مشاركة

Terapi Gila Atasanku
Terapi Gila Atasanku
مؤلف: CitraAurora

Penyakit Aneh

مؤلف: CitraAurora
last update تاريخ النشر: 2026-08-10 17:34:33

“Ahh... kenapa datang lagi, engh…”

Alya mencengkeram piyama tidurnya, rasa panas yang terus berdenyut di bagian bawah perutnya membuatnya ingin menjerit keras.

​Sudah dua tahun pernikahan ini berjalan, tetapi tubuh Alya seperti dipenjara oleh rasa dahaga yang menyiksa.

Suaminya, Rehan, tak pernah menyentuhnya. Bahkan pria itu selalu tidur membelakanginya.

Penolakan demi penolakan yang halus namun dingin itu meninggalkan tumpukan penderitaan bagi Alya. Setiap kali rasa rindu dan pemicu alaminya melonjak tanpa pernah mendapatkan pelepasan, aliran darah seperti menumpuk hebat di area panggulnya, menciptakan rasa tegang, bengkak, dan denyutan ngilu yang membakar hingga ke ujung saraf.

​Alya frustrasi. Ada apa dengan tubuhnya? Mengapa dia memiliki dorongan fisik yang begitu tinggi sementara suaminya sendiri seolah jijik padanya?

Karena dorongan rasa malu dan bingung yang memuncak itulah Alya akhirnya mendatangi rumah sakit malam itu juga.

Dia butuh jawaban medis atas siksaan fisik yang tak sanggup lagi ditanggungnya. Ia harus diobati.

​Sembari memegangi perut bawahnya, Alya mendorong paksa pintu sebuah ruang praktik yang sedikit terbuka.

​"Dok, tolong... Bagian intim saya sangat sakit," cicit Alya dengan nafas memburu.

​Pria bersetelan jas rapi yang berada di dalam ruangan itu mendadak menghentikan gerakannya.

Dewa Erlangga, pria dengan tatapan mata tajam, mengerutkan alis. Dia sebenarnya hanya ingin mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di meja ruang praktek sahabatnya, Dokter Aris.

​"Maaf, Nona. Dokter Aris sudah pulang, saya…" Dewa bermaksud menjelaskan bahwa dia bukan dokter yang bertugas.

​"Dok, cepat... ini benar-benar sakit!" potong Alya dengan mata berair, tak mampu lagi menahan sengatan ngilu yang menjalar di selangkangannya. "Saya nggak tahan..."

​Melihat wanita di hadapannya hampir ambruk dan memegangi sudut meja, naluri mendasar Dewa, pria yang sempat menyelesaikan pendidikan kedokteran sebelum dipaksa memegang bisnis keluarga, mengambil alih.

Dilihat dari reaksi wanita itu, sedikit banyak Dewa bisa menerka apa yang terjadi.

​Dewa pun menghembuskan nafas pelan, mengunci pintu ruangan dari dalam, lalu mengambil sarung tangan steril.

​"Berbaringlah biar kuperiksa," ujar Dewa.

​Alya menuruti perintah itu dengan gemetar. Saat posisi lututnya ditekuk dan terbuka, Alya menatap langit-langit ruangan dengan jantung berdebar keras.

​Dewa mendekat sambil memakai sarung tangan steril lalu perlahan menyusup masuk ke dalam bagian intim Alya.

​"Nghh...!" Alya merintih keras, tangannya refleks meremas kemeja Dewa.

​"Tahan. Otot kamu mengalami spasme karena penumpukan aliran darah yang berlebihan di area panggul," bisik Dewa sembari jari-jarinya melakukan pijatan relaksasi mendalam pada jaringan internal Alya yang tegang.

"Ini reaksi dari respons hyper-arousal yang tertekan. Tanpa penanganan atau relaksasi, pembuluh darah kamu akan terus membengkak dan memicu denyutan ngilu seperti ini."

​Alya menggigit bibir bawahnya. Di antara rasa sakit yang perlahan terurai, ada sentuhan melegakan yang menyengat syarafnya.

Dewa terus memijat, membuat Alya semakin terbang melayang. "Ahh..."

​Dirasa cukup, Dewa menarik tangannya keluar.

Ugh…

Desahan itu kembali lolos begitu saja, membuat Dewa menatap Alya dengan senyum tipis. "Sepertinya pijatanku membuat kamu nyaman, apa masih sakit?"

Alya masih memejamkan matanya, masih menikmati kelegaan yang mendalam itu. Lalu dia mengangguk lemah dengan wajah merah padam.

“Maaf, Dok,” kata Alya gugup.

