Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Anda Gila, Pak!

Share

Anda Gila, Pak!

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-08-10 17:37:31

​"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.”

Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar.

​"S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat.

​"Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya."

​Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya.

Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah.

​Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis yang ia kenakan.

​Saat jarinya menyentuh area sensitifnya yang membengkak dan tegang, Alya memejamkan mata rapat-rapat.

​"Ngh... ah!" Rintihan pasrah itu lolos begitu saja dari bibir Alya.

​Di balik telepon, terdengar hembusan nafas Dewa yang memburu halus. "Bagus. Sekarang berikan penekanan perlahan pada bagian atasnya, Alya. Pijat melingkar untuk merangsang relaksasi pembuluh darah yang tersumbat."

​"S-sakit, Pak... p-pelan..." bisik Alya tersengal-sengal, menahan erangan agar tidak terdengar hingga keluar kamar.

​"Tahan. Jika kamu berhenti sekarang, rasa kram itu akan mengunci otot vaginamu lebih parah," tegur Dewa tegas, namun suaranya yang serak melancarkan intimidasi sensual yang aneh. "Terus lakukan. Gerakkan jarimu lebih cepat."

​Alya menuruti setiap bisikan perintah Dewa bagaikan wanita yang terhipnotis.

Di bawah bimbingan suara tegas sang CEO dari balik telepon, gerakan jemari Alya yang semula canggung berubah menjadi irama pasrah. Rasa sakit yang semula membakar hebat perlahan-lahan terurai, berganti dengan gelombang sensasi asing yang menyengat hingga ke ujung saraf pinggulnya.

​"Nghh... M-Mas... ah, Pak Dewa...!" Alya meliukkan tubuhnya di atas sprei, mencengkeram kain bantal erat-erat saat pelepasan fisik yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya seketika meledak di dalam tubuhnya.

​Napas Alya berburu berat, dadanya naik turun tajam. Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang dengan peluh membasahi lehernya.

Rasa ngilu dan berdenyut menyiksa yang tadi hampir membuatnya gila kini telah menguap, berganti dengan kelegaan fisik yang teramat dalam.

​Suara kekehan pelan kembali terdengar dari gagang telepon.

​"Bagaimana, Alya? Rasa sakitnya sudah hilang?" tanya Dewa santai.

​Alya menarik napas panjang dengan mata terpejam, menyadari betapa buruknya situasi yang baru saja terjadi. "S-sudah... terima kasih, Pak..." cicitnya pelan, diliputi rasa malu yang membumbung tinggi.

​"Tidak perlu berterima kasih," sahut Dewa rendah. "Bantuan medis jarak jauhku ini tentu tidak gratis. Besok pagi tepat pukul delapan, datang ke ruanganku sebelum karyawan lain tiba. Jangan terlambat satu detik pun."

​Sebelum Alya sempat membalas, Dewa sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

​Alya memeluk dadanya di atas ranjang yang sepi, menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan jantung yang berdebar kencang.

....

​Esok harinya pukul tujuh empat puluh lima pagi.

Koridor di lantai tertinggi nampak sunyi. Hanya suara ketukan hisis sepatu tumit tinggi milik Alya yang memantul di atas lantai.

​Semalam, Alya hampir tidak bisa memejamkan mata. Rasa malu akibat menuruti instruksi panas Dewa dari balik telepon terus membayangi pikirannya.

Namun, dia tidak punya pilihan. Ancaman dan penagihan imbalan dari pria itu memaksanya berdiri di depan pintu yang bertuliskan CEO ini tepat waktu.

​Dengan tangan gemetar, Alya mengetuk pintu dua kali.

​"Masuk."

​Alya mendorong pintu pelan. Dewa sudah duduk di balik meja kerja megahnya. Sebuah cangkir kopi hitam masih mengepul di sisinya.

​"Kamu tepat waktu, Alya," ujar Dewa tanpa mendongak dari dokumen di tangannya. Suara beratnya seketika memutar kembali memori bisikan telepon semalam di kepala Alya.

​Alya melangkah mendekati meja, berusaha mempertahankan sikap profesionalnya meski lututnya terasa lemas. "Saya sudah datang sesuai perintah Bapak. Apa yang perlu saya kerjakan?"

​Dewa menyandarkan punggungnya di kursi eksekutif, menyilangkan jari tangannya di atas meja, lalu menatap Alya dari atas ke bawah secara terukur. Tatapannya yang tajam bak elang membuat Alya merasa ditelanjangi di tempat.

​"Bagaimana kondisi tubuhmu pagi ini?" tanya Dewa santai, seolah bertanya soal cuaca.

​Pipi Alya memanas seketika. Dia menundukkan kepala, enggan menatap iris mata hitam milik atasannya. "S-sudah membaik, Pak. Rasa sakitnya tidak muncul lagi."

​"Tentu saja membaik. Pelepasan yang kubantu semalam meredakan ketegangan pembuluh darahmu dengan sempurna," sahut Dewa dingin. Pria itu lalu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga kini berdiri tepat di hadapan Alya.

