Share

Bab 6

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-07-12 17:00:19

Liana buru-buru mengalihkan pandangannya ke dinding. Pipinya yang semula sudah merah kini terasa makin panas, seperti disiram minyak mendidih.

"K-siapa juga yang ngeliatin! Pede banget kamu!" semprot Liana dengan suara tertahan, mencoba menutupi kegugupannya. Tapi matanya tidak bisa bohong; jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

Satria terkekeh pelan. Dia melirik ke bawah, lalu dengan santai membenarkan posisi celana denimnya yang memang tercetak jelas akibat sisa insting alpha yang belum sepenuhnya padam. "Ya lagian, matanya enggak kedip gitu. Kalau mau tanggung jawab lagi juga saya enggak keberatan, Nona."

"Satria! Mulutnya ya!" Liana melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah kesal, meskipun kakinya sebenarnya masih agak lemas. Kemejanya yang berantakan masih ia pegang di bagian kerah agar tidak melorot.

Satria justru berjalan mendekat. Langkahnya yang tegap membuat Liana refleks mundur setapak demi setapak, hingga punggungnya membentur pintu kamar mandi yang kembali tertutup. Kamar mandi mewah itu cukup luas, dengan pencahayaan temaram yang entah kenapa malah membuat suasana kembali intim.

"Kamu mau apa lagi?" bisik Liana, mendongak menatap Satria yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Aroma tubuh Satria yang maskulin kembali menyerbu indra penciumannya.

"Netralin sisa energinya, Nona. Di dalam sini masih agak anget," ucap Satria dengan suara berat yang serak.

Sebelum Liana sempat membalas, tangan besar Satria sudah bertumpu di pinggangnya, menarik tubuh ramping itu hingga kembali menempel tanpa jarak. Liana tersentak. Sentuhan di pinggangnya mengirimkan sinyal kejut yang membuat sistem pertahanan tubuhnya runtuh seketika.

"Satria, jangan... nanti Papa balik lagi," lirih Liana, tapi suaranya sama sekali tidak terdengar seperti penolakan.

"Pak Baskoro sudah di ruang makan. Kamar ini kedap suara," bisik Satria tepat di telinga Liana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Cup.

Satria tidak memberikan ruang untuk berdebat. Bibirnya kembali mengunci bibir lembut Liana. Berbeda dengan yang pertama yang penuh kepanikan, ciuman kali ini terasa lebih ritmis dan menuntut. Satria memagutnya dengan perlahan namun dalam, menghisap sisa rasa manis yang tertinggal dari malam tadi.

"Mmph..." Liana melenguh pelan. Kedua tangannya yang semula berniat mendorong dada Satria, perlahan justru merambat naik dan mencengkeram bahu kokoh pemuda itu.

Napas mereka mulai memburu, berkejaran di dalam ruangan yang sunyi. Satria mengangkat tubuh Liana sedikit, mendudukkan gadis itu di atas pinggiran wastafel marmer yang dingin. Kontras antara marmer yang dingin dan sentuhan tangan Satria yang panas membuat Liana mendesah di sela ciuman mereka.

Tangan kiri Satria bergerak lincah. Kancing kemeja Liana yang memang sudah terbuka sebagian memudahkan jemari kekar itu untuk menyelinap masuk ke dalam. Begitu telapak tangan Satria menyentuh kulit halus di perut Liana lalu merayap naik ke atas, tubuh Liana melengkung refleks.

"Ah... Satria, pelan-pelan..." bisik Liana dengan mata setengah terpejam, napasnya tersengal-sengal.

"Kamu wangi banget, Liana," gumam Satria, beralih mencium leher jenjang Liana, meninggalkan jejak panas di sana.

Tangan Satria akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Remasan kali ini lebih berirama, mengikuti ritme napas Liana yang semakin tidak beraturan. Setiap remasan kuat dari tangan Satria membuat Liana mencengkeram rambut hitam Satria dengan erat, menahan sensasi nikmat yang luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aliran energi giok naga di tubuh Satria terasa mengalir hangat lewat sentuhan itu, membuat Liana merasa melayang.

Selama hampir lima belas menit, kamar mandi itu menjadi saksi bisu pergulatan gairah yang panas namun terkendali. Satria tahu batasannya; dia tidak ingin merusak Liana lebih jauh sebelum waktunya, namun energi naga dalam dirinya memang menuntut penyaluran fisik yang intim untuk benar-benar stabil.

Setelah kepuasan batin itu tercapai, Satria perlahan melepaskan pagutannya. Dia menyatukan dahinya dengan dahi Liana, sama-sama mengatur napas yang memburu. Air wastafel yang sengaja dinyalakan kecil oleh Satria mengalir, menyamarkan suara desahan mereka.

"Udah... cukup," kata Liana dengan napas satu-satu. Wajahnya benar-benar matang seperti kepiting rebus. "Aku harus pergi sekarang."

Satria tersenyum, mengusap sisa saliva di sudut bibir Liana dengan ibu jarinya. "Pakaianmu berantakan. Rapikan dulu."

Liana buru-buru turun dari wastafel, melihat pantulan dirinya di cermin. Rambutnya acak-acakan, bibirnya sedikit bengkak, dan kemejanya benar-benar tidak karuan. Dengan tangan gemetar, ia membenarkan pakaiannya dan mengancingkan kembali kemejanya hingga rapi.

"Aku lewat jalan belakang. Jangan sampai Papa curiga," ujar Liana ketat.

"Iya, Nona. Hati-hati. Jangan sampai ketahuan pelayan," balas Satria santai, sambil mulai membuka baju lamanya untuk mandi menggunakan fasilitas yang ada.