“Tak masalah,” sahut Dewa sambil membuang sarung tangan ke tempat sampah. “Saya sarankan agar tidak menahan hasrat gairah yang datang, keluarkan saja. Segera lakukan hubungan intim dengan pasangan, dan besok lakukan pemeriksaan lagi dengan Dokter…”

“Saya paham, Dok,” potong Alya. "Terima kasih."

Diselimuti rasa malu yang teramat sangat karena baru saja disentuh begitu intim oleh seorang pria, serta disadarkan akan fakta medis tentang tubuhnya sendiri, Alya menurunkan kakinya.

Wanita itu tidak membiarkan Dewa menyelesaikan kalimatnya, padahal Dewa ingin merujuknya ke dokter Aris, teman sekaligus dokter yang sesungguhnya.

“Nona, tunggu, saya belum selesai…”

Bukannya mendengarkan, Alya malah bergegas merapikan pakaian, menyambar tasnya, dan berlari keluar ruangan.

​Dewa terkekeh pelan melihat kepanikan wanita itu. Namun, saat berniat berbalik mengambil kunci mobilnya, mata Dewa menangkap sebuah benda kecil yang terjatuh di lantai.

​Sebuah lanyard bertali biru. Dewa memungutnya dan membacanya perlahan.

​ALYA NINDITA, Staff Erlangga Group.

Melihat itu, ​sudut bibir Dewa terangkat membentuk seringai penuh makna.

"Alya Nindita... Dunia ternyata sesempit ini."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
CitraAurora
betul sekali Kak.. nanti Dewa yang menyembuhkan Alya
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
kkk keren ni novel jd nnt alya itu terapi sm dewa ceo nya sendiri kk
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Terapi Gila Atasanku   Mau Menolak Perintah Atasan?

    ​"A-apa, Pak Dewa? Saya tidak tahu..." cicit Alya terbata-bata. Matanya bergerak liar, menghindari tatapan pria yang masih mengurungnya di atas sofa.​Dewa melepaskan kedua tangannya dari sisi kepala Alya, lalu tegak berdiri. Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya.​"Aku tunggu bayaranmu, Alya," ujar Dewa santai, seolah baru saja membicarakan cuaca.​Tanpa ragu, Dewa melepas kaos hitamnya yang basah oleh cairan pelepasan Alya di hadapan wanita itu. Alya refleks memalingkan wajah dengan pipi yang membara, sementara Dewa dengan santai meraih kaos baru dari lemari dan mengenakannya.​"P-Pak Dewa, saya izin ke kamar mandi sebentar... untuk membersihkan diri," pamit Alya buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari kecil menuju kamar mandi utama di kamar tersebut.​Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Alya bergegas mendekati wastafel. Ia memutar kran air dan berkali-kali membasuh wajahnya yang terasa amat panas. Ia menatap bayangannya di cermin dengan dada

  • Terapi Gila Atasanku   Pikirkan Sendiri

    ​Tanpa membalas pesan Dewa, Alya langsung melangkah ke luar pagar rumahnya dan memesan taksi online.​Rasa kram di bawah perutnya semakin menghebat seiring roda kendaraan bergulir membelah keheningan malam. Setiap tumpuan kakinya saat turun dari taksi membawa denyut ngilu yang menyengat hingga ke tulang panggul. Dengan kedua tangan yang meremas perutnya sendiri, Alya melangkah terseok-seok menembus gerbang besi tinggi menuju kediaman pribadi Dewa Erlangga.​Rumah mewah bergaya modern itu tampak hening dan asing. Namun, pintu utama mendadak terbuka bahkan sebelum Alya sempat menyentuh tombol bel.​Dewa berdiri di sana. Pria itu tak lagi mengenakan kemeja kantor yang kaku, melainkan kaos santai berwarna gelap yang membalut ketat tubuh tegapnya. Iris mata hitamnya yang tajam langsung menangkap kondisi Alya yang berantakan—wajah pucat, peluh dingin di dahi, serta mata sembab yang membengkak.​"Kamu terlambat sepuluh menit, Alya," ujar Dewa dingin. Namun, saat melihat Alya hilang keseimban

  • Terapi Gila Atasanku   Kenapa Kamu Membuang Benihmu Mas?

