登入Netra Kawaskithan-nya terus memindai lapak-lapak loakan. Di sebuah meja yang menjual jam-jam dinding rusak, netra dewanya menangkap sekelebat aura kuning keemasan yang cukup bersih, meski tidak terlalu pekat.
Aura itu memancar dari sebuah jam saku kuno berbahan kuningan yang rantainya sudah putus dan permukaannya tertutup kerak hitam. Satria mendekat dan mengaktifkan kemampuan tembus pandang. Netranya menembus casing jam tersebut. Mesin bagian dalam, roda-roda giginya ternyata terbuat dari perak murni dan ada ukiran halus bertuliskan "Chronometre Heuer - 1920". Mesinnya hanya tersangkut sepotong kotoran kecil, kalau dibersihkan dengan minyak jam, barang kuno ini akan hidup kembali. Taksiran nilai Netra Kawaskithan untuk jam saku ini jika dijual ke kolektor barang antik antik berkisar 5 hingga 7 juta rupiah, padahal pedagangnya hanya memasang harga barang rongsokan. "Mas, jam rusak ini berapa?" tanya Satria pada pemuda pemilik lapak. "Wah, itu sudah mati, Mas. Rantainya juga nggak ada. Kasih lima puluh ribu saja buat bayar parkir," jawab si pedagang acuh tak acuh. Satria langsung mengeluarkan uang lima puluh ribu terakhir di kantongnya. Kini, di dalam tas kainnya, ia memiliki sebuah batu giok mentah dan sebuah jam saku mewah era kolonial yang tersembunyi. Total modalnya tidak sampai dua ratus ribu, tapi nilai aslinya mencapai puluhan juta rupiah. *** Setelah mengganti pakaiannya dengan kemeja flanel bersih yang dipadu celana denim, Satria berjalan menyusuri trotoar di pinggiran Solo. Tak lupa ia juga mencukur rambutnya agar terlihat lebih rapi. Di dalam ranselnya, batu giok mentah seberat 2 kilogram itu tersimpan aman. Ia baru saja keluar dari sebuah toko kelontong untuk membeli beberapa keperluan harian. Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam melambat di sampingnya. Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan wajah cantik Liana Himawan yang tampak sedikit lelah dan cemas. Liana sengaja turun ke area pasar tradisional dan toko herbal di Solo untuk mencari obat alternatif atau suplemen tradisional demi menjaga kondisi jantung ayahnya yang belakangan ini sering tidak stabil. Siapa sangka, di tengah jalan ia justru melihat sosok pemuda yang sangat familier. Liana sempat ragu karena penampilan pemuda itu kini jauh lebih rapi, bersih, dan memancarkan karisma ketampanan yang kuat. Namun, sorot mata yang tajam dan jernih itu tidak salah lagi. "Satria? Kamu... Satria, kan?" tanya Liana sambil membuka pintu mobil. Satria menoleh dan tersenyum tipis. "Benar, Nona Liana. Senang bisa bertemu lagi." Melihat Satria, rona cemas di wajah Liana sedikit memudar, digantikan rasa senang yang tulus. "Wah, penampilanmu berubah banyak, aku hampir pangling! Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kemarin aku belum sempat berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Papa dari penipuan Koh Asun. Kebetulan rumah Papa yang di Solo tidak jauh dari sini. Mau ikut denganku? Papa pasti sangat senang melihatmu." Satria sempat berpikir sejenak, namun denyut hangat dari giok naga di dadanya seolah memberi sinyal setuju. "Baiklah, Nona. Suatu kehormatan untuk saya." *** Mobil mewah itu membawa mereka memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan pengamanan ketat di pinggiran Kota Solo. Rumah singgah keluarga Himawan berdiri megah dengan arsitektur klasik modern. Begitu melangkah masuk, Satria disambut langsung oleh Baskoro Himawan yang sedang duduk di sofa ruang tamu yang luas. Meskipun wajah pria paruh baya itu agak pucat karena kondisi kesehatannya, matanya langsung berbinar saat melihat Satria datang bersama putrinya. "Anak muda! Akhirnya kita