로그인Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa.
Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar.
"Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"
Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap.
Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat.
"Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," ucap Dewa sembari menatap lurus ke dalam iris mata Alya.
Alya hanya diam berdiri mematung. Tak ada sedikitpun niat dalam hatinya untuk meraih kartu nama tersebut. "Baiklah, silahkan keluar. Tapi ingat, reaksi hyper-arousal yang tertekan akibat stres emosional akan terus membesar jika kamu mendapatkan penolakan lagi," lanjut Dewa tanpa beban.Alya menatap kartu nama di meja itu dengan nafas memburu. Keraguan menyelimutinya, namun dorongan rasa takut akan sakit yang luar biasa membuat jarinya terulur. Ia menyambar kartu bersepuh emas itu cepat-cepat.
"Ketika rasa terbakar di bawah sana membuatmu tidak bisa berjalan malam nanti... kamu tahu ke mana harus mencari penawarnya," kata Dewa sambil mengukir senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alya berbalik dan berlari keluar dari ruangan CEO dengan dada bergemuruh hebat.Astaga... dari mana pria itu tahu soal hubungan ranjangnya yang begitu dingin dengan sang suami? Apakah sekentara itu?
...
Malam harinya, rumah terasa begitu sepi dan dingin, tak ubahnya seperti kuburan.
Di dalam kamar tidur, Alya duduk terpaku di tepi ranjang. Rasa waswas dan bayang-bayang akan datangnya denyutan sakit itu terus menari-nari di kepalanya. Setiap detak jam dinding seolah menjadi hitungan mundur menuju siksaan fisiknya. Beberapa waktu kemudian, pintu kamar terbuka. Rehan masuk dengan wajah lelah, lalu melempar jas kotornya ke atas sofa begitu saja tanpa menyapa. "Mas, mau mandi atau makan dulu?" tanya Alya pelan, berusaha mencairkan suasana. "Aku sudah makan, siapkan saja air hangat untukku," jawab Rehan datar sembari mulai melepas kancing kemejanya satu per satu. Mata Alya tak sengaja menatap guratan otot dada Rehan yang terekspos. Pemandangan itu seketika membuat Alya menggigit bibir bawahnya. Hasrat alami yang terpendam itu muncul kembali. Keinginan untuk disentuh, dicintai, dan dipenuhi kewajibannya sebagai seorang istri menjadi semakin membesar. Alya memutuskan untuk mencoba memancing perhatian suaminya. Ia bangkit, melangkah ke kamar mandi, dan mengganti piyama tidurnya dengan sebuah lingerie tipis nan minim bahan.Ia berharap, siapa tahu malam ini Rehan tertarik pada tubuhnya dan ritual malam pertama yang tertunda selama dua tahun akhirnya terjadi.
Namun, harapan itu seketika hancur berkeping-keping. Ketika Rehan keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya, ia sama sekali tidak menatap Alya. Bahkan ketika Alya berjalan mendekat dan mencoba menggodanya, pria itu langsung memberikan ultimatum yang menghantam ulu hati. "Jangan pikir setelah kamu memakai pakaian haram seperti itu aku mau menyentuhmu! Pergilah tidur Alya, jangan ganggu aku!" tegur Rehan keras. Seketika Alya mematung di tempatnya. Tangannya yang baru saja hendak menggapai bahu Rehan terhenti di udara, ditolak mentah-mentah sebelum sempat mendarat. Setelah memakai piyama tidurnya, Rehan menatap Alya dengan pancaran mata yang begitu dingin dan asing. "Aku tidur di kamar tamu. Aku tidak mau malam-malam kamu nekat dan menyentuhku!" Alya masih berdiri mematung dalam keputusasaan hingga bunyi pintu yang ditutup dengan keras menggema, membuyarkan seluruh lamunannya. Wanita itu perlahan berjalan menyeret kakinya kembali ke tempat tidur.Hasrat yang sempat timbul akibat penolakan keras itu kini berbalik menjadi bumerang. Rasa frustasi emosional yang hebat memicu reaksi psikosomatis pada tubuhnya.
"Ngh... aah!" Alya merintih keras. Tangannya meremas gaun tidur tipisnya tepat di bagian perut bawah. Rasa panas yang berdenyut ngilu dan menyengat kembali muncul dengan intensitas dua kali lipat lebih menyiksa dari semalam.Rasanya seperti ada ratusan jarum membara yang menusuk organ intimnya dari dalam tanpa ampun.
Otot-otot bagian dalamnya mulai mengalami spasme hebat, mengencang parah hingga tubuh Alya meliuk dan terguling di atas tempat tidur.Ia menangis tersedu-sedu sambil memegangi selangkangannya yang terasa seperti membara.
