Home / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Jadi Asisten Pribadi

Share

Jadi Asisten Pribadi

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-08-11 08:52:59

Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja.

​"Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."

​Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya.

​"Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.

​Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.

Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu.

​"Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.

​Alya masih mematung, jarinya yang memegang pena bergetar hebat. Matanya berair, menatap lembaran kertas yang akan mengubah nasibnya di kantor ini.

​"Menjadi asistenku, gajimu akan naik dua kali lipat, Alya. Bukankah seharusnya kamu senang?" tambah Dewa dengan sudut bibir terangkat tipis.

​"Gaji naik tidak bisa membeli harga diri saya, Pak Dewa," balas Alya lirih, suaranya tercekat menahan sesak di dada.

​"Aku tidak sedang membeli harga dirimu, Alya. Aku sedang menyelamatkanmu dari rasa sakit yang menyiksa setiap malam," potong Dewa cepat tanpa kompromi. "Tanda tangani sekarang, atau..."

​"Baik, saya mengerti, Pak Dewa."

Dengan helaan napas berat, Alya menekan mata penanya ke atas kertas.

​"Bagus. Pilihan yang sangat cerdas," ujar Dewa puas.

Pria itu langsung menyambar dokumen yang telah ditandatangani, lalu menekan tombol intercom di meja kerjanya. "Devan, masuk ke ruanganku sekarang."

​Hanya dalam hitungan detik, pintu terbuka. Devan, asisten Dewa melangkah masuk ke dalam ruangan.

​"Iya, Pak Dewa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Devan sopan, berdiri tegap di depan meja kerja.

​Dewa menunjuk ke arah Alya yang masih berdiri kaku.

​"Devan, Alya sekarang menjadi asistenku, bawa dia ke ruangan barunya sekarang. Tunjukkan meja kerjanya dan bantu dia membereskan barang-barangnya dari lantai bawah," perintah Dewa.

​Devan sempat menatap Alya sejenak dengan raut bingung, lalu kembali menatap pimpinannya. "Baik, Pak. Berarti mulai hari ini Nona Alya resmi bergabung di tim asisten eksekutif?"

​"Benar," sahut Dewa datar. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di atas meja, menatap Devan dengan pandangan yang tak ingin dibantah. "Dan mulai detik ini, ada penyesuaian pembagian tugas di antara kalian berdua."

​"Penyesuaian seperti apa, Pak Dewa?" tanya Devan menyimak.

​"Mulai hari ini, kamu fokus sepenuhnya untuk mengurus seluruh agenda eksternal," tegas Dewa. "Urusan hubungan investor, rapat dengan pihak luar, kunjungan lapangan, dan klien eksternal menjadi tanggung jawabmu penuh."

​Devan mengangguk perlahan. "Baik, Pak. Lalu untuk jadwal rapat internal dan koordinasi antar divisi di dalam kantor?"

​"Seluruh agenda internal, jadwal tatap muka di ruangan ini, dan kebutuhan pimpinan harian... semuanya diurus oleh Alya," potong Dewa cepat, menyela sebelum Devan menyelesaikan kalimatnya.

​Alya yang mendengar hal itu langsung mendongak kaget. "Pak Dewa, tapi saya belum berpengalaman memegang jadwal pimpinan secara langsung."

​"Kamu bisa belajar dari Devan hari ini, Alya," tukas Dewa dingin, memotong protes Alya tanpa ragu. Pria itu kemudian menatap Devan kembali. "Kamu paham tugasmu, Devan?"

​"Paham, Pak Dewa. Saya akan membagi seluruh berkas internal kepada Alya hari ini juga," jawab Devan profesional. Pria itu lalu berbalik menatap Alya dengan senyum ramah yang menenangkan. "Mari, Alya. Saya antar kamu melihat ruangan barumu di sebelah."

​"T-terima kasih, Pak Devan," cicit Alya pelan.

​Alya melangkah canggung mengikuti Devan menuju pintu penghubung di sisi kanan ruangan. Sebelum kakinya melangkah keluar dari ruangan CEO, Alya sempat menoleh ke belakang.

Dewa masih memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tatapan mata yang penuh rasa kepemilikan.

​Alya dibawa ke ruangan kerja asisten yang bernuansa modern, sangat luas, dan elegan.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja yang dilengkapi dengan komputer berlayar ganda serta telepon interkom khusus.

​"Ini ruangan kerjamu yang baru, Alya," kata Devan ramah sembari berjalan mendekati meja tersebut. "Nyaman, kan? Di sini jauh lebih tenang dibanding kubikel divisi keuangan di bawah."

​Alya melangkah mendekati meja itu, namun perhatiannya langsung teralihkan oleh dinding pemisah antara ruangannya dan ruangan Dewa. Dinding tersebut terbuat dari kaca besar buram yang memancarkan cahaya redup.

​"Pak Devan... dinding kaca ini..." gumam Alya ragu.

​"Ah, itu kaca satu arah. Dari ruangan Pak Dewa, beliau bisa melihat langsung ke ruangan ini untuk mengawasi kinerja kita."

​Dada Alya makin berdebar kencang mendengarnya.