bertemu lagi," puji Baskoro sambil berdiri dan menjabat tangan Satria dengan erat. "Liana sering menceritakanmu sejak kejadian di toko tempo hari. Penampilan kamu sekarang benar-benar mencerminkan seorang pemuda berbakat!" Baskoro yang sangat menggandrungi barang antik langsung membawa Satria ke ruang galeri pribadinya di dalam rumah. Di sana berjajar lemari-lemari kaca berisi keramik, keris, dan arca kuno. Baskoro dengan penuh semangat memperlihatkan koleksinya, dan Satria sesekali memberikan analisis akurat menggunakan Netra Kawaskithan-nya, membuat Baskoro semakin kagum. Namun, di tengah-tengah tawa mereka, langkah Baskoro mendadak terhenti. Wajah sang konglomerat tiba-tiba memucat pasi. Tangannya mencengkeram dada dengan kuat, napasnya memburu dan putus-putus. Tubuhnya mulai limbung, hampir ambruk ke lantai. "Papa!!" Liana menjerit panik, langsung berlari menahan tubuh ayahnya yang lemas. Melihat situasi kritis itu, tanpa sadar Satria melangkah maju. Otot-otot tubuhnya bergerak sendiri, tangan kanannya langsung mengarah dan menempel tepat di atas dada kiri Baskoro. Seketika, Netra Kawaskithan aktif secara maksimal. Pandangannya menembus kulit dan tulang dada Baskoro, memperlihatkan organ jantung yang sedang berjuang keras. Di sana, Satria melihat ada gumpalan darah hitam yang menyumbat aliran pembuluh darah utama jantung Baskoro. WUZISSS! Liontin giok naga di dalam dada Satria bergejolak hebat. Tato naga di kulitnya memancarkan suhu panas yang membakar. Energi murni bernuansa hijau mengalir deras dari dada Satria, merambat melalui lengan kanannya, dan langsung masuk menyelimuti jantung Baskoro yang tersumbat. Liana yang melihat hal itu malah makin panik. Air matanya terus menetes, sementara tangannya gemetar hendak mengambil ponsel untuk menelepon ambulans. "Satria, apa yang kamu lakukan?! Aku... aku harus telepon ambulans sekarang!" Namun, sebelum Liana sempat memijat nomor darurat. Baskoro membuka matanya yang tadi sempat terpejam, menggerakkan tangan kirinya yang masih lemah. Ia memberikan kode isyarat tangan agar Liana berhenti dan jangan mengganggu konsentrasi Satria. Baskoro merasakan sensasi luar biasa. Suhu panas yang dialirkan dari tangan Satria sama sekali tidak menyakitinya. Sebaliknya, hawa hangat itu perlahan-lahan mengikis dan menghancurkan gumpalan darah yang menyumbat jantung. Rasa sesak yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan mendadak sirna. Napas Baskoro perlahan menjadi teratur dan wajahnya kembali memerah segar. Hanya dalam waktu beberapa menit, Satria menarik kembali tangannya. Baskoro mengembuskan napas lega, lalu duduk di kursi dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan sehat dari sebelumnya. "Papa... Papa tidak apa-apa?" tanya Liana dengan suara tangis yang tertahan, langsung memeluk ayahnya di depan Satria. "Liana, Papa merasa tubuh Papa enakan. Sumbatan di jantung kayaknya sudah hilang," bisik Baskoro dengan takjub. Ia menatap Satria dengan pandangan rasa syukur yang tak terhingga. "Satria, kamu... kamu benar-benar dewa penolongku." Namun, Satria tidak bisa membalas ucapan itu. Wajahnya kini memerah, keringat bercucuran deras dari pelipis. Napasnya memburu tak beraturan. Satria belum tahu kalau energi giok naga kuno memiliki sifat 'Yang ' (panas) yang sangat murni. Setelah digunakan untuk menyembuhkan orang, energi itu membutuhkan penstabil atau penyeimbang 'Yin' untuk meredakan gejolaknya di dalam tubuh. Karena Satria belum tahu cara mengendalikannya, energi panas itu berbalik menyerang organ dalamnya sendiri. Pandangannya berputar, dan tubuhnya langsung limbung tak berdaya. "Satria!" Liana berteriak, dengan sigap