Se connecter"Apa?" Kedua bola mata Dewa terbelalak lebar, menatap sang istri dengan rasa tak percaya. "Memiliki wanita lain? Astaga, Sayang... dari mana kamu bisa memiliki pikiran seliar itu, hah?" tanya Dewa kaget setengah mati. Alya sontak melepaskan pelukannya, lalu menatap sang suami dengan bibir mengerucut kesal. "Buktinya, kemarin aku melihat ada satu set perhiasan mewah di dalam mobilmu! Aku kira itu untukku... Tapi ternyata itu bukan untukku, kan? Itu pasti untuk wanita lain!" cecar Alya dengan nada cemburu yang kentara. Mendengar jawaban itu, ekspresi wajah Dewa seketika berubah. Sesaat ia terkejut, sebelum akhirnya menyadari bahwa set perhiasan untuk klien yang dibeli Devan ternyata disalahpahami oleh istrinya sebagai hadiah perselingkuhan. Tak kuasa menahan geli, Dewa pun mendadak tertawa terbahak-bahak. Tawa itu justru membuat Alya semakin jengkel dan merengut sebal. "Tuh kan! Kenapa malah tertawa?! Apa ada yang lucu?!" tanyanya sinis dengan mata menyipit. "Habisnya... kamu
Keesokan paginya, Alya terbangun dengan perasaan yang berbunga-bunga. Sepanjang pagi, ia diam-diam menantikan momen di mana Dewa akan memberikan kejutan hadiah mewah yang kemarin ia lihat di kantor. Namun, hingga Dewa bersiap-siap dan melangkah keluar rumah untuk berangkat bekerja, pria itu sama sekali tidak menyinggung soal hadiah ataupun mengeluarkan bungkusan apa pun.Alya sempat merasa heran, namun ia buru-buru menepis pikiran negatif dari kepalanya. 'Pasti nanti setelah pulang kerja, Mas Dewa baru akan memberikannya, mungkin lengkap dengan buket bunga,' bicit Alya menghibur diri sendiri.Setelah suaminya berangkat, Alya kembali naik ke lantai atas untuk menyibukkan diri. Ia mulai membersihkan lemari pakaian, lalu berlanjut merapikan ruangan kosong di sebelah kamar utama yang rencananya akan disiapkan sebagai kamar buah hati mereka kelak. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat hingga sore hari pun menjelang.Setelah membersihkan diri dan merapikan penampilannya, Alya turun ke l
Sore harinya, saat Devan ingin memberikan hadiah untuk klien Dewa, tiba-tiba pria itu ada urusan mendesak. Mau tidak mau, ia harus melaporkan hal tersebut langsung kepada atasannya."Mohon maaf, Pak Dewa, bagaimana kalau besok saja saya antar?" kata Devan dengan nada serba salah.Dewa yang mendengar itu mengangguk santai. "Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau memang kamu ada urusan mendesak, pulanglah. Mobilnya aku bawa.""Baik, Pak. Terima kasih banyak," jawab Devan. Setelah menyerahkan kunci mobil kepada Dewa, Devan pun bergegas pergi. Tanpa sempat dipindahkan, seluruh hadiah yang dibeli untuk kliennya itu ia letakkan begitu saja di dalam mobil.Malam itu, setelah selesai makan malam, Dewa mengajak Alya untuk keluar. Sejak sore, perutnya terasa tidak nyaman dan ia sangat ingin memakan sesuatu yang segar."Kamu ngidam ya, Mas?" tanya Alya sambil tersenyum geli."Iya, Sayang. Aku benar-benar ingin makan makanan yang segar," keluh Dewa sambil memegang perutnya.Dewa lantas mendekat
Fira pun menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Saya belum hamil. Ini untuk pesanan saudara saya," jelas Fira sambil tersenyum canggung."Oh, kirain Mbaknya yang lagi ngidam," balas ibu-ibu itu ramah.Setelah bungkusan rujak pesanan mereka selesai disiapkan dan dibayar, Fira dan Devan langsung bergegas kembali menuju mobil operasional."Akhirnya dapat juga rujaknya. Untung tadi abangnya nggak antre panjang," kata Fira lega begitu masuk ke dalam kabin mobil."Iya, tapi ibu-ibu tadi ngaco banget ya," sahut Devan sambil memasang sabuk pengamannya."Iya, masa iya aku dibilang hamil. Perutku rata dan seksi begini. Apa mata ibu itu rabun?" ujar Fira mendengus geli sambil mengibaskan rambutnya.Devan tersenyum tipis, lalu menyalakan mesin mobil dan perlahan melajukannya meninggalkan area pinggir jalan tersebut. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, suasana di dalam mobil terasa santai."Oh ya, Mas. Kalau kita sudah menikah nanti, apa kamu ingin cepat-cepat punya anak atau mau ditunda dulu?"
"Sepertinya memang tidak bisa berhubungan dulu, Mas. Begitu merasakan rangsanganmu, perutku langsung kram..." bisik Alya lirih penuh penyesalan dengan napas yang masih sedikit tersengal. Dewa yang tadinya penuh semangat seketika mengempis layaknya balon tertusuk jarum. Pria itu mengangguk lemas, menelan mentah-mentah kekecewaannya. Demi keselamatan istri dan calon buah hati, mau tidak mau ia harus mengurungkan niatnya. Dengan langkah gontai, malam itu Dewa akhirnya memilih "menyelesaikan urusannya" seorang diri di dalam kamar mandi. Keesokan paginya, suasana cerah menyambut kawasan perkantoran Erlangga Group. Dewa melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarganya dengan perasaan waswas dan siaga penuh. Namun, setibanya di lobi, ia mendapati hal yang tak biasa. Udara terasa bersih tanpa ada jejak aroma menyengat sama sekali. Bahkan, saat ia berpapasan dengan beberapa pegawai dan petugas Office Boy yang sedang mengepel lantai, sama sekali tidak tercium bau karbol atau wewang
Suasana meja makan keluarga Erlangga malam itu tampak lebih hidup dari biasanya. Dewa, yang sejak siang kemarin kehilangan nafsu makan akibat mabuk kehamilan (couvade syndrome), mendadak melahap porsi makanannya dengan begitu lahap. Pria itu tampak sangat bersemangat, seolah sedang mengisi ulang bahan bakar sebelum terjun ke sebuah medan pertempuran besar.Sang mama yang duduk di seberang meja menatap takjub sekaligus curiga melihat piring anaknya yang kini sudah bersih."Dewa, kamu tumben sekali makan banyak malam ini? Biasanya baru lihat makanan saja sudah mual-mual," tanya sang mama heran.Dewa menyunggingkan senyum penuh rahasia. "Ada misi khusus, Ma, yang harus diselesaikan nanti malam. Makanya perlu tenaga ekstra!" jawabnya tanpa beban.Sang papa yang sedang menyeruput teh hangat ikut melirik anak sulungnya. "Misi apa memangnya? sehingga Pakai tenaga ekstra segala.""Ah, ada deh, Pa. Ini urusan rahasia negara," sahut Dewa cengengesan. Mama dan papa pun hanya bisa menggeleng







