ログインDewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja.
"Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."
Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya.
"Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.
Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu.
"Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.
Alya masih mematung, jarinya yang memegang pena bergetar hebat. Matanya berair, menatap lembaran kertas yang akan mengubah nasibnya di kantor ini.
"Menjadi asistenku, gajimu akan naik dua kali lipat, Alya. Bukankah seharusnya kamu senang?" tambah Dewa dengan sudut bibir terangkat tipis.
"Gaji naik tidak bisa membeli harga diri saya, Pak Dewa," balas Alya lirih, suaranya tercekat menahan sesak di dada.
"Aku tidak sedang membeli harga dirimu, Alya. Aku sedang menyelamatkanmu dari rasa sakit yang menyiksa setiap malam," potong Dewa cepat tanpa kompromi. "Tanda tangani sekarang, atau..."
"Baik, saya mengerti, Pak Dewa."
Dengan helaan napas berat, Alya menekan mata penanya ke atas kertas.
"Bagus. Pilihan yang sangat cerdas," ujar Dewa puas.
Pria itu langsung menyambar dokumen yang telah ditandatangani, lalu menekan tombol intercom di meja kerjanya. "Devan, masuk ke ruanganku sekarang."
Hanya dalam hitungan detik, pintu terbuka. Devan, asisten Dewa melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Iya, Pak Dewa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Devan sopan, berdiri tegap di depan meja kerja.
Dewa menunjuk ke arah Alya yang masih berdiri kaku.
"Devan, Alya sekarang menjadi asistenku, bawa dia ke ruangan barunya sekarang. Tunjukkan meja kerjanya dan bantu dia membereskan barang-barangnya dari lantai bawah," perintah Dewa.
Devan sempat menatap Alya sejenak dengan raut bingung, lalu kembali menatap pimpinannya. "Baik, Pak. Berarti mulai hari ini Nona Alya resmi bergabung di tim asisten eksekutif?"
"Benar," sahut Dewa datar. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di atas meja, menatap Devan dengan pandangan yang tak ingin dibantah. "Dan mulai detik ini, ada penyesuaian pembagian tugas di antara kalian berdua."
"Penyesuaian seperti apa, Pak Dewa?" tanya Devan menyimak.
"Mulai hari ini, kamu fokus sepenuhnya untuk mengurus seluruh agenda eksternal," tegas Dewa. "Urusan hubungan investor, rapat dengan pihak luar, kunjungan lapangan, dan klien eksternal menjadi tanggung jawabmu penuh."
Devan mengangguk perlahan. "Baik, Pak. Lalu untuk jadwal rapat internal dan koordinasi antar divisi di dalam kantor?"
"Seluruh agenda internal, jadwal tatap muka di ruangan ini, dan kebutuhan pimpinan harian... semuanya diurus oleh Alya," potong Dewa cepat, menyela sebelum Devan menyelesaikan kalimatnya.
Alya yang mendengar hal itu langsung mendongak kaget. "Pak Dewa, tapi saya belum berpengalaman memegang jadwal pimpinan secara langsung."
"Kamu bisa belajar dari Devan hari ini, Alya," tukas Dewa dingin, memotong protes Alya tanpa ragu. Pria itu kemudian menatap Devan kembali. "Kamu paham tugasmu, Devan?"
"Paham, Pak Dewa. Saya akan membagi seluruh berkas internal kepada Alya hari ini juga," jawab Devan profesional. Pria itu lalu berbalik menatap Alya dengan senyum ramah yang menenangkan. "Mari, Alya. Saya antar kamu melihat ruangan barumu di sebelah."
"T-terima kasih, Pak Devan," cicit Alya pelan.
Alya melangkah canggung mengikuti Devan menuju pintu penghubung di sisi kanan ruangan. Sebelum kakinya melangkah keluar dari ruangan CEO, Alya sempat menoleh ke belakang.
Dewa masih memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tatapan mata yang penuh rasa kepemilikan.
Alya dibawa ke ruangan kerja asisten yang bernuansa modern, sangat luas, dan elegan.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja yang dilengkapi dengan komputer berlayar ganda serta telepon interkom khusus.
"Ini ruangan kerjamu yang baru, Alya," kata Devan ramah sembari berjalan mendekati meja tersebut. "Nyaman, kan? Di sini jauh lebih tenang dibanding kubikel divisi keuangan di bawah."
Alya melangkah mendekati meja itu, namun perhatiannya langsung teralihkan oleh dinding pemisah antara ruangannya dan ruangan Dewa. Dinding tersebut terbuat dari kaca besar buram yang memancarkan cahaya redup.