menahan tubuh Satria yang hampir terjatuh. Saat kulit mereka bersentuhan, Liana terperanjat karena suhu tubuh Satria terasa sangat panas seperti demam tinggi. "Liana, cepat bantu dia!" perintah Baskoro yang juga panik melihat penyelamatnya tumbang. "Panggil asisten rumah tangga, bawa Satria ke kamar tamu VIP di lantai bawah sekarang juga!" Dengan dibantu oleh seorang asisten pria berbadan tegap, tubuh Satria yang setengah sadar digotong dan dibaringkan di atas ranjang empuk kamar tamu yang mewah. Setelah memastikan Satria berbaring, Baskoro menyuruh asisten pria tersebut keluar untuk mengambilkan kompres air es, menyisakan Liana yang berjaga di dalam kamar. Begitu pintu kamar tamu VIP tertutup rapat, kesadaran Satria semakin menipis. Otaknya dipenuhi oleh hasrat dan insting liar yang dipicu oleh energi giok naga yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Energi panas yang baru saja ia gunakan untuk menghancurkan sumbatan jantung Pak Baskoro kini berbalik membakar organ dalam tubuhnya sendiri. "Panas... dingin..." Satria meracau dengan napas yang memburu. Melihat sosok Liana yang berada di dekat ranjang, tangan Satria bergerak refleks digerakkan oleh insting sang naga. Cengkeramannya yang kuat menarik pergelangan tangan Liana. "Aah! Satria—"Satria memicingkan matanya. Dia menerima tablet tersebut dari tangan Liana, mengusap layarnya dengan ibu jari yang kokoh. "Dua belas persen... Itu persis jumlah saham minoritas yang sebelumnya dipegang oleh gabungan konsorsium tiga taipan Jakarta—Tirta, Hasyim, dan Sofyan.""Tapi bukannya mereka bertiga sudah tunduk penuh sama kamu setelah peristiwa di Kempinski dan kekalahan Mbah Kromo?" tanya Liana bingung. matanya membelalak menatap suaminya. "Kenapa tiba-tiba mereka berani melakukan aksi bunuh diri finansial kayak begini? Ini sama saja mereka memotong leher mereka sendiri!"Satria tidak langsung menjawab. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak mengarahkan pikirannya pada analisis pasar saham, melainkan mengalirkan kesadarannya ke bawah lantai kayu tempat mereka berpijak.Tato naga emas di dada Satria berdenyut hangat. Pendar cahaya keemasan yang sangat tipis berkilat di balik kemeja putihnya.Huummm...Getaran batin Satria merambah jauh meninggalkan perbukitan Solo, melinta
Di dalam ruang rapat utama yang megah, Baskoro Himawan berdiri di ujung meja panjang, menatap kedatangan menantu dan putri tunggalnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bangga yang luar biasa. Seluruh jajaran direksi dan investor papan atas berdiri memberikan tepuk tangan riuh saat Satria melangkah masuk.Pemuda yang dulunya dipandang sebelah mata itu kini telah menjelma menjadi sosok pemimpin agung—seorang pelindung murni yang tidak hanya menguasai strategi bisnis tingkat tinggi, tetapi juga memegang kendali atas kestabilan energi tanah di mana kekayaan mereka berdiri."Hari ini," Baskoro membuka suara dengan tegas setelah seluruh hadirin kembali duduk, "Himawan Group tidak hanya mencatatkan rekor pertumbuhan aset tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, melainkan resmi memulai era baru di bawah kepemimpinan Satria dan Liana."Baskoro menatap Satria dengan binar mata penuh kepercayaan mutlak. "Satria telah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita meng