Itu artinya, Dewa bisa memperhatikan setiap pergerakannya sepanjang hari tanpa ia sadari!

​"Kenapa Pak Dewa memisahkan tugas kita sampai sejelas ini ya, Pak Devan?" tanya Alya berpura-pura polos, mencoba menggali informasi. "Bukannya biasanya asisten senior yang memegang agenda internal?"

​Devan merapikan beberapa kertas di atas meja Alya lalu menatap wanita itu. "Jujur saja, saya juga agak terkejut, Alya. Pak Dewa itu sangat perfeksionis dan tertutup. Sepertinya... beliau punya tingkat kepercayaan yang berbeda padamu."

​Alya mengepalkan tangannya. Kepercayaan? Bukan kepercayaan, tapi ancaman, jerit Alya dalam hatinya.

​"Jangan terlalu tegang begitu. Kalau ada berkas internal atau sistem jadwal yang belum kamu mengerti, langsung bilang ke saya ya. Jangan sungkan," kata Devan dengan ramah.

​"Terima kasih banyak, Pak Devan. Bantuan Bapak sangat berarti buat saya," sahut Alya tulus, sedikit merasa lega karena memiliki rekan kerja yang baik seperti Devan di lantai ini.

Alya mengukir senyum tipis, sebuah senyuman tulus pertama yang keluar dari wajahnya pagi ini.

​Namun, tepat di saat Alya tersenyum pada Devan, pintu penghubung antara ruangan mereka dan ruangan CEO mendadak terbuka.

​Dewa berdiri menjulang di ambang pintu. 

Kedua tangannya terbenam di saku celana bahan mewahnya. Wajahnya tampak begitu gelap, dan tatapan matanya memancar dingin saat menatap tangan Devan yang berdiri cukup dekat di samping meja Alya.

“P-Pak Dewa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Thre L
bau bau gosong nih
goodnovel comment avatar
Rara 25
cemburu ya Dewa ..
goodnovel comment avatar
CitraAurora
CEO nya itu manipulatif banget kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terapi Gila Atasanku   Akuisisi Perusahaan Rehan

    "Pak Dewa, perusahaan Rehan benar-benar sudah dinyatakan pailit. Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Devan sopan saat memberikan berkas dokumen keuangan terkini kepada atasannya.​Dewa yang sedang menatap layar laptopnya hanya mengulas senyum sinis. Tanpa ragu, ia menutup laptop mewahnya dengan gerakan tenang namun tegas.​"Batalkan seluruh kontrak kerja samanya," ujar Dewa singkat.​"Baik, Pak. Saya urus surat pembatalannya sekarang," sahut Devan membungkuk hormat, lalu pamit keluar dari ruang CEO tersebut.​Sementara itu, di ruang kerjanga Rehan duduk termangu dengan kepala tertunduk dalam. Pikirannya benar-benar kalut dan pusing luar biasa. Satu per satu penanam modal menarik dananya secara mendadak. Banyak kontrak kerja sama dengan mitra bisnis utama yang dibatalkan secara sepihak. Kas perusahaannya kini benar-benar kosong melompong.​Di tengah keputusasaan yang mencekik leher itu, layar ponsel Rehan menyala menampilkan panggilan masuk dari Devan. ​Dengan napas memburu dan secer

  • Terapi Gila Atasanku   Malam Ke 1000

    Setelah keluar dari restoran mewah itu, Randy memboyong Sinta menuju sebuah kompleks apartemen eksklusif di pusat kota. Begitu pintu unit penthouse terbuka, mata Sinta membelalak terpana melihat interiornya yang teramat megah dan modern—suasananya sebelas dua belas dengan penthouse milik Dewa yang pernah ia lihat.​"Kamu boleh tinggal di sini," ujar Randy santai seraya menaruh kartu akses di atas meja. ​"Serius, Mas? Aku boleh tinggal di sini?" tanya Sinta memastikan, matanya berbinar tak percaya.​"Seriuslah. Apa sih yang enggak buat kamu?" sahut Randy dengan senyum manisnya.​Tanpa ragu, Sinta langsung berhambur memeluk leher Randy. "Terima kasih banyak, Mas! Kamu baik banget!"​Tak berhenti di situ, Randy merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit tanpa batas. "Nih. Gunakan kartu ini untuk berbelanja semua kebutuhanmu."​"Serius, Mas, kamu memberikan kartu ini padaku?"​"Seriuslah. Apa aku kelihatan sedang berbohong?" kata Randy terkekeh.​Sinta benar-benar dibua

  • Terapi Gila Atasanku   Pembawa Sial!

    "Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.​Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"​Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya.​"Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!"​"Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.​Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah.​"Biarkan saja dia pergi, Rehan!"

  • Terapi Gila Atasanku   Aku Ingin Cerai!

    Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan.​"Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.​Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."​Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan.​"Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."​Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu

  • Terapi Gila Atasanku   Tak Rela!

    Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. ​"Mas..." panggil Alya ragu. ​Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"​Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."​Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."​Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia

  • Terapi Gila Atasanku   Tamparan

    Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.​Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam.​"Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"​Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."​Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status