Inicio / Romansa / Terapi Gila Atasanku / Salam Paham Dengan Hadiah

Compartir

Salam Paham Dengan Hadiah

Autor: CitraAurora
last update Fecha de publicación: 2026-10-28 10:57:46

​Sore harinya, saat Devan ingin memberikan hadiah untuk klien Dewa, tiba-tiba pria itu ada urusan mendesak. Mau tidak mau, ia harus melaporkan hal tersebut langsung kepada atasannya.

​"Mohon maaf, Pak Dewa, bagaimana kalau besok saja saya antar?" kata Devan dengan nada serba salah.

​Dewa yang mendengar itu mengangguk santai. "Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau memang kamu ada urusan mendesak, pulanglah. Mobilnya aku bawa."

​"Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawab Devan. Setelah menyerahkan kunci m
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terapi Gila Atasanku   Salam Paham Dengan Hadiah

    ​Sore harinya, saat Devan ingin memberikan hadiah untuk klien Dewa, tiba-tiba pria itu ada urusan mendesak. Mau tidak mau, ia harus melaporkan hal tersebut langsung kepada atasannya.​"Mohon maaf, Pak Dewa, bagaimana kalau besok saja saya antar?" kata Devan dengan nada serba salah.​Dewa yang mendengar itu mengangguk santai. "Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau memang kamu ada urusan mendesak, pulanglah. Mobilnya aku bawa."​"Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawab Devan. Setelah menyerahkan kunci mobil kepada Dewa, Devan pun bergegas pergi. Tanpa sempat dipindahkan, seluruh hadiah yang dibeli untuk kliennya itu ia letakkan begitu saja di dalam mobil.​Malam itu, setelah selesai makan malam, Dewa mengajak Alya untuk keluar. Sejak sore, perutnya terasa tidak nyaman dan ia sangat ingin memakan sesuatu yang segar.​"Kamu ngidam ya, Mas?" tanya Alya sambil tersenyum geli.​"Iya, Sayang. Aku benar-benar ingin makan makanan yang segar," keluh Dewa sambil memegang perutnya.​Dewa lantas mendekat

  • Terapi Gila Atasanku   Hadiah mewah

    Fira pun menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Saya belum hamil. Ini untuk pesanan saudara saya," jelas Fira sambil tersenyum canggung.​"Oh, kirain Mbaknya yang lagi ngidam," balas ibu-ibu itu ramah.​Setelah bungkusan rujak pesanan mereka selesai disiapkan dan dibayar, Fira dan Devan langsung bergegas kembali menuju mobil operasional.​"Akhirnya dapat juga rujaknya. Untung tadi abangnya nggak antre panjang," kata Fira lega begitu masuk ke dalam kabin mobil.​"Iya, tapi ibu-ibu tadi ngaco banget ya," sahut Devan sambil memasang sabuk pengamannya.​"Iya, masa iya aku dibilang hamil. Perutku rata dan seksi begini. Apa mata ibu itu rabun?" ujar Fira mendengus geli sambil mengibaskan rambutnya.​Devan tersenyum tipis, lalu menyalakan mesin mobil dan perlahan melajukannya meninggalkan area pinggir jalan tersebut. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, suasana di dalam mobil terasa santai.​"Oh ya, Mas. Kalau kita sudah menikah nanti, apa kamu ingin cepat-cepat punya anak atau mau ditunda dulu?"

  • Terapi Gila Atasanku   Ngidam Rujak

    "Sepertinya memang tidak bisa berhubungan dulu, Mas. Begitu merasakan rangsanganmu, perutku langsung kram..." bisik Alya lirih penuh penyesalan dengan napas yang masih sedikit tersengal. ​Dewa yang tadinya penuh semangat seketika mengempis layaknya balon tertusuk jarum. Pria itu mengangguk lemas, menelan mentah-mentah kekecewaannya. Demi keselamatan istri dan calon buah hati, mau tidak mau ia harus mengurungkan niatnya. Dengan langkah gontai, malam itu Dewa akhirnya memilih "menyelesaikan urusannya" seorang diri di dalam kamar mandi. ​Keesokan paginya, suasana cerah menyambut kawasan perkantoran Erlangga Group. Dewa melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarganya dengan perasaan waswas dan siaga penuh. Namun, setibanya di lobi, ia mendapati hal yang tak biasa. Udara terasa bersih tanpa ada jejak aroma menyengat sama sekali. ​Bahkan, saat ia berpapasan dengan beberapa pegawai dan petugas Office Boy yang sedang mengepel lantai, sama sekali tidak tercium bau karbol atau wewang

