LOGIN"Kamu ini sebenarnya wanita seperti apa, Alya? Dua tahun menikah, tapi kamu belum juga bisa memberikan Rehan keturunan!"
Baru semalam mengalami hal yang memalukan, pagi ini Alya diserang oleh ibu mertuanya.
Suara lantang wanita paruh baya itu menggema di meja makan. Alya hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengaduk tehnya yang sudah dingin. "Ma, jangan mulai lagi," potong Rehan datar, tanpa berniat membela Alya lebih jauh. Pria itu menyapu mulutnya dengan serbet, lalu berdiri. "Bagaimana Mama tidak mengomel? Teman-teman Mama sudah menimang cucu! Kamu juga, Rehan, kenapa tidak sat-set buat anak?" cecar Mamanya lagi. Rehan tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Alya dengan pandangan dingin dan asing, tatapan yang sama selama dua tahun ini. Sejak awal dijodohkan oleh keluarga, Rehan tak pernah sudi menyentuh Alya sedikit pun. Hatinya telah terkunci rapat untuk wanita lain yang pernah meninggalkannya di masa lalu, membuat rumah tangga mereka tak ubahnya seperti sangkar es. Alya hanya bisa meremas jarinya di bawah meja. Rasa tertekan di rumah ini dan siksaan fisiknya kembali membayangi pikirannya. “Saya sudah selesai sarapan, saya berangkat dulu.” *** Suasana di kantor pusat Erlangga Group sibuk luar biasa.Seluruh karyawan berbaris rapi di aula utama untuk menyambut kedatangan pimpinan baru.
Alya berdiri di barisan belakang departemen Keuangan dengan mata sembab. "Al, katanya CEO baru kita ini anak pemilik perusahaan. Masih muda, lulusan luar negeri, tapi rumornya dingin dan perfeksionis banget," bisik Mira, rekan kerjanya. “Oh gitu,” sahut Alya tak bersemangat. Tiba-tiba riuh tepuk tangan membahana saat seorang pria tinggi berbadan tegap dengan setelan jas abu-abu gelap berjalan mantap menuju podium. Alya mendongakkan kepala. Namun, saat matanya beradu dengan sosok di depan sana, nafas Alya seolah terhenti. Pria yang disapa sebagai Bapak Dewa Erlangga itu adalah pria yang semalam menyentuh dan memeriksanya di ruang praktek! Alya mundur selangkah, tubuhnya mendadak lemas.Bagaimana mungkin? Bukannya dia dokter?! Tapi mengapa....
Dari podium, tatapan tajam Dewa menyapu ruangan dan berhenti tepat di wajah Alya yang pucat pasi. Sudut bibir pria itu terangkat sangat tipis, hampir tak terlihat. Setelah beberapa menit yang terasa berjam-jam, acara penyambutan akhirnya selesai. Namun sebelum Alya sempat melangkah kembali ke kubikelnya, seorang pria tampan berjas menghampirinya. "Nona Alya Nindita? Pak Dewa meminta Anda untuk segera menghadap beliau di ruangan CEO." Alya menelan ludah. "Sa-saya?" ulangnya dengan suara gemetar. "Apa tidak salah?"Pria itu menggeleng. "Mari ikut saya."
Dengan langkah berat dan dada yang dihimpit kecemasan, Alya terpaksa mengikutinya.
Tak lama, ia sudah berdiri di dalam ruang CEO yang megah.
Dewa duduk santai di balik meja kerjanya, menatap Alya dengan pandangan mendominasi. "Tutup pintu dan kunci, Alya."Pikiran Alya langsung berputar cepat. Rasa malu, panik, dan terintimidasi bercampur menjadi satu.
"M-maaf, Pak Dewa. Kalau hanya urusan pekerjaan untuk apa mengunci pintu?” tolak Alya. “Mau menolak perintah atasan?” sahut Dewa bangkit dari tempat duduknya. Seketika Alya membeku, wajahnya semakin pucat. “Bukan begitu Pak, hanya saja…” Dewa berjalan ke arah pintu, menutup dan menguncinya hingga bunyi klik terdengar di indra pendengaran Alya. "Siapa Bapak sebenarnya? Kenapa semalam berpura-pura menjadi dokter dan sembarangan menyentuh saya?!" ujar Alya tanpa berpikir panjang. Nalurinya yang mencium adanya bahaya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Yang ia inginkan hanya segera keluar dari tempar ini."Jika Bapak bersikap macam-macam, saya tidak ragu untuk melaporkan Bapak ke polisi atas tindakan malpraktik dan penyamaran sebagai dokter!"