    "Devan," panggil Dewa dengan suara berat dan datar yang menusuk tulang.​Devan langsung menegakkan posisinya dan berbalik. "Iya, Pak Dewa?"​"Bukannya aku menyuruhmu mengurus berkas eksternal dan memindahkan barang-barang Alya dari bawah?" tegur Dewa. "Kenapa kamu masih mengobrol di sini?"​"Maaf, Pak Dewa. Saya hanya sedang menjelaskan kerja asisten pada Alya," jawab Devan sopan, meski ia bisa merasakan perubahan emosi atasannya yang mendadak tajam.​"Penjelasanmu sudah cukup," potong Dewa dingin. "Segera turun ke lantai bawah dan selesaikan tugasmu. Aku butuh berkas investasi eksternal di mejaku sebelum jam makan siang."​"Baik, Pak. Saya permisi dulu," pamit Devan membungkuk hormat, lalu memberikan anggukan kecil pada Alya sebelum berjalan cepat keluar ruangan.​Kini, tinggal Alya dan Dewa yang tersisa di ruangan itu. Suasana mendadak hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara.​Dewa melangkah maju mendekati meja Alya. Setiap tumpuan langkah kakinya terasa seperti hitungan

  • Terapi Gila Atasanku   Jadi Asisten Pribadi

    Dewa melangkah mendekat, mengikis habis jarak hingga tubuh Alya terbentur pelan pada pinggiran meja.​"Bukan gila, Alya," bisik Dewa dengan nada tenang namun mengintimidasi. "Tapi lebih ke empati seorang dokter."​Alya mendongak, menatap iris mata hitam pria itu dengan napas yang tertahan di dada. Kata-kata Dewa terdengar begitu ironis di telinganya.​"Empati apa...!" gumam Alya sangat pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.​Melihat raut wajah Alya yang dipenuhi penolakan dan keberanian kecil untuk melawan, naluri Dewa justru makin bergejolak.Sikap Alya yang terus bertahan di bawah tekanan ini tidak membuat Dewa mundur. Sebaliknya, Dewa merasa semakin tertantang untuk terus menjadi satu-satunya dokter bagi Alya, pria yang paling dibutuhkan untuk menyembuhkan rasa sakit fisik yang membakar tubuh wanita itu.​"Sudah, jangan banyak alasan. Cepat tanda tangani," titah Dewa tegas, mengetuk jari telunjuknya di atas kertas dokumen itu.​Alya masih mematung, jarinya yang memegan

  • Terapi Gila Atasanku   Anda Gila, Pak!

    ​"Buka kedua kakimu. Lebarkan," bisik Dewa lewat gagang telepon. "Lalu sentuh dirimu sendiri di titik yang paling berdenyut.” Napas Alya tertahan. Sambungan telepon di telinganya terasa begitu panas, mengalirkan suara berat Dewa yang terdengar begitu mendominasi di tengah keheningan kamar. ​"S-sentuh diri sendiri...?" ulang Alya dengan suara tercekat dan gemetar hebat. ​"Ya. Sentuh titik yang paling berdenyut ngilu di bawah sana. Jangan pura-pura tidak tahu di mana lokasinya." ​Alya menggigit bibirnya erat-erat. Air mata keputusasaan menetes di pipinya. Rasa malu luar biasa menyergap dadanya karena harus mendengarkan instruksi seperti ini dari pria yang baru saja tadi pagi dilantik sebagai CEO di kantornya. Namun, sengatan rasa terbakar dan denyutan kram di organ intimnya begitu menyiksa, seolah memaksa akal sehatnya untuk menyerah. ​Dengan tangan gemetar, Alya merayap pelan di atas ranjang. Ia melebarkan kedua kakinya, lalu menyusupkan jarinya sendiri di balik gaun tipis y

  • Terapi Gila Atasanku   Buka Kakimu

    ​Alya mencengkram kemeja di dadanya, tepat di bagian kartu identitasnya baru saja diselipkan oleh Dewa. Sentuhan dan kata-kata pria itu meninggalkan bekas dingin yang membakar harga dirinya hingga ke dasar.​"Saya tidak mau!" tegas Alya dengan suara gemetar, berusaha keras mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. "Anda bukan dokter, tidak mungkin saya menjadi pasien Anda!"​Dewa tidak tampak marah atas penolakan keras itu. Pria itu justru melangkah mundur dengan santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja mahoni sembari bersedekap. Tatapannya begitu tenang dan tajam, seolah sedang memperhatikan seekor mangsa yang berusaha berlari dari perangkap yang sudah terkunci rapat."Aku hanya ingin memberikan penawar untuk sakit yang diciptakan oleh suamimu sendiri," ujar Dewa dengan nada datar. Pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berukir tinta emas yang mewah, lalu meletakkannya di atas meja.​"Ini kartu namaku, barangkali kamu berubah pikiran," uca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status