  • Terapi Gila Atasanku   Cobaan Apa Lagi Ini

    Suasana meja makan keluarga Erlangga malam itu tampak lebih hidup dari biasanya. Dewa, yang sejak siang kemarin kehilangan nafsu makan akibat mabuk kehamilan (couvade syndrome), mendadak melahap porsi makanannya dengan begitu lahap. Pria itu tampak sangat bersemangat, seolah sedang mengisi ulang bahan bakar sebelum terjun ke sebuah medan pertempuran besar.​Sang mama yang duduk di seberang meja menatap takjub sekaligus curiga melihat piring anaknya yang kini sudah bersih.​"Dewa, kamu tumben sekali makan banyak malam ini? Biasanya baru lihat makanan saja sudah mual-mual," tanya sang mama heran.​Dewa menyunggingkan senyum penuh rahasia. "Ada misi khusus, Ma, yang harus diselesaikan nanti malam. Makanya perlu tenaga ekstra!" jawabnya tanpa beban.​Sang papa yang sedang menyeruput teh hangat ikut melirik anak sulungnya. "Misi apa memangnya? sehingga Pakai tenaga ekstra segala."​"Ah, ada deh, Pa. Ini urusan rahasia negara," sahut Dewa cengengesan. Mama dan papa pun hanya bisa menggeleng

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Nggak Minta Hal Itu Kan?

    Pengumuman mendadak yang diumumkan oleh Devan seketika memicu kehebohan di seluruh divisi Erlangga Group. Para pegawai tampak, berbisik-bisik dengan wajah bingung dan cemas.​"Kalau kita tidak pakai parfum sama sekali, nanti badan kita bau saat bertemu klien bagaimana? Bisa-bisa ditegur," keluh salah satu pegawai wanita di divisi pemasaran.​"Iya, aneh banget. Kenapa tiba-tiba perusahaan membuat peraturan ekstrem seperti itu?" sahut rekan kerjanya.​Seorang pegawai senior yang kebetulan lewat mendengkar percakapan itu langsung menimpali dengan suara pelan, "Hush! Jangan protes sembarangan. Apa kalian tidak tahu? Tadi pagi Pak Dewa mendadak muntah-muntah hebat di lobi kantor gara-gara mencium aroma parfum kita semua yang terlalu menyengat!"​Meskipun merasa risau, khawatir akan masalah bau badan, dan merasa aturan tersebut tidak masuk akal, tidak ada satu pun pegawai yang berani membangkang. Ancaman pemecatan mutlak dari sang atasan membuat mereka mau tidak mau harus mematuhi aturan ta

  • Terapi Gila Atasanku   Pecat!

    "Saya tidak mengatakan apa-apa, Tuan..." jawab Sinta dengan suara bergetar ketakutan.​"Jangan berbohong!" bentak David murka. "Tidak mungkin kalau kamu tidak mengatakan apa-apa hingga kondisinya bisa drop parah seperti ini!"​Tanpa bisa menahan amarahnya lagi, tangan kekar David langsung melesat dan mencekik leher Sinta dengan kuat. Cengkeraman itu membuat wajah Sinta seketika berubah merah padam, kehabisan napas.​"Tuan... tolong... lepaskan saya..." pintanya dengan suara lemah tertahan.​Wajah Sinta semakin memerah dan matanya mulai berair karena kekurangan oksigen. Baru setelah itu David mengibaskan tangannya dengan kasar, melemparkan Sinta hingga wanita itu terbatuk-batuk hebat di lantai.​"Dengar ya!" ancam David dengan mata menyala-nyala penuh ancaman. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Alea, kamu orang pertama yang harus bertanggung jawab!"​Sinta menelan salivanya dengan kasar, dadanya naik turun karena panik. Nyali liciknya kini seketika menguap entah ke mana, bergantikan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status