"Sakit... hhh... sakit banget..." tangis Alya pecah dalam kesunyian. Di tengah siksaan fisik yang membuatnya tak sanggup lagi berdiri dan rasa hancur akibat penolakan suaminya sendiri, bayangan ucapan Dewa tadi siang terngiang jelas di telinganya. “Ketika rasa terbakar di bawah sana membuatmu tidak bisa berjalan malam nanti... kamu tahu ke mana harus mencari penawarnya.” Dengan mata berair yang buram dan jari-jemari yang kaku akibat sengatan ngilu yang menjalar, Alya merangkak perlahan mendekati tas kantornya di meja. Ia merogoh ke dalam, mencari kertas tebal itu hingga akhirnya menemukan kartu nama bersepuh emas milik Dewa Erlangga. Mengabaikan rasa malunya yang tersisa, Alya menekan digit nomor di sana.Hanya dalam dua kali dering, panggilan itu langsung diangkat.
"Ya, Alya?" Suara berat, tenang, dan berwibawa milik Dewa terdengar di seberang telepon. Nada suaranya terkesan seolah pria itu memang sudah duduk menunggu panggilan ini sepanjang malam. "Pak Dewa... tolong..." cicit Alya mengerang, meremas sprei ranjang menahan denyutan membakar di selangkangannya. "Tolong saya... ini sakit banget... ngh..." Di balik sambungan telepon, terdengar hembusan napas halus diikuti kekehan dingin penuh kepuasan dari Dewa.Pria itu tahu, mangsanya telah sepenuhnya menyerahkan diri.
"Ikuti ucapanku, Alya," perintah Dewa bernada rendah namun sangat menguasai. Alya mengerutkan alisnya di tengah rasa sakit yang memuncak. "A-apa, Pak?" tanya Alya heran dan bingung. "Karena sudah sangat sakit, hal pertama yang bisa kamu lakukan untuk meredakan kejang ototnya adalah memicunya sendiri. Sekarang, ikuti ucapanku," tutur Dewa tenang, membimbing dari kejauhan. "Ba-baik..." kata Alya pasrah, tak punya pilihan lain demi mengusir rasa terbakar yang menyiksanya. "Buka kedua kakimu. Lebarkan.""A-apa, Pak Dewa? Saya tidak tahu..." cicit Alya terbata-bata. Matanya bergerak liar, menghindari tatapan pria yang masih mengurungnya di atas sofa.Dewa melepaskan kedua tangannya dari sisi kepala Alya, lalu tegak berdiri. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya."Aku tunggu bayaranmu, Alya," ujar Dewa santai, seolah baru saja membicarakan cuaca.Tanpa ragu, Dewa melepas kaos hitamnya yang basah oleh cairan pelepasan Alya di hadapan wanita itu. Alya refleks memalingkan wajah dengan pipi yang membara, sementara Dewa dengan santai meraih kaos baru dari lemari dan mengenakannya."P-Pak Dewa, saya izin ke kamar mandi sebentar... untuk membersihkan diri," pamit Alya buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi utama di kamar tersebut.Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Alya bergegas mendekati wastafel. Ia memutar kran air dan berkali-kali membasuh wajahnya yang terasa amat panas. Ia menatap bayangannya di cermin dengan dada
Tanpa membalas pesan Dewa, Alya langsung melangkah ke luar pagar rumahnya dan memesan taksi online.Rasa kram di bawah perutnya semakin menghebat seiring roda kendaraan bergulir membelah keheningan malam. Setiap tumpuan kakinya saat turun dari taksi membawa denyut ngilu yang menyengat hingga ke tulang panggul. Dengan kedua tangan yang meremas perutnya sendiri, Alya melangkah terseok-seok menembus gerbang besi tinggi menuju kediaman pribadi Dewa Erlangga.Rumah mewah bergaya modern itu tampak hening dan asing. Namun, pintu utama mendadak terbuka bahkan sebelum Alya sempat menyentuh tombol bel.Dewa berdiri di sana. Pria itu tak lagi mengenakan kemeja kantor yang kaku, melainkan kaos santai berwarna gelap yang membalut ketat tubuh tegapnya. Iris mata hitamnya yang tajam langsung menangkap kondisi Alya yang berantakan—wajah pucat, peluh dingin di dahi, serta mata sembab yang membengkak."Kamu terlambat sepuluh menit, Alya," ujar Dewa dingin. Namun, saat melihat Alya hilang keseimban
"Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?""Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?""Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam."Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang.""Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan
Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja."Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya."Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu."Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.Alya masih mematung, jarinya yang memegan
"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.” Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. "S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. "Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya. Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah. Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis y
Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa. Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar."Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap. Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat."Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja."Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," uca