​Alya refleks mundur satu langkah, namun Dewa justru makin memangkas jarak.

Pria itu mengambil sebuah gulungan map dari saku jas lalu meletakkannya di tangan Alya.

​"Apa ini, Pak?" tanya Alya bingung.

​"Perjanjian penyesuaian posisi," jawab Dewa tenang. "Mulai hari ini, kamu resmi dipindahkan dari staf keuangan biasa menjadi asisten pribadi CEO. Meja kerjamu ada di ruangan sebelah, tepat di balik pintu penghubung ruangan ini."

​Alya membelalak lebar. "Tapi Pak, sudah ada Pak Devan kenapa…”

“Aku perlu dua, satu wanita satu pria,” potong Dewa cepat.

Alya menatap Dewa enggan, “Tapi, Pak…”

​"Ini bukan tawaran, Alya. Ini imbalan atas bantuan jarak jauhku semalam," potong Dewa tajam, memotong protes Alya tanpa ragu. Pria itu memajukan tubuhnya, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan telinga Alya.

​"Sebagai pasienku, kamu harus berada di bawah pengawasanku. Dengan begitu, aku bisa memastikan kondisi kesehatan fisik kamu tetap stabil dan memastikan kamu tidak berpindah ke dokter lain," bisik Dewa rendah.

​Dada Alya berombak naik turun menahan emosi dan gejolak dalam dirinya. "Bapak memanfaatkan posisi Bapak untuk menekan saya! Apa maksudnya? Saya ini wanita bersuami Pak!"

​Dewa terkekeh pelan. Dia mengulurkan tangannya, mengusap helai rambut Alya yang menjuntai di pipinya dengan ujung jari, membuat Alya membeku seketika.

​"Istri dari pria yang menolak menyentuhmu selama dua tahun?" sindir Dewa menohok, menatap tepat ke dalam manik mata Alya yang mulai berair. "Status pernikahanmu tidak menyembuhkan rasa sakit di bawah sana, Alya. Hanya aku yang bisa."

​Dewa lalu menarik jarinya dan menunjuk dokumen di tangan Alya.

​"Tandatangani dokumen itu sekarang. Atau kamu lebih suka aku memanggil suamimu ke ruangan ini untuk menjelaskan kenapa istrinya membutuhkan terapi khusus di rumah sakit?”

​Alya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Air mata menetes di pipinya.

Dewa Erlangga telah menguncinya dari segala sisi, memanfaatkan rahasianya, kerapuhan rumah tangganya, dan kekuasaannya sebagai CEO untuk mengikatnya.

“Anda gila, Pak Dewa Erlangga!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Thre L
seru cuy lanjut baca
goodnovel comment avatar
Rara 25
Sumpah seru banget ceritanya
goodnovel comment avatar
CitraAurora
Hehe oya ka makasih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Pembawa Sial!

    "Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.​Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"​Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya.​"Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!"​"Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.​Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah.​"Biarkan saja dia pergi, Rehan!"

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Ingin Cerai!

    Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan.​"Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.​Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."​Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan.​"Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."​Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu

  • Terapi Gila Atasanku   Tak Rela!

    Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. ​"Mas..." panggil Alya ragu. ​Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"​Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."​Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."​Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia

  • Terapi Gila Atasanku   Tamparan

    Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.​Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam.​"Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"​Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."​Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Gila Mas!

    Fira melangkah makin mendekat ke meja kerja Alya dengan dahi berkerut curiga. Pandangannya mengarah tepat ke sela-sela bawah meja yang tertutup rapat oleh panel kayu depan.​"Mbak Alya beneran enggak apa-apa? Suaranya aneh banget, kayak ada orang di bawah..." ujar Fira seraya membungkukkan tubuhnya, hendak mengintip ke kolong meja.​Jantung Alya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di bawah sana, Dewa sengaja menghentikan pergerakan jarinya, namun pria itu justru sengaja mengecup pangkal paha dalam Alya, membuat tubuh Alya gemetar hebat menahan sensasi yang membakar.​Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membumbung tinggi, Alya sengaja menyenggol tumpukan berkas dan wadah pulpen di tepi mejanya hingga jatuh berserakan ke lantai.​Berbagai alat tulis dan kertas bertebaran tepat di depan kaki Fira, menghentikan niat gadis itu untuk mengintip.​"Aduh! Maaf, Fira... tanganku lemas banget, pusing," potong Alya cepat dengan suara bergetar.

  • Terapi Gila Atasanku   Ada Apa Di bawah Mejamu?

    Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat.​"Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.​Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tidak cair, karyawan bakal mogok dan terus menuntut perusahaan. Kantor bisa hancur, Pak!"​"Tolong beri saya waktu," bisik Rehan pasrah sebelum menutup telepon. Kepala Rehan serasa mau pecah.​Dalam kondisi bingung setengah mati, ia mulai menghubungi satu per satu kolega bisnisnya untuk meminjam uang. Namun, respons yang diterimanya sungguh menyakitkan. Sebagian besar menolak secara halus, sementara beberapa yang bersedia meminjamkan hanya mampu memberi angka kecil yang jauh dari kata cukup.​Sebaga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status