Dewa tidak terlihat takut sedikit pun. Sebaliknya, tawa dingin lolos dari bibirnya.Pria itu melangkah perlahan hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Melaporkan aku?" bisik Dewa rendah, menundukkan kepalanya sejajar dengan telinga Alya. "Silakan, Alya. Tapi apakah kamu siap jika seluruh media dan rekan kantor ini tahu alasan kenapa kamu mendatangi ruang praktik malam-malam?" Deg!Seketika Alya membeku.
"Apakah kamu mau semua orang tahu bahwa staf Keuangan yang terkenal paling pendiam dan polos ini ternyata memiliki sakit hyper yang menyiksa ketika hasratnya tak terpenuhi?” Kata-kata Dewa bagaikan pisau yang menguliti harga diri Alya. Wajahnya memanas, air mata terancam tumpah dari pelupuk matanya.Itu adalah aib terbesar yang berusaha disembunyikan.
"T-tolong... jangan..." bisik Alya pasrah, suaranya bergetar memohon. Dewa tersenyum puas melihat pertahanan Alya yang runtuh. Tangannya terulur, menyelipkan kembali kartu ID Alya yang tertinggal semalam ke dalam saku kemeja bagian dada wanita itu."Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"
Masih diliputi ketakutan, Alya menatap pria itu, "Kesepakatan?"
"Aku akan menutup mulutku rapat-rapat. Tapi, tubuhmu tidak bisa dibohongi, Alya. Pria yang kamu sebut suami itu tidak akan pernah bisa memuaskan penderitaan fisikmu," bisik Dewa dengan nada posesif yang pekat. "Jadi, bagaimana jika aku menjadi dokter pribadi yang membantumu ketika sakit itu kambuh, hm?""Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!" teriak Rehan gemetar, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membuncah.Sinta justru terkekeh sumbang. Ia menoleh, menatap Rehan dengan sorot mata dingin penuh penghinaan. "Terserah kamu mau ngomong apa, Mas. Yang jelas, aku mau pergi dari hidupmu sekarang juga!"Sinta berbalik, menyambar tas belanjaan dan menyeret kopernya menuju pintu. Rehan yang panik langsung berlari mengejar dan menahan lengan istrinya."Sinta! Kamu tidak boleh pergi!" cengkeram Rehan makin erat, matanya memerah penuh keputusasaan. "Kita selesaikan masalah ini baik-baik!""Lepasin aku, Mas! Sakit tahu enggak?!" bentak Sinta keras. Ia berontak sekuat tenaga, menghentakkan tangannya hingga genggaman Rehan terlepas, lalu melangkah lebar keluar kamar.Keributan hebat itu memancing sang mama keluar dari kamarnya. Melihat Sinta yang menggeret koper terburu-buru menuju pintu depan, sang mama tak sedikit pun berniat mencegah."Biarkan saja dia pergi, Rehan!"
