로그인"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.”
Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. "S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. "Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya.Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah.
Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis yang ia kenakan. Saat jarinya menyentuh area sensitifnya yang membengkak dan tegang, Alya memejamkan mata rapat-rapat. "Ngh... ah!" Rintihan pasrah itu lolos begitu saja dari bibir Alya. Di balik telepon, terdengar hembusan nafas Dewa yang memburu halus. "Bagus. Sekarang berikan penekanan perlahan pada bagian atasnya, Alya. Pijat melingkar untuk merangsang relaksasi pembuluh darah yang tersumbat." "S-sakit, Pak... p-pelan..." bisik Alya tersengal-sengal, menahan erangan agar tidak terdengar hingga keluar kamar. "Tahan. Jika kamu berhenti sekarang, rasa kram itu akan mengunci otot vaginamu lebih parah," tegur Dewa tegas, namun suaranya yang serak melancarkan intimidasi sensual yang aneh. "Terus lakukan. Gerakkan jarimu lebih cepat." Alya menuruti setiap bisikan perintah Dewa bagaikan wanita yang terhipnotis.Di bawah bimbingan suara tegas sang CEO dari balik telepon, gerakan jemari Alya yang semula canggung berubah menjadi irama pasrah. Rasa sakit yang semula membakar hebat perlahan-lahan terurai, berganti dengan gelombang sensasi asing yang menyengat hingga ke ujung saraf pinggulnya.
"Nghh... M-Mas... ah, Pak Dewa...!" Alya meliukkan tubuhnya di atas sprei, mencengkeram kain bantal erat-erat saat pelepasan fisik yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya seketika meledak di dalam tubuhnya. Napas Alya berburu berat, dadanya naik turun tajam. Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang dengan peluh membasahi lehernya.Rasa ngilu dan berdenyut menyiksa yang tadi hampir membuatnya gila kini telah menguap, berganti dengan kelegaan fisik yang teramat dalam.
Suara kekehan pelan kembali terdengar dari gagang telepon. "Bagaimana, Alya? Rasa sakitnya sudah hilang?" tanya Dewa santai. Alya menarik napas panjang dengan mata terpejam, menyadari betapa buruknya situasi yang baru saja terjadi. "S-sudah... terima kasih, Pak..." cicitnya pelan, diliputi rasa malu yang membumbung tinggi. "Tidak perlu berterima kasih," sahut Dewa rendah. "Bantuan medis jarak jauhku ini tentu tidak gratis. Besok pagi tepat pukul delapan, datang ke ruanganku sebelum karyawan lain tiba. Jangan terlambat satu detik pun." Sebelum Alya sempat membalas, Dewa sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Alya memeluk dadanya di atas ranjang yang sepi, menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan jantung yang berdebar kencang.....
Esok harinya pukul tujuh empat puluh lima pagi.
Koridor di lantai tertinggi nampak sunyi. Hanya suara ketukan hisis sepatu tumit tinggi milik Alya yang memantul di atas lantai.
Semalam, Alya hampir tidak bisa memejamkan mata. Rasa malu akibat menuruti instruksi panas Dewa dari balik telepon terus membayangi pikirannya.Namun, dia tidak punya pilihan. Ancaman dan penagihan imbalan dari pria itu memaksanya berdiri di depan pintu yang bertuliskan CEO ini tepat waktu.
Dengan tangan gemetar, Alya mengetuk pintu dua kali. "Masuk." Alya mendorong pintu pelan. Dewa sudah duduk di balik meja kerja megahnya. Sebuah cangkir kopi hitam masih mengepul di sisinya. "Kamu tepat waktu, Alya," ujar Dewa tanpa mendongak dari dokumen di tangannya. Suara beratnya seketika memutar kembali memori bisikan telepon semalam di kepala Alya. Alya melangkah mendekati meja, berusaha mempertahankan sikap profesionalnya meski lututnya terasa lemas. "Saya sudah datang sesuai perintah Bapak. Apa yang perlu saya kerjakan?" Dewa menyandarkan punggungnya di kursi eksekutif, menyilangkan jari tangannya di atas meja, lalu menatap Alya dari atas ke bawah secara terukur. Tatapannya yang tajam bak elang membuat Alya merasa ditelanjangi di tempat. "Bagaimana kondisi tubuhmu pagi ini?" tanya Dewa santai, seolah bertanya soal cuaca. Pipi Alya memanas seketika. Dia menundukkan kepala, enggan menatap iris mata hitam milik atasannya. "S-sudah membaik, Pak. Rasa sakitnya tidak muncul lagi." "Tentu saja membaik. Pelepasan yang kubantu semalam meredakan ketegangan pembuluh darahmu dengan sempurna," sahut Dewa dingin. Pria itu lalu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga kini berdiri tepat di hadapan Alya. Alya refleks mundur satu langkah, namun Dewa justru makin memangkas jarak.Pria itu mengambil sebuah gulungan map dari saku jas lalu meletakkannya di tangan Alya.