Liana membuka pintu kamar mandi sedikit, mengintip ke arah kamar tidur yang sudah kosong. Setelah dirasa aman, dia keluar dengan langkah seribu, menjinjing sepatu hak tingginya, lalu membuka pintu penghubung ke lorong belakang yang biasa digunakan oleh pelayan untuk mengantar pakaian laundry. Langkah kakinya terdengar cepat dan terburu-buru di atas lantai kayu koridor belakang, menuju kamarnya sendiri yang berada di sayap kiri rumah mewah tersebut.

***

Setengah jam kemudian, Satria sudah rapi dengan pakaian baru pemberian Baskoro. Kemeja polo berwarna biru tua dan celana kain hitam itu pas sekali di tubuhnya yang tegap dan atletis. Rambutnya yang masih agak basah disisir rapi ke belakang.

Dia melangkah menuju ruang makan utama yang terletak di bagian tengah mansion mewah keluarga Himawan. Meja makan panjang dari kayu jati itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan sarapan; mulai dari nasi goreng premium, ayam betutu, hingga potongan buah segar.

Baskoro sudah duduk di kursi utama, sedang membaca koran bisnis pagi itu sambil menyesap kopi hitamnya.

"Pagi, Pak Baskoro," sapa Satria sambil melangkah mendekat.

Baskoro mendongak, lalu melipat korannya. "Ah, Satria! Sini, duduk. Wah, pas sekali bajunya di kamu. Kelihatan makin gagah."

"Terima kasih, Pak. Kebetulan ukurannya memang cocok," jawab Satria sambil menarik kursi di sisi kanan Baskoro.

Tepat saat Satria duduk, terdengar suara langkah kaki yang anggun dari arah koridor utama. Liana berjalan masuk ke ruang makan. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun terusan kasual berwarna pastel. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, dan riasan wajah tipisnya mencoba menyembunyikan rona merah yang sebenarnya belum sepenuhnya hilang.

"Pagi, Pa," sapa Liana, langsung mengambil tempat duduk di seberang Satria. Dia berusaha keras untuk tidak menatap mata pemuda itu.

"Pagi, Sayang. Nah, ini dia. Baru mau Papa suruh pelayan panggil kamu. Dari mana saja kamu? Tadi Papa cek ke kamar kosong," tanya Baskoro sambil mengambilkan nasi goreng untuk dirinya sendiri.

Liana agak tersentak, tangannya yang hendak mengambil sendok sempat tertahan di udara selama satu detik. "Ah... itu, Pa. Tadi Liana agak pusing, jadi jalan-jalan sebentar ke taman belakang cari angin segar. Terus langsung mandi."

"Oh, pusing? Kamu kurang tidur pasti karena mikirin Papa kemarin, ya? Maaf ya, bikin kamu repot," kata Baskoro dengan nada menyesal.

"Enggak apa-apa, Pa. Yang penting Papa sekarang sudah sehat," jawab Liana cepat, matanya melirik sekilas ke arah Satria yang sedang menyendok nasi goreng dengan wajah tanpa dosa. 'Sialan ini cowok, tenang banget mukanya,' batin Liana gemas.

Satria yang merasa diperhatikan, sengaja mendongak dan menatap Liana lurus-lurus. Dia memberikan senyuman tipis yang sarat akan makna. Liana langsung membuang muka, berpura-pura sibuk dengan potongan buah di piringnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 258

    Ruang istirahat masih terasa hangat ketika tablet di meja tiba-tiba bergetar hebat.Layar menyala sendiri. Wajah Vanya muncul, pucat dan tegang. “Den Satria, ada lonjakan sisa energi yang sangat besar di Tanjung Priok. Cirinya sama dengan yang dulu muncul di Puncak dan Menteng, tapi jauh lebih kuat. Dan ada titik kedua… tepat di bawah kita. Lantai basement B3. Lingkaran mantra sedang aktif.”Satria langsung berdiri. “Di bawah gedung ini?”“Dia diam selama seluruh prosesi. Menunggu semua orang lengah.”Nagendra sudah bergerak menuju pintu. “Ibu dan Aurelia baru saja turun lewat lift utama.”“Larasati, kunci semua lift sekarang!” perintah Satria lewat alat komunikasi. “Vanya, matikan listrik cadangan di B3. Nagendra, ikut aku. Kita lewat tangga darurat.”Mereka berlari.Lampu darurat menyala merah di sepanjang tangga. Semakin turun, semakin berat udara yang mereka hirup. Bau tanah basah dan besi sudah terasa menyengat dari tiga lantai sebelum sampai. Seolah ada sesuatu di bawah sana yan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 257

    Gemuruh tepuk tangan dan penghormatan di Aula Agung Gedung Pertemuan Pusat Jakarta perlahan mereda saat Nagendra mengangkat satu tangan. Pendar ganda merah-emas di matanya menyurut, berganti dengan sorot mata yang tenang, jernih, namun menyimpan ketegasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, aura pimpinan yang ia pancarkan berdiri sejajar di samping nama besar ayahnya, Satria Wisesa.Setelah prosesi pengangkatan Pangeran Mahkota selesai, para tetua trah dan pejabat faksi dibubarkan untuk segera mengeksekusi perintah pembersihan jaringan sisa-sisa Aliansi. Satria, Liana, Nagendra, dan Aurelia melangkah kembali menuju area privat gedung, dikawal ketat oleh Larasati, Ratu Pramudya serta Vanya.Saat memasuki ruang istirahat khusus Patriarch, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak. Wajahnya yang semula tegang saat berhadapan dengan puluhan tetua kini mengendur. Ia menoleh menatap Nagendra, jemarinya yang ramping mengusap lengan jubah kebesaran hitam yang dikenakan pemuda itu."Pangeran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status