Sepulang kerja, Rehan melangkah gontai membuka pintu rumahnya yang terasa makin hampa. Tubuhnya roboh begitu saja di atas sofa ruang tamu. Lelaki itu merebahkan diri, memejamkan mata sejenak seraya memijat pelipisnya yang terasa pening luar biasa akibat tekanan krisis perusahaan."Bagaimana, Rehan? Masalah dana di perusahaanmu apa sudah beres?" tanya sang mama yang berjalan menghampiri dari arah dapur.Rehan menghela napas panjang tanpa membuka mata. "Belum, Ma. Rehan masih bingung mencari dana darurat dari mana lagi. Investor makin mendesak."Netra Rehan melirik ke sekeliling ruangan, menyadari suasana yang terlampau sunyi. "Sinta di mana, Ma?" tanya Rehan pelan."Entahlah," sahut sang mama dengan nada dingin tak peduli. "Dari pagi sudah keluar dan sampai sekarang belum pulang-pulang."Rehan yang belakangan ini sudah tak lagi tergila-gila pada istrinya hanya diam. Wajahnya tampak biasa saja, tak ada rasa khawatir berlebih seperti dulu. Namun, ketika waktu bergerak cepat dan menu
Sore itu, Dewa dan Alya pergi ke mansion Dewa untuk membahas pesta pernikahan dengan orang tua Dewa. "Mas..." panggil Alya ragu. Dewa menoleh sekilas lalu tersenyum manis. "Ya, sayang? Ada apa?"Alya menghela nafas, memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya. "Soal pernikahan kita nanti kalau boleh, gimana kalau kita adakan prosesi akad nikah saja? Nggak usah pakai pesta yang megah-megah. Kalau dipikir-pikir, pesta megah itu cuma buang-buang uang saja, Mas."Dewa terkekeh pelan, menggenggam erat jari Alya dengan tangan kirinya. "Tapi kita tetap perlu pesta yang megah itu, Sayang. Menikah itu kan sekali seumur hidup, jadi aku ingin pesta pernikahan yang berkesan untuk kita berdua."Alya akhirnya mengangguk pelan. Ia melemparkan tatapannya keluar jendela mobil, menyaksikan pepohonan dan bangunan yang berlalu cepat. Dalam hati kecilnya, Alya merasa tidak pantas menjadi ratu semalam di sebuah panggung pernikahan megah yang disaksikan ribuan pasang mata. Namun, di sisi lain, ia
Seminggu berlalu, pagi itu, pintu rumah Rehan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk dengan santai, menyeret koper barunya dan menenteng beberapa tas belanjaan mewah. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berjalan menuju ruang tengah dan langsung ikut bergabung duduk bersama Rehan dan mama mertuanya.Rehan mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak amarah yang membakar dada. Namun, sang mama tidak tinggal diam."Dasar wanita enggak tahu diuntung!" teriak sang mama seraya bangkit berdiri, menunjuk wajah menantunya. "Uang untuk bayar gaji karyawan kamu bawa pergi untuk bersenang-senang! Kamu ini punya otak apa enggak, Sinta?!"Sinta menatap mama mertuanya dengan tatapan sinis. Sama sekali tak ada rasa takut di matanya. "Itu kompensasi buat aku, Ma. Aku habis keguguran gara-gara Mas Rehan. Jadi wajar kalau aku pergi liburan dan belanja-belanja menenangkan diri."Sinta lantas membuka salah satu tas belanjaannya, merogoh kotak perhiasan kecil dan menyodorkannya ke meja. "Ni
Fira melangkah makin mendekat ke meja kerja Alya dengan dahi berkerut curiga. Pandangannya mengarah tepat ke sela-sela bawah meja yang tertutup rapat oleh panel kayu depan."Mbak Alya beneran enggak apa-apa? Suaranya aneh banget, kayak ada orang di bawah..." ujar Fira seraya membungkukkan tubuhnya, hendak mengintip ke kolong meja.Jantung Alya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di bawah sana, Dewa sengaja menghentikan pergerakan jarinya, namun pria itu justru sengaja mengecup pangkal paha dalam Alya, membuat tubuh Alya gemetar hebat menahan sensasi yang membakar.Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membumbung tinggi, Alya sengaja menyenggol tumpukan berkas dan wadah pulpen di tepi mejanya hingga jatuh berserakan ke lantai.Berbagai alat tulis dan kertas bertebaran tepat di depan kaki Fira, menghentikan niat gadis itu untuk mengintip."Aduh! Maaf, Fira... tanganku lemas banget, pusing," potong Alya cepat dengan suara bergetar.
Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat."Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tidak cair, karyawan bakal mogok dan terus menuntut perusahaan. Kantor bisa hancur, Pak!""Tolong beri saya waktu," bisik Rehan pasrah sebelum menutup telepon. Kepala Rehan serasa mau pecah.Dalam kondisi bingung setengah mati, ia mulai menghubungi satu per satu kolega bisnisnya untuk meminjam uang. Namun, respons yang diterimanya sungguh menyakitkan. Sebagian besar menolak secara halus, sementara beberapa yang bersedia meminjamkan hanya mampu memberi angka kecil yang jauh dari kata cukup.Sebaga







