VIP ini memiliki kamar mandi dalam yang pintunya tersembunyi di balik lemari pakaian jati.

"Nona, masuk ke kamar mandi sekarang. Jangan bersuara," perintah Satria dengan suara berbisik yang tegas dan menenangkan.

Tanpa banyak bicara, Liana langsung melompat dari ranjang. Dengan menjinjing sepatu hak tingginya dan memegangi kerah kemejanya yang terbuka, ia berlari mengendap-endap masuk ke dalam kamar mandi.

*CEKLEK.*

Pintu kamar mandi tertutup rapat tepat di saat gagang pintu kamar utama mulai bergerak dari luar.

Satria dengan cepat merapikan sprei yang kusut, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya dengan senyuman ramah.

"Selamat pagi, Pak Baskoro," sapa Satria sopan.

Di depan pintu, Baskoro berdiri dengan kemeja santai. Wajahnya yang kemarin pucat pasi kini tampak segar kemerahan, senyumnya mengembang lebar. Begitu melihat Satria, Baskoro langsung menepuk pundak pemuda itu dengan kuat.

"Luar biasa! Satria, kamu tampak segar sekali pagi ini. Bagaimana kondisimu? Kemarin malam kamu tiba-tiba pingsan setelah menolongku, saya sampai cemas luar biasa," ujar Baskoro tulus.

"Sudah jauh lebih baik, Pak. Hanya kelelahan biasa," jawab Satria merendah.

Baskoro mengangguk-angguk kagum, lalu melongok sedikit ke dalam kamar. "Ah, syukurlah. Oh ya, apa kamu melihat Liana? Sejak subuh tadi saya cari di kamarnya tidak ada. Nomor ponselnya juga tidak aktif. Saya pikir dia menemanimu di sini."

Satria menahan senyumnya, melirik sekilas ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Ah... tadi malam Nona Liana memang sempat memeriksa kondisi saya bersama asisten Bapak. Setelah itu, sepertinya Nona kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Mungkin saat ini Nona sedang menyegarkan diri."

Baskoro mengangguk paham mendengar penjelasan Satria. Ia lalu melirik sebuah tas belanja mewah dari butik ternama yang sejak tadi ia pegang di tangan kirinya.

​"Satris, kamu kan ke sini tidak membawa pakaian ganti. Ini saya sudah pesankan satu set baju ganti yang baru untuk kamu. Ukurannya pasti. Pakai ini untuk sarapan nanti, ya," ujar Baskoro sambil menyerahkan tas itu dengan senyum tulus.

​"Terima kasih banyak, Pak Baskoro. Ini sangat membantu," jawab Satria tulus.

​"Sama-sama, Anak Muda. Ya sudah, bersiaplah. Saya tunggu di meja makan, jangan terlalu lama," kata Baskoro sembari menepuk bahu Satria sekali lagi sebelum akhirnya melangkah pergi menuju ruang makan.

"Nona Liana, Papamu sudah pergi. Kamu bisa keluar sekarang."

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Liana yang masih merah padam seperti kepiting rebus. Namun matanya tak sengaja melihat barang Satria yang menyembul di balik celana denimnya.

"Jangan dilihatin terus, Non!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 258

    Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 257

    Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status