Sebelum Mbah Kromo sempat melepaskan mantranya, Satria sudah melesat maju bagai kilat keemasan—siap meruntuhkan pertahanan musuh besarnya demi melindungi wanita yang dicintainya dan tanah kelahirannya dari kegelapan.Gerakan Satria melipat jarak dalam sekejap mata. Pendar cahaya keemasan yang membungkus tubuhnya membelah kabut hijau milik Mbah Kromo Singo.Mbah Kromo yang panik menghentakkan tongkat Ular Kepala Tiga ke depan, menyemburkan gumpalan racun hitam pekat berbentuk rahang naga laut yang menganga lebar. Namun, Satria bahkan tidak mengedipkan mata. Tangan kanannya yang mengepal erat dipenuhi energi murni yang begitu padat hingga udara di sekitarnya bergetar hebat.BUMMM!Pukulan Lengan Naga Satria menghantam tepat di tengah gumpalan racun hitam tersebut. Ledakan energi murni seketika menyapu bersih seluruh hawa kotor Mbah Kromo. Pukulan itu melaju tanpa hambatan dan menghantam keras bagian tengah tongkat kayu berukir milik sang dukun tua.KREK... PRANG!Tongkat pusaka berusia
Gema gamelan dan gelak tawa tamu undangan di pendopo depan masih terdengar samar, namun di sudut taman belakang kediaman Himawan, keheningan mendadak terasa janggal.Angin sore yang semula berembus lembut tiba-tiba berembus kencang, membawa hawa dingin yang tak lazim. Wangi melati yang memenuhi area taman perlahan terkikis oleh aroma amis air laut dan bau kemenyan terbakar yang pekat.Liana yang sedang menyandarkan kepala di dada Satria refleks mendongak. Tubuhnya merinding hebat saat merasakan perubahan suhu yang drastis."Sat..." lirih Liana, cengkeraman tangannya di jas beskap Satria seketika mengencang. "Kenapa dadaku mendadak sesak banget? Angin ini... rasanya aneh."Satria tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya memicing tajam menatap ke arah sudut dinding benteng tua di ujung taman. Tato naga emas di dada bidangnya yang semula berdenyut tenang kini membara panas, memancarkan pendar keemasan tipis yang menembus kain beskap hitamnya.Batin naga murni di dalam tubuh
Tepuk tangan membahana memecah keheningan. Di barisan depan tamu VIP, tampak tiga taipan Jakarta—Tirta Wijaya, Hasyim, dan Sofyan—ikut bertepuk tangan dengan raut wajah penuh kepatuhan. Kematian Ki Brojo dan ketegasan Satria di Hotel Kempinski telah memutus habis niat kotor mereka, menggantikannya dengan rasa hormat dan ketakutan mutlak pada sang naga pelindung.Setelah prosesi sambutan resmi selesai, Satria dan Liana melangkah turun dari panggung utama untuk menyapa para tamu undangan di pelataran pendopo. Hendra berjalan beberapa tindak di belakang mereka dengan keperkasaan dan kewaspadaan penuh, menjaga ruang gerak sang calon majikan utama.Ki Samudro bersama belasan sesepuh adat Keraton Solo mendekati Satria. Pria paruh baya berbatik lurik itu membungkuk dalam-dalam dengan kedua telapak tangan terkatup di dada."Selamat, Den Satria, Mbak Liana," ucap Ki Samudro dengan suara bergetar haru. "Tanah Mataram tersenyum malam ini. Penyatuan Anda berdua bukan hanya menyatukan dua insan, m
Mobil mewah yang membawa Satria dan Liana bergerak membelah jalanan Kota Solo yang mulai dibasahi rintik hujan sore. Di jok belakang, keheningan melingkupi mereka berdua. Bukan keheningan yang canggung, melainkan ketenangan mendalam dari dua insan yang baru saja melintasi berbagai badai besar bersama.Satria menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon asam tua dan bangunan bergaya arsitektur Jawa klasik yang melintas lambat. Di tanah inilah, petualangan mereka dimulai dari kesederhanaan. Kini, setelah melumpuhkan ancaman Ki Brojo, menundukkan pilar tiga taipan Jakarta, hingga menyelaraskan kembali nadi bumi Mataram, Satria merasakan gejolak energi di dalam dadanya tidak lagi membara liar. Energi naga itu telah berada pada titik keseimbangan mutlak—tenang, kokoh, dan berwibawa.Satria berpaling, mengamati wajah Liana dari samping. Putri tunggal konglomerat Baskoro Himawan itu tampak begitu anggun dengan sapuan rias tipis dan senyuman lembut yang menempel di bibirnya. Liana tid