"Pak Devan... dinding kaca ini..." gumam Alya ragu.
"Ah, itu kaca satu arah. Dari ruangan Pak Dewa, beliau bisa melihat langsung ke ruangan ini untuk mengawasi kinerja kita."
Dada Alya makin berdebar kencang mendengarnya.
Itu artinya, Dewa bisa memperhatikan setiap pergerakannya sepanjang hari tanpa ia sadari!
"Kenapa Pak Dewa memisahkan tugas kita sampai sejelas ini ya, Pak Devan?" tanya Alya berpura-pura polos, mencoba menggali informasi. "Bukannya biasanya asisten senior yang memegang agenda internal?"
Devan merapikan beberapa kertas di atas meja Alya lalu menatap wanita itu. "Jujur saja, saya juga agak terkejut, Alya. Pak Dewa itu sangat perfeksionis dan tertutup. Sepertinya... beliau punya tingkat kepercayaan yang berbeda padamu."
Alya mengepalkan tangannya. Kepercayaan? Bukan kepercayaan, tapi ancaman, jerit Alya dalam hatinya.
"Jangan terlalu tegang begitu. Kalau ada berkas internal atau sistem jadwal yang belum kamu mengerti, langsung bilang ke saya ya. Jangan sungkan," kata Devan dengan ramah.
"Terima kasih banyak, Pak Devan. Bantuan Bapak sangat berarti buat saya," sahut Alya tulus, sedikit merasa lega karena memiliki rekan kerja yang baik seperti Devan di lantai ini.
Alya mengukir senyum tipis, sebuah senyuman tulus pertama yang keluar dari wajahnya pagi ini.
Namun, tepat di saat Alya tersenyum pada Devan, pintu penghubung antara ruangan mereka dan ruangan CEO mendadak terbuka.
Dewa berdiri menjulang di ambang pintu.
Kedua tangannya terbenam di saku celana bahan mewahnya. Wajahnya tampak begitu gelap, dan tatapan matanya memancar dingin saat menatap tangan Devan yang berdiri cukup dekat di samping meja Alya.
“P-Pak Dewa?”
"A-apa, Pak Dewa? Saya tidak tahu..." cicit Alya terbata-bata. Matanya bergerak liar, menghindari tatapan pria yang masih mengurungnya di atas sofa.Dewa melepaskan kedua tangannya dari sisi kepala Alya, lalu tegak berdiri. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya."Aku tunggu bayaranmu, Alya," ujar Dewa santai, seolah baru saja membicarakan cuaca.Tanpa ragu, Dewa melepas kaos hitamnya yang basah oleh cairan pelepasan Alya di hadapan wanita itu. Alya refleks memalingkan wajah dengan pipi yang membara, sementara Dewa dengan santai meraih kaos baru dari lemari dan mengenakannya."P-Pak Dewa, saya izin ke kamar mandi sebentar... untuk membersihkan diri," pamit Alya buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi utama di kamar tersebut.Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Alya bergegas mendekati wastafel. Ia memutar kran air dan berkali-kali membasuh wajahnya yang terasa amat panas. Ia menatap bayangannya di cermin dengan dada
Tanpa membalas pesan Dewa, Alya langsung melangkah ke luar pagar rumahnya dan memesan taksi online.Rasa kram di bawah perutnya semakin menghebat seiring roda kendaraan bergulir membelah keheningan malam. Setiap tumpuan kakinya saat turun dari taksi membawa denyut ngilu yang menyengat hingga ke tulang panggul. Dengan kedua tangan yang meremas perutnya sendiri, Alya melangkah terseok-seok menembus gerbang besi tinggi menuju kediaman pribadi Dewa Erlangga.Rumah mewah bergaya modern itu tampak hening dan asing. Namun, pintu utama mendadak terbuka bahkan sebelum Alya sempat menyentuh tombol bel.Dewa berdiri di sana. Pria itu tak lagi mengenakan kemeja kantor yang kaku, melainkan kaos santai berwarna gelap yang membalut ketat tubuh tegapnya. Iris mata hitamnya yang tajam langsung menangkap kondisi Alya yang berantakan—wajah pucat, peluh dingin di dahi, serta mata sembab yang membengkak."Kamu terlambat sepuluh menit, Alya," ujar Dewa dingin. Namun, saat melihat Alya hilang keseimban
"Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?""Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?""Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam."Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang.""Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan
Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja."Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya."Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu."Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.Alya masih mematung, jarinya yang memegan
"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.” Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. "S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. "Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya. Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah. Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis y
Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa. Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar."Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap. Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat."Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja."Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," uca