"Apa ini, Pak?" tanya Alya bingung. "Perjanjian penyesuaian posisi," jawab Dewa tenang. "Mulai hari ini, kamu resmi dipindahkan dari staf keuangan biasa menjadi asisten pribadi CEO. Meja kerjamu ada di ruangan sebelah, tepat di balik pintu penghubung ruangan ini." Alya membelalak lebar. "Tapi Pak, sudah ada Pak Devan kenapa…” “Aku perlu dua, satu wanita satu pria,” potong Dewa cepat. Alya menatap Dewa enggan, “Tapi, Pak…” "Ini bukan tawaran, Alya. Ini imbalan atas bantuan jarak jauhku semalam," potong Dewa tajam, memotong protes Alya tanpa ragu. Pria itu memajukan tubuhnya, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan telinga Alya. "Sebagai pasienku, kamu harus berada di bawah pengawasanku. Dengan begitu, aku bisa memastikan kondisi kesehatan fisik kamu tetap stabil dan memastikan kamu tidak berpindah ke dokter lain," bisik Dewa rendah. Dada Alya berombak naik turun menahan emosi dan gejolak dalam dirinya. "Bapak memanfaatkan posisi Bapak untuk menekan saya! Apa maksudnya? Saya ini wanita bersuami Pak!" Dewa terkekeh pelan. Dia mengulurkan tangannya, mengusap helai rambut Alya yang menjuntai di pipinya dengan ujung jari, membuat Alya membeku seketika. "Istri dari pria yang menolak menyentuhmu selama dua tahun?" sindir Dewa menohok, menatap tepat ke dalam manik mata Alya yang mulai berair. "Status pernikahanmu tidak menyembuhkan rasa sakit di bawah sana, Alya. Hanya aku yang bisa." Dewa lalu menarik jarinya dan menunjuk dokumen di tangan Alya. "Tandatangani dokumen itu sekarang. Atau kamu lebih suka aku memanggil suamimu ke ruangan ini untuk menjelaskan kenapa istrinya membutuhkan terapi khusus di rumah sakit?” Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Air mata menetes di pipinya.Dewa Erlangga telah menguncinya dari segala sisi, memanfaatkan rahasianya, kerapuhan rumah tangganya, dan kekuasaannya sebagai CEO untuk mengikatnya.
“Anda gila, Pak Dewa Erlangga!”"A-apa, Pak Dewa? Saya tidak tahu..." cicit Alya terbata-bata. Matanya bergerak liar, menghindari tatapan pria yang masih mengurungnya di atas sofa.Dewa melepaskan kedua tangannya dari sisi kepala Alya, lalu tegak berdiri. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya."Aku tunggu bayaranmu, Alya," ujar Dewa santai, seolah baru saja membicarakan cuaca.Tanpa ragu, Dewa melepas kaos hitamnya yang basah oleh cairan pelepasan Alya di hadapan wanita itu. Alya refleks memalingkan wajah dengan pipi yang membara, sementara Dewa dengan santai meraih kaos baru dari lemari dan mengenakannya."P-Pak Dewa, saya izin ke kamar mandi sebentar... untuk membersihkan diri," pamit Alya buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi utama di kamar tersebut.Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Alya bergegas mendekati wastafel. Ia memutar kran air dan berkali-kali membasuh wajahnya yang terasa amat panas. Ia menatap bayangannya di cermin dengan dada
Tanpa membalas pesan Dewa, Alya langsung melangkah ke luar pagar rumahnya dan memesan taksi online.Rasa kram di bawah perutnya semakin menghebat seiring roda kendaraan bergulir membelah keheningan malam. Setiap tumpuan kakinya saat turun dari taksi membawa denyut ngilu yang menyengat hingga ke tulang panggul. Dengan kedua tangan yang meremas perutnya sendiri, Alya melangkah terseok-seok menembus gerbang besi tinggi menuju kediaman pribadi Dewa Erlangga.Rumah mewah bergaya modern itu tampak hening dan asing. Namun, pintu utama mendadak terbuka bahkan sebelum Alya sempat menyentuh tombol bel.Dewa berdiri di sana. Pria itu tak lagi mengenakan kemeja kantor yang kaku, melainkan kaos santai berwarna gelap yang membalut ketat tubuh tegapnya. Iris mata hitamnya yang tajam langsung menangkap kondisi Alya yang berantakan—wajah pucat, peluh dingin di dahi, serta mata sembab yang membengkak."Kamu terlambat sepuluh menit, Alya," ujar Dewa dingin. Namun, saat melihat Alya hilang keseimban
"Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?""Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?""Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam."Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang.""Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan
Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja."Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya."Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu."Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.Alya masih mematung, jarinya yang memegan
"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.” Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. "S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. "Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya. Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah. Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis y
Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa. Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar."Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap. Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat."Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja."Